YOU ARE MY DESTINY

YOU ARE MY DESTINY
Tunangan Vina sebenarnya


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan puku 7.40 Waktu Indonesia Barat. Keluarga Bimo baru saja menyelesaikan sarapan pagi. Bahkan Aarsh pun sudah berangkat ke perusahaan 5 menit yang lalu.


Bimo hari ini berniat, tidak pergi ke Kantor. Beberapa hari ini, energi dan pikiran Bimo cukup terkuras.Dimana dia harus mengurus perusahaan dan masalah persidangan Deni dan Sherly. Akhirnya sidang putusan hakim akan diadakan dua minggu lagi.


"Bimooo! " teriak seseorang dari arah ruang tamu. " Dimana lo Bim?" teriaknya lagi, dan sepertinya dia seperti orang yang kebakaran jenggot.


"Hei, calon besan udah datang! Mau bicarain pernikahan ya?" Bimo muncul dari ruang keluarga sembari cengengesan, melihat siapa yang sedang datang. Yang ternyata Dimas.Dilihat dari cara Dimas datang, tanpa dikasih tahupun,Bimo sudah tahu tujuan Dimas datang sepagi ini.


"Gak usah nyengir-nyengir gitu deh Bim! gue mau nanya, kenapa lo gak ngasih tahu gue kalau si Aariz ke London nyusulin Vina?" tanya Dimas.


"Hah? Aariz ke London?Kenapa aku tidak tahu?" ucap Bimo dengan ekspresi pura-pura kaget.


Dimas berdecak dan jengah melihat ekspersi yang disuguhkan oleb Bimo.


"Bim,tolong serius! aku tidak bercanda kali ini." ucap Dimas kesal.


"Ok! gue serius Dim. Dari mana kamu tahu kalau Aariz nyusulin Vina ke London?" Kali ini Bimo sudah terlihat serius.


"Gue tahu dari Vano.Tadi malam dia nonton konser dengan tiket VVIP. Gue bingung dari mana dia dapat tiket itu,padahal aku tidak membelinya sama sekali.Ternyata anakmu yang memanjakan putraku.Dasar ya, Ayah sama anak sama aja." Papar Dimas dengan ekspresi kesal.


Bimo terkekeh, merasa geli melihat kekesalan yang tergambar di wajah Dimas. "Harusnya kamu senang dong,itu berarti Aariz benar-benar mencintai Vina.Jadi,kamu gak perlu khawatir lagi,kalau Aariz bakal nyakitin Vina.Karena kamu pasti juga sudah tahu, sifat kami bagaimana, kalau sudah cinta ya pasti bakal gak mau nyakitin. Nyamuk aja yang gigit akan dibasmi sampai titik darah penghabisan, " ucap Bimo absurd.


"Lebay lo! justru gara-gara gue tahulah, sifat keturunan lo gak bakal jauh-jauh dari sifat lo,makanya gue khawatir,"


"Apa sih yang lo khawatirin Dim? " tanya Bimo sembari menyipitkan kedua matanya.


"Lo, jangan pura-pura gak tahu deh Bim." sahut Dimasl, keki.


"Jujur Dim, gue benaran tidak tahu.Lo ngomong aja langsung, apa yang lo takutkan?"


"Gue takut kalau Aariz bakal ngebobol anak gue duluan Bim.Karena sejarah hidup lo kan begitu. Lo, bobol si Tiara dulu, Aarash ngebobol Laura.Gue gak mau kalau si Aariz ngikutin jejak lo berdua. Vina masih terlalu muda Bim, untuk menikah," ujar Dimas.

