YOU ARE MY DESTINY

YOU ARE MY DESTINY
Kamu bukan tipe ku


__ADS_3

Sepeninggal keluarga Hartono, Bimo menghela nafasnya dan menoleh ke arah Aarash putranya.


" Maafin ayah ya nak! Ayah tidak menyelidiki terlebih dulu dengan benar tentang keluarga Hartono" . ucap Bimo dengan mimik wajah penuh penyesalan.


" Tidak pa-pa yah.Ini bukan salah ayah." Aarash tersenyum ke arah ayahnya.


"Jadi, gimana Rash? Apakah kamu akan tetap menunggu Laura kembali? Bagaimana kalau dia sudah benar-benar tidak ada'?" ada terselip kekwatiran di balik ucapan yang baru Tiara utarakan. Tiara khawatir, kalau-kalau nantinya Aarash tidak akan menikah kalau bukan dengan Laura.


"Bun, aku yakin kalau Laura masih hidup. Aku sangat percaya dengan kata hatiku.Jadi bunda tidak perlu khawatir lagi " dan di saat Aarash mengungkapkan keyakinannya, bayangan Ayu tiba-tiba tertangkap matanya sedang lewat untuk masuk ke dalam kamar tidur.


" Kalau kamu memang sudah sangat yakin, bunda sama ayah tidak bisa ngomong apa-apa lagi! "suara Tiara terdengar sangat pelan dan lirih.


"Yah, aku sepertinya curiga sama om Deny dan keluarganya.Mereka seperti tidak ada beban dan kesedihan yang tampak pada wajah mereka,saat menceritakan musibah yang menimpa keluarga kakaknya ! "


"Ayah juga berpikiran seperti itu. Kamu tenang saja, ayah akan menyelidikinya bersama om Seno. Sekarang kamu istirahat aja ! ayah sama bunda juga mau masuk " beranjak berdiri, lalu meraih tangan Tiara istrinya untuk masuk kedalam kamar.


******


Sementara itu Aariz yang harus mewakilkan Adiguna coorporation bersama Rio- asisten pribadi Aarash, sedang dibuat sangat jengkel dengan ulah gadis yang selalu saja mengganggu ketenangan hidupnya. Siapa lagi dia kalau bukan Davina. Ya Davina turut hadir di acara itu bersama kedua orangtuanya Dimas dan Sinta.


Davina selalu saja mengintilin kemanapun Aariz pergi. Sehingga membuat Aariz sedikit risih melihat tatapan- tatapan dari para tamu undangan. Kalau karna tidak memandang Dimas dan Sinta, Aariz mungkin dari tadi sudah mengumpati Davina.


"Vina, bisa tidak kamu berhenti mengikuti ku? "


"Tidak" jawab Davina dengan wajah polos sambil memutar bola matanya.


Aariz menghembuskan nafasnya dengan keras-keras, mengelus dadanya berusaha bersabar untuk mengahadapi tingkah kekanak-kanakan Davina.

__ADS_1


"Hai, kamu Aariz kan? kamu ingat aku gak? " sapa seorang gadis cantik, yang bertingkah sok akrab dengan Aariz.


Aariz mengrenyitkan keningnya, berusaha untuk mengingat sosok perempuan yang berdiri di depannya itu.Sedangkan Vina melirik dengan tatapan tajam ke arah gadis itu.


"Oh,aku ingat kamu silvi kan? teman satu kelasku di SMA? "


"Iya Riz! ternyata ingatan kamu tajam juga ya!" ucap gadis itu dengan menampilkan seulas senyuman yang sangat manis.


" Bagaimana kamu langsung tahu kalau aku ini Aariz bukan Aarash? Padahal kan jarak kita tadi gak terlalu dekat?


"Feeling Riz, feeling.Karena mungkin nama mu sudah tersemat di dalam hatiku. Aku dulu salah satu penggemar rahasia kamu lo!.Bukan hanya dulu sih,tapi sampai sekarang juga tetap sama! " ujar gadis bernama Silvi itu to the point. Membuat wajah Davina merah padam. Dada Davina kini sudah terlihat naik turun menahan amarah yang amat sangat.


Aariz melirik ke arah Davina,Khawatir kalau gadis itu akan menggila ketika mendengar ungkapan Silvi, seperti sebelum-sebelumnya. Aariz menarik nafas lega, karena apa yang dia khawatirkan tidak terjadi.Tapi dia dapat melihat manik mata berwarna hitam milik Davina kini sudah berkilat-kilat penuh amarah.


