
"Aku mandi duluan ya mas." ujar Sinta kikuk,setelah mereka masuk ke kamar pengantin 5 menit yang lalu.Perasaan Sinta kini campur aduk antara,grogi,cemas dan takut.Karena sebelum menikah, dia membaca beberapa artikel,dan bertanya pada Tiara bagaimana rasanya ketika melakukan hubungan suami istri untuk pertama kali.
"Emm,apakah kita baiknya mandi bersama aja?" sahut Dimas sambil mengerlingkan matanya menggoda.
"N-nggak usah mas, aku duluan aja," Sinta sedikit berlari ke kamar mandi dengan semburat merah yang kini muncul di pipinya.
Dimas menarik sudut bibirnya keatas,merasa gemas dengan tingkah Sinta,yang kini sudah sah menjadi istrinya.
"Mas Dimas!" kepala Sinta tampak menyembul sedikit dari balik pintu kamar mandi.
"Ada apa sayang?" Dimas mengayunkan langkahnya untuk menghampiri Sinta.
"Mau minta tolong sedikit, boleh gak?" Sinta menggigit bibirnya,merasa sedikit canggung untuk meminta pertolongan Dimas.
"Banyak juga boleh sayang, " terseyum menggoda.
"Emm, aku gak bisa buka resleting gaunnya.kamu boleh bantu bukain gak?" ujar Sinta sambil meremas kedua tangannya,menunduk malu untuk melihat Dimas.
Dimas merasa kalau istrinya tengah malu saat ini.Sudut bibirnya terangkat sedikit,membentuk sebuah senyuman.
"Kenapa tidak boleh sayang? jangankan buka resleting, buka yang lainnya pun,dengan senang hati aku mau,"
Semburat merah kini semakin terlihat merona di pipi Sinta.Siapa pun yang baru saja menikah,pasti tahu makna ucapan Dimas.
"Aku mau buka resleting aja mas," ucap Sinta pelan,hampir mirip dengan gumaman.
__ADS_1
"Ya udah sini aku bantu!" meraih Sinta dan membalikan tubuh Sinta untuk membelakanginya.Dengan perlahan Dimas menurunkan resleting gaun Sinta. Dia berkali-kali meneguk ludahnya sendiri melihat kulit Sinta yang mulus.Tanpa sadar tangan Dimas mengelus punggung Sinta yang terbuka dan mengecup nya dengan lembut.
Tubuh Sinta seketika meremang mendapat sentuhan dari Dimas. Dentuman jantungnya berdetak sangat kencang, sehingga Dimas bisa sedikit mendengarnya.
"D-Dimas b-buka resletingnya udah belum? A-aku mau mandi dulu" ujar Sinta terbata-bata karena gugup.
"Gak usah mandi, Yang! toh nanti juga mandi keringat kan? "Dimas merangkul perut Sinta,menggigit telinga Sinta dengan lembut,meniup pelan, lalu mendaratkan bibirnya ke caruk leher jenjang Sinta dan mengecupnya berkali-kali.
"Astaga kayanya aku bakal habis malam ini." batin Sinta sambil menahan nafas karena sebenarnya dia sudah mulai terpancing dengan ulah Dimas.
"Ta-tapi badan ku serasa lengket mas.A-aku mandi dulu ya! " mohon Sinta.Karena jujur dia merasa kurang percaya diri,kalau belum mandi.
"Baiklah, tapi jangan lama-lama ya sayang!" bisik Dimas ditelinga Sinta,sehingga Sinta merasakan sensasi geli tapi mampu membakar gairah.
15 menit kemudian, Sinta membuka pintu kamar mandi pelan-pelan.Dia keluar dengan hanya berbalut handuk kimono di tubuhnya.Dia melihat Dimas sedang duduk bersandar di ranjang,sambil memainkan ponselnya.
Sinta berjalan pelan ke arah cermin,membuka handuk penutup kepalanya dan mengeringkan rambut basahnya dengan handuk itu.
Melihat tubuh Sinta yang hanya terbalut dengan handuk kimono,sontak membuat pikiran Dimas traveling membayangkan dan menebak-nebak bagaimana isi dan bentuk tubuh Sinta yang tertutup handuk kimono itu.
Dimas menurunkan kedua kakinya dari kasur,dan berdiri lalu menghampiri Sinta serta mendekap Sinta dari belakang.
