
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan.Tidak terasa kini kandungan Tiara tinggal menunggu hari.Menurut prediksi dokter,Tiara akan melahirkan bayinya seminggu lagi.
Tiara kini sudah tinggal di rumah mertuanya,Ibu Sarah,karena khawatir kalau-kalau Tiara kenapa-napa ketika Bimo tidak ada di rumah.Karena dua bulan yang lalu, Ibu Sumi,orang yang sudah menganggap Tiara anak kandungnya sudah meninggal karena sakit tua dan sudah dimakamkan di Bandung.
Pagi ini dan kebetulan juga hari Minggu,Tiara sudah merasakan kram dan kontraksi di bawah perutnya.Tapi karena rasa sakit itu hilang timbul,membuat Tiara tidak memberitahukan kepada Bimo suaminya.Karena dia tahu,kalau Bimo memiliki tingkat kepanikan yang sangat tinggi.
Segala persiapan untuk menyambut penghuni baru rumah mereka sudah 100 persen ready.Mulai dari kamar bayi bernuansa pink dan segala pakaian yang girly juga sudah disiapkan.Karna menurut hasil USG kata dokter,jenis kelamin anak mereka itu perempuan.
Tiara beranjak turun dari kasur tanpa membangunkan Bimo,yang masih terlihat lelap dalam tidurnya.Dia masuk ke kamar mandi dengan sedikit tertatih-tatih, menahan sakit yang tiba-tiba menyerang bawah perutnya.Tapi seperti biasa sakit itu hanya sebentar,setelah itu hilang lagi.
Setelah membersihkan diri, Tiara keluar dari kamar mandi dan menemukan suaminya yang masih nyaman bergelung di bawah selimut.
Tiara pun memutuskan untuk keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur untuk ikut membantu menyiapkan sarapan.si Mbok yang bertugas memasak sebenarnya sudah melarang Tiara untuk ikut membantu.Tapi dia tetap kekeh untuk membantu.
Karena terlalu fokus memasak,Tiara tidak menyadari kalau dari Bimo sudah berdiri di belakangnya.Tiara sedikit terjengkit kaget katika sepasang lengan besar,merangkul perut buncitnya.Karena rasa kaget itu, Tiara meringis, merasakan kram kembali di perutnya.
"A-ada apa sayang?,apakah ada yang sakit? Bimo seketika panik.
"Nggak pa-pa sayang.Hanya sedikit kaget saja" ujar Tiara, menenangkan Bimo.
Bimo menghembuskan nafas lega mendengar penuturan Tiara.
"Oh,syukurlah lah" Bimo dian sejenak seperti mengingat sesuatu tentang apa tujuannya mencari Tiara ke dapur.
"Oh ,iya aku ingat! Sayang , katanya sebentar lagi Seno dan Amira mau ke sini.Katanya Amira kangen sama kamu."
"Yang benar sayang?! aku juga kangen sama Amira,sama Mami juga papi." ujar Tiara dengan pandangan sayu.
Bimo dapat melihat,bahwa ada sedikit kesedihan di dalam ucapan Tiara.Dan dia merasa sedikit bersalah,karena belakangan ini, Bimo sangat sibuk,sehingga tidak sempat untuk membawa Tiara dan anak-anak ke rumah mertuanya.Dan kebetulan Bimo tidak percaya orang untuk mengemudikan mobil untuk mengantar- kan Tiara ke sana.
*****
Sementara itu, Amira kini juga sudah tinggal di rumah orangtuanya sendiri.Melihat kondisinya sekarang yang sudah semakin bulat seperti bola,membuat hati ibu Marlina gak tenang.
__ADS_1
Amira masuk kekamar, setelah selesai sarapan pagi.Samar-samar Amira mendengar suara Seno sedang menyanyi di dalam kamar mandi.Seno tidak tahu kalau Amira sudah kembali ke kamar.Dia mengira kalau Amira masih ada di ruang makan.Karena merasa aman, Seno pun menyanyikan lagu yang benar-benar di benci oleh Amira
..."Bola.. bola gayamu mempesona (oya.. oya)...
Laksana sang primadona (ya..ya..ya..ya)
Bola kau tak luput dari kejaran (oya.. oya)
Sana sini jadi rebutan
Bukit tinggi ku lalui (bola bola)
Sungai Musi kuseberangi (bola bola)
Topan badai kuhadapi (hooooooooo..)
