
"Galang, apa maksud ucapan Pak Reno yang mengajak damai? dan memohon agar putranya Dewa dikeluarkan dari penjara? Apa yang sebenarnya sudah terjadi disana?" cecar Dimas dari ujung telepon.
Galang, meneguk ludahnya, bingung mau jawab apa.
"Kenapa diam Lang? ayo jawab, apa yang sudah terjadi di sana pada Vina." Kembali terdengar teriakan dari Dimas dari ujung telepon.
Galang berdiri dan beranjak meninggalkan Vina Aariz yang menatap Galang denga bingung Galang masuk ke dalam kamar dan menguncinya. Setelah di dalam kamar, akhirnya Galang menceritakan apa yang sudah terjadi pada Vina.
"APA?!" teriak Dimas kencang, hingga membuat telinga Galang berdengung. " Kenapa kamu tidak kasih kabar ke Om? Kalau aku tidak bertanya, kamu pasti tidak akan memberitahukannya juga kan?"cecar Dimas emosi.
"Bukan begitu Om! rencananya aku memang mau ngasih tahu sama Om nanti." ucap Galang. "Galang baru aja bangun Om. Dan kenapa Galang tidak langsung kasih kabar ke Om, itu karena Galang tahu, kalau di Indonesia kan sudah larut malam,jadi Om pasti sudah tidur. "
"Vina baik-baik aja kan?" tanya Dimas khawatir.
"Vina baik-baik aja Om! Untung ada Ka Aariz yang nolongin Vina." ucal Galang.
"Kok bisa?" Galang membayangkan kalau kening Dimas pasti sedang berkerut sekarang.
"Kebetulan, Ka Aariz menginap di hotel itu, dan kamarnya tidak jauh dari kamar yang di booking oleh Dewa, Om." jelas Galang. Terdengar gumaman syukurlah dari ujung telepon.
"Ya udah, tugas kamu sekarang jaga Vina baik-baik! Jangan biarkan mereka berduaan aja!" pesan Dimas sebelum dia mau mengakhiri panggilannya.
"Siap Om! Tapi gak janji ya! " tukas Galang terkekeh.
"Galaaang! awas kalau Vina sampai kenapa-kenapa, kupotong terongmu dan ku jadikan terong balado!"teriak Dimas sembari memberi ancaman dari ujung sana.
Galang, harus menjauhkan ponselnya dari telinganya kalau tidak mau, gendang telinganya pecah karena teriakan Dimas.
__ADS_1
"Bilang sama Vina, hari ini Om berangkat ke London." Dimas memutuskan panggilan secara sepihak, karena tidak mendengar sahutan dari Galang.
Galang kembali keluar menemui Vina dan Aariz,setelah selesai menerima panggilan dari Dimas Omnya.
"Papah ngomong apa Ka Lang? Kenapa Kaka harus ke kamar terima telponnya? tanya Vina beruntun, setelah Galang mendaratkan tubuhnya di kursi.
"Om cuma nanya, tentang Dewa.Papahnya Dewa mendatangi Om Dimas, untuk minta damai. " sahut Galang sembari menyendokkan nasi goreng ke piringnya.
Aariz sontak berdiri, dengan rahang yang mengeras mendengar ucapan Galang. "Enak aja minta damai.Aku tidak akan pernah membiarkannya." Ujar Aariz dengan mata yang bernyala-nyala.
"Kamu tenang dulu Bee! gak usah marah-marah gitu!" ucap Vina yang kini sudah menyamakan panggilan Aariz padanya. " Jadi Papah bilang apa tadi Ka?" Vina mengalihkan tatapannya ke arah Galang.
"Om bilang, dia mau ke sini hari ini juga!" sahut Galang.
"Oh, " ujar Vina. "Apa? Papah mau ke sini?" Gimana nih Bee? Papah nanti pasti marah kalau tau kita ada hubungan.Cincin Vina udah gak ada lagi" cerocos Vina panik.
Galang menggeleng-gelengkan kepalanya,melihat reaksi Vina yang berlebihan. Detik berikutnya Galang melihat ke arah piring Aariz yang masih utuh seperti tidak tersentuh sama sekali. Sama halnya dengan piring kepunyaan Vina.
"Kalian berdua belum makan?" Kok masih utuh piringnya?" tanya Galang sambil memasukkan satu suapan kedalam mulutnya.Baru saja masuk satu suap, Galang langsung menyemburkan makanannya keluar, dan buru-buru meraih gelas berisi air putih lalu meneguknya sampai habis.
