YOU ARE MY DESTINY

YOU ARE MY DESTINY
Apakah mereka Anakku?


__ADS_3

Malam semakin larut,situasi dingin yang terjadi di antara Bimo dan Tiara, di dalam kamar inap Aarash, mengalahkan rasa dingin yang dikeluarkan Dari Air conditioner di ruangan itu. Bimo yang dari tadi berusaha menghangatkan situasi tidak di gubris sama sekali oleh Tiara.


Ibu Sarah,pak Burhan meminta mbok Sumi membawa Aariz untuk menginap di rumah keluarga Bimo.Sedangkan Bimo menolak untuk ikut pulang. Dia lebih memilih tinggal di Rumah sakit untuk menemani Tiara,menjaga Aarash di Rumah sakit. Dia memerintahkan seseorang untuk mengantarkan pakaian ganti untuknya dan Tiara.


Bimo yang curiga, kalau ada seseorang yang memang sengaja ingin menabrak sikembar, karena cerita Aarash tadi, sudah menyuruh Seno untuk menyelidiki kasus ini.Dan dia berjanji,tidak akan mengampuni orang yang sudah mencelakakan Aarash.


"Ehem, ehem!"Bimo berdehem untuk menarik perhatian Tiara.Tiara sedikit melirik dengan wajah yang masih ditekuk.


"Ra, kamu lapar nggak?" Bimo memulai pembicaraan.


"Nggak!" ketus Tiara.


"Tapi kamu belum makan dari tadi Ra, mau kubelikan makanan?"


"Nggak usah! kamu tidak usah sok perhatian, kalau saya mau, saya bisa beli sendiri!" ucap Tiara,dan ini merupakan ucapan terpanjang Tiara. Yang sebelumnya paling cuma kata, Nggak dan tidak.


"*Y*es, ada kemajuan." batin Bimo sedikit senang.


"Tapi Ra, marah itu juga butuh tenaga lho."


"Siapa yang marah?"


"Tuh, muka gak ada senyum-senyumnya, di tekuk terus,dan ngomgongnya ketus mulu, namanya kalau bukan marah, apa coba?"


"Huft, kamu bisa diam gak? kalau tidak bisa diam,kamu keluar aja dari ruangan ini!" ucap Tiara kesal.


"Iya iya ,aku diam." Bimo terdiam seketika,tapi matanya tetap tidak bisa, untuk tidak melirik Tiara yang masih memasang wajah juteknya.

__ADS_1


"Ra apakah Aarash dan Aariz anakku?" Bimo akhirnya menanyakan pertanyaan yang ingin sekali ditanyakannya dari tadi siang.


Tiara sedikit tersentak dengan pertanyaan Bimo yang tiba-tiba.Wajahnya seketika tegang dan bingung mau menjawab apa.


"Bu-bukan, mereka bukan anakmu." sahut Tiara yang sudah bisa menguasai keadaan.


"Benarkah? tapi dilihat dari usia mereka, itu sangat sesuai dengan waktu kejadian itu.Dan menurut mbok Sumi, kamu tidak pernah menikah, dan kamu tinggal di tempat mbok Sumi sudah dalam keadaan hamil muda."


"Aku memang tidak pernah menikah, tapi setelah aku kamu perkosa, aku pun melakukannya dengan orang lain.Aku bercerita, cerita bohong ke ibu Sumi,Supaya ibu Sumi kasihan dan akhirnya mau menerima aku."


"Dan kamu kira aku percaya? aku mengenal siapa kamu Ra, dan kamu tidak mungkin melakukan hal itu."


"Itu terserah kamu, mau percaya atau tidak! yang jelas mereka bukan anakmu." tegas Tiara yang masih berusaha menyangkal.


"Tapi aku yakin mereka anak-anakku." Bimo tidak kalah tegas.


"Terserah, kamu mau ngomong apapun! aku mengantuk,dan aku mau tidur." ujar Tiara sambil membaringkan tubuhnya ke ranjang,yang diperintahkan Bimo untuk disediakan oleh pihak rumah sakit. Tiara tidak mau, kalau lama kelamaan,dia akan merasa tersudut dengan pertanyaan-pertanyaan Bimo,yang membuat dirinya bisa saja keceplosan dan mengatakan kebenarannya.


"Ra kamu sudah tidur? ucap Bimo memastikan,tapi tidak ada jawaban dari Tiara.


