YOU ARE MY DESTINY

YOU ARE MY DESTINY
Liontin


__ADS_3

Dion kembali ke rumah orangtuanya sudah sangat larut, karena harus menjemput mobil Kinara dulu di hotel,lalu mengantarkannya pulang.


Dion masuk ke dalam rumah kecil dan reot itu menggunakan kunci cadangan yang dia bawa. Kedua netranya langsung menangkap pemandangan yang selalu saja terjadi, setiap dia pulang larut dulu.Pemandangan dimana dia melihat ibunya yang sudah tua, tertidur di atas kursi yang terbuat dari bambu,menunggunya pulang.


"Bu, bangun, Bu! " Dion mengguncang tubuh renta ibunya pelan.


Tubuh renta itu menggeliat, lalu mengerjap-erjapkan matanya. "Kamu sudah pulang, Nak?jam berapa ini, kok baru pulang?" tanya Ibu itu dengan sangat lembut.


"Iya, Bu! Kenapa ibu tidur di sini? Dion kan udah bilang, gak perlu nungguin Dion pulang."


"Nggak Pa-pa, Nak. Kan yang mau ibu sendiri." ucap Ibu yang bernama Darti itu, tersenyum sembari mengelus-elus rambut Dion.


"Ya udah, sekarang kamu masuk ke kamarmu dan langsung tidur! Ibu juga mau tidur sekarang." Ibu Darti berdiri, dan hendak beranjak menuju kamar dimana Bapak Beni suaminya sudah terlelap dari tadi.


"Kamu kok masih diam di sana Nak? kamu belum ngantuk ya? Ibu Darti kembali menoleh kebelakang seraya mengrenyitkan keningnya ke arah Dion.


"Hmm, Bu___" Dion, diam sejenak,menatap Ibunya. Dari manik matanya,menunjukka kalau ada sesuatu yang ingin ditanyakannya.


"Kenapa Nak?apa ada sesuatu yang mengganggu pikirkanmu?“ Ibu Darti kembali menghampiri Dion.


" Em, gak ada, Bu! Ibu istirahat aja sekarang! " ucap Dion, tidak tega menanyakan, hal yang sangat mengganjal di pikirannya.


"Kamu yakin?" Ibu Darti kembali bertanya.


"Iya, Bu.Dion juga mau istirahat." sahut Dion sembari menyematkan seulas senyuman di bibirnya.


Dion masuk ke dalam kamarnya, setelah ibu Darti juga sudah masuk ke dalam kamar. Dion merebahkan tubuhnya, lalu matanya menerawang ke atas, mengingat kejadian yang dia alami barusan. Kalau berkata jujur, sebenarnya Dion, merasakan suatu getaran ketika pertama kali melihat Laura. Apalagi ketika Laura tiba-tiba memeluknya dan memanggilnya adik.Tidak berselang lama, akhirnya Dion pun terlelap, dengan pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi pikirannya.


*******


Pagi pun kembali datang menyapa.Suara hiruk pikuk dari luar terdengar sampai ke kamar Dion.Sepertinya orang-orang di sekeliling rumahnya sudah mulai melakukan rutinitas mereka seperti biasa.

__ADS_1


Dion keluar dari kamarnya dan melihat bapaknya sudah bersiap-siap berangkat memulung dan ibu Darti seperti biasa sudah berangkat bekerja jadi buruh cuci di rumah tetangganya yang termasuk berada di lingkungan mereka.


"Pagi,Pak. Bapak mau berangkat ya?" sapa Dion.


"Oh, kamu udah bangun Nak? iya bapak berangkat dulu ya! kamu di rumah aja!" sahut Pak Beni.


"Dion ikut bapak aja ya! Dion juga malas di rumah."


"Gak usah Nak! kamu di rumah aja.Kamu juga pasti masih sangat lelah.Papah berangkat dulu ya!" Pak Beni beranjak keluar dari setelah Dion mencium punggung tangan laki-laki renta itu.


Setelah selesai sarapan, Dion mengayunkan kakinya menuju rumah pamannya, adik dari bapaknya, yang selama ini selalu memandang rendah Kakaknya sendiri. Dari dulu Dion juga tidak luput dari hinaan pamannya itu, yang selalu menggangap Dion tidak akan mungkin bisa sekolah tinggi. Tapi, walaupun seperti itu, Dion tidak menyimpan dendam.Seperti hari ini dia tetap mau berkunjung ke rumah pamannya untuk memberikan oleh-oleh yang dia bawa dari London.


Setelah memasuki pekarangan pamannya itu, samar-samar Dion mendengarkan pamannya itu sedang berbicara pada putri satu-satunya Ratih. Semakin dekat, Dion mendengar kalau pamannya itu menyebut namanya.


"Kamu itu pokoknya harus bisa dapetin Dion, Ratih! Dia itu sudah mau lulus S2 dari London.Papah yakin kalau dia nanti akan mendapatkan pekerjaan yang bagus dan kamu akan jadi seorang istri, dari suami yang berpendidikan tinggi." ucap Pak Bono.


"Papa gimana sih? Bang Dion kan sepupunya Ratih, masa mau dijadikan suami?" sahut Ratih sembari mencebikkan bibirnya.


" Yang bilang dia sepupu kamu siapa? dia itu bukan anak kandung Pak de kamu. Dia itu cuma anak yang dipungut sama Pak de kamu dari jalanan waktu kecil dulu." ucap Pak Bono, yang membuat Dion terkesiap di luar.


