
"Apa kamu sudah telat datang bulan,sayang?" tanya Tiara dengan senyuman yang menghias di bibirnya.
Vina mengerjap-erjapkan matanya dengan mulut yang sedikit terbuka, mendengar pertanyaan Ibu mertuanya itu. Tiba-tiba matanya membesar dengan sempurna, setelah dia ingat, kalau sudah dua bulan ini, tamu bulanannya tidak pernah menyapanya lagi.
"I-iya Bun! apa itu berarti, Vina___?"
"Bunda tidak bisa sih memastikan.Tapi, kalau melihat dari ciri-ciri kalian berdua dan ditambah kamu yang tidak mendapatkan tamu bulanan selama dua bulan, Bunda yakin kalau kamu sudah isi." sahut Tiara.
"Bunda sama Vina ngomongin apa sih? Vina isi apa? emang setiap bulan Vina kedatangan tamu?" tanya Aariz yang dari tadi terlihat bingung dengan pembicaraan Bunda dan istrinya.
"Setiap wanita, selain anak kecil dan yang sudah monopause itu, selalu kedatangan tamu bulanan Riz. Masa kamu gak tau, apa maksud Bunda sih!" Tiara sedikit kesal melihat putranya yang lola alias loading lama.
Aariz terlihat terdiam untuk sepersekian detik, seperti sedang memikirkan sesuatu. Detik berikutnya, kedua netranya langsung membulat dengan sempurna. "Maksud Bunda, Vina telat datang bulan?" tanya Aariz dengan wajah yang berbinar-binar.
"Cih, baru nyambung dia! tadi di awal kan, Bunda nanyanya itu sama Vina. Kok ngudengnya baru sekarang sih?" cetus Tiara sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Jadi, itu berarti Vina sedang hamil, Bun?" tanya Aariz dengan senyum yang mengembang sempurna.
"Kan itu baru dugaan Bunda, kalian harus cek dulu, biar tahu benar tidaknya," sahut Tiara.
"Ayo kita cek sekarang Bee!" Aariz terlihat sangat bersemangat. Akan tetapi Vina terlihat tidak bergeming sama sekali dan terlihat tidak semangat.
"Kamu kenapa Bee? apa kamu tidak ingin tahu, kalau kamu benaran hamil atau tidak?" tanya Aariz seraya mengrenyitkan keningnyan ke arah Vina.
"Bee, kalau aku benar-benar hamil bagaimana? apa aku bisa jadi ibu yang baik nantinya? aku masih terlalu muda, aku takut aku tidak bisa merawat dan membesarkan mereka dengan baik." Vina akhirnya mengungkapkan apa yang menjadi ketakutannya.
"Vin, aku yakin kamu pasti bisa.Kamu lihat Bunda, kamu pasti tahukan kisah Bunda dulu. Bunda juga hamil di usia yang sama denganmu, tanpa suami dan berkekurangan, yang Bunda punya cuma Mamahmu dan Ibu Sumi yang selalu mendukung Bunda. Tapi kamu bisa lihat sendiri, Bunda bisa membesarkan Aarash dan Aariz sendiri. Kamu punya suami, Papah dan Mamah dan kami semua yang mendukungmu. Yang paling penting sekarang, Kamu tanamkan dulu keyakinan di hatimu, kalau kamu bisa dan sanggup, pasti semua hal yang kamu takutkan itu akan hilang dengan sendirinya." ucap Tiara menenangkan hati Vina.
Vina tersenyum ke arah ibu mertuanya, dan langsung berdiri dari tempat duduknya. " Iya, Bun, Vina pasti bisa! terima kasih ya Bun, udah kasih motivasi buat Vina." ucap Vina sembari memeluk Tiara. " Bee, kamu tolong belikan tes kehamilan ya!" ujar Vina dengan semangat.
__ADS_1
"Kita langsung cek ke dokter aja Bee.Tidak usah pakai alat-alat seperti itu lagi." Sahut Aariz.
"Iya, sayang! kita langsung ke dokter aja,Bunda mau ikut juga." Tiara menimpali ucapan Aariz.
"Hmm, tapi kalau ke rumah sakit, banyak makan waktu, Bun. Padahal Vina ada kuliah pagi hari ini, dan Ka Aariz juga kan harus bekerja Bun?"
"Aku bosnya Bee, jadi masalah itu gak usah kamu pikirkan. Dan masalah kuliah kamu, nanti aku akan minta Lea, buat ngasih tahu ke dosen kalau kamu tidak bisa hadir hari ini."
"Ya udah deh kalau begitu! Tapi, kalau boleh sebelum berangkat, kamu mandi dulu ya Bee, dan jangan pakai parfum itu lagi." ucap Vina sambil memamerkan giginya ke arah Aariz yang seketika langsung merasa dongkol.
