YOU ARE MY DESTINY

YOU ARE MY DESTINY
Aku akan menyusul Vina ke London


__ADS_3

"Kenapa tidak bisa Om?" Tanya Aariz sedikit kesal.


"Karena membatalkannya tidak semudah seperti yang kamu katakan. Itu bisa saja membuat hubunganku dengan keluarga calon besan ku itu buruk." sahut Dimas seraya menghela nafasnya.


Aariz menggusak rambutnya dengan gusar.Dia bingung bagaimana caranya lagi untuk membujuk Om Dimas.


"Om, Aariz mohon Om." Aariz tiba-tiba mengahampiri Dimas dan berlutut di kaki Dimas.


"Aariz, kamu apa-apa-an? Ayo berdiri!" Dimas mencengkram bahu Aariz dan berusaha membangunkan Aariz dari kakinya.


"Aariz gak bakal mau berdiri Om, sebelum Om bersedia membatalkan perjodohan Vina." tegas Aariz tetap pada posisinya.


Dimas menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.Dia benar-benar tidak menyangka kalau Aariz bisa bertindak merendahkan diri dengan berlutut di kakinya.


"Aariz, Om bilang, berdiri sekarang! Karna bagaimana pun kamu memohon, Om tidak akan membatalkan perjodohan Vina" suara Dimas terdengar meninggi dan tegas.


" Om, Aariz minta maaf, kalau selama ini Aariz selalu buat Vina menangis dan kasar sama Vina.Tapi Kalau Om bersedia membatalkan perjodohan itu, aku janji Om, akan membahagiakan Vina. Kalau aku ingkar janji, Om bisa potong tongkat saktiku. Aku ikhlas Om!" ujar Aariz tegas.


"Jadi, kalau aku nanti potong tuh tongkat sakti, cucuku datang dari mana?" Dimas mengeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan absurd yang keluar dari mulut Aariz.


"Kan itu aku bilang kalau aku menyakiti Vina Om. Kalau aku gak nyakitin dia, tongkat sakitku kan gak bakal dipotong! Makanya Om, batalin aja ya! Aku janji nanti akan kasih cucu-cucu yang tampan dan cantik serta lucu-lucu. Om kan tahu sendiri kalau keturunan Aryaguna bibit unggul semua! Aariz berucap antara memohon dan membanggakan diri.


Dimas sontak menggeplak kepala Aariz. " Ini kamu memohon, atau lagi membanggakan keluarga mu?"


"Sekalian, Om! " Ujar Aariz.


"Anak-anak Bimo memang gila semua. Yang satu ngebobol dulu baru nikah, sama kaya Ayahnya.Dan yang satu lagi, belum nikah udah mikirin ngasih cucu. Si Lea gimana lagi ya? dibobol duluan kali ya baru nikah!" Dimas berdecak seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Eh, jangan Om!" Aariz sontak berdiri, tidak terima ketika Dimas mengatakan Azalea dibobol dulu baru dinikahin.


"Wah, akhirnya kamu berdiri juga!" ujar Dimas.

__ADS_1


Aariz seketika tersadar.Diapun buru-buru berlutut kembali.


Dimas terbelalak kaget melihat Aariz yang kembali berlutut. " Eh, kamu kok berlutut lagi?"


"Kan Om belum batalin.Jadi aku berlutut lagi lah! Lagian yang berdiri sebentar tadi sudah lumayan cukup Om, buat ngurangin pegal"


"Astaga, Bimooo, anak lo Bim! bisa gila gue lama-lama!" Dimas memijat keningnya yang tiba-tiba pusing melihat sikap absurd Aariz.


"Udah, udah kamu pulang dulu Riz !Bisa mati berdiri Om lama-lama ngadepin kamu!" ucap Dimas dengan sedikit kesal.


"Aku akan pulang Om,kalau aku sudah dengar dari Om, kalau perjodohan Vina dengan si halang itu dibatalkan." cetus Aariz dengan penuh ketegasan.


"Halang? Siapa Halang? "Kali ini Dimas benar-benar tidak mengerti siapa Halang yang dimaksud oleh Aariz.


"Aku ogah nyebut namanya Om. Karena aku anggap dia penghalang, makanya namanya aku ganti jadi si Halang" ucap Aariz makin tidak jelas.


"Lho, Riz.. Kamu kok berlututut di kaki Om Dimas? " Sinta tiba-tiba muncul dari arah dapur. Dia baru saja selesai memasak makan malam.


Melihat kemunculan Sinta, Aariz tiba-tiba berdiri dan berganti berlutut di kaki Sinta Mamahnya Vina. " Tan, Aariz mohon, supaya perjodohan Vina dibatalin. Aariz janji akan jadi suami yang baik buat Vina nantinya " Mohon Aariz dengan wajah yang memelas.Hingga membuat Sinta bingung.


