
Salah satu taman hotel milik keluarga Bimo Aryaguna, kini di sulap sedemikian indahnya, dengan dekorasi lebih ke warna Gold, sesuai dengan warna kesukaan si pengantin perempuan.
Berhubung sang mempelai wanita sangat menyukai alam, Aarash memilih taman hotel menjadi tempat acara resepsinya diadakan.
Ya hari ini adalah perhelatan untuk resepsi, pernikahan Aarash dan Laura. Aarash memutuskan untuk mengadakan resepsi dua minggu sebelum pernikahan Aariz. Karena apa? ya karena dia tidak mau ketinggalan tentunya.
Aarash membuat konsep resepsi pernikahannya, sesuai dengan mimpinya waktu kecil dulu.Sebenarnya, awalnya dia ingin merayakan resepsinya di pantai Bali. Akan tetapi,mengingat kondisi Laura yang tidak memungkinkan untuk terbang ke sana, terpaksa Aarash mengadakannya di taman hotel.
Aarash tampak gagah berdiri untuk menyambut kehadiran istrinya dengan tuxedo berwarna Gold yang terbalut ditubuh atletisnya.
Walaupun mereka sudah sah menjadi suami istri, entah kenapa jantung Aarash masih berdetak dengan kencang menanti hadirnya sang mempelai wanita.
"Ladies and gentlemen please welcome the happiest bride for tonight!" terdengar suara MC menggema memgumumkan kalau pengantin wanita akan memasuki lokasi pesta. Suara tepuk tangan para undangan pun, menggemuruh di lokasi pesta itu.
Laura terlihat berjalan di dampingi Dimas,sebagai pengganti orang tua dari Laura yang kini sudah tiada. Laura juga tampil dengan gaun pengantin berwarna Gold selaras dengan yang dipakai oleh Aarash.
Lagu a thousand years mengiringi setiap langkah Laura, untuk bisa mencapai suaminya. Setiap lirik lagu a thousand years itu, sangat sesuai dengan kisah Aarash, dimana dia sudah mencintai Laura sangat lama dan yakin akan menemukannya.
Melihat Laura yang tersenyum ke arahnya,membuat Aarash tidak sanggup menahan air matanya.Dia tidak menyangka kalau gadis kecil yang dia anggap sangat menyebalkan dulu, kini sudah menjadi istrinya dan bahkan kini di dalam rahimnya sudah bertumbuh dua nyawa, yang kelak akan menjadi anak-anaknya.
"Maaf ya sayang, aku tidak bisa memenuhi impianmu untuk membuat acara resepsi di pantai," bisik Aarash saat tangan Laura kini sudah ada di genggamannya.
"Tidak apa-apa, Mas! ini sudah lebih dari cukup.Terima kasih ya Mas, untuk semua dekorasi yang indah ini!" ujar Laura dengan mata yang berkaca-kaca. Ya walaupun impiannya untuk mengadakan pernikahan di pantai tidak terpenuhi, tapi dia tidak memungkiri, kalau dia sangat terpukau dengan keindahan dekorasi yang di rancang oleh suaminya itu.
__ADS_1
Acara demi acarapun berlangsung dengan lancar dan meriah. Sepanjang acara, Laura terlihat kebanyakan duduk. Dia hanya berdiri ketika ada tamu yang hendak mengucapkan selamat buatnya.
Setelah acara selesai, Aarash memilih untuk menginap di hotel,karena Laura sudah cukup lelah untuk pulang ke rumah.
"Sayang, kamu pasti lelah ya? sini aku pijitin! " Aarash terlihat memijat kaki Laura.
"Gak usah Mas, justru kamu yang capek, kelamaan berdiri. Tadi aku kan kebanyakan duduk!" Laura menarik kakinya, dari tangan suaminya. Akan tetapi, Aarash menarik kembali kaki Laura dan tetap memijatnya.
"Sayang, maaf ya, kalau resepsi kita jauh dari apa yang kamu impikan selama ini." ucap Aarash, dengan tetap melakukan pijatan-pijatan lembut di kaki Laura.
" Udah berapa kali sih kamu ngomong begitu Mas? Aku udah bilang, kalau pesta yang kamu berikan benar-benar sangat indah." ujar Laura tersenyum dengan mata yang berbinar-binar.
