YOU ARE MY DESTINY

YOU ARE MY DESTINY
Akhirnya


__ADS_3

"Kenapa sih yang, main tarik-tarik segala?" protes Bimo kesal.


"Jadi lo masih mau bantuin Seno?" tanya Amira mendelikkan matanya.


"Iya lah, dia kan sahabat ku!"


"Kalau kamu masih mau bantu, sekarang kamu tinggal pilih, kamu mau mati dengan cara apa? mau di kasih racun, mau didorong dari rooftop apartemen Seno atau mau cara yang lainnya? " kesal Tiara,karena dari tadi Bimo masih belum peka.


"Apa-an sih yang?kamu mau aku cepat mati? lagian apa hubungannya coba dengan mati sama bantu sahabat? "


"Bimo sayang, dengar ya my heart, Kalau kamu bantu Seno melakukan pelunasan cicilan,sama aja kamu ikut, menggali gua nya Amira!" jelas Amira, yang membuat Bimo semakin kebingungan.


"Jujur yang, aku benaran ga ngerti!" Bimo menggelengkan kepalanya.


"Bim, cicilan yang mereka maksud itu, kegiatan pra bercocok tanam, di lahan Amira.Selama ini kan mereka belum benar-benar jadi suami istri seutuhnya, karena ladang si Amira lagi banjir.Selama seminggu ini, mereka mencicil dulu,cuma main di bagian atas. Jadi, sepertinya sekarang banjirnya sudah surut, dan mereka mau melakukan pelunasan cicilan mereka malam ini.Kamu ngerti sayang? " Jelas Tiara pajang lebar.


"Hahaha, berarti yang kita datang,mereka lagi on ya?pantesan aja muka Seno kaya banteng yang lagi marah! Bimo tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya.


"Udah yang,gak usah segitunya kali." ucap Tiara menghentikan tawa Bimo.


"Lagian,salah Seno sendiri yang, ngapain pake istilah-istilah segala! "


" Cih, macam kamu gak gitu juga yang! " sindir Tiara.


Bimo mengambil ponselnya,dan mengetik pesan dan langsung mengirimkannya ke Seno.


"Maaf sob, gue beneran gak tau maksud istilah yang lo pakai.Sekarang gue mau bilang,good luck, semoga lancar,semoga bisa langsung tembus sekali coblos. Dan mudah-mudahan bibit lo unggul kaya gue "

__ADS_1


****


Sementara itu, Seno yang sudah terbakar gairah, tidak memperdulikan ponselnya yang berbunyi. Dia tetap melancarkan aksinya untuk menyelesaikan misi yang sempat tertunda, karena insiden yang baru saja terjadi.


Walaupun, senjata laras panjangnya meleset berkali-kali, karena sasaran sangat sempit, dan teriakan sakit dari si empunya gua, Seno tidak putus asa dan terus mencoba.Akhirnya setelah percobaan kesekian kalinya, akhirnya Seno berhasil menggali si gua, dan langsung masuk menyelusuri goa. Burung tanpa sayap,milik Seno dengan seenak hatinya masuk dan keluar berulang kali.Karena terlalu capek keluar masuk, burung tanpa sayap tadi, akhirnya pun muntah di dalam gua milik Amira, dan dengan tidak ada akhlaknya mengalir mengarungi dalamnya gua untuk berhenti mencari tempat perhentian yang sebenarnya.


Seno dan Tiara kini berlomba-lomba untuk meraup udara,untuk mengisi kembali paru-paru yang sempat mulai kosong dengan udara akibat dari pergulatan panas yang baru saja terjadi.Nafas mereka berdua masih terlihat ter engah-engah.Tubuh mereka berdua masih penuh dengan buliran keringat.Mereka terlihat lelah,tapi wajah mereka tampak bersinar dan mereka berdua masih merasakan sisa-sisa kenikmatan yang baru saja mereka dapatkan.


Seno mecium perut Amira dan membisikkan sesuatu disana.


"Cepat hadir ya sayang di perut mami" bisik Seno tersenyum.


Setelah itu dia mengecup kening Amira dengan penuh ketulusan.


"Terima kasih ya sayang,sudah mau menjaganya dengan baik untuk ku" ucap Seno.


