YOU ARE MY DESTINY

YOU ARE MY DESTINY
Apakah ayah akan meninggalkan kami lagi?


__ADS_3

"Om Bimooo" teriak si kembar berbarengan, begitu melihat Bimo turun dari mobil. Aariz berlari seketika ke arah Bimo,sedangkan Aarash hanya duduk, menunggu dihampiri, karena masih dalam tahap pemulihan. Bimo mengendong Aariz, dan langsung mengahampiri Aarash yang menyambutnya dengan senyuman yang sumringah.


"Yang disambut om bimonya doang nih? bundanya nggak?" Tiara memasang wajah pura-pura sedih.


"Bunda juga dong, cuma kan, kita tiap hari ketemu bunda! kalau sama om Bimo kan, kalau datang ke sini aja!" ucap Aariz dan diangguki Aarash.


"Emang Aarash dan Aariz mau tinggal serumah dengan om Bimo?" Tanya Bimo sedikit was-was.


"Mau dong om.Tapi nanti oma Sarah kasih izin gak om? tanya Aariz polos.


"Sendainya oma Sarah kasih izin pun, om Bimo tetap tidak bisa tinggal bersama kita!" timpal Aarash tiba-tiba.


"kok gak bisa?" Aariz kebingungan.


" Bunda harus menikah dulu sama om Bimo baru bisa". ucap Aarash lugas, yang entah dari mana tahu hal seperti itu.


"Kalau begitu, om sama bunda menikah saja kan gampang" ujar Aariz.


Mendengar ucapan Aariz, Bimo refleks menoleh ke arah Tiara yang kebetulan juga sedang melakukan hal yang sama dengan nya.


"Tidak bisa Aariz, karena bunda kita sudah menikah dengan ayah kita!, kalu nanti ayah kita pulang bagaimana?"


" Aku tidak mau, ayah kita kembali, bukannya kamu juga tidak mau dia kembali? ucap Aariz.

__ADS_1


Bimo merasakan sakit di hatinya mendengar kenyataan, kalau sebenarnya kedua anaknya tidak menginginkan kehadiran ayah kandung mereka.Tiara menyadari perubahan wajah Bimo,dan dia memahami apa yang dirasakan oleh Bimo sekarang.


"Tapi, bagaimana kalau orang yang kalian panggil om ini, adalah ayah kalian yang sebenarnya?" Tiara bertanya dengan sangat hati-hati.


Aarash dan Aariz diam tidak bergeming, menatap wajah Bimo dan Tiara bergantian,membuat Bimo menelan ludahnya sendiri,menanti jawaban dari kedua bocah itu.


"Bunda, bukannya selama ini, bunda mengajarkan kami kalau berbohong itu tidak baik? dan itu adalah dosa? tapi kenapa bunda sekarang mau berbohong?" Aarash memicingkan kedua matanya kearah Tiara.Dia merasa saat ini, Tiara sedang membohongi mereka.


"Tapi, bunda kalian sedang tidak berbohong nak, aku memang ayah kalian berdua" Bimo sedikit membungkukkan badanya untuk mensejajarkan tubuhnya dengan kedua bocah itu.


Sementara itu Aarash dan Aariz menatap Tiara untuk memastikan kebenaran yang di ucapkan Bimo. Tiara menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari keraguan kedua anaknya.


Aarash dan Aariz mundur seketika, menjauh dari Bimo, setelah memperoleh kepastian dari Tiara. Bimo merasa sedih,mendapat penolakan dari kedua anaknya. Dia memberanikan diri meraih Aarash dan Aarish kembali, Tapi kedua bocah itu langsung menepis tangan Bimo dan membuang mukanya ke arah lain.


"Apakah kalian membenci ayah?"


"Nak, apakah kalian benar-benar tidak mau melihat ayah? tanya Bimo dengan wajah sedih.


"ternyata om Bimo adalah orang, yang telah membuat bunda kami selama ini selalu menangis.Kemana om selama ini, disaat bunda kami selalu di hina orang? disaat kami selalu di panggil anak haram sama teman-teman? om tidak tahu kan kalau dulu kami sering menangis? bahkan dulu, kami hanya bisa iri melihat teman- teman, yang di ajari main sepeda oleh ayah mereka, bermain bola bersama dengan ayah mereka." ucap Aarash yang masih enggan memanggil Bimo dengan sebutan ayah.


