
Tidak terasa usia kandungan Tiara kini memasuki 4 bulan.Hari-hari Bimo semakin berwarna, dengan diberikannya anugrah di rahim istrinya-Tiara.Walaupun dia cukup dipusingkan dengan keinginan Tiara yang sangat banyak, tapi dia selalu mencoba untuk tidak mengeluh sama sekali.Selagi dia masih mampu memenuhi keingingan itu, dia akan segera melakukannya dengan senang hati,bahkan yang tidak mampu sekalipun dia usahkan untuk memenuhinya.
Sudah hampir sebulan juga,Bimo buka puasa.Walaupun tidak bisa sesering dulu,tapi itu udah cukup mencharge energi Bimo kembali.
Hari ini, di rumah Bimo akan diadakan acara syukuran empat bulanan kehamilan Tiara.Mereka mengundang anak yatim piatu untuk mendoakan keselamatan ibu dan anak yang sedang dikandung Tiara.Bimo dan Tiara juga memberikan santunan buat anak yatim-piatu yang cukup besar.
Acara empat bulanan Tiara berlangsung sangat meriah.Selain anak yatim-piatu,tampak juga tamu-tamu dari kalangan atas yang menghadiri acara itu.Diantara tamu -tamu itu tampak Seno yang kelimpungan mengikuti istrinya-Amira, yang terlihat semakin berisi, untuk berwisata kuliner . Mulut Amira menggembung berisi makanan.Amira selalu mengambil makanan yang banyak kedalam piringnya.Tapi belum juga habis, dia sudah beralih ke makanan lain.Sedangkan Seno selalu kebagian sisanya.
Tiara mengitari pandangannya keseluruh ruangan untuk mencari keberadaan si kembar.Karena dari tadi,dia tidak melihat kedua anaknya itu sama sekali.Karena terlalu banyak tamu, Tiara sangat kesulitan untuk menemukan kedua anaknya, sampai dia terhenti pada pemandangan yang cukup menggelikan hatinya.Tampak Aarash,sedang duduk di pojok ruangan.Wajahnya terlihat ditekuk,karena seorang anak perempuan yang sangat manis, terlihat menempel padanya seperti prangko.Tampak juga Aariz yang berusaha ikut membaurkan diri diantara Aarash dan anak perempuan itu.Tapi tampