YOU ARE MY DESTINY

YOU ARE MY DESTINY
Welcome, baby Avaro dan Alisha.


__ADS_3

Semua orang yang ada di ruangan itu, mendengus mendengar ucapan Aarash, yang menyangkal kalau tadi dia sempat pingsan.


"Tidur bagaimana? kamu gak usah malu mengakuinya,kalau kamu tadi___"


"Udah, gak usah dibahas lagi! sekarang kamu tidak mau menggendong anak-anak kamu ini Rash?" Tiara buru-buru menyela ucapan Bimo, karena kalau tidak segera dihentikan, akan tidak ada ujungnya. Tidak akan ada yang mau mengalah.


" Oh iya Bun! tapi bagaimana caranya Bun? Aarash belum berani menggendongnya.Aarash takut lehernya nanti patah." ucap Aarash.


"Kalau kamu gendong dia,seperti gendong anak 6 bulan, tentulah patah. Kamu gendongnya seperti ini.Kamu pegang kepalanya dulu baru badannya." Tiara mencontohkan pada putranya yang kini sudah naik pangkat menjadi seorang ayah.


Aarash menggendong putra pertamanya dengan gamang. Lalu dia menghampiri ranjang tempat Laura duduk sambil memangku putrinya.


Aarash lalu mengecup puncak kepala istrinya dengan lembut. " Terima kasih ya sayang, sudah mau mengandung dan melahirkan anak-anak setampan dan secantik mereka, dengan penuh perjuangan." Lalu Aarash kembali menoleh ke arah Bundanya, Tiara. " Terimakasih ya Bun, atas perjuanganmu dulu untuk melahirkan Aarash dan Aariz. Maaf, kalau selama ini Aarash belum bisa menjadi anak yang baik buat Bunda," ucap Aarash dengan mata yang berkaca-kaca. "Tadi, suasananya sangat mengerikan Bun. Aku tidak menyangka, kalau aku bisa sanggup melihat perjuangan Laura melahirkan kedua anak-anakku sampai akhir, walaupun pada akhirnya Aarash pingsan."


"Yee, akhirnya, kamu mengakui kalau kamu pingsan tadi!" celetuk Bimo bahagia. Sehingga suasana yang tadinya mengharu biru berubah ambyar.Tiara dan Bimo sontak menghunuskan tatapan tajam ke arah Bimo. Sedangkan yang lainnya berusaha menahan tawa.


Bimo berdehem-dehem dan berdiri,lalu beranjak menghampiri Aarash. " Nak, kalau kamu tahu perjuangan istrimu,saat melahirkan anak-anakmu, jangan pernah sakiti istrimu. Cintai dan sayangi dia sepenuh hatimu." ujar Bimo, sembari memberikan tepukan lembut di bahu Aarash.


"Iya, ayah! aku tidak akan menyakiti istriku." sahut Aarash penuh ketegasan.


"Wuih, cucu opa, tampan banget mirip opanya." celetuk Bimo sambil menoel-noel hidung cucunya itu.


"Ayah, ini anakku! aku yang mencetaknya, gak mungkin mirip Ayah.Pastinya mirip aku lah!" cetus Aarash tidak terima.


"Kamu anak siapa?" tanya Bimo.


"Anak Ayah sama Bunda lah."


"Kamu mirip siapa?"


"Mirip Ayah." sahut Aarash pelan.

__ADS_1


"Nah itu dia ...! anakmu mirip kamu, sedangkan kamu, mirip ayah, otomatis anakmu juga mirip ayah dong! dan jangan lupa satu lagi, anak mu juga mirip Aariz.Hahahahahaha." Bimo meledek dan tertawa puas,melihat wajah putranya yang sudah kaya baju tidak disetrika.


"Saaaayang, kamu bisa berhenti tidak tertawanya.Nanti cucu-cucu kamu bangun!" ucap Tiara pelan dan lembut,tapi disertai dengan sorot mata yang tajam.


Suara tawa Bimo seketika mereda, mendengar ucapan Tiara, yang walaupun diucapkan dengan lembut, tapi mengandung aura yang berbahaya baginya.


"Rash, kamu kasih nama siapa mereka sayang? kata Laura, biar kamu yang kasih nama!" Tiara kembali mengalihkan tatapannya ke arah Aarash setelah Bimo menghentikan tawanya.


"Hmm, ayah boleh tidak bantu kasih nama?" Celetuk Bimo kembali.


"Tidak boleh!" sahut Aarash cepat.


