YOU ARE MY DESTINY

YOU ARE MY DESTINY
Mau bertemu Laura


__ADS_3

Aariz menghempaskan tubuhnya ke atas ranjangnya. Nafasnya memburu karena kesal.


"Apa-apa- sih pakai jodoh-jodohin segala? Ini sudah abad 21 ,gak zamannya lagi jodoh-jodohan" Aariz menggerutu sambil menerawang memandang langit-langit kamarnya.


"Apa ini maksud perkataan Om Dimas, yang bilang kalau dia akan menjamin, Vina gak bakal gangguin gue lagi? Aariz sontak bangkit duduk,begitu mengingat setiap ucapan Dimas malam itu. " Arghhhhh! Tapi kan gak harus pakai acara jodoh-jodohin kali Om"! itu sama aja dengan pemaksaan. " ucap Aariz seperti layaknya ada Dimas di depannya sekarang.


"Lagian Vina kok mau aja sih dijodohin? Arghhh! " Aariz menggusak kasar rambutnya, lalu kembali menelentangkan tubuhnya di atas kasurnya.


" Eh, kok gue jadi kesal begini ya? harusnya kan aku senang! gak bakal ada lagi lalat pengganggu yang nempel ke gue tiap hari?" gumam Aariz. sambil membalikkan tubuhnya tengkurap.


Sekejap kemudian ,Aariz kembali terlentang dengan alis yang berkerut.


"Tapi aku jadi penasaran, seganteng apa sih si Galang-Galang itu? pasti lebih ganteng gue! fix itu pasti, no debat." Aariz berbicara sendiri, seperti orang yang lagi frustasi.


"Kenapa gue sepertinya gak terima ya si Vina dijodohin? apa gue udah suka juga sama tuh anak? Arghhh! gak mungkin!. ini pasti gara-gara gue kasihan dan merasa bersalah aja sama tuh bocah. Supaya gak gangguin gue lagi, Om Dimas jadinya maksa jodohin dia !.Ya... pasti gara-gara itu, makanya aku jadi kepikiran sama tuh bocah." Aariz masih setia dengan pergumulannya.


Semetara itu, Aarash juga terletang di atas kasurnya, sambil menerawang memandang langit-langit kamarnya.Dia justru mempertanyakan perasaannya sekarang terhadap Laura. Wajah Laura kecil yang dia bayangkan selalu berganti ke wajah Ayu. Tapi setiap kali wajah Ayu muncul, Aarash selalu berusaha untuk menepisnya.


Tanpa sepengetahuan orang, Aarash juga sering mencuri pandang ke arah Ayu, bahkan dia sering pergi ke dapur pura-pura ngambil minum, hanya untuk bisa melihat wajah Ayu. Hal paling gila yang pernah Aarash lakukan,dan bahkan dia sendiri pun malu untuk mengingatnya, ketika dia melarang Ayu untuk keluar sendiri dari rumah dan tidak boleh berbicara dengan laki-laki lain.


Flash back On


Ayu berjalan menyelusuri komplek perumahan elit menuju ke rumah majikannya. Dia baru saja mampir sebentar ke indo**ret untuk membeli pembalut, karena kebetulan dia lagi datang bulan.


Di tengah asyiknya berjalan sambil melamun, seorang pemuda tampan, menyapa Ayu dan mengajaknya berkenalan.Ayu yang biasanya memang ramah, membalas baik maksud pemuda itu dan menjawab setiap pertanyaan pemuda itu.


Mereka cukup lama terlibat obrolan, Ayu dan pemuda itu terlihat nyambung sampai-sampai Ayu dibuat tertawa terus oleh candaan pemuda yang ternyata sangat humoris itu.


Tanpa mereka berdua sadari, dari dalam mobil,Aarash yang kebetulan baru pulang melihat semua interaksi Ayu dan pemuda itu. Entah kenapa Aarash tidak suka melihat pemandangan yang ada di depannya. Tanpa sadar dia mencengkram kemudi dengan Nafas yang memburu. tatapan berubah gelap karena tertutup oleh amarah yang gak jelas.


Aarash membunyikan klakson mobilnya dengan kencang,sehingga membuat Ayu terjingkat kaget. Aarash menurunkan kaca jendela mobilnya dan menghunuskan tatapan yang sangat dingin ke arah Ayu dan pemuda itu.


" Naik! " ucap Aarash singkat dan tegas, tanpa mengubah tatapannya.

__ADS_1


"Maaf ya Bayu, aku pulang dulu! " ucap Ayu dengan menyunggingkan senyumannya.


"Oh iya Yu, silahkan! lain kali kita ketemu lagi ya! " ucap pemuda yang bernama Bayu itu.


Aarash kembali membunyikan klaksonnya dengan sangat kencang.


"BURUAN!"


"I-iya Tuan" Ayu sedikit berlari dan membuka pintu mobil belakang.


"Duduk di depan ! Aku bukan supirmu." Suara Aarash terdengar sangat ketus


"Hei sabar dong bro!" teriak Bayu kesal. Tapi Aarash hanya membalas dengan tatapan dingin dengan manik mata yang berkilat-kilat penuh amarah. Sehingga membuat Bayu sedikit beringsut takut.


Ayu berjalan mengitari mobil Aarash untuk duduk di depan sesuai dengan perintah Aarash.


Sebelum Ayu masuk ke dalam mobil, terdengar Bayu berteriak " Ayuuu, minta nomor ponselnya dong! "


" Enak aja, mau dapatin nomor Ayu.Aku aja belum punya nomornya! " gerutu Aarash dalam hati.


" Lain kali kamu gak boleh keluar sendiri dan jangan sok akrab sama laki-laki di sini! ujar Aarash sambil tetap menatap lurus kedepan.


"Memangnya kenapa Tuan? Bukannya kita harus ramah pada tiap orang? " sahut Ayu agak gugup.Karena sebenarnya jantungnya pun sedang berdisko di dalam sana, karena bisa dekat dengan Aarash, laki-laki yang dikaguminya.


" Jangan membantah ucapanku! cetus Aarash kesal.


Ayu terdiam dalam kebingungannya. "Kenapa dia marah sekali? emang ada yang salah ya? Ah , mending aku diam aja, dari pada dia makin marah nanti" batin Ayu, sambil sesekali melirik ke arah Aarash yang tetap fokus melihat ke depan.


"Turun! " ucap Aarash dengan nada dingin, begitu mereka tiba di rumah.


"Baik Tuan, terima kasih buat tumpangannya" .


"Em"

__ADS_1


Ayu membuka pintu mobil dan keluar, setelah itu dia menutupnya kembali.Ayu tidak langsung beranjal dari tempat itu, dia menunggu Aarash untuk keluar dulu.


Tidak menunggu lama, Aarash keluar dari dalam mobil dan langsung berjalan meninggalkan Ayu, tanpa sepatah kata pun. Sehingga membuat Ayu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


Flash back off


Jam sudah menunjukkan pukul 8. 45 malam. Aarash sudah bersiap-siap untuk berbaring di atas kasurnya. Karena berhubung besok hari minggu Aarash mau bermain game dulu sebelum dia tidur.


Ditengah permainan tiba-tiba ada pesan yang masuk ke ponselnya.Dia menghentikan permainannya sebentar untuk melihat pesan yang masuk itu. Setelah dia melihat pesan itu sontak dia bangkit berdiri dan buru-buru mengganti pakaiannya.


Dengan sedikit berlari, Aarash turun kebawah dan menemukan kalau kedua orangtuanya masih terjaga dan asik mengobrol dengan Aariz.


"Mau kemana, malam-malam begini Rash? " Tiara menyipitkan kedua matanya, penasaran mau kemana putranya itu pergi.


"Aarash, mau bertemu Cindy Bun, katanya Laura sudah ketemu, dan sekarang ada bersama dia. Kata Cindy, Laura ingin bertemu denganku."


"Tapi kenapa harus malam begini? dan dimana kalian mau bertemu?" Bimo menimpali.


"Kami bertemunya di Hotel X Yah, katanya harus malam ini, sebelum Laura besok berangkat ke Singapura untuk melakukan pengobatan lagi " tutur Aarash menjelaskan dan menyebutkan nama hotel yang cukup besar di Jakarta.


"Apakah perlu gue temanin Rash? " Aariz menawarkan diri,karena dia penasaran juga, dan ingin membuktikan bagaimana perasaannya sekarang, setelah nanti melihat Laura. Apakah masih seperti dulu atau udah biasa saja.


"Gak usah Riz, katanya dia mau bertemu dengan gue saja,bukan dengan siapa pun" sahut Aarash yang sebenarnya sudah tahu kalau Aariz sudah menyukai Laura sejak kecil.


"Oh, ya udah.Lo hati-hati di jalan."


Aarash menganggukkan kepalanya,lalu menghampiri Bimo dan Tiara untuk meyalami dan mencium punggung tangan kedua orang tuanya itu.


Tanpa mereka sadari, Ayu mendengar semua percakapan keluarga itu. Tanpa sadar ada butiran cairan bening yang menetes di sudut matanya.


Tbc


Jangan lupa untuk tetap like,vote dan komen.karena satu like dari kalian bisa membuat semangat ku bergelora. Kalau boleh jangan lupa buat kasih hadiah juga ya gaisπŸ˜πŸ™πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2