"Itu lagi, itu lagi. Iya, iya aku mandi sekarang." ucap Aariz kesal.
***********
"Lho, Rash kalian lagi periksa juga ya?" Tanya Tiara, pada Aarash ketika melihat Aarash dan Laura yang baru saja keluar dari ruangan dokter.
"Eh, iya Bun! mau cek rutin bulanan aja!" sahut Aarash.
"Iya, Bun, meraka baik-baik saja, sehat dan tidak kurang apapun." sahut Laura sembari mengembangkan senyum di bibirnya.
"Bunda sedang apa di sini? Bunda hamil lagi ya?" celetuk Aarash tiba-tiba.
Seperti celetukannya yang datang tiba-tiba, seperti itu jugalah pukulan yang mendarat di kepalanya, datangnya juga tiba-tiba dari Tiara.
"Kamu ya, kalau ngomong, mbo disaring dulu napa? Bunda kesini nemenin Vina sama Aariz buat ngecek hamil atau tidak." Sahut Tiara.
"Jadi, Vina juga lagi hamil Bun?"tanya Aarash kembali dengan antusias.
"Kamu gimana sih Rash? makanya kalau orang ngomong itu, didengarin baik-baik. Tadi,kan bunda udah bilang, kalau kita ke sini itu, buat ngecek, si Vina hamil atau nggak! Jadi, artinya Bunda gak tau Vina hamil atau nggak!" Tiara terlihat mulai kesal pada putranya itu.
__ADS_1
"Jadi dimana mereka? Bunda yang mewakilkan Vina untuk diperiksa ya? emang periksa kehamilan itu bisa diwakilkan Bun?" lagi-lagi pukulan Tiara mendarat di kepala Aarash ketika mendengar pertanyaan Aarash yang absurd.
"Kamu itu ya? kalau ngomong, tolong pikirannya dipakai.Aariz dan Vina lagi ke toilet tadi. Bentar lagi juga pasti datang ... tuh mereka datang." mata Tiara menatap ke arah kedatangan Aariz dan Vina.
"Hai, kalian berdua juga ada di sini? lagi periksa kehamilan ya?" sapa Aariz basa-basi.Sedangkan Laura dan Vina terlihat saling cipika- cipiki
"Nggak! kita ke sini mau periksa asam urat! ya iyalah , periksa kehamilan. Kamu gimana sih? sahut Aarash kesal.
"Oh, jadi ba____"
" Stop! gak usah nanya bagaimana keadaanya. Nanti kamu tanya aja sama Bunda, soalnya jawabannya udah aku kasih tahu tadi, sama Bunda.Aku gak suka menjawab pertanyaan yang sama, dua kali." ucap Aarash cepat, sebelum Aariz menyelesaikan pertanyaannya.
"Dasar Kakak gak ada akhlak!"umpat Aariz.
"Kita masuk aja yok Bun!" ucap Aariz sembari menggandeng tangan Vina, masuk keruangan dokter yang sudah mereka hubungi terlebih dahulu tadi dari rumah.Sedangkan Aarash dan Laura memutuskan untuk menunggu di luar ruangan.
Setelah berbasa-basi sebentar dengan dokter kandungan itu, Dokter pun mulai bertanya, hal apa yang terjadi belakangan ini..Aariz pun menerangkan keaneh-anehan yang dia alami dan istrinya alami.
" Hmm, sepertinya istri anda benar-benar hamil, Tuan Aariz, dan anda terkena Couvade Syndrom atau kehamilan simpatik, yang mana istri yang hamil,tapi suami yang mual-mual dan merasakan ngidam. Tapi, untuk lebih jelasnya kita periksa dulu ya! Ayo, Mba Vina, baring dulu di kasur!" ujar dokter itu, sembari menerbitkan seulas senyuman dibibirnya.
Setelah Vina berbaring, dokter menyingkap sedikit kaos yang di pakai Vina, dan meletakkan probe di bawah perut Vina, setelah mengoleskan gel terlebih dahulu.Gel ini berguna untuk meningkatkan efisiensi alat ultrasound, yakni mengurangi gelombang yang tidak masuk ke tubuh, ketika probe sedang mentransmisikan gelombang suara.
" Wah, selamat ya, Tuan Aariz, Mba Vina.kalian sebentar lagi benar-benar akan menjadi orangtua.Mba Vina, benar-benar hamil dan usia kandungannya sudah 8 minggu.
Mendengar ucapan dokter itu, air mata Aariz tanpa terasa menetes membasahi pipinya. Dia tidak menyangka, diberikan anugrah menjadi orangtua secepat ini.
"Kamu menangis Riz?" celetuk Tiara.
"Nggak Bun! ini cuma mata air, bukan air mata!" sahut Aariz ngasal.
__ADS_1
Tbc