
Hari ini hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh Aariz dan Vina. Dimana hari ini, mereka akan disatukan dalam ikatan pernikahan.
Setelah melewati acara yang paling mendebarkan yaitu pengucapan janji suci pernikahan, kini Aariz dan Vina sudah sah menjadi suami istri. Kedua mata Aariz menitikkan air mata, ketika telinganya mendengar kata Sah, demikian juga dengan Vina.
Acara resepsi pernikahan Aariz dan Vina akan di adakan pada pukul 7 malam hari nanti. Jadi Aariz dan Vina memiliki kesempatan untuk beristirahat beberapa jam lagi. Kini mereka berdua sedang berada di sebuah kamar hotel, tapi bukan di kamar pengantin,karena kamar pngantin akan mereka tempati setelah, pesta pernikahan usai.
"Bee, apa kamu bahagia sekarang?" tanya Aariz,sambil merangkul pundak Vina yang duduk menyender pada headboard atau sandaran kasur.
"Pertanyaan seperti apa itu? tentu aku bahagia. Bukan hanya bahagia, tapi sangat ... sangat bahagia!" sahut Vina sambil menyenderkan kepalanya di dada laki-laki yang sekarang sudah jadi suaminya itu.
"Aku sih udah yakin, kalau kamu akan menjawab seperti itu. Kan kamu sangat mencintaiku." ucap Aariz meledek.
Vina sontak mengangkat kepalanya dari dada Aariz dan menghunuskan tatapannya pada suaminya itu. "Jadi, maksudmu hanya aku yang mencintai mu?" Vina terlihat sangat kesal sekarang.
" Siapa bilang aku tidak cinta? aku cinta kok sama kamu, cuma cinta kamu lebih besar dari pada cintaku."
"Apa? jadi seperti itu ya? " ucap Vina lirih.
" Ya iya lah, cintamu 51 persen, kalau aku 49 persen jadi genap 100 persen."
"Kenapa, gak kamu aja yang 51 persen, aku yang 49 persen? sergah Vina tidak terima.
"Oh ... tidak bisa! pokok kamu yang harus tetap lebih banyak." Aariz tidak mau kalah.
Vina sontak memunggungi Aariz dengan tangan yang bersedekap di dada sembari mengerucutkan bibirnya
"Cih, bukannya dia yang mengejar aku sampai ke London? kalau bukan karena sangat mencintaiku, ngapain dia capek-capek sampai ke sana? Coba kalau dia gak kesana, aku pasti akan bisa melupakannya dengan cepat. Aku kan cantik, banyak laki-laki yang menyukaiku," Vina menggerutu.
Aariz sontak memutar, badan Vina agar kembali mengahadapnya.
" Hei, jangan pernah kamu bilang, kalau kamu bisa melupakanku dan bisa berpaling ke laki-laki lain? Kamu itu hanya milikku!" Aariz benar-benar tidak suka dan geram mendengar gerutuan yang keluar dari mulut Vina.
"Kamu ngerti gak Vin?" suara Aariz meninggi karena melihat Vina diam saja.
"Iya, iya aku mengerti! Makanya gak usah sok, bilangnya cintaku yang lebih besar. Baru dibilang begitu kamu udah kepanasan kaya lagi kebakaran dagu."
__ADS_1
"Kebakaran jenggot Bee!" sergah Aariz.
"Kamu gak punya jenggot! jadi gak bakal pernah ngerasain, gimana rasanya kebakaran jenggot." ucap Vina dengan masih nada kesal.
Aariz terkekeh melihat ekspresi kesal di wajah Vina.Dia pun menangkup pipi istrinya itu,dan menatap dalam-dalam manik mata istri kecilnya itu.
"Maaf, ya, kalau ucapan ku membuatmu kesal. Aku tadi cuma bercanda Bee. Cintaku itu sangat besar padamu, kalau mau di tulis angkanya, kalkulator akan error karna angkanya tidak muat di sana.Dan kalau mau di tulis di kertas,sampai 100 tahun pun kamu tidak akan selesai-selesai menulisnya." senyuman Aariz tersemat manis di bibirnya, dan menatap bibir Vina penuh damba.
Di saat Aariz hampir saja berhasil mendaratkan bibirnya di bibir istrinya itu,suara ketukan pintu dari luar mengagetkan keduanya.
"Siapa sih?! ganggu aja!" Aariz beranjak turun dari ranjang dengan raut wajah yang sudah sangat kesal.
