YOU ARE MY DESTINY

YOU ARE MY DESTINY
Apakah Vina datang?


__ADS_3

Aariz melewati rumah Davina dan berhenti sejenak di depan pintu pagar berwarna gold itu. Dia menatap ke arah kamar Davina yang sudah gelap. Pertanda sang pemilik kamar sudah tidur. Aariz menghela nafasnya dan menjalankan kembali mobilnya menuju rumahnya.


Aariz tiba di rumah sudah pukul 10 lewat 15 menit. Keadaan rumah sudah sangat sepi. Sebelum naik ke atas, Aariz terlebih dahulu masuk ke dapur, menuangkan air putih dari dispenser kedalam gelasnya setelah itu dia meneguknya dengan cepat. Ketika dia ingin berbalik ingin naik ke kamar, Aariz berteriak kesakitan ketika seseorang memukul kepalanya dengan keras.


"Kamu mau mencuri ya? nih rasakan... rasakan"


"Hei, hentikan! Ini aku Aariz, bukan pencuri "


"Tu-Tuan Aariz? ma-maaf Tuan. Aku kirain tadi maling. Lagian kenapa tuan tidak menyalakan lampunya? " Ayu berlajan ke arah saklar lampu dan menekannya, sehingga lampu itu pun akhirnya kembali terang.


" Aku cuma sebentar, cuma mau minum saja. Kalau kamu mau ngapain ke dapur?


"Aku haus Tuan. Jadi, mau ambil minum juga" ucap Ayu, sambil menunduk.


"Oh, ya udah. kalau haus kenapa masih berdiri di situ? Rasa haus kamu langsung hilang ya, begitu melihat wajah tampan ku? itu mah udah biasa. Bahkan dulu ada teman kampus aku katanya kalau liat aku langsung kenyang.Ya udah pas ada acara Mapala 3 hari ,dia juga gak makan-makan selama 3 hari. Besoknya mati Yu! " sifat konyol dan narsis Aariz mendadak kumat.


Kedua netra, Ayu langsung membulat dengan sempurna, mendengar ucapan narsis Aariz yang menurut Ayu sudah mencapai level akut.


"Lho kok jadi bengong Yu? Mau aku yang ambilin minumnya? Aariz mengerlingkan matanya untuk mengoda Ayu.


Ayu gelagapan, dan Wajahnya langsung merona, memerah seperti kepiting rebus yang baru diangkat dari kompor.


"Ng-ngak usah Tuan! biar Ayu sendiri aja yang ambil" Ayu terburu-buru melangkah ke arah dispenser yang berada persis di belakang Aariz. Lalu mengisi gelas kosong dengan air putih sampai penuh dengan tangan agak gemetaran karena gugup.


"Yu, Jangan panggil tuan dong! panggil Aariz aja.sepertinya kita seumuran!"


"Ma- af Tuan! tapi aku gak pantas untuk manggil hanya nama saja. Karena aku sama Tuan itu beda "

__ADS_1


"Apa bedanya? Aku manusia, kamu manusia. Kan sama Yu! " ucap Aariz yang dari dulu memang tidak pernah memandang orang yang tidak sederajat itu rendah.


Tanpa mereka sadari Aarash yang sebenarnya belum tidur, melihat semua interaksi antara Aariz dan Ayu dari awal. Tadinya dia kira memang ada maling ketika mendengar teriakan Aariz. Dia berlari turun dan melihat ternyata penyebab kegaduhan itu Aariz dan Ayu.


Aarash kembali masuk kedalam kamarnya, dengan perasaan yang campur aduk. Ada perasaan tidak senang ketika melihat Aariz menggoda Ayu.Walaupun dia tahu, kalau Aariz sudah biasa melakukan hal itu pada gadis-gadis lain.Karena pada dasarnya Aariz itu supel dan humoris. Beda dengan dirinya yang kaku dan terkesan dingin. Sebenarnya dia ingin juga seperti Aariz, tapi setiap dia mulai sedikit bercanda, bukannya tawa yang dia dapat, tapi tatapan bingung seakan -akan dia itu makhluk aneh.


"Arghhh !kenapa sih wajah si Ayu itu selalu muncul di pikiranku? Jangan sampai aku jatuh cinta padanya. Aku harus mencari Laura mulai besok. Aku yakin kalau dia masih hidup. " Bisik Aarash pada dirinya sendiri, seraya memejamkan kedua matanya.