"Kamu wangi sekali sayang" bisik Dimas lalu mengendus-endus leher Sinta.Dengan perlahan dia memutar tubuh Sinta untuk mengahadapnya.Tatapannya kini terfokus kearah bibir tipis merah muda milik Sinta.Dengan penuh damba,Dimas kini mengunci leher Sinta lalu membenamkan bibirnya ke bibir Sinta.Untuk Sejenak Sinta merasakan tubuhnya terasa lumpuh,tidak tahu mau berbuat apa.Sampai untuk bernafas pun dia hampir lupa.
"Bernafas, Sayang!" bisik Dimas di sela-sela pagutannya.
__ADS_1
Dimas mulai menggiring Sinta ke ranjang dan membaringkannya dengan lembut.Dimas kembali memagut bibir Sinta dan menelusurinya dengan cukup lama.Sinta yang awalnya tidak tahu mau berbuat apa-apa,sedikit demi sedikit sudah mulai mampu untuk membalas pagutan Dimas.Tangan Dimas dengan perlahan tapi pasti menarik tali handuk Kimono yang dipakai Sinta.Dan setelah handuk Kimono itu berhasil terbuka, kini dia dapat dengan jelas melihat isi dan bentuk tubuh Sinta tanpa harus menebak-nebak lagi.
"Kamu sudah siap,Sayang?" tanya Dimas dengan mata sayu penuh damba.
"Apakah itu akan sakit,Mas?"
"Mungkin akan sakit sebentar.Tapi, setelah itu,aku jamin tidak akan terasa sakit lagi.Kamu tenang saja aku akan melakukannya dengan lembut dan pelan," tutur Dimas berusaha meyakinkan.
Sinta menganggukkan kepalanya pasrah, "T**oh mau sekarang atau besok,hal ini tetap akan terjadi.Lagian sudah menjadi kewajiban ku untuk memberikan hak suami ku," batin Sinta.
Dimas kembali membenamkan bibirnya ke bibir Sinta,lalu mulai turun ke leher, mendaki bukit,Setelah sampai di puncak,Dimas pun menancapkan bendera di puncak bukit itu.Tangannya juga dari tadi tidak mau ketinggalan untuk ikut berpetualang,menjelajahi segala objek wisata di tubuh Sinta.Dimas juga tidak lupa untuk meninggalkan jejak dengan memberikan tanda,di setiap tempat yang sudah dikunjungi di tubuh Sinta.
Suara ******* Sinta seakan menjadi yel-yel penyemangat buat Dimas.Kini tubuh Dimas pun sudah polos tanpa seutas benang pun menempel di tubuhnya. Dimas dengan perlahan mengarahkan pisang raja miliknya untuk disatukan dengan kue lapis legit berkacang milik Sinta. Karena terlalu legit,Dimas sedikit mengalami kesulitan untuk menerobos lapisan kue yang berlapis itu. Setelah berhasil, lalu dengan santai Dimas mulai mengadon, awalnya dengan pelan-pelan, tapi karena adonannya mulai kalis, Dimas pun mulai mempercepat adonannya untuk menyemprotkan cream kental miliknya.( kita bayangkan aja mereka lagi buat kue bolu pisang,dan dibubuhi cream di atasnya😁)
Akhirnya malam ini, Sinta memasrahkan dirinya sepenuhnya untuk Dimas, pria yang dia cintai dan kini sudah berstatus suaminya.
Setelah melakukan olahraga yang menguras tenaga tapi nikmat itu, baik Dimas maupun Sinta bersama-sama terkulai lemas di atas ranjang pengantin.Bunga mawar yang tadinya masih bertengger dengan indahnya di atas sprei putih, kini sudah berserakan entah kemana-mana.Mungkin mereka pada kabur dan sembunyi di kolong ranjang untuk menghindari gempa yang diciptakan oleh Dimas dan Sinta.
Dimas membenamkan kepala Sinta ke dadanya dan mengecup puncak kepala istrinya itu berkali-kali.Senyuman di bibir Dimas tidak pernah lekang dari tadi.Dia merasa bahagia dan berterima kasih,karena sudah menjadi orang yang pertama buat Sinta.Dan jujur ini juga merupakan pengalaman pertama buat Dimas.
Karena kelelahan,akhirnya tanpa menunggu lama,Dimas maupun Sinta tertidur dengan pulas,dengan keadaan saling berpelukan.
TBC
Jangan lupa ritualnya ya thayank-thayank ku.Like,vote dan komen.Thank you🥰🤗
__ADS_1