YOU ARE MY DESTINY

YOU ARE MY DESTINY
Si otong yang tidak nyaman.


__ADS_3

Nyali Dewa sedikit ciut saat mendangar nama Bimo dan Seno dari mulut Vina. Akan tetapi,itu hanya berlaku sebentar saja. Sepersekian detik kemudian dia kembali melangkah menghampiri Vina. "Aku tidak takut! Mereka tidak akan sampai membunuhku.Paling hanya sedikit babak belur, dan itu akan sembuh nantinya. Setelah itu Papah mu akan menyuruhku untuk menikahimu, dan itulah yang aku harapkan!"Dewa menyeringai sinis menatap Vina.


"Tolong Ka Dewa, tolong jangan lakukan itu! aku mohon Ka Dewa! Kasihani aku! " Vina kini semakin ketakutan. Dia mau lari, tapi dia tidak tahu mau lari kemana.Yang bisa dia lakukan kini hanya berusaha menghindari Dewa mendekatinya.


"Seandainya saja kamu tidak bersikap jual mahal, dan cuek padaku, aku tidak akan melakukan ini padamu.Tapi kenapa? kenapa kamu tidak bisa membalas cintaku?. Apa kurangnya aku hah?! Aku tahu ini salah, tapi ,kalau memang ini jalannya agar aku bisa mendapatkanmu, aku akan melakukannya! "Dewa meninggikan suaranya membentak Vina yang kini sudah gemetaran. Vina sekarang hanya bisa berdoa semoga ada keajaiban untuknya.


"Kalau kamu, melakukannya, aku justru akan semakin membencimu Ka! Kamu tidak akan bisa mendapatkan cintaku!"


"Aku tidak perduli! Selama kamu ada disampingku, itu sudah cukup bagiku! Dan satu hal lagi, seiring berjalannya waktu, aku yakin kamu akan bisa mencintaiku. Dan kamu itu tunangan ku kan? Jadi suatu saat kamu pasti akan menikah dengan ku. Kalau bisa menikah secepatnya, ngapain harus menunggu lama? Iya bukan? ! "


"Tapi kamu belum tentu orang yang dijodohkan denganku Ka Dewa! Jadi jangan terlalu yakin!" ucap Vina.


"Gak yakin gimana? Sehari sebelum, aku kembali ke London dan sehari sebelum aku tahu, kalau aku dijodohkan, Om Dimas dan Om Seno berkunjung ke rumahku Vina! Apakah bukti itu masih kurang? "


Vina diam tidak bergeming mendengar ucapan Dewa, yang memang masuk akal. Disaat Vina terdiam, disaat itu pula Dewa dengan cepat melompat dan melewati ranjang yang memisahkan mereka. Lalu dia mencengkram kuat bahu Vina dan mendorong tubuh Vina hingga jatuh ke atas ranjang. Dewa langsung menindih tubuh Vina, dan hendak mendaratkan bibirnya ke Vina. Tapi, disaat bibir Dewa hampir saja mendarat, Vina dengan cepat memalingkan wajahnya, sehingga ciuman Dewa meleset tidak pada tempatnya. Dewa mengulangnya berkali-kali tapi Vina tetap saja melakukan hal yang sama.


Amarah Dewa kini semakin menjadi-jadi karena penolakan Vina. Kini dia menahan pipi Vina dengan kedua tangannya dan memaksa kembali untuk mencium bibir Vina. Dengan penuh keberanian Vina meludah ke wajah Dewa dan mendoronh kuat tubuh Dewa yang ada di atas tubuhnya. Vina mencoba untuk lari ke arah pintu, tapi Dewa langsung menarik tangan Vina kembali dengan kasar. Vina mengerahkan semua tenaganya yang tersisa untuk bisa lepas dari kungkungan Dewa.


Dewa semakin geram dan emosinya semakin menjadi-jadi. Tangan Dewa secepat kilat terayun menampar pipi Vina, sehingga cap tangannya membekas di pipi Vina. Kali ini Dewa berhasil mendaratkan bibirnya ke bibir Vina.Dia me**lu**matnya dengan kasar.

__ADS_1


Tenaga Vina kini sudah habis, air matanya kini sudah turun merembes membanjiri wajahnya. Dia kini sudah pasrah menghadapi nasibnya. Sesekali dia masih berusaha memberontak, tapi tetap tidak bisa melawan tenaga Dewa. Ditambah sekarang tenaga Dewa sudah bertambah dua kali lipat karena dia sudah tertutup dengan kabut gairah.


Disaat Vina sudah menyerah pada nasib, terdengar suara pintu yang didobrak dengan keras.