"Ini nasi goreng apa sih? kok asin banget? udah asin, pedas lagi. Kamu masaknya gimana sih Vin? ucap Galang sambil mengibaskan-ngibaskan tangannya ke lidahnya yang terjulur.
Vina terkekeh dan nyengir, mendengar pertanyaan Galang. "Habis, Ka Aariz dari tadi gangguin Vina terus, jadi Vina lupa deh,udah naruh garam atau tidak.Jadi tadi aku taburin garam lagi, kasih bubuk cabe yang banyak." sahut Vina cengengesan.
"Ini , nih kalau udah bucin! semuanya jadi hancur! bucin sih bucin, tapi tolong tetap konsentrasi juga dong, kalau melakukan sesuatu." cetus Galang sembari menghela nafasnya.
*******
__ADS_1
Hari ini Aarash benar-benar memenuhi janjinya untuk menemani Laura, untuk menjenguk Deni Omnya di penjara.Bagaimanapun, Deni pernah sangat menyayanginya sebelum terhasut oleh Sherly tantenya
Deni terlihat menunduk malu, begitu melihat siapa yang tengah mengunjunginya sekarang.
"Apa kabar Om? Om sehat kan?" tanya Laura lembut.Dia ingin sekali marah pada Deni atas semua perbuatannya.Tapi, begitu melihat keadaan Omnya yang kini sudah sangat kurus dan tampak sudah sangat tua, membuat amarah Laura langsung surut.Justru sekarang,Laura sangat kasihan pada Deni omnya itu.
"Kenapa kamu masih mau mengunjungi Om Laura? aku sudah sangat jahat terhadap Papah dan Mamahmu.Gara-gara aku, kamu tidak mempunyai orang tua lagi," ucap Deni berusaha untuk menahan tangisnya.
Laura menarik nafasnya dalam-dalam,lalu menghembuskannya dengan sekali hentakan.
"Om, aku memang sangat marah pada Om. Tapi, aku tahu, kalau Om, sebenarnya orang yang sangat baik.Selama ini Om hanya dibutakan rasa iri dan dengki pada Papah, tanpa tahu apa yang sebenarnya yang sudah Papah lakukan untuk Om secara diam-diam." ujar Laura seraya menatap Omnya dengan tatapan sendu.
Cairan bening yang dari tadi sudah berusaha ditahan oleh Deni, kini sudah tidak terbendung lagi.Pertahanannya kini sudah jebol. Dengan berurai airmata, Deni, beranjak berlutut di kaki Laura. " Maafkan Om Laura..., maafkan om! Om tidak tahu lagi, bagaimana caranya menebus kesalahan om yang sudah sangat besar itu. Om sekarang sudah pasrah menerima hukuman seberat apa pun itu." ucap Deni sambil tersedu-sedu di kaki Laura.
Laura memegang bahu Deni dan mengajaknya untuk berdiri. "Om, yang berlalu biarlah berlalu." ujar Laura sambil menghela nafasnya."Yang penting sekarang Om harus benar-benar berubah dan bertobat." Ucap Laura tersenyum ke arah Deni.
"Om, ini ada makanan buat Om. Laura sama Aarash pamit dulu ya! " ujar Laura, sembari menyerahkan sekotak makanan ke tangan Deni.
"Kami pamit Om." ucap Aarash.
"Iya Nak Aarash! Nak Aarash, aku mohon jaga dan bahagiakan Laura!" pesan Deni,sambil menepuk-nepuk pundak Aarash dengan lembut.
"Om tenang saja! aku akan jaga dia dan bahagiakan dia. " sahut Aarash tegas. "Kalau begitu kami pulang dulu Om." Aarash dan Laura berlalu meninggalkan ruangan itu, setelah Deni menganggukkan kepalanya.
Laura dan Aarash berjalan keluar dari kantor polisi sambil bergandengan tangan.Mereka berdua tidak menyadari, kalau ada sepasang mata yang menatap mereka dengan sorot mata penuh kebencian. "Kamu boleh berbahagia sekarang Laura. Tapi aku akan membuat kebahagiaanmu tidak akan bertahan lama.Lihat aku akan membuatmu menderita sebentar lagi!" gumam pemilik mata itu seraya menyeringai sinis.
Tbc
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan komen. Thank you