YOU ARE MY DESTINY

YOU ARE MY DESTINY
Bimo mundur


__ADS_3

Bimo masuk ke dalam ruang kerjanya dengan membawa bungkusan makananan,yang awalnya dia beli untuk dia makan bersama dengan Tiara.Dia meletakkannya begitu saja diatas meja,dan langsung menghempaskan tubuhnya di atas sofa serta menutup wajahnya dengan tangan kanannya.


" Lho kok lo udah balik aja Bim? ihh bawa makanan nih! ini buat gue ya? lo emang sohib gue yang ter the best deh! tau aja lo gue belum makan" oceh Seno yang sama sekali tidak mendapat tanggapan dari Bimo. Seno menoleh ke arah Bimo. Dia merasa heran akan perubahan Bimo,


"Bukannya tadi pagi dia baik-baik saja ya?bahkan tadi dia begitu semangat ketika dia mau pergi! hmm kayanya ada sesuatu yang terjadi antara dia dan Tiara. Seno berbisik pada dirinya sendiri.


"Ada apa Bim? apa ada sesuatu yang terjadi? lo baik-baik aja kan? Seno mencecar Bimo yang lagi-lagi tidak mendapat respon sama sekali. Seno akhirnya lebih memilih untuk diam, daripada nanti dia kena amukan Bimo. Yang Seno perdulikan sekarang adalah nasib makanan yang dibawa sama Bimo.


"Kayanya nih makanan bukan buat gue.Ini kayanya Bimo beli, buat bebeb Tiara dan gue yakin si Tiara pasti menolak makanya dia ngambek.Gue makan aja ah, kan sayang kalau gak dimakan! dosa kalau buang-buang makanan" Gumam Seno.


"Sen, kayanya kali ini gue yang harus mundur dari hidup Tiara" ucap Bimo tiba-tiba, sehingga membuat Seno kaget dan tersedak.


"Lo sehat kan Bim?kepala lo gak ada kebentur kan tadi? kayanya lo udah mulai ngaco deh"


Bimo bangkit dan duduk,dia menghela nafasnya. mengusap wajahnya dengan kasar.


"gue serius Sen.Sepertinya kesempatan untuk gue bisa hidup bersama Tiara memang sudah tertutup" ucap Bimo lirih.


" cemen lo Bim, masa karena dia nolak makanan dari elo, lo langsung mundur"


"heh? emang yang nolak makanan siapa? kok lo jadi ngomong soal makanan?"


"Bukannya makanan ini lo belikan buat Tiara? tapi karena dia menolak pemberian lo, makanya lo sedih dan uring-uringan iya kan?" jiwa sok tahu Seno kumat.


"Seno, gue gak lagi bercanda ya! gue gak selemah itu, yang langsung mundur karena dia menolak makanan yang gue beli. bahkan seandainya dia menolak perhiasan atau apapun yang aku kasih aku tetap tidak akan menyerah. tapi ini lebih ke masalah hati Sen.Aku tidak mau memaksakan Tiara lagi untuk mencintaiku"

__ADS_1


"maksud lo apa sih? gue makin gak ngerti"


"Tiara lebih memilih Dimas daripada aku Sen,"


" Hahaha,.ngaco.. fix lo benar- benar ngaco deh Bim" Seno menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Gue serius Sen, gue lihat dengan mata kepala gue sendiri, mereka berdua berpelukan dengan mesra, dan Dimas tersenyum bahagia.Tiara pantas berbahagia Sen, mungkin kebahagiaannya bukan bersama gue.Gue sadar selama ini yang ada selalu buat Tiara itu Dimas Sen, bukan gue.Gue hanya bisa memberikan dia penderitaan Sen, Sedangkan Dimas memberikan dia kebahagiaan.Gue rela melepaskan dia buat Dimas Sen,yang penting aku bisa melihat dia bahagia. Lagi pula mungkin ini saatnya aku mengalah pada Dimas" ucap Bimo lirih ,dan di kedua netranya sudah penuh dengan cairan yang siap untuk ditumpahkan.