"Maafkan ayah nak, ayah janji, mulai saat ini ayah akan mengganti semua waktu yang telah hilang" Bimo menitikkan air matanya mendengar kata-kata kedua anaknya


"Tidak bisa om, om tidak akan pernah bisa menggantinya" Aarash berjalan meninggalkan Bimo dan disusul oleh Aariz.

__ADS_1


Bimo tidak bergeming melihat kepergian kedua anaknya.Air matanya mengalir semakin deras.Bimo terduduk lemas dilantai.Tiara juga tidak menyangka,kalau ternyata kedua anaknya sering memperhatikan dirinya yang sering menangis.Air matanya juga sudah mengalir dari tadi mendengar setiap ucapan yang keluar dari mulut anaknya.


"Bim, kamu yang sabar ya! aku akan berusaha, membujuk anak-anak untuk memaafkan mu,aku yakin kalau sebenarnya mereka sayang sama kamu.Mereka hanya sedikit shock aja, karna ini memang terlalu tiba-tiba buat mereka, kamu tunggu sebentar disini, aku mau menyusul mereka ke dalam!" Tiara melangkah masuk kedalam, menyusul kedua anaknya.


Tok tok tok


" Boleh bunda masuk?" Tiara masuk dan melihat kedua anaknya duduk di atas kasur.Tiara pun duduk dan mengelus kepala kedua anaknya dengan lembut.


"Sayang, apakah kalian benar-benar tidak bisa memafkan ayah?" ayah Bimo sebenarnya sangat sayang sama kalian berdua"


" Tidak, dia tidak pernah sayang pada kami! kalau dia sayang, dia pasti ada buat kami selama ini bunda! Kami bahkan sudah dekat selama ini, tapi kenapa baru sekarang dia mengakuinya? ucap Aarash sambil mengeluarkan air mata yang dari tadi berusaha dia tahan di depan Bimo.


"Aarash, Aariz, bunda tahu kekecewaan kalian sama ayah Bimo.Tapi ini bukan sepenuhnya salah om Bimo nak.Selama ini om Bimo tidak tahu, kalau kalian anak kandungnya.Bunda menghilang dari ayah kalian 7 tahun.Ayah kalian tidak pernah tahu kalau bunda melahirkan anak-anaknya.Ayah Bimo selama ini, juga sudah mencari bunda kemana-mana.Seandainya Aarash tidak kecelakaan saat itu, kemungkinan ayah juga bakal tidak tahu kalau kalian anak-anaknya.


Rash, kamu tahu tidak, orang yang memberikan darahnya,agar kamu selamat, itu ayah Bimo nak, bagaimana pun dalam diri kalian berdua mengalir darah ayah Bimo juga, karena kalian berdua itu darah daging ayah kalian berdua" Tiara memberi penjelasan dengan lembut dan berharap kedua anaknya mau mengerti.


"Bun, apakah ayah Bimo itu benaran sayang sama kami" Tanya Aariz yang sudah memanggil Bimo dengan sebutan ayah.


"Iya nak, Bunda dulu juga pernah bilang,kalau kita harus saling memaafkan, jadi, bunda mau anak-anak bunda mau berbesar hati untuk memaafkan ayah Bimo. Rash ingat gak, kamu pernah nanya bunda, apakah ayah kami,sebaik om bimo? ayah kalian bukan hanya sebaik om Bimo, tapi ayah kalian itu om Bimo sendiri.Apakah kamu tidak mau memeluk orang yang selama ini kalian rindukan nak?"


Sementara itu, Bimo memandang kearah pintu, berharap akan ada keajaiban, kedua anaknya datang kembali dan memeluknya.Tapi sepertinya apa yang di harapkannya itu sia-sia.Tidak ada tanda-tanda sama sekali, kalau Aarash dan Aariz akan datang. Bimo menghela nafasnya keras.Dengan gontai, dia melangkah menuju mobilnya.


"Ayah mau kemana? apakah ayah akan meninggalkan kami lagi?"

__ADS_1


TBC


Please untuk tetap meninggalkan jejaknya ya zheyenk- zheyenk ku.like,vote dan komen.Thank you🥰🥰


__ADS_2