" HENTIKAN BAJINGAN! " teriak Aariz yang tiba-tiba muncul dan melayangkan tinju dan tendangannya ke arah Dewa. Aariz langsung menutup tubuh Vina dengan selimut. Karenu tubuh Vina sekarang sudah sedikit ter-ekspos.


Melihat cap jari di pipi Vina, dan lengan Vina yang membiru akibat cengkraman Dewa, membuat Amarah Aariz semakin memuncak. Kedua netranya berkilat-kilat, rahangnya mengeras dan wajahnya memerah seperti terbakar api. Dengan tangan terkepal, Aariz berbalik dan kembali menerjang Dewa, yang masih belum stabil berdiri. Sehingga membuat Dewa terhuyung kembali kebelakang dengan darah yang mulai keluar dari mulutnya.


"Brengsek! beraninya kamu menyentuh dia Hah? ku bunuh kamu sekarang, bajingan! " teriak Aaris yang masih belum puas. Dia kembali melayangkan pukulan-pukulannya ke wajah Dewa.


"Siapa kamu? kenapa kamu mencampuri urusanku? dia tunanganku, jadi aku berhak padanya! " tantang Dewa sambil meringis kesakitan.


Aariz kembali melayangkan tinjunya ke wajah Dewa. "Oh jadi kamu Galang, yang katanya baik itu? Om Dimas benar-benar akan menyesal telah menjodohkan putrinya dengan orang seperti kamu! Dan apa kamu yakin, kalau Om Dimas tahu perbuatanmu ini,perjodohan kalian akan berlanjut? Jangan mimpi kamu!" ucap Aariz dengan wajah yang menyeringai sinis.


"Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu kenal sama Om Dimas? Dan asal kamu tahu namaku bukan Galang! Nama ku Dewa! " tanya Dewa yang mulai dilingkupi rasa takut.


Aariz kaget begitu mengetahui kalau orang yang dia pukul bukan Galang tapi orang lain. Dia jadi semakin bingung. Tapi,dia menepis sejenak rasa bingungnya itu. Yang jelas sekarang, orang ini telah berniat melecehkan Vina, wanita yang dia cintai.


"Oh, kamu mau tahu siapa aku? Aku Aariz Bagaskara Aryaguna, putra dari Bimo Putra Aryaguna"

__ADS_1


Dewa kembali tersungkur kebelakang, saat mendengar apa yang baru saja keluar dari mulut Aariz.Tapi, sepersekian detik kemudian dengan sisa tenaga yang ada, Dewa melayangkan tinjunya ke wajah Aariz.Aariz tidak menyangka akan mendapat serangan dari Dewa yang tiba-tiba. Sehingga serangan Dewa bisa tepat mendarat di wajahnya.


"Brengsek, ternyata kamulah orang yang dicintai oleh Vina! Yang membuat dia tidak bisa membalas cintaku" Umpat Dewa dengan mata yang berkilat-berkilat. Dia sangat kesal mengetahui kenyataan kalau orang yang dicintai oleh Vina, lebih segalanya dari dirinya.


Aariz hampir saja melayangkan tinjunya kembali ke Dewa. Untungnya 3 orang pegawai hotel tiba-tiba muncul,dan berusaha menahan Aariz untuk tidak memukul Dewa lagi.


Dewa segera dibawa keluar oleh pegawai hotel itu untuk diserahkan kepada polisi. Aariz mendekati Vina yang kini masih menangis sambil beringsut ketakutan di balik selimut.


"Vin, kamu tidak apa-apa? lihat ini Ka Aariz. Kamu baik-baik aja sekarang! " Aariz mencoba menyentuh Vina dengan hati-hati.


Vina mendongkakkan wajahnya untuk melihat Aariz.Sejurus kemudian, Vina langsung menghambur ke pelukan Aariz. Aariz yang belum siap, hampir terjatuh ke belakang begitu mendapat pelukan Vina yang tiba-tiba.


"Ka Aariz, terima kasih udah nolongin Vina. Vina takut Ka," Vina mengeratkan pelukannya di tubuh Aariz.


"Kamu gak usah takut, Kakak sekarang ada di sini! kamu aman sekarang" Aariz membalas pelukan Vina dengan erat. Dia tidak bisa membayangkan, kalau seandainya dia tidak melihat Dewa yang membawa paksa Vina masuk kedalam kamar, ketika dia keluar dari kamarnya, hendak kembali menemui Vina di apartemen Galang, mungkin kini Vina sudah diperkosa oleh Dewa.


"Kamu sudah aman Vina, tapi si otong yang gak nyaman sekarang " Batin Aariz yang kini merasa sedikit tersiksa karena celananya tiba-tiba terasa sempit.


Tbc

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya gais.Please like, vote dan Komen.Kasih hadiah juga boleh.😁😁😁


__ADS_2