"Tiara, aku tahu,kamu belum bisa memafkan ku.Karena perbuatanku, kamu sudah banyak menanggung penderitaan.Tapi jujur Ra, aku sangat menyesal, dan aku akan melakukan apapun untuk menebus kesalahanku. Ra selama 7 tahun ini aku berusaha mencarimu,tapi kamu seakan hilang ditelan bumi.Jujur dari dalam hatiku aku sudah mencintaimu dari dulu. Aku sayang kamu Ra!" ucap Bimo sambil membelai rambut Tiara dan detik berikutnya Bimo mengecup kening Tiara dengan penuh cinta.Lalu Bimo langsung beranjak mendekati tempat tidur Aarash.Memandangi wajah Aarash dengan seksama.


Tiara yang sebenarnya belum tidur,kaget dengan ungkapan hati Bimo.Ada rasa terharu yang hadir di dalam hati Tiara.Tanpa disadari ada setitik air yang keluar dari kedua netranya yang masih tertutup. Tapi rasa haru itu seketika langsung ambyar, ketika dia mendengar ucapan Bimo yang cukup jelas di dekat ranjang Aarash.


"Lagian, mereka gak mungkin,bukan anak-anaku,mereka tampan sama seperti aku.Mereka itu tampan, pasti karena bibit unggulku".


"*Wh*at? narsis banget nih laki, dia kira yang tampan di dunia ini,dia aja emang? tapi,dia emang tampan sih! " Batin Tiara yang masih setia dengan kepura-puraannya.

__ADS_1


Tiutttt ....


Bunyi suara angin busuk, yang keluar dengan manjanya dari bokong Bimo.


"Sialan gue kentut! kayanya gue masuk angin karena belum makan dari tadi.Untung Tiara sudah tidur, kalau tidak, mau ditaruh dimana muka gue!"oceh Bimo berbicara pada diri sendiri.


"Hmm ,kayanya gue harus keluar sebentar untuk cari makan." Ujar Bimo lagi sambil melangkah keluar.


Setelah Bimo keluar, Tiara langsung bangun dan terbatuk-batuk sambil mengibas-ibaskan tangannya di depan hidungnya,untuk mengusir aroma bau,angin busuk Bimo. Detik berikutnya,Tiara tidak bisa lagi menahan rasa ingin tertawanya yang sudah dia tahan dari tadi.


****


Setelah berhasil membawa Dimas keluar dari klub malam itu,Seno membawa Dimas pulang ke apertemen nya.Dengan menggunakan handphone Dimas, Seno mengirimkan pesan ke mamahnya Dimas,menginformasikan kalau dia menginap di apartemen Seno, dengan tujuan agar keluarga Dimas tidak khawatir.Dengan telaten Seno membersihkan luka-luka di badan Dimas.


Seno sangat sedih melihat keadaan Dimas.Dari tadi Dimas tidak henti- henti meracau memanggil nama Billa. Setelah selesai membersihkan luka Dimas,dan mengobatinya.Seno melangkah ke kamarnya.


Ada rasa khawatir di dalam diri Seno, dia khawatir persahabatan Bimo dan Dimas akan retak karena masalah seorang wanita.


Seno mencoba memejamkan kedua matanya.Akan tetapi kedua netranya susah sekali untuk tertidur,padahal hari ini hari yang sangat melelahkan baginya.Bayang-bayang wajah Amira tiba-tiba hadir di pikiran Seno.Seno refleks memegang bibirnya, yang sempat dikecup sekilas oleh Amira. Walaupun cuma sekilas, tapi lembut bibirnya Amira masih terasa dan membekas di bibirnya.


"Apakah aku benar-benar sudah jatuh cinta pada Amira?" bisik Seno pada dirinya sendiri.


Seno melirik Handphone yang diletakkannya di atas nakas samping tempat tidurnya.Ingin rasanya dia menelepon Amira dan mendengarkan suaranya.


"Ah, ngapain nelpon dia, entar dia ke geer an lagi! " Seketika Seno meletakkan kembali Handphone nya, dan membaringkan tubuhnya di ranjang,lalu menutup kepalanya dengan bantal.Bagi Seno sekarang Godaan Amira lebih berat dari godaan setan.


**To be continue

__ADS_1


please hargai saya dengan like,vote dan komen.


Jangan lupa untuk memberikan kritik dan saran juga ya.Thank you🥰🥰🥰**


__ADS_2