" Kamu bisa aja Sil! "


"Siapa dia Riz? adik kamu ya? "


"Bukan! dia ini----"


"Gue calon istri ka Aariz! kenapa? " dengan nada menantang.


Silvi tertawa sinis, menelusuri tubuh Davina dari bawah sampai ke atas dengan tatapan sinis dan merendahkan.


"Lo lagi ngigau ya bocah? dilihat dari sudut manapun lo itu bukan tipenya Aariz. Elo cantik sih, tapi sayang lo itu masih bocah! ujar Silvi dengan nada mengejek.


"Hei wanita tua! apa Lo tidak punya kaca di rumah?justru lo yang bukan tipe ka Aariz? Lihat diri lo dulu, umur masih muda tapi dandanan udah kaya tante-tante, sadar diri dong! " cerocos Davina sengit, hingga membuat wajah Aariz memerah menahan tawa. Untuk kali ini dia tidak keberatan dengan ucapan Davina, karena memang Aariz cukup jengah dengan tingkah Silvi yang kegenitan.

__ADS_1


"Kamu---" Silvi mengayunkan tangannya hendak menampar pipi Davina.Akan tetapi dia kalah cepat dengan tangan Aariz yang sudah menangkap pergelangan tangan Silvi.


"Jangan lo, coba-coba meyentuh dia, kalau lo masih sayang sama nyawa lo! " bisik Aariz dengan nada mengancam di telinga Silvi, yang langsung tidak bergeming dengan mulut terbuka. Tidak menyangka kalau Aariz mengatakan hal itu padanya. Aariz bahkan sudah memanggilnya lo bukan kamu.


Aariz menarik tangan Davina untuk keluar dari ruangan gedung itu, lalu membawanya ke taman belakang gedung itu.


"Ka Aariz pelan-pelan tangan Vina sakit! " rengek Vina dengan nada manja.


Aariz tidak memperdulikan rengekan Vina.Dia tetap saja menarik tangan gadis itu dengan cengkaramannya yang kuat. Seampainya di taman, Aariz menghempaskan tangan Vina dengan kasar seraya melayangkan tatapan yang sangat tajam seperti belati yang menghujam jantung. Sehingga membuat Vina sedikit beringsut kebelakang ketakutan.


"Dengar ya gadis bodoh,Silvi itu benar, kamu itu memang bukan tipe ku. Jadi berhentilah mengaku-ngaku kalau kamu itu calon istriku.Paham! "


"Tapi kenapa kak?"


"Apa kurang jelas, kamu- itu -bukan -tipe ku! " tegas Aariz sambil menyebut kata-kata itu satu persatu seperti halnya mengeja.


Manik berwarna hitam pekat itu kini nampaka berkilat-kilat penuh dengan cairan bening yang sudah siap untuk ditumpahkan.Tanpa terasa pipi Davina kini sudah banjir dengan air mata.


Aariz sebenarnya tidak tega untuk mengatakan hal sekasar itu pada Davina.Akan tetapi kalau tidak dikasarin Davina akan terus jadi penguntit setianya, dan Aariz benar-benar tidak mau itu terjadi. Aariz memutar badannya hendak melangkah meninggalkan Davina.Akan tetapi dia mengurungkan langkahnya ketika dia mendengar ucapan Davina.


" Apakah wanita yang kaka inginkan itu ka Laura? wanita yang sama dengan yang di inginkan ka Aarash? .Kalau begitu bantu aku ka, untul bisa seperti ka Laura!"


Aariz berbalik dan langsung mencengkram dagu Davina dan mengangkatnya ke atas. " Dengar, sampai kapan pun kamu tidak akan bisa mendapatkan hatiku. Sekalipun suatu saat kamu berubah seperti Laura, Camkan itu! " melepaskan dagu Davina dan meninggalkan Davina menangis sendiri di taman itu.


Davina mendaratkan tubuhnya,duduk di kursi besi yang ada di taman itu, menundukkan wajahnya sambil menangis terisak-isak. Setelah puas menangis, Davina tidak berniat untuk kembali masuk kedalam gedung itu karena matanya yang membengkak. Dia lalu mengambil ponsel dari dalam tasnya, dan langsung mengirim pesan kepada Dimas dan Sinta, kalau dia sudah pulang terlebih dulu dengan taksi.


Tbc

__ADS_1


Jangan lupa untuk like, vote dan komen.Thank you


__ADS_2