YOU ARE MY DESTINY

YOU ARE MY DESTINY
Nikahi Ayu!


__ADS_3

Sinar mentari membias masuk ke dalam kamar,dari celah-celah gorden tipis berwarna putih . Akan tetapi, cahaya itu tidak mampu membuat 2 sejoli yang masih terlelap tanpa pakaian itu terbangun.


Sementara itu, di bawah sedang terjadi kehebohan dimana bi Asih berteriak, meneriakkan kalau Ayu hilang.


"Bibi yang tenang dulu, Ayu hilang bagaimana bi? " Tiara berusaha menenangkan Bi Asih yang wajahnya sudah terlihat pucat.


"Bibi juga gak tahu bu. Tadi pagi Bibi bangun sudah tidak melihat Ayu di kamar.Tadi malam Ayu nyetrika pakaian sampai larut malam, makanya Bibi tinggal tidur.Jadi Bibi gak tahu lagi Ayu pergi kemana." Bi Asih menjelaskan dengan nafas yang sedikit tersengal-sengal.


"Apakah pakaian Ayu masih ada semua? " Kini giliran Bimo yang bertanya.


"Masih ada Pak. Semuanya lengkap." sahut Bibi Asih.


Bimo manggut-manggut,lalu menoleh ke arah Aariz.


"Riz tolong panggilkan Pak Kusno kesini!"


"Iya ayah" Aariz mengayunkan kakinya menuju keluar untuk memanggil Pak Kusno -security rumah mereka.


Sembari menunggu kedatangan Aariz dan Pak Kusno, Tiara mengelus-elus pundak Bi Asih dengan lembut.


Tidak berselang lama, Aariz datang bersama dengan Pak Kusno di sampingnya.


"Pak Kusno, apakah Bapak melihat Ayu keluar dari rumah ini tadi malam? " Bimo bertanya begitu Pak Kusno berdiri di depannya.


"Tidak ada sama sekali Pak Bimo" Jawab Pak Kusno dengan jelas.


"Jadi kemana dia?" Bimo mengrenyitkan keningnya pertanda kalau kini dia juga sedang bingung.


"Yah, aku lihat mobil Ka Aarash tidak ada di depan. Apakah dia ada ngomong kalau dia tidak akan pulang tadi malam? " tanya Aariz.

__ADS_1


"Apa?! Aarash tidak pulang? dia tidak ada ngomong apa-apa sama Ayah! Tapi ayah gak tahu, kemungkinan saja dia ada kasih kabar sama Bundamu. " menoleh ke Tiara dengan tatapan penuh tanya dan keingintahuan.


"Dia juga tidak ada ngomong apa-apa sama Bunda. " sahut Tiara.


"Maaf , Pak, Bu! Tuan muda Aarsh pulang kok tadi malam. Dia pulang dengan taksi,bukan dengan mobilnya. Dan tuan Aarash tadi malam sepertinya terlihat aneh dan seperti sedang menahan sakit Pak! " Pak Kusno menuturkan apa yang dia lihat tadi malam.


"Maksud Pak kusno, menahan sakit bagaimana? " Bimo sedikit meninggikan nada suaranya.


Pak Kusno sedikit terjengkit kaget mendengar suara Bimo yang meninggi.


" Ma-maaf Tuan. Aku juga kurang tahu. Yang aku lihat, wajah Tuan muda Aarash terlihat memerah, sedikit menggigil. Tuan Aarash juga terlihat buru-buru berlari ke dalam." tutur Pak Kusno.


"Sepertinya ada sesuatu yang terjadi pada Aarash,aku mau lihat dia dulu ke atas! " Aariz hendak berlari, tapi ditahan oleh Tiara. Karena setelah mendengar penuturan Pak kusno, ciri-ciri yang disebutkan itu hampir sama dengan yang terkena obat perangsang. Entah kenapa feelingnya mengatakan kalau Aarash sekarang bersama dengan Ayu Dan dia yakin pasti ada sesuatu yang terjadi tadi malam.


"Bi, aku mau tanya, pakaian kami jelas pasti masih di tempat Ayu menyetrika karena tadi malam kami sudah tidur, selain pakaian kami, pakaian siapa aja yang masih ada di sana? " tanya Tiara seraya memicingkan kedua matanya.


"Semua nya masih ada Bu, cuma pakaian Tuan Aarash yang tidak ada" sahut Bi Asih dengan kening yang berkerut, bingung dengan arah pembicaraan Tiara.


"Yah, kamu pasti tahu apa yang ada dalam pikiranku kan?" menoleh ke arah Bimo, dan langsung di jawab dengan anggukan kepala oleh Bimo.


"Biar aku yang saja yang masuk ke dalam kamar Aarash! kalian semua tunggu di luar saja" Tiara beranjak naik ke atas menuju kamar Aarash, disusul oleh Bimo dan yang lainnya kecuali Pak Kusno. Pak Kusno langsung kembali ke pos nya.


Tiara membuka pintu kamar Aarash yang kebetulan tidak terkunci dengan pelan, lalu menutupnya kembali. Dengan langkah berat dan jantung yang berdetak cepat, Tiara menghampiri ranjang tempat Aarash terbaring.