Seno tidak bergeming.Baru kali ini dia melihat sisi kerapuhan Bimo. Selama ini Seno masih melihat Bimo yang tetap optimis untuk menemukan Tiara,tetapi yang dia lihat sekarang adalah Bimo yang rapuh.


"Kayanya gue harus tetap melanjutkan pernikahan gue dan Amira Sen" ucap Bimo yang membuat Seno membeliakkan matanya


"heh?"


"ekspresi wajahnya tolong agak di kondisikan Sen,Lo tenang aja,gue gak bakal rebut pujaan hati lo, gue gak sekejam itu" tegas Bimo,Tanpa Seno sadari,Amira sudah ada di belakangnya.


"Oh ,jadi lo beneran gak suka ya sama Amira?" Bimo melirik Amira, yang awalnya ceria berubah manyun, dan matanya sudah berkilat-kilat oleh cairan bening yang sudah penuh di kedua netranya.


"Nggak lah,gue gak punya perasaan apa-apa sama dia.wanita centil kaya dia siapa yang bakal suka? gue mah ogah!"


"Tuh dengar Amira, mas Seno mu gak punya perasaan apa-apa ke kamu"


Seno kaget dan refleks menoleh kebelakang.Dia melihat wajah Amira yang sudah bersimbah air mata.


"Mas Seno jahat, aku benci mas Seno" teriak Amira sambil berlari keluar.

__ADS_1


"oh ****, sialan lo Bimo" umpat Seno sambil berlari mengejar Amira.


Setelah Seno berlalu, kini Bimo kembali meratapi nasib cintanya yang kandas.


****


Berulangkali Tiara memandang kearah pintu,malam sudah semakin larut,tapi belum ada tanda-tanda Bimo akan datang.Tiara merasakan seperti ada sesuatu yang hilang,dengan tidak hadirnya Bimo di ruangan itu


"Kemana dia?apakah dia tidak datang malam ini? atau jangan-jangan dia udah menyerah pada sikapku selama ini? " batin Tiara merasa takut.


"masa gitu aja udah menyerah sih? berarti benar dugaanku, kalau sebenarnya dia mendekati ku,hanya karena rasa bersalah saja,bukan karena benar-benar mencintaiku." Tiara kembali menduga-duga.


Tiara mengambil sebuah kartu nama yang diletakkan Bimo di atas nakas


"Atau aku telpon aja dia? ah gak usah deh.ntar dia besar kepala lagi, ntar dia mikir kalau aku rindu sama dia" Tiara kembali meletakkan kartu nama Bimo di tempat semula.


Tiara berusaha menutup matanya, tapi lagi-lagi usahanya sia-sia, dia tidak bisa tidur sama sekali.Tiara akhirnya turun dari kasur,dan pelan-pelan dia melangkah mendekati pintu.


"Gue lihat keluar gak ya? tapi bagaimana kalau dia nanti udah ada di depan pintu? gue mau ngomong apa coba? Tiara berdebat dengan dirinya sendiri.


Tiara kembali melangkah menuju kasurnya,membaringkan tubuhnya dan berusaha untuk memejamkan matanya lagi. Akhirnya setelah dua jam lamanya dia buka, tutup,buka ,tutup mata,lama kelamaan Tiara tidak bisa lagi untuk melawan rasa kantuknya.Dia pun akhirnya tertidur dengan pulas.


****


Sementara itu Bimo,lebih memilih untuk pulang ke apartemen pribadinya untuk menenangkan diri.Sebenarnya dia ingin sekali kembali ke rumah sakit,tapi dia takut tidak bisa mengontrol perasaannya.Untuk pulang ke rumah utama pun, Bimo belum siap untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mamahnya. Bimo belum siap menceritakan kalau sebenarnya, Aarash dan Aariz adalah cucu kandungnya. Bimo sudah bisa membayangkan, kemarahan mamahnya ketika nantinya mengetahui perbuatan bejatnya. Walaupun, sebenarnya Bimo tahu bahwa mamahnya sudah pasti bisa menebak apa yang terjadi. Mamahnya hanya butuh penjelasan dari mulut Bimo secara langsung.

__ADS_1


Tbc


Jangan lupa buat tinggalkan jejaknya guys.like,vote dan komen.thank you


__ADS_2