YOU ARE MY DESTINY

YOU ARE MY DESTINY
Melamar Vina secara resmi


__ADS_3

Mentari sepertinya masih malu untuk menyapa alam semesta. Tapi seperti biasa, Tiara tetap bangun untuk membantu Bi Asih membuat sarapan buat keluarganya.


Tiara sedikit berlari turun dari atas, mendengar teriakan bibi Asih dari arah dapur.


"Ada apa Bi? pagi-pagi udah teriak-teriak?!" tanya Tiara sambil ngos-ngosan.


"Ini dapur kenapa bisa seperti ini?" Tiara bertanya kembali, sebelum Bi Asih menjawab, ketika melihat keadaan dapur.


"Itu dia, Bu. Sepertinya ada maling yang masuk tadi malam." sahut Bi Asih dengan wajah panik.


"Kok bisa ada maling yang masuk? kalau ada maling yang masuk, kenapa cuma dapur saja yang berantakan? ruangan lain kok nggak?" Tiara menautkan kedua alisnya, bingung dengan apa yang terjadi.


"Mungkin, malingnya maling yang lapar aja, Bu." sahut Bi Asih asal.


"Bibi ini ada-ada aja! Ya udah Bi, Bibi beresin aja semuanya, biar aku aja yang buat sarapan. " ucap Tiara.


********


Pukul 18.00 WIB, atau jam 6 sore tepat, keluarga Bimo sudah bersiap-siap berangkat untuk makan malam di rumah Dimasa sekalian mau melamar Vina secara resmi. Tapi seperti biasa Laura tidak ikut serta, dan itu berarti Aarash juga tidak ikut serta.


"Vina mana Pah?" tanya Aariz tanpa basa-basi dulu, ketika kakinya baru saja menginjakkan kaki di rumah Dimas.


"Hei, apa dipikiran kamu itu cuma ada Vina aja? baru aja nyampe, tanya kabar kami dulu kek!" cetus Dimas keki.


"Oh iya, apa kabar Pah, Mah?" tanya Aariz seraya nyengir ke arah Dimas.


"Telattt!"


Sinta yang sudah biasa melihat interaksi kedua laki-laki berbeda usia itu, hanya bisa berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia langsung meraih tangan Tiara dan mengajaknya masuk.


"Yuk, masuk Dim! anggap aja rumah sendiri! " celetuk Bimo tiba-tiba sambil menyelonong masuk.


"Hei, gila lo ya! ini kan memang rumah gue!" teriak Dimas kesal. "bapak sama anak sama aja, sama gilanya!" umpat Dimas sambil menyusul Bimo yang sudah masuk duluan.


Aariz terkekeh melihat wajah Dimas yang sangat kesal sekarang.Dia pun ikut menyusul masuk ke dalam.


Vina terlihat menuruni tangga dengan anggun.Dia tampil sangat cantik malam ini, dengan tubuh yang terbalut dengan gaun warna peach yang sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih. Riasannya sangat sederhana tapi mampu membuat Aariz terkesima memandangnya. Ingin rasanya dia membawa Vina kedalam kungkungannya sekarang juga.


"Sabar Riz, sebentar lagi si otong bisa kamu lepaskan!" bisik Bimo, seakan tahu apa yang dipikirkan oleh putranya itu.


"Malam Om, Tante, apa kabar?" sapa Vina, ke Bimo dan Tiara.

__ADS_1


"Kok panggil Om sih Vin? Aariz aja udah panggil Papah sama papahmu, masa kamu gak panggil ayah seperti Aariz?" ujar Bimo.


"Hei, itu anak lo yang kepedean! Gue juga belum mau dipanggil Papah sama dia. Tapi anak lo ini yanh tetap kekeh manggil gue Papah."Celetuk Dimas sebelum Vina menjawab Bimo.


"Kayanya Papah lagi datang bulan ya? marah-marah aja dari tadi." Aariz menimpali, ucapan Dimas,setelah dia tersadar dari keterkagumannya melihat Vina.


"Atau,Papah masih sakit hati ya, ditolak sama bunda dulu?" cetus Aariz yang membuat kening Vina berkerut.


"Maksudnya apa Bee? Papah pernah ditolak sama tante Tiara?" tanya Vina, yang membuat situasi menjadi canggung.


Dimas menghunuskan sorot mata yang sangat tajam pada Aariz seraya mengumpat di dalam hati.


"Nggak Bee, aku cuma ngomong asal aja." sahut Aariz gelagapan. Dia merasa takut, Vina tidak terima kalau Papahnya pernah sakit hati karena ditolak sama Tiara bundanya. Aariz juga takut kalaunDimas akan berubah pikiran nantinya.


"Hmm, kalau benar pun gak pa-pa sih!" celetuk Vina seraya menerbitkan senyuman manisnya. membuat semua yang ada di ruangan itu melongo.


"Makasih ya Tante, udah nolak Papah dulu. Kalau gak Tante tolak, mungkin Vina akan jadi adik Ka Aariz. Untung tante tolak! " tukas Vina dengan wajah yang berbinar-binar dan ini semua diluar dari yang Aariz takutkan.


"Dasar anak tak ada akhlak kamu Vin! aku kirain tadi, kamu langsung marah, tidak senang, ternyata kamu malah bahagia. Jadi, berasa gak disayang Papah" ucap Dimas kesal,membuat semua yang ada di ruangan itu, tertawa terbahak-bahak.


"Lagian Ka Vin, kalau Papah jadi sama tante Tiara, mungkin bukan kamu yang lahir.Wajah Kaka kan lebih mirip ke Mamah. celetuk Vano, yang dari tadi hanya diam saja.