__ADS_1


"Ya,ampun Dimas! lo kan tahu sendiri kenapa Aarash bisa sampai begitu? Dia ngelakuin itu pada Laura, karena pengaruh obat, bukan karena sengaja. " tukas Bimo sedikit kesal atas ucapan Dimas. " Lo juga bisa lihat, Aarash tetap bertanggung jawab, walaupun,pada saat itu, dia tidak tahu kalau Ayu itu bukan Laura. Dan Aariz hampir saja mau menggantikan Aarash untuk menikahi Ayu. Dari situ harusnya kamu tahu, kalau putra-putra ku orang yang sangat bertanggung jawab. Bukannya itu harusnya sudah bisa meyakinkan lo untuk menerima Aariz sebagai menantumu? " papar Bimo panjang lebar tanpa mengambil jeda sama sekali.


Dimas terdiam mendengarkan perkataan Bimo, karena apa yang diucapkan oleh sahabatnya itu memang benar adanya. Dia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskanya kasar.


"Tapi, Bim, waktu Aariz datang ke rumah, dia pernah bilang kalau dengan harus ngebobol Vina, baru dia bisa menikahi Vina, dia akan melakukan cara itu, untuk membatalkan perjodohan Vina. Apa kita kasih tahu mereka aja ya, kalau sebenarnya mereka berdualah yang sudah bertunangan," ucap Dimas bimbang. " Tapi serba salah, kalau kita kasih tahu mereka,nantinya justru Aariz malah merasa ,kalau Vina itu sudah sepenuhnya hak miliknya. Sehingga bisa aja dia melakukannya dengan Vina," Dimas merasa bingung sendiri.


"Dim gue tahu bagaimana perasaan lo yang sebenarnya. Sebenarnya yang lo takutkan bukan itu.Tapi hati lo masih berat utuk melepaskan Vina buat laki-laki lain, kan? " ucap Bimo, yang langsung menohok ke hati Dimas.


Seperti yang dikatakan Bimo, Dimas memang masih berat untuk melepaskan putrinya itu, bukan karena tidak percaya pada Aariz, tapi lebih ke hatinya yang belum siap melihat putrinya di ambil sepenuhnya oleh laki-laki lain.


Melepas putri kecilnya untuk hidup bersama orang lain. Putri yang ia rawat sejak kecil, harus ia relakan untuk memilih jalan hidupnya sendiri, bersama pria yang menjadi pelabuhan terakhirnya.Hati Dimas terasa sesak membayangkan hal itu.


Flashback On


Bimo dan Tiara datang berkunjung ke rumah Dimas dan Sinta yang memang tidak terlalu jauh dari rumah meraka.


"Hei, Sob, tumben lo datang? Gak sibuk lo?" tanya Dimas begitu dia membukakan pintu. Tiara hanya tersenyum dan langsung menyelonong masuk untuk menemui Sinta.


"Gue, lo suruh masuk duluan dong! nanyanya didalam aja." sahut Bimo.


"Woi ,Dimas, gue masih diluar nih!" teriak Bimo sembari mengusap jidat dan hidungnya yang sudah memerah


"Eh, sorry sob ... sorry! kiraian lo udah masuk tadi." ucap Dimas terkekeh.


Bimo mendengus,dan berjalan langsung melewati Dimas. Lalu dia mendaratkan tubuhnya duduk di atas sofa. "Silahkan duduk Dim, anggap aja rumah sendiri!" ujar Bimo sambil angkat kaki dan menggoyang-goyangkan kakinya.


"Hei, ini rumah gue, harusnya gue yang ngomong begitu Edan lo! " ketus Dimas.


Dari arah dapur,muncul Sinta dan Tiara yang membawa nampan dengan minuman dan kue di atasnya. Setelah meletakkan nya di atas meja, merekapun duduk di samping suami masing-masing.


"Vina mana Sin? dari tadi kok gak kelihatan" tanya Tiara sambil mengedarkan matanya ke sekeliling.

__ADS_1


"Oh, Vina lagi keluar sama Galang. Soalnya dua hari lagi Vina akan ikut Galang ke London.Dia mau melanjutkan kuliahnya disana," sahut Sinta.


"Oh" Tiara manggut-manggut.


