
"Mas, Mas ..., bangun!" Laura menguncang-guncang tubuh Aarash yang terlihat terlelap dalam tidurnya.
"Kenapa sayang? apa ada yang sakit?" Aarsah sontak bangkit duduk, dan rasa kantuknya langsung menguap entah kemana.
"Nggak ada! aku cuma mau makan cilok." ucap Laura sambil mengerjap-erjapkan matanya.
Aarash melirik ke arah jam yang ada di atas nakas, yang menunjukkan pukul 12 lewat 15 menit tengah malam.
"Ini udah larut malam sayang ..., gak akan ada yang jualan cilok selarut ini ,Yang ..., besok aja ya!" ujar Aarash sambil menguap.
"Tapi, aku maunya sekarang, Mas! Kalau besok beda lagi.Kamu gak mau kan anak kamu sampai ileran nanti?" Laura tetap ngotot.
"Selalu aja anakku jadi alasan, padahal maknya yang rakus." Aarash membatin seraya menggaruk-garuk kepalanya.
Bukannya aku gak mau beliin, Yang ..., tapi ini sudah larut, mana ada orang yang jualan cilok larut malam begini." Aarash masih berusaha bernegosiasi.
"Kalau tidak ada yang jual, bikin sendiri kan boleh Mas," tutur Laura seraya memamerkan gigi putihnya.
"Maksudmu aku yang buat ciloknya sendiri?" Aarash melihat Laura menganggukkan kepalanya dengan mata yang berbinar-binar.
"Aku mana bisa Yang!" Aarash mengusap wajahnya dengan kasar.
"Jadi kamu tidak mau?" Laura kini mulai manangis terisak-isak.
Laura merebahkan tubuhnya, memunggungi Aarash dengan bahu yang bergetar.
" Ini kan bukan mau aku. Aku juga tidak mau begini. Sabar ya nak, Ayah tidak sayang kita! malam ini kita tahan selera dulu ya!" gumam Laura sambil mengelus-elus perutnya.
Aarash menghela nafas, dan mengelus dadanya. Dia memeluk Laura dari belakang dan mengecup tengkuk istrinya itu.
"Ya udah,aku buatin sekarang ya Yang! kamu tunggu aja disini." ujar Aarash akhirnya.
Aarash beranjak turun dari atas kasur dan mengayunkan langkahnya untuk keluar dari kamar itu.
"Mas, buat sendiri ya! jangan bangunkan Bi Asih.Kasihan dia!" seru Laura sebelum tubuh Aarash benar-benar menghilang dibalik pintu.
"Sial! kok dia tahu sih aku berencana bangunin Bi Asih? dia bilang apa tadi ...? dia kasihan sama Bi Asih tapi tidak kasihan pada suaminya, Fuihh!" batin Aarash.
Baru selangkah, kakinya menapak di anak tangga, Aarash kembali naik dan menuju kamar seseorang. Dia menggedor-gedor pintu kamar itu. Knop pintu terlihat begerak pertanda, kalau si empunya kamar sedang membukakan pintu dari dalam.
" Apaan sih Rash? Lo gangguin orang tidur aja tau gak? " tampak Aariz, dari dalam kamar dengan muka bantalnya.
"Lo harus nolongin gue Riz. Ini mah darurat! " ujar Aarash dengan wajah panik yang dibuat senatural mungkin.
__ADS_1
" Kenapa Rash? apa yang terjadi?" rasa kantuk Aariz langsung menguap seketika.
" Lo ikut gue! jawabannya ada di dapur!" Aarash menarik tangan Aariz agar segera mengikutinya.
"Di dapur ada maling ya?" Bisik Aariz.
"Sttt! nanti lo bakal tau sendiri." Aarash berbicara sangat pelan sekali.
Aariz yang tidak tahu apa-apa, dan beranggapan kalau di dapur memang ada maling, nurut aja berjalan sambil mengendap-endap.
Sesampainya di dapur, Aarash langsung menghidupkan lampu. Kini dapur tampak terang benderang, dan tidak ada seorang maling pun ada di sana.
"Mana malingnya Rash? kok gak ada?" Aariz menautkan alisnya dengan tajam ke arah Aarash.
"Yang bilang ada maling siapa? Aku cuma mau lo bantuin gue buatin cilok untuk Laura Riz!" ucap Aarash nyengir.
"Sialan lo! Lo bagunin gue tengah malam begini hanya mau buat cilok? kurang kerjaan amat lo! " umpat Aariz kesal seraya memutar badannya untuk kembali melanjutkan tidurnya.
Aarash langsung menghadang jalan Aariz.
" Please deh Riz! Laura ngidam kasihan dia," wajah Aarash memelas.
"Laura kan istri Lo, kok lo jadi nyusahin gue sih?"