Demi cintaku yang suci (gombal)
Bola kau terobos gawang cintaku (oya.. oya)
Bola..." dendang Seno dengan semangat.Suara gedoran pintu dari luar,seketika menghentikan lagu Seno.
"Mati gue, bola kesayangan gue udah marah'" batin Seno frustasi.
******
Setelah selesai mandi dan sarapan, bersama papah-mamah dan kedua putranya, Bimo dan Tiara kini tampak duduk santai di ruang keluarga, bersama orangtua Bimo -Ibu Sarah dan Pak Burhan sembari menunggu kedatangan Seno dan Amira yang katanya, sudah di jalan menuju ke rumah utama Keluarga Adiguna.
Tiara tampak terhibur dengan tingkah absurd mertuanya.Itu terlihat dengan tidak berhentinya dia tertawa dari tadi.
Setelah 10 menit berlalu, dari arah pintu masuk terdengar suara Amira yang mengucapkan salam.Tiara spontan berdiri,antusias untuk menyambut kedatangan saudara kembarnya itu.
Setelah melepas rasa rindu, kini mereka terlibat obrolan yang mengocok perut.Karena terlalu banyak tertawa,wajah Tiara seketika pucat,seperti tidak dialiri darah.Rasa sakit yang dia rasakan kini, dua kali lipat dari rasa sakit sebelumnya.
__ADS_1
Melihat Tiara yang kesakitan, Ibu Sarah seketika berteriak panik,karena dia tahu bahwa mungkin kini saatnya menantunya untuk melahirkan.
"Bim! sepertinya Tiara akan melahirkan.Ayo, segera bawa istrimu ke rumah sakit! seru ibu Sarah.
Bimo,spontan berdiri dengan panik,sampai-sampai secara tidak sadar, Bimo bukannya menggendong Tiara, justru refleks menggendong Amira.
"Hei, itu Bini gue Bim!" Seru Seno, tidak terima istrinya digendong Bimo.
"Oh, iya, pantasan berat banget" dengan spontan Bimo melepaskan gendongannya dengan sedikit kasar,hingga membuat Amira hampir terjatuh.Untung ada Seno yang segera menangkap tubuh istrinya.
"Sialan lo Bim, hati- hati dong! Ini manusia bukan bola! teriak Seno yang langsung mendapatkan hadiah sorotan mata tajam Amira, yang tidak sukan dengan sebutan bola.
"Eh, sorry... sorry" Bimo berlari keluar dengan panik tanpa membawa Tiara istrinya.
"Hei, Bim, bini lo, (kamu) ketinggalan! teriak orangtua Bimo dan Seno bersamaan.
" aduh gue lupa" Bimo kembali berlari ke dalam rumah untuk menggendong Tiara dan akan membawanya ke rumah sakit.Tapi Tiara menolak untuk digendong karena melihat tangan Bimo yang gemetar.Bimo akhirnya memapah Tiara untuk berjalan keluar menuju mobil. Sedangkan Ibu Sarah langsung berlalu untuk mengambil persiapan menantu dan cucunya ke kamar.
Melihat Tiara yang kesakitan,sontak Amira pun merasakan kontraksi diperutnya.Kini gantian Seno yanh panik dan tidak tahu mau berbuat apa-apa.Seno terlihat berlari kesana kemari tidak tahu mau melakukan apa.
Melihat hal itu,Pak burhan papahnya Bimo, menggeplak kepala Seno,agar sadar dan membawa istrinya sekalian ke rumah sakit.
Didalam mobil,terdengar teriakan kesakitan yang bersahut-sahutan dari mulut Tiara dan Amira.Membuat Bimo dan Seno semakin panik.
"Buruan mang Ujang! "teriak Bimo sedikit membentak.
Mang ujang,sopir keluarga Bimo mempercepat lajuan mobilnya,menuju rumah sakit besar di kota Jakarta.
Sesampainya di rumah sakit, Bimo berteriak seperti orang gila, di ikuti oleh Seno.
"Dokter .... dokter, tolong istri saya.dia mau melahirkan!" teriak Bimo dan Seno bersamaan.
Para dokter dan perawat dengan sigap langsung membaringkan Tiara dan Amira diatas brankar dorong,dan langsung mendorong brankar itu, menuju ruang bersalin.
__ADS_1
TBC
Jangan lupa ritualnya gais.Please like,vote dan komen.Thank you🥰