"Kalian berdua tumben ke sini tanpa ngabarin dulu, ada apa?" Dimas bertanya sambil meletakkan kembali gelas kopi yang baru saja selesai disesapnya.


Tiara dan Bimo saling silang pandang terlebih dahulu, untuk memutuskan siapa yang akan berbicara. Tiara menghela nafasnya melihat isyarat dari Bimo, menyuruh dia saja yang berbicara.


"Begini Ka Dim, Sin ....,kami ke sini untuk melamar Vina buat Aariz. Gimana kalau mereka berdua kita jodohkan?" Tiara mengungkapkan keinginannya dengan sangat hati-hati.


Dimas menyipitkan kedua matanya ke arah Bimo dan Tiara bergantian. "Apa aku tidak salah dengar?" ucap Dimas. "Kalian kan tahu kalau Aariz tidak pernah menyukai Vina.Kalian mau membuat Vina menangis terus kalau hidup bersama Aariz?" ucap Dimas, dengan ekspresi kesal.


"Aku tahu kalau Vina memang menyukai Aariz. Tapi, aku gak mau menyerahkan putri saya buat orang yang tidak mencintainya sama sekali." Nasa suara Dimas kini mulai meninggi. "Dan bukannya Aariz akan menggantikan Aarash untuk menikahi Ayu?"


Bimo dan Tiara saling menatap kembali, dan tersenyum.Sekarang Tiara menyadari, kalau Vina tidak melihat dan mendengar keseluruhan apa yang terjadi, setelah Aariz mengungkapkan untuk menggantikan Aarash menikahi Ayu.Sehingga Vina jadi salah paham.


Tiara menghembuskan nafasnya dengan sekali hentakan "Ka Dimas. Kaka salah paham! Yang menikah itu tetap Aarash, karena Aarash bersedia untuk bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya buat Ayu. Justru aku berani mengatakan untuk menjodohkan Aariz dan Vina, karena aku berani menjamin kalau Aariz sebenarnya menyukai Vina. Aku bisa melihat perubahan sikapnya sekarang yang sering murung karena Vina tidak pernah datang mengganggu dia lagi. Setiap pagi, dia selalu menatap ke arah pintu, seperti berharap Vina akan datang," Tiara diam sejenak untuk mengambil jeda, sekaligus menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kembali.


" Waktu aku mengatakan kalau Vina dijodohkan dengan Galang, dia tidak terima dan marah-marah,lalu mengurung dirinya seharian,"papar Tiara, yang membuat Dimas dan Sinta terhenyak dengan penuturan Tiara.


"Tapi, Vina masih terlalu muda untuk menikah,Dia bahkan masuk ke bangku kuliah," ucap Dimas melayangkan keberatannya.


"Aku juga tidak memaksa untuk menikahkan mereka dalam waktu dekat ini. Aku mau mereka bertunangan dulu tanpa sepengetahuan mereka berdua. Untuk sekarang, biarkan Aariz berpikir kalau Vina benar-benar dijodohkan dengan Galang. Agar dia dapat lebih memastikan, kalau dia benar-benar sudah mencintai Vina.Dan Aku berani jamin, kalau Aariz akan datang sendiri nanti ke kamu untuk memohon agar kamu membatalkan perjodohan itu," tukas Tiara dengan panjang lebar.


"Baiklah! tapi, asal kalian tahu, lusa Vina akan ke London. Jadi mau tidak mau, pertunangangannya harus besok juga. Aku mau cincin pertunangannya, yang mahal dan di rancang khusus.Apa kalian siap untuk itu? ucap Dimas memberikan tantangan.


"Asiap!" ucap Bimo sembari menghormat.


Flashback end


Tbc

__ADS_1


Jangan lupa like, vote,dan komen. Thank you


Aduhh apa yang akan terjadi nanti ya, kalau Ayah Bimo tahu, cincin yang sudah dirancang dengan susah payah dan mahal, di suruh buang sama Aariz?😀😀😀😀


__ADS_2