"Hei, mereka memang ponakan gue, tapi mereka itu anak lo! jadi lo yang harus buat sendiri. Minggir lo ah! gue mau tidur." Aariz menyingkirkan tubuh Aarash yang menghalanginya.
"Masa lo tega sih Riz ama gue!" ucap Aarash lirih, sehingga membuat langkah Aariz terhenti.
Aariz memutar badannya dan kembali menghampiri Aarash." Bukannya gue gak mau bantu Rash, tapi gue gak tahu cara buatnya."
"Gue juga gak tahu, tapi kita bisa belajar buat,liat resep dari youtube Riz. Itung-itung lo belajar, kalau-kalau Vina nanti ngidam makanan yang sama! " ucap Aarash menyemangati Aariz, padahal yang perlu di semangati sekarang itu dirinya.
"Gue jamin, anak gue sama Vina nanti gak akan doyan beginian.Pasti dia doyannya makanan berkelas."
"Kita lihat aja nanti! sekarang lo mau kan bantuin gue? " tanya Aarash kembali.
"Ya udah deh, gue bantuin! mana ponselnya? biar kita lihat , bahan-bahan apa saja yang diperlukan buat cilok," Aariz merampas ponsel dari tangan Aarash, dan dengan cepat dia mengetik di pencarian 'cara membuat cilok'.
"Rash kita butuh tepung kanji, tepung terigu ...," Aariz menyebutkan semua bahan-bahan yang dibutuhkan.
"Riz yang mana nih, tepung terigu yang mana tepung kanji?" Aarash menunjukkan dua jenis tepung ditangannya.
"Gue gak tahu, Rashhh!" sahut Aariz frustasi.
__ADS_1
"Coba lo, tanya sama om Google bagaimana caranya membedakan tepung terigu dan tepung kanji!" saran Aarash, dan Aariz pun menurutinya.
Setelah menemukannya mereka
berdua pun meraba tekstur kedua tepung itu.
"Oh yang ini tepung terigu dan yang ini tepung kanji." ucap Aariz dengan yakin. Dan di saat yang bersamaan, Aariz melihat dengan jelas ada tulisan tepung terigu dan tepung tapioka di bungkus kedua tepung itu.
"Lo ya, nyusahin gue aja! di sini kan udah jelas di tulis namanya!" cetus Aariz kesal sambil menggeplak kepala Aarash.
"Tapi Riz, yang ini kan tepung tapioka, jadi tepung kanjinya mana? berarti kita tidak punya tepung kanji dong, " Aarash terlihat frustasi sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Coba gue lihat dulu, mana tahu tepung tapioka bisa menggantikan tepung kanji," sahut Aariz kembali melihat ponsel. Dia langsung terkekeh dengan wajah yang berbinar. " Rash tepung tapioka itu, sama aja sama tepung kanji.Hehehe,"
" Syukurlah!" let's make it! semangat! " seru keduanya sambil mengancungkan tangan ke atas.
Detik berikutnya, mereka berdua pun berkutat untuk membuat cilok bersama-sama. Keadaan dapur sekarang benar-benar sudah seperti kapal pecah, dan bisa dipastikan kalau Bibi Asih besok pagi akan shock melihat keadaan dapur.
Akhirnya cilok ala Aarash dan Aariz pun sudah jadi, setelah insiden penuh drama tadi.
"Makasih ya, Riz udah mau bantuin gue!" ucap Aarash tulus.
"Sama-sama Rash! Tapi yang jadi pertanyaan, tuh cilok enak gak ya? " tanya Aariz kurang yakin.
"Lo mau coba?" Aarash menyodorkan ke arah Aariz.
"Gak ..., gak usah, terima kasih! sekarang lo bawa aja ke Laura, dia sudah terlalu lama nunggu pastinya."
"Ya udah, kita sama -sama ke atas aja yuk!" Aarash melangkah dengan membawa cilok di tangannya disusul oleh Aariz di belakangnya.
Sesampainya di kamar, Aarash menghela nafasnya, melihat Laura istrinya sudah terlelap dalam tidurnya.
"Sayang, ayo bangun! ciloknya sudah jadi nih!" Aarash dengan lembut mengguncang tubuh Laura.
Laura menggeliat dan membuka matanya, menatap ke arah suaminya yang kini memasang senyuman sumringah dengan piring berisi cilok di tangannya.
"Mas Aarash makan aja ciloknya ya!, aku sudah gak berselera, dan aku juga udah sangat ngantuk." Laura kembali memejamkan matanya, meninggalkan Aarash yang melongo tak percaya.
Dengan geram dia menyendokkan cilok buatannya dan Aariz kemulutnya. Rasanya memang tidak terlalu enak, tapi masih layak untuk dimakan.
Tbc
Jangan lupa untuk tetap mendukung novel ini ya gais.Thank you
__ADS_1