Amira hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.Amira kini juga sangat bahagia,karena dia bisa menyerahkan kehormatannya pada orang yang tepat, dan kini dia merasa sekarang sudah menjadi seorang istri yang seutuhnya.


*****


Matahari, kini dengan malu-malu sudah mulai menunjukkan pesonanya.Cahayanya sudah membias masuk dari arah jendela kaca yang gordennya lupa mereka tutup. Seno menggeliat dan mengerjap-erjapkan matanya. Dia merasakan sedikit pegal di lengan sebelah kirinya, karena semalaman Amira menggunakan nya sebagai bantal.


Seno melihat kearah Amira istrinya yang terlihat masih terlelap, dan tidak merasa terganggu dengan sinar matahari yang masuk ke kamar mereka berdua. Dia tersenyum melihat karyanya di tubuh istrinya yang sudah seperti sisik ikan.


Entah sudah berapa kali tadi malam, mereka berdua melakukan penyatuan.Seno seperti merasa tidak pernah bosan,sekarang aja senjata laras panjangnya, sudah siap untuk menembakkan pelurunya lagi.Tapi Seno ga setega itu,melihat Amira yang masih terlihat kecapean dia gak mau melakukannya sekarang.


Dengan perlahan Seno mengangkat kepala Amira dan meletakkannya kembali ke atas bantal.Seno turun dari ranjang dan beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.

__ADS_1


Amira terbangun dan melihat kalau Seno, sudah tidak ada di sampingnya.Kedua netranya mengitari ruangan itu,untuk mencari keberadaan Seno.Amira mendengar suara gemericik air,dari arah kamar mandi,itu menandakan kalau Seno sedang mandi. Tidak lama kemudian Seno keluar dari kamar mandi.Begitu mengetahui Seno keluar dari kamar mandi, Amira menutup tubuhnya dengan selimut,karena malu menatap wajah Seno.


"Kenapa wajahnya ditutupi yang?" tanya Seno sambil berusaha menyingkap selimut dari tubuh Amira.


"Aku malu yang" ucap Amira pelan seperti berbisik.


"Ngapain malu? aku kan suami mu!.Sekarang kamu bangun ya dan mandi." ujar Seno lembut


Amira mempelihatkan wajahnya dan cengengesan melihat Seno.Amira menganggukan kepalanya dan hendak turun dari ranjang, dengan selimut tetap terbalut di tubuhnya. Dia meringis sedikit,karena masih merasakan perih di bawah sana.Dengan perlahan Amira berjalan ke arah kamar mandi dengan tetap membawa selimut kedalam kamar mandi.


"Yang, kok selimutnya dibawa-bawa segala? aku kan sudah melihat semuanya? bahkan kita juga sudah... "


"Diam! kalau masih ngomong aku sumpal tuh mulut" ucap Amira menutup pintu kamar mandi dengan keras.


Sudut bibir Seno terangkat sedikit, melihat tingkah istrinya yang biasa nya tidak tahu malu, kini terlihat malu-malu.


Seno meraih ponselnya dan mengirimkan pesan ke Bimo,untuk tidak masuk kerja hari ini.Karena hari ini Seno berencana untuk meyiapkan segalanya untuk bulan madu mereka besok.


Amira membuka pintu perlahan,dan mengintip sedikit,untuk memastikan kalau Seno sudah keluar dari kamar karena dia tidak membawa pakaian ganti sama sekali.


Seno sebenarnya sudah meyadari hal itu, dengan sedikit berjinjit,dia bersembunyi di tembok dekat pintu kamar mandi.


"Hayo, ngapain ngintip-ngintip yang? " ucap Seno tiba-tiba,sehingga Amira terjengkit kaget, dan refleks membanting pintu tepat di hidung Seno.


"Auch! sakit"jerit Seno sambil memegang hidungnya yang sudah nampak memerah.


Mendengar teriakan Seno, Amira tanpa sadar panik dan keluar dengan hanya handuk yang membalut tubuhnya. Melihat hal itu, Seno kembali terbakar gairahnya dan akhirnya mereka melakukan hal yang mereka lakukan tadi malam.

__ADS_1


TBC


Jangan lupa ritualnya.Tap like,vote dan komen. karena satu like dari readers merupakan penyemangat buat saya untuk tetap berkarya.Thank you


__ADS_2