"Mana Vina Riz? Kamu belum apa-apain dia kan?" terdengar suara seorang laki-laki dengan nada panik, begitu Aariz membuka pintu.
"Apa-an sih Pah? ganggu orang lagi bermesraan aja!" cetus Aariz kesal melihat laki-laki yang kini sudah saja jadi mertuanya itu, berdiri sambil berkacak pinggang di depan pintu kamarnya.
"Kamu yang apa-apaan? mana Vina?" Dimas mendorong sedikit tubuh Aariz,agar segera menyingkir dan memberikan dia jalan untuk masuk.
Dimas menerobos masuk melewati Aariz yang kini tengah menggeram melihat tingkah laku mertuanya itu.
" Papah mau bawa Vina ke kamar Papah dan Mamah untuk sementara. Papah gak mau kamu membobol putriku sekarang." ujar Dimas.
"Tapi kenapa Pah? Vina itu udah sah jadi istri Aariz!" Aariz mencoba untuk protes.
"Iya, Papah tahu! tapi, papah gak mau ,kalau karena perbuatanmu, putriku jadi nga*ng**kang jalannya nanti saat resepsi.Karena aku tahu, kalau keturunan Bimo pasti gak akan cukup sekali." Sahut Dimas sambil menarik tangan Vina yang tersenyum dengan kecut.
"Arghhhhh! Papaaah!" teriak Aariz frustasi sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
********
Acara resepsi Aariz, dalam lima menit lagi akan segera dimulai. Para tamu sudah banyak yang berdatangan dan hampir memenuhi ruangan itu. Para tamu sangat terkesima dengan pemandangan dekorasi indah yang disuguhkan di depan mata mereka sekarang.
Konsep pernikahan Aariz dan Vina berbeda dari konsep resepsi Aarash dan Laura. Kali ini dekorasi wedding yang dipilih oleh Aariz dan Vina lebih dominan ke warna putih dan ala-ala di negri dongeng. Karena selain warna pink, Vina juga sangat menyukai warna putih.
__ADS_1
"Ladies and gentlement,beri tepuk tangan yang meriah untuk kedua mempelai yang akan segera memasuki ruangan!" Suara MC terdengar menggelegar disertai gemuruh tepuk tangan, dari para keluarga dan para tamu undangan yang hadir diruangan itu.
Iringan musik dan lagu beautiful in white, mengiri perjalanan kedua mempelai menuju pelaminan. Vina terlihat sangat mempesona dalam balutan gaun pengantin warna putih dan demikian juga, Aariz yang gagah dengan tuxedo warna putih.
Mereka kini sudah bergabung dengan orang tua kedua mempelai yang sudah menunggu di atas pelaminan.
Aariz menatap sinis ke arah Dimas mertuanya. Sisa-sisa kekesalan karena sikap Dimas tadi siang masih sangat membekas di hatinya.
"Hei, senyum! Muka udah jelek jangan dibuat makin jelek lagi!" ucap Dimas yang merasa tidak perduli dengan pandangan sinis menantunya itu.
Aariz hanya mendengus, dan menghembuskan nafas dengan perlahan mendengar ucapan mertuanya.Dia sama sekali tidak mau membantah,karena kalau dibantah dia juga tidak akan menang.
Di tengah para tamu, ada sekumpulan anak muda yang turut menghadiri pernikahan Aariz dan Vina. Siapa lagi mereka kalau bukan Galang dan sahabat-sahabatnya. Dan kali ini Dina sama sekali tidak hadir dengan alasan kurang enak badan.
"Vina cantik banget ya?" ucap Rendi seraya berdecak kagum menatap Vina.
"Hei! jangan sampai ucapanmu itu didengar sama suaminya! bisa-bisa dimakan kamu hidup-hidup." ucap Galang.
"Kamu kenapa diam aja Ki? kamu sakit?" tanya Galang, ketika melihat Kinara yang dari tadi diam saja.
"Oh, nggak kok Lang! aku baik-baik saja." sahut Kinara, menerbitkan senyuman tipis di bibirnya.
"Gimana mau semangat Lang, orang hatinya lagi tertinggal di London!" timpal Rendi tersenyum meledek, yang dibalas tawa oleh Galang.
Mata Galang menangkap sosok yang sangat dikenalinya, yang datang menghampiri meja mereka ,sembari membuat jari telunjuk di bibirnya.
Tbc
Jangan lupa untuk tetap like, vote dan komen ya gais. Thank you
__ADS_1