Sementara itu dua insan yang berada di dapur, sepertinya belum ada niat untuk kembali ke kamar masing-masing. Sebenarnya Ayu sudah mau kembali ke kamarnya tapi Aariz menahannya sebentar untuk menanyakan sesuatu. Apalagi yang mau ditanyakan kalau bukan tentang kunjungan keluarga Hartono tadi.


" Yu , calon istri Aarash cantik gak? " Aariz mencoba mengorek tentang Laura dari Ayu.


" Cantik sih Tuan,tapi kayanya perjodohannya dibatalkan! " Entah kenapa, ada terselip rasa bahagia dalam hati Ayu, ketika mengingat kalau Aarash tidak jadi menikah dengan Cindy.


"Hah? kok bisa? Aarash kan sudah lama nunggu Laura? " Aariz mengrenyitkan alisnya, penasaran dengan apa yang baru saja didengarnya.


" Cicak? "


"Bukan! Ci..., ck, apa ya? "


" Cilok? ,cimol? Cinta? "


" Oh, Cindy Tuan. Ya ... ya.... nama perempuan itu Cindy."


" Hmmm, Cindy? kok bisa ya ? " Aariz menggaruk dagunya yang tidak gatal sama sekali dengan ekspresi bingung.


"Kalau untuk itu, aku gak tau Tuan! Maaf Tuan, bolehkah aku pamit balik ke kamar sekarang? Soalnya aku sudah ngantuk tuan." tanya Ayu hati-hati.

__ADS_1


"Oh ya udah. silahkan! "


*********


Setelah Ayu kembali ke kamarnya, tidak berselang lama, Aariz pun masuk juga kedalam kamarnya. Setelah membersihkan tubuhnya, dia pun membaringkan tubuhnya ke atas ranjang. Matanya menerawang memandang langit-langit kamarnya, pikirannya kembali mengingat Davina.


"Apakah gue harus minta maaf sama dia? tengsin dong gue. Tapi, kalau tidak minta maaf, yang ada gue akan merasa bersalah terus sama dia."


Aariz, menghirup udara dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan cepat. " Huft kayanya gue memang harus minta maaf sama dia. Gue yakin, kalau besok pagi dia bakal datang lagi ke sini" . Aariz membatin seraya manggut-manggut. Cukup lama Aariz tidak bisa memejamkan matanya. Dari tadi dia hanya mem-bolak-balikkan badannya di atas tempat tidur. Entah kenapa pikirannya tidak pernah lepas dari bayangan Davina yang menangis.


Waktu sudah menunjukkan pukul 2 lewat 15 menit, tapi tidak ada tanda-tanda Aariz akan bisa tidur. Kira-kira pukul 4 subuh akhirnya Aariz pun bisa terlelap dengan kegalauan yang masih tersisa.


********


Cahaya Mentari terlihat membias memenuhi ruangan kamar Aariz. Tapi cahayanya tidak membuat Aariz merasa terganggu. Dia tetap saja setia berada di bawah selimut menutup kedua matanya. Bunyi Alarm yang sudah berkali-kali berbunyi, juga sama sekali tidak digubrisnya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi, Aariz menggeliat, mengerjap-erjapkan matanya, duduk, lalu menguap sambil merenggangkan tubuhnya.Dia menoleh ke arah jam wekker yang terletak di atas nakas, samping tempat tidurnya. Akan tetapi jam weker itu tidak terlihat ada pada tempatnya. Aariz bergerak untuk mencari, ternyata jam wekernya sudah terkulai lemas di lantai. Mungkin karna terlalu capek berteriak membangunkan Aariz,si Jam weker pun lemas dan terjatuh dengan sendirinya ke lantai.


Aariz memungut jamnya untuk mengetahui pukul berapa sekarang. Netra Aariz terbeliak melihat angka yang ditunjukan oleh jarum jam itu. Aariz sontak melempar asal jam itu, dan berlari turun kebawah tanpa mandi ataupun gosok gigi.


Dia melihat Bunda dan Ayahnya, sudah rapi dan sepertinya mau pergi keluar.


" Bunda.... Apa tadi Vina sudah datang kesini? " Tanyanya tanpa sadar. Sehingga membuat Tiara dan Bimo saling menatap, heran dan bingung atas pertanyaan Aariz.


Tbc


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya gais. Like, vote dan komen.Thank you.

__ADS_1


__ADS_2