"Dulu waktu kecil, Tante sudah seperti Mamah kedua buat kami. Sekarang izinkan Aariz jadi menantu mu saja" Aariz melayangkan rayuan mautnya. Berharap rayuannya kali ini mempan terhadap Sinta.


"Lho ... lho... bukannya kamu gak suka sama putri Tante? Kok sekarang kamu malah rayu-rayu tante buat batalin perjodohan Vina?"


"Siapa bilang, Tan?. Aku cinta kok sama Vina? Yang kemarin-kemarin itu cuma prank! "


Dimas sontak memukul kepala Aariz dengan geram. " Prank dengkulmu! Kamu buat nangis anak gue terus, kamu bilang prank? lihat tuh Mah anak sahabatmu! " ucap Dimas seraya menatap Sinta istrinya.


"Hei, kamu jangan lupa juga, dia itu keturunan Bimo. Bimo itu siapa? sahabatmu kan?. Kamu juga bisa lihat sendiri kan, dia itu lebih mirip ke siapa? mirip ke Bi-mo " sahut Sinta,kesal tidak mau disalahkan.


Aariz menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal melihat perang dingin yang terjadi di depannya. " Om, Tante, udah dong bercandanya!" celetuk Aariz tanpa memperhatikan kondisi yang terjadi antara Dimas dan Sinta.

__ADS_1


"Siapa yang bercanda? Kami lagi berantem Aariz! " bentak Dimas dan Sinta hampir bersamaan dengan sorot mata yang terhunus tajam ke arah Aariz.Hingga membuat Aariz seketika bergidik ngeri.


"Jadi keputusannya gimana Om? dibatalin kan? biar aku ketuk palu."tanya Aariz seakan tidak perduli tatapan tajam kedua orangtua Vina.


Dimas akhirnya menghela nafasnya dengan hembusan yang cepat. " Kamu pulang dulu Riz, sama seperti yang Om katakan tadi. Membatalkan perjodohan itu tidak semudah seperti yang kamu katakan tadi.Banyak hal yang harus dipertimbangkan.Lagian Vina harus menyelesaikan kuliahnya dulu, baru menikah.Jadi masih lama lagi.Jika suatu saat kamu berjodoh dengan Vina, kalian pasti akan bersama.Om sama Tante akan tetap mendukung pilihan Vina. Yang penting dia bisa bahagia dengan pilihannya " ujar Dimas diplomatis seraya meraih bahu Aariz dan mengajaknya berdiri.


"Tapi, Om. Kalau Vina nanti sama laki-laki itu terus. Bisa saja nanti Vina melupakan Aariz. Aku tidak mau itu sampai terjadi Om. "


"Kalau itu sampai terjadi, berarti kalian tidak jodoh" ucap Dimas seraya menepuk-nepuk pundak Aariz.


"Kalau begitu aku akan menyusul Vina ke London Om. Aku mau terus jagain hati Vina biar gak berpaling pada orang lain " tukas Aariz dengan yakin.


"Gak boleh!. Nanti kamu ngebobol anakku duluan lagi !" sergah Dimas cepat.


"Aku gak sebejat itu, Om! Tapi kalau memang harus begitu jalannya, agar aku bisa bersama Vina, kenapa tidak?" seulas senyuman terbit di sudut bibir Aariz sambil mengerling jenaka ke arah Dimas.


"Edan! awas kalau itu sampai terjadi, aku akan benar-benar akan memotong tongkat saktimu" Ancam Dimas dengan mata yang melotot ke arah Aariz.


"Kalau tongkat saktiku Om potong,nanti Vina gak ada mainan Om! dan bukan Vina aja yang rugi.Om juga bakal rugi gak bisa dapat cucu.


"Bocah edan, sableng. Sana pulang kamu! lama-lama aku bisa gila ladenin kamu!" Dimas beranjak meninggalkan Aariz seraya menarik tangan Sinta istrinya.


"Pah, Mamah mau dibawa kemana? Aariz belum pulang tuh!" Sinta berusaha menepis tangan Dimas suaminya.


" Kita ke kamar, Mah! buatin si Vano adik! Kalau Aariz biarian aja dia pulang sendiri. Toh dia datang gak diundang, pulang juga gak usah diantar"


"Jailangkung dong gue. Dasar bandot tua.gak sadar umur.Anak udah pada dewasa juga, masih mau buat anak lagi" umpat Aariz, yang tiba-tiba merasa panas dingin.Pikirannya langsung traveling ke adegan iya-iya seraya buru-buru meninggalkan rumah Dimas.


Tbc


Jangan lupa like, vote dan komen ya gais.Thank you

__ADS_1


__ADS_2