Mulut Tiara ternganga melihat pemandangan yang ada di depannya. Dia melihat dua insan yang terbaring tanpa pakaian. Cepat-cepat dia menutup tubuh keduanya dengan selimut.


Setelah itu dia memungut pakaian Ayu yang sudah tidak berbentuk lagi. Seketika dia teringat dengan kejadian yang menimpanya dulu. Tiara melihat jidat Ayu yang sedikit memar, dia yakin kalau tadi malam pasti Aarash sudah memperlakukan Ayu dengan sangat tidak manusiawi.


Dengan Amarah yang sudah memuncak, Tiara memukul kepala Aarash dengan keras.

__ADS_1


"Arrash, bangun! bentak Tiara dengan nada tinggi, sehingga Aarash seketika terlonjak kaget demikian juga dengan Ayu.


"Bu-bunda apa yang terjadi? dan kenapa kamu ada di kamarku?" Aarash menoleh ke arah Ayu, yang raut wajahnya sudah terlihat ketakutan dan air mata yang sudah kembali merembes membasahi pipinya.


mendengar pertanyaan Aarash, sontak membuat Tiara kembali naik pitam. Dengan keras di memukul kepala Aarash.


"Kamu masih bertanya kenapa dia di kamar mu hah?!" Tiara membentak Aarash dengan sorot mata yang sangat tajam.


Seketika rentetan kejadian semalam terlintas di kepala Aarash. Aarash refleks menyingkap selimut yang menutup tubuhnya. Dengan mulut ternganga dia melihat kalau tubuhnya tidak ada sehelai benang pun yang menempel.


Wajah Aarash seketika panik. " Ma-maaf Bun, ini di luar kendali ku.Aku melakukannya tidak sadar Bun, aku di bawah pengaruh obat. Cindy telah memasukkan sesuatu ke dalam minuman ku. Aku tidak berniat untuk melakukannya pada Ayu. Awalnya aku ingin berendam dengan air dingin, tapi Ayu justru ada di dalam kamarku Aku jadi gelap mata Bun. maafkan aku! "


Tiara menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar, berusaha untuk mengontrol emosinya. Tiara sedikit bersyukur setidaknya Aarash tidak jatuh kepada jebakan yang direncanakan oleh Cindy.


"Kamu harusnya minta maaf sama Ayu, bukan sama Bunda. Sekarang kamu kenakan pakaianmu! dan kamu Ayu, Kamu tunggu di sini! " Tiara berjalan keluar dan berseru pada putrinya Azalea. " Lea, bawakan pakaian mu ke sini! pakaian yang bisa dipakai Ayu! " Lea segera berlari dan mengambil pakaiannya sesuai dengan perintah Bundannya.


Tidak berselang lama Lea kembali dengan pakaian di tangannya.Setelah menerima pakaian dari tangan Lea, Tiara kembali masuk dan membantu Ayu untuk mengenakan pakaian di tubuh Ayu.


Setelah selesai, Tiara kembali kembali keluar untuk memanggil keluarganya masuk. Bibi Asih langsung berlari memeluk Ayu yang langsung menangis sesunggukan didalam pelukan Bi Asih.


"Lihat anakmu Bimo, kelakuannya sama sepertimu! Tiara, berucap dengan nada menyindir. Karena jujur, setelah melihat kondisi Ayu, yang tidak ada bedanya dengan dirinya bahkan lebih parah, dia langsung teringat dengan perbuatan Bimo dulu padanya.


Bimo, merasa tersindir dengan ucapan Tiara istrinya.Karena yang dikatakan istrinya itu benar adanya. Dia mengepalkan kedua tangannya, dan ingin memukul putranya. Tapi, ketiak dia hendak memukul Aarash, Bimo teringat juga perbuatannya dulu. Dia bahkan lebih bejat dari anaknya.Dulu dia melakukannya secara sadar tanpa kendali obat, sedangkan Aarash melakukannya karena di bawah pengaruh obat.


Aariz berjalan menghampiri Aarash, tangannya terayun ingin melayangkan pukulannya ke wajah Aarash, tapi tangannya seketika terhenti di udara, begitu mendengar seruan Bundanya.


"Jangan ada yang memukul Aarash, cukup Bunda aja yang menghukumnya !"Tiara mendelik ke arah Aariz yang langsung menurunkan tangannya. Akan tetapi kilatan amarah dan rahang yang mengeras masih terlihat pada raut wajah Aariz.


"Satu hal yang harus kalian ingat, Aarash melakukannya karena Cindy ingin menjebak Aarash dengan memasukkan obat perangsang ke dalam minumannya.Dan dia tidak bermaksud melakukannya pada Ayu. " Tiara diam sejenak untuk kembali mengatur nafasnya. Setelah itu dia berkata kembali. " Aarash sekarang kamu harus menikahi Ayu !"

__ADS_1


Tbc


Jangan lupa untuk meninggalkan jejak. Please like, vote dan komen.


__ADS_2