"Untuk putraku, aku mau kasih nama Avaro Tristan Aryaguna. Avaro artinya bijaksana, Tristan artinya gagah berani. Aku mau dia menjadi seorang laki-laki yang bijaksana dan gagah berani." ujar Aarash dengan senyum yang mengembang. Lalu dia menghampiri Laura, dan menatap putri kecilnya itu, yang terlihat menggeliat di pangkuan bundanya.


"Untuk putriku, aku kasih nama Alisha Corinna Aryaguna. Alisha artinya mulia, Corinna artinya gadis.Jadi aku mau dia nantinya jadi gadis yang mulia. Gimana sayang,apa kamu setuju?" tanya Aarash pada Laura.


"Hmm,namanya bagus Mas. Aku suka!"ucap Laura dengan seulas senyuman yang tersemat di bibirnya.


"Nama yang bagus sayang! selamat ya, sekarang sudah jadi seorang ayah." ucap Tiara dengan mata yang berkaca-kaca.


"Terimakasih Bun! selamat juga, sekarang Bunda sudah jadi seorang nenek!" sahut Aarash sembari tersenyum ke arah Bundanya itu.


"Ayah,gak diselamatin Rash? Ayah merasa seperti orang asing di sini." cetus Bimo dengan wajah yang dibuat semelas mungkin.


Suara tawa kembali pecah di ruangan itu, melihat wajah seorang Bimo yang biasanya tegas di luar sekarang seperti kerupuk yang melempem.


"Iya, Yah! selamat ya, sekarang sudah jadi seorang kakek. Ternyata ayah sudah tua."


"Hei, jangan sebut kata tuanya. Ayah masih muda dan bahkan masih bisa kasih kamu adik!" cetus Bimo tidak terima.


"Awas kalau masih mau kasih Lea adik. Aku gak mau punya adik lagi." celetuk Lea tiba-tiba dengan bibir yang mengerucut.

__ADS_1


"Sepertinya kami harus pulang, soalnya ada hal penting yang harus kami kerjakan.Sekali lagi selamat ya Ka Aarash!" kali ini Galang yang buka suara, disusul oleh Dewa dan Rendy. Sedangkan Dion dan Kirana memilih untuk tetap tinggal.


Lea, Shakila dan Shakira sedikit merasa kecewa ketika melihat Galang Cs yang beranjak pergi meningalkan kamar rawat Laura.


"Cie cie ada yang merasa kehilangan." celetuk Aarash dengan senyum meledek ke arah Lea Cs.


"Cih, siapa yang merasa kehilangan? gak merasa tuh!" cetus Lea dengan wajah yang sudah berubah warna menjadi merah. Demikian juga dengan wajah Shakila dan Shakira.


"Udah, kalian bertiga gak usah jaga image lagi. Kalian udah bisa kembali seperti semula, yang ceriwis gak mau diam, yang kalau ketawa bisa bikin gendang telinga mau pecah. Soalnya pangeran-pangeran kalian sudah pergi." Aarash kembali meledek Lea Cs, yang kini kompak mencebikkan bibir masing-masing.


"Iya,ya! kok ayah baru sadar ya, kalau kalian bertiga dari tadi diam saja, dan sok imut gitu kalau bicara? ternyata karena ada mereka bertiga." Bimo ikut-ikutan meledek sembari mangut-mangut.


"Ayaaah! Bunda lihat ayah tuh!" Lea menggelendot manja di lengan Tiara.


" Udah, udah kalian gak usah ngeledek Lea! tapi, benar juga sih, kalian tiba-tiba jadi pendiam hari ini.Jadi gara-gara mereka toh?"


"Bunda pun sama aja!" Lea mencebikkan bibirnya, dengan tangan yang bersedekap di dadanya.


"Yes, dapat! aku udah ambil photo kamu pose begitu.Nanti aku tinggal tunjukkan samaaaaa ... sama siapa tuh namanya?" Aarash menggaruk-garuk kepalanya, berusaha mengingat nama salah satu dari ketiga pemuda yang baru saja keluar tadi.


"Sama G___" Shakila langsung berhenti dan meneguk ludahnya sendiri, ketika Lea menghunuskan sorot mata yang sangat tajam ke arahnya.


"Kalian bertiga suka ya sama mereka bertiga? mau kakak bantuin gak? kebetulan mereka bertiga masih pada jomblo." Dion buka suara, yang diangguki kepala oleh Kinara.


"Nggak Kak! Gak usah." sahut Lea cepat.


"Iyain aja deh, gak usah gengsi!" celetuk Aarash.


"Huft, Kila, Kira, mending kita keluar aja! lama-lama ruangan ini makin panas!


Tbc

__ADS_1


Jangan lupa like, vote,dan komen ya gais.Thank you


__ADS_2