******
Aariz terlihat menggandeng tangan Vina dengan erat, seperti seorang ibu atau ayah yang takut anaknya akan hilang. Banyak orang yang memandang mereka dengan kagum bahkan ada sebagian juga yang iri, dan berharap ada di posisi Vina sekarang.
Setelah mereka selesai, mengambil cincin mereka, Aariz berniat mengajak Vina untuk makan siang di restoran yang ada di mall itu juga, sebelum mereka nantinya pergi ke Butik tantenya Amira, untuk melakukan fitting baju pengantin.
"Hai, Vin, Ka Aariz." sapa seorang laki-laki yang kebetulan juga sedang ada di restoran itu.
Aariz sontak berdiri dengan rahang yang mengeras dan wajah yang memerah, melihat orang yang berniat, memperkosa Vina dulu sedang berdiri di depannya.
"Mau apa kamu ke sini? kamu mau cari ribut ya?" Aariz berusaha menekan suaranya, agar tidak terlalu menarik perhatian pengunjung restoran. Tapi dari sorot matanya yang sangat tajam, membuktikan kalau dia benar-benar tidak menginginkan kehadiran laki-laki itu, ada di tempat itu sekarang. Sedangkan Vina langsung memegang lengan Aariz dengan sangat erat, khawatir kalau Aariz hilang kendali dan memukul Dewa nantinya.
"Kaka tenang dulu! aku kesini bukan mau mencari ribut.aku justru mau minta maaf sama Vina dan Kak Aariz." sahut Dewa yang sama sekali tidak terpancing dengan amarah yang ditunjukkan oleh Aariz.
__ADS_1
"Mau meminta maaf? Aariz menyipitkan kedua matanya, menatap ragu ke arah Dewa.
"Iya Ka, aku serius. Aku sadar kalau aku sudah dibutakan oleh cinta,dan terlalu memaksakan kehendak. Untuk itu, aku minta tolong agar kamu mau memaafkan aku Vin," Dewa, menatap Vina dengan tatapan yang benar-benar tulus meminta maaf.
Vina diam tidak bergeming. Dia tidak menjawab sama sekali ucapan permintaan maaf yang keluar dari mulut Dewa. Mata Vina mencoba mencari ketulusan dari ucapan Dewa, lewat manik mata Dewa yang menatapnya.
"Aku tahu kalau kamu akan sulit untuk memaafkanku, karena memang apa yang aku lakukan padamu itu, sudah sangat keterlaluan. Tapi, aku merasa tidak tenang sebelum meminta maaf padamu." ucap Dewa kembali, karena tidak mendapatkan balasan apapun daru Vina.
Vina dari tadi memang menemukan ketulusan di mata Dewa, akan tetapi dia belum bisa sepenuhnya untuk memaafkan Dewa.
"Ka Dewa, maaf, untuk sekarang aku masih susah untuk memaafkan Kaka. Tapi aku ga tau, kalau suatu saat mungkin aku akan bisa memaafkan kaka. Tolong berikan aku waktu."ucap Vina sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.
Dewa menghela nafasnya, dan tersenyum terpaksa.Dia sudah yakin akan mendapatkan jawaban seperti itu dari Vina.Tapi setidaknya dia sudah mencoba.
"Kamu sudah dengarkan jawaban Vina? Kamu boleh pergi sekarang!" Kali ini Aariz yang menjawab. "Kalau kamu memang menyesal, kamu cukup membuktikannya dengan tidak mengganggu kami lagi." sambung Aariz dengan tegas.
Dewa menyunggingkan senyumannya ke arah Aariz. "Kaka tenang saja, aku tidak akan mengganggu kalian berdua lagi___. Oh ya, Ka selamat ya buat kalian berdua. Semoga yang kalian rencanakan berjalan dengan lancar sampai hari H nanti.Dan semoga pernikahan kalian akan bahagia selamanya sampai maut memisahkan" Dewa beranjak meninggalkan Aariz dan Vina setelah selesai mengucapkan doa dan harapannya.
"Amin!" Vina dan Aariz sama-sama membatin, mengamini doa dan harapan yang baru saja di ucapkan oleh Dewa.
Tbc
Jangan lupa untuk tetap like, vote dan Komen ya gais.
Novel ini mungkin akan tamat, dalam beberapa bab lagi. Untuk Cerita Dewa dan Anak2 Seno akan aku buat di novel lain dan bukan di novel ini. Thank you
__ADS_1