"Makanya, dari sekarang kamu harus menggoda Dion.Kamu tenang saja, Papah sendiri nanti yang akan minta sama Pak de kamu, agar menjodohkan kalian berdua, sebagai balas budi kalau papah sering meminjamkan uang padanya."


"Beneran ya Pah? ihh ... Ratih sudah tidak sabar Pah!" ucap Ratih yang sebenarnya sudah lama menyukai Dion.Hanya dia memendamnya, karena dia tahu kalau Dion sepupunya.Tapi sekarang setelah dia tahu kebenarannya, dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan lagi.


"Iya ... tapi nanti kamu menikahnya setelah Dion punya pekerjaan bagus, dan rumah yang bagus.Setelah itu kamu ajak Papah sama Mamah yang tinggal bareng kamu.Pakde sama bude mu biarkan saja mereka tetap di rumah reot mereka." Bibi Minah , istri Paman Bono menimpali ucapan Ratih.


Dion mengepalkan kedua tangannya mendengar semua pembicaraan di dalam. Dion kembali mengayunkan langkahnya, tidak jadi masuk kerumah pamannya itu. Dia hanya meletakkan oleh-olehnya di depan pintu lalu meninggalkan rumah pamannya itu.


Dion kembali ke rumah dengan perasaan yang sangat kacau.Ingin rasanya dia tidak mempercayai semua ucapan yang keluar dari mulut paman Bono dan keluarganya. Akan tetapi, tidak mungkin pamannya itu berbohong pada putrinya.


"Lho kamu kenapa melamun di situ Nak?" ibu Darti tiba-tiba muncul.Sepertinya dia sudah menyelesaikan cuciannya.

__ADS_1


Dion tidak menjawab sama sekali, di justru menatap ibu Darti dengan intens.


"Kamu kenapa sih Nak? dari tadi malam, aku lihat kamu bertingkah aneh." tanya Darti seraya menghampiri Dion.


"Bu, apa benar Dion bukan anak kandung ibu dan Bapak?"


Darti terlihat terkesiap kaget dan wajahnya sontak berubah pucat." S-siapa yang bilang itu semua Nak?"


"Aku dengar sendiri, Paman Bono mengatakannya pada Ratih." Dion akhirnya menceritakan semua pembicaraan Bono, istri dan putrinya Ratih serta kejadian yang dialaminya tadi malam.


"Sekarang ibu jujur saja, apa itu semunya benar Bu?" tanya Dion kembali meminta penjelasan.


Airmata Darti kini sudah merembes membasahi pipi keriputnya. Dia menarik nafas dalam-dalam dan menghbuskannya dengan perlahan. " Dion, mungkin sudah saatnya aku memberitahukan mu yang sebenarnya. Iya! kamu bukan anak kandung ibu dan Bapak.Bapak menemukanmu menangis dulu di jalananan yang sangat sepi. Kamu di tinggalkan seorang wanita cantik di jalanan.Bapak sudah berusaha mengejar mobil wanita itu, tapi tidak bisa. Karena kami sudah lama tidak memiliki anak, makanya kami memutuskan untuk merawat dan membesarkanmu seperti anak kami sendiri," papar Darti sembari terisak-isak.


"Tapi, kenapa Ibu tidak memberitahukanku selama ini?" tanya Dion.


"Maafin Ibu dan Bapak Nak! Kami sebenarnya ingin memberitahukanmu yang sebenarnya, tapi kami takut, kamu akan meninggalkan ibu dan bapak Nak." ucap Darti masih dengan berderai air mata.


"Apa namaku yang sebenarnya Leon Bu?"


"Kalau itu, Ibu tidak tahu. Tapi waktu kami tanya 'siapa nama mu?', kamu cuma menjawab Yon, Eyon. Makanya Kami memutuskan membuat namamu Dion."sahut Darti.


"Kamu tunggu di sini sebentar! Ibu ada sesuatu buatmu dan memang seharusnya dari dulu aku sudah memberikannya padamu." Darti berdiri dab beranjak menuju kamar.


Tidak lama kemudian Darti kembali keluar, dengan membawa sebuah liontin di tangannya.


"Hanya ini, yang kami temukan yang tersangkut di lehermu saat itu.Dan di dalam liontin itu, ada photo keluargamu sebenarnya." Dion menerima liontin yang diserahkan Darti padanya. Dengan perlahan, Dion membuka liontin itu. Dion tiba-tiba menangis melihat photo keluarga, ada papah dan mamahnya serta dua anak kecil, yang satu perempuan dan yang satu lagi anak laki-laki. Yang membuat dia menangis adalah photo kedua orangtua yang sama persis dengan yang ditunjukkan oleh Laura tadi malam.


"Nak Dion, apa kamu tadi datang ke rumah?" tiba-tiba Bono datang dengan tergesa-gesa, dengan nafas yang tersengal-sengal.Dia begitu kaget tadi saat melihat ada bungkusan di depan rumahnya. Bono khawatir kalau Dion sudah mendengarkan semua pembicaraannya dengan istri dan putrinya.


"Iya, Paman! dan aku sudah mendengar semua pembicaraan paman dengan Bibi serta Ratih.Dan aku akan menegaskan di sini aja paman, kalau keinginan paman, aku pastikan tidak akan terjadi." ucap Dion sembari menatap Bono dengan tatapan yang sangat tajam.

__ADS_1


Tbc


Jangan lupa buat like, vote dan komen ya gais. Thank you.


__ADS_2