
Vina segera berdiri dan hendak berlari untuk membukakan pintu untuk Kakanya yang sudah blingsatan diluar. Tangan kekar Aariz langsung menahan tangan Vina dengan kening yang berkerut. "Siapa Vin? kok kamu kaget begitu mukanya?" tanya Aariz.
"Ada Ka Galang di luar Ka!" dia pasti khawatir sama ku makanya sampai nyusul ke sini?" sahut Vina dengan wajah yang panik.
"Kamu kok kelihatan panik gitu? dan bagaimana dia tahu kamar ini?" Aariz kembali menyipitkan matanya.
Ponsel Vina kembali berbunyi, karena Vina tak kunjung membuka pintu." Aku buka pintu dulu ya? rengek Vina dengan wajah yang memelas.
"Tunggu dulu! jawab dulu pertanyaanku! dari mana dia tahu kamar ini?" Aariz kembali bertanya.
"Kak Galang nanya sama resepsionisnya mungkin Ka! " jawab Vina sambil menggigit bibirnya dan gestur tubuh yang sedikit bergoyang-goyang, ingin segera membukakan pintu.Karena dari tadi ponselnya tidak berhenti berbunyi.
"Kalaupun dia bertanya pada resepsionis, dia kan harus tahu dulu nama si pemesan kamar. Emang dia tahu kalau aku ada di sini?"
Vina langsung menepuk jidatnya. " Tadi Ka Aariz pas ngerampas ponselku, panggilan kan belum putus, dan saat itu kan aku teriakin nama Kaka! mungkin gara-gara itu dia tahu Ka, kalau aku lagi sama Kaka di sini!" sahut Vina sambil berkali-kali menatap ke arah pintu.
"Ohh! Aariz manggut-manggut tanpa melepaskan tangannya yang masih memegang tangan Vina.
"Ka, lepasin tangan Vina ya! Vina mau bukain pintu buat Ka Galang," Vina kembali merengek.
"Kenapa harus dibukain? biarkan aja dia diluar panik sendiri, " ucap Aariz dengan santai.
"Ka, yang ada, Ka Galang bepikiran kalau kita lagi___" Vina menggigit bibirnnya dengan wajah yang sudah berubah warna menjadi merah.Dia malu untuk melanjutkan kata-katanya.
"Kalau kita apa ha? kok berhenti ngomongnya? Aariz berdiri memeluk pinggang Vina lagi," Suara Aariz terdengar menggoda, sambil menatap mata Vina dalam-dalam, yang pipinya kini sudah dua kali lebih merah dari yang tadi.
"K-Ka Aariz, jangan terlalu dekat! A-aku____"
"Kenapa gak boleh dekat?aku bahkan sudah merasakan manisnya bibirmu?" Aariz kembali menggoda Vina, seraya membelai bibir kekasihnya itu.
__ADS_1
Vina meneguk ludahnya dengan jantung yang kembali berdetak kencang.Ponsel Vina kembali berdering lagi.
"K-Ka, lepasin ya! kasihan Ka Galang di depan,"
"Biarin aja dia di depan, aku mau lihat sebesar apa usahanya untuk bisa masuk ke kamar ini!"
"Ka Aariz mah ih, Gak boleh gitu! Vina buka ya,?" mohon Vina dengan wajah memelas.
"Dengan senang hati! Mau Kaka bantu bukanya?"Kalau urusan buka-membuka Kaka jagonya," tukas Aariz sembari mengerlingkan matanya.
Vina, menatap Aariz dengan tatapan jengah.Aariz yang dulu bermulut pedas kini berubah menjadi Aariz yang bermulut manis.
"Kaka, kok jadi mesum begini sih?" tanya Vina.
"Mesumnya kan sama kamu aja," ucap Aariz.
Tiba-tiba pintu terbuka, dan Galang langsung menyelonong masuk. Dia merasa lega, melihat Vina dan Aariz masih berpakaian lengkap. Itu berarti tidak terjadi apa-apa antara Vina dan Aariz. Tapi, Galang harus tetap memastikannya.
"Hei, kalian berdua kok tidak membukakan pintu?, kalian berdua tidak lagi mesumkan?" tanya Galang. " Vin kamu masih belum buka segel kan? semuanya masih aman kan? Galang kembali mencecar Vina dengan pertanyaan-pertayaan sembari memutar-mutar tubuh Vina, untuk memeriksa tubuh adik sepupunya itu.
Vina menghela nafasnya, merasa jengah dengan sikap berlebihan Galang. Vina terlihat akan membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Galang. Tapi, dia diam kembali ketika Galang kembali mengeluarkan suara.
" Vina, kamu tidak ngapa-ngapain Ka Aariz kan? Kamu gak perkosa dia kan? " bukannya takut Aariz yanh berbuat yang aneh-aneh pada adiknya, Galang justru khawatir, kalau Vina lah yang akan berbuat macam-macam pada pemuda yang disukai oleh sepupunya itu.
Vina dan Aariz terkesiap dengan pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh Galang.
" Ka harusnya pertanyaan itu, Kaka tanyakan buat Ka Aariz.Yang perempuan kan Vina? jadi kalau seandainya ada pemerkosaan, yang diperkosa itu perempuan bukan laki-laki. Kaka ini gimana sih?!" Vina mencebikkan bibirnya sembari menatap Galang dengan tatapan malas.
"Sekarang Zaman sudah berubah. Zaman sekarang banyak perempuan yang memperkosa laki-laki. Kamu kan sudah lama suka sama Ka Aariz.Jadi,Kaka khawatir kamulah yang memperkosa Ka Aariz," tukas Galang.
__ADS_1
"Tapi,Vina gak seperti itu Ka." kesal Vina dengan bibir yang mengerucut. Sedangkan Aariz tampak menahan tawa, merasa geli dengan sikap Kakak sepupu dari wanita yang baru saja sah menjadi kekasihnya itu.
Galang diam sejenak seperti sedang memikirkan sesuatu. Detik berikutnya dia langsung menatap tajam Aariz. "Kamu gak ngapa-ngapain adik aku kan? Kamu gak manfaatin dia buat muasin nafsumu kan?" tanya Galang.
"Hei, kamu pikir aku sebejat itu? aku tidak sebejat teman kamu Dewa.Nama aja Dewa, kelakuan kaya devil." ucap Aariz geram.
Galang menghela nafasnya singkat. Dia sudah tahu, kalau Dewa hampir memperkosa Vina. Yang dia tidak tahu, kalau Aariz lah yang menyelamatkan adiknya itu, karena tadi Vina cuma bilang kalau dia diselamatin sama seorang laki-laki yang baik.
"Maaf Ka! aku gak bermaksud nuduh.Cuma aku khawatir Kaka memanfaatkan situasi, karena Kaka tahu kalau adikku ini suka sama Kaka.Terima kasih Ka, karena sudah nolongin Vina.Aku tidak tahu lagi apa yang akan terjadi, kalau tadi Kakak tidak muncul.Aku akan hidup dalam penyesalan yang panjang, karena gagal menjaga Vina," ujar Galang,yang tatapannya sudah berubah dari yang tadinya tajam kini berganti tatapan penuh terima kasih.
Aariz yang tadinya sudah mulai emosi, mendengar ucapan Galang yang seakan-akan sedang menuduhnya,kini sudah normal kembali.Dia menghembuskan nafasnya dan mendekati Galang. "Justru aku juga akan lebih menyesal lagi, kalau seandainya aku terlambat menolongnya.Kamu tenang saja, aku tidak akan berbuat yang aneh-aneh sama Vina.Karena aku juga mencintai adikmu yang bawel itu," ujar Aariz sembari melemparkan senyumnya menatap penuh cinta pada Vina. Semburat merah kembali muncul di pipi mulus Vina begitu mendengar ucapan Aariz.
"Hah, kok bisa?" heran Galang.
"Ya, bisalah. Apa sih yang gak bisa?" sahut Aariz santai.
"Jadi, sekarang kalian berdua___? " Galang menatap Aariz dan Vina bergantian.
"Ya! Vina sekarang calon istriku."tegas Aariz. Yang membuat mata Vina sontak terbeliak menatap Aariz, yang dengan lantang menyebutnya calon istri.
Kedua mata Aariz tanpa sengaja melirik ke arah jari manis Vina, yang masih ada cincin yang melingkar manis di sana."Vin, kamu lepas cincin itu dan buang! nanti aku akan belikan kamu cincin yang lebih bagus dan yang lebih mahal dari itu." ucap Aariz yang tiba-tiba kesal melihat cincin pertunangan Vina masih melingkar di jari manisnya.
" Kok dibuang Ka? Kan sayang, Kata Papah ini sangat mahal. Kita jual aja ya?
Tbc
Jangan lupa untuk tetap meninggalkan jejak ya gais.Please like, vote dan komen
mampir yuk gais ke karya ku yang lain. Di jamin baper juga😁
__ADS_1