"Udah, udah, cukup! kita makan sekarang! Kalau ngeladenin kalian terus, kita gak bakal jadi makannya." Tukas Sinta menghentikan perdebatan yang mungkin tidak akan selesai, kalau tidak ada yang menghentikannya.


"Vanoo!" Sinta menatap Vano dengan tatapan yang sangat tajam, membuat Vano terdiam dan meneguk ludahnya, merasa takut melihat kemarahan Mamahnya.


30 menit kemudian, mereka semua sudah meyelesaikan makan malam dan kini sudah berkumpul kembali di ruang tamu untuk menyampaikan tujuan mereka sebenarnya, walaupun ini hanya sebagai simbol aja. Karena pada dasarnya, mereka sudah membicarakannya lewat telepon tadi malam.


" Begini Dim, maksud kedatangan kami kesini hanya untuk___"


"Udah gak usah terlalu formal Bim! kalian mau lamar Vina kan? iya gue setuju!" ucap Dimas langsung, sebelum Bimo menyelesaikan ucapannya.


"Cih, kamu memang merusak suasana Dim! Orang lagi serius tadi, main potong aja lo." tukas Bimo kesal.


" Merusak suasana gimana? tadi malam lo kan udah ngomong lewat telpon, jadi ngapain harus diulang lagi? ngabisin waktu, tahu gak?, mending sekarang kita tentuin tanggal dan harinya saja, untuk mempersingkat waktu." tandas Dimas.


"Tapi Pah, sebelum tanggal ditentuin Aariz mau tanya, apa Papah sudah membatalkan perjodohan Vina dengan laki-laki itu? soalnya, Aariz tidak mau kalau nantinya dia akan datang membuat kacau pernikahan kami." Aariz tiba-tiba menyela pembicaraan Bimo dan Dimas.


Dimas dan yang lainnya tersenyum penuh makna. "Apa kamu mau aku membatalkannya, Riz?" bukannya menjawab, Dimas justru balik bertanya.


"Iya dong,Pah!" tegas Aariz.

__ADS_1


"Ya udah! lo dengar sendiri kan Bim? anak lo sendiri yang ingin membatalkan perjodohannya dengan Vina. Jadi, kita batalkan aja ya?"


" Ya udah deh, kalau begitu! kalau memang itu maunya," sahut Bimo seraya memasang wajah sedih senatural mungkin.


Aariz nenautkan kedua alisnya, merasa bingung dengan maksud ucapan Ayah dan Papahnya itu. Bukan hanya Aariz yang bingung, Vina pun merasakan hal yang sama seperti Aariz.


"Ini maksudnya apa Yah? " Aariz menatap Bimo ayahnya dengan mata yang menyipit.


"Sebenarnya, yang bertunangan itu kalian berdua!" Kali ini Tiara yang berbicara, sambil menyematkan seulas semyuman di bibirnya.


"Apa? kami berdua?!" pekik Aariz dan Vina hampir bersamaan dengan wajah yang memucat.


"Iya! Bunda dan ayah yang melamar Vina langsung, tanpa sepengetahuanmu. Karena Bunda yakin, kalau kamu sebenarnya sudah menyukai Vina, tapi kamu belum menyadarinya."tutur Tiara menjelaskan, tanpa menanggalkan senyuman dari bibirnya.


"Ayah, juga sudah mendesign cincin yang sangat mahal sebagai cincin pengikat buat Vina, dalam waktu satu hari, karena permintaan calon mertuamu itu. Ayah hebatkan? " Bimo menimpali ucapan Tiara istrinya.


Baik Aariz maupu Vina tidak ada yang menjawab sama sekali, mereka sibuk saling pandang dengan wajah yang pucat.


"Kenapa kalian berdua diam saja? Kalian berdua tidak senang ya?" kali ini Sinta yang bertanya. Dan sontak semua mata mengarah menatap ke arah Aariz dan Vina.


"Pah, sini deh! ada yang mau Aariz tanyakan?" Aariz meraih tangan Dimas, menjauh sedikit dari orang tuanya. Kening ,Bimo, Tiara dan Sinta tampak berkerut, bingung melihat Aariz yang membawa Dimas menjauh.


"Ada apa Riz? kenapa harus menjauh segala?"


"Pah, cincinya udah jadi Papah minta dari Galang belum? kalau udah, mana Pah?" ucap Aariz sangat pelan sambil menengadahkan tangannya.


"Astaga! Aku lupa Riz." Dimas langsung panik.


"Aduh Pah, kalau Galang udah benar menjualnya gimana Pah?" Aariz tidak kalah panik.


"Ya, mana papah tahu, itu bukan urusanku.Ini kan salah kamu sendiri," ujar Dimas sembari beranjak meninggalkan Aariz yang menggaruk-garuk kepalanya.


"Kalian berdua ngomongin apa sih? kenapa harus menjauh segala?" tanya Bimo, menatap curiga ke arah Dimas. Dimas hanya mengedikkan bahu saja sebagai jawaban.


Tanpa sengaja, netra Bimo menatap ke arah jari tangan Vina yang polos. " Vina, mana cincin yang dari Om itu? " tanya Bimo, yang membuat wajah Vina semakin pucat dan sulit untuk menjawab.


" Aku udah suruh buang Yah!' celetuk Aariz seraya nyengir ke arah Bimo.


"APA?!"


Tbc

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komen ya. Kalau boleh voucher Votenya boleh dong dikasikan ke novel ini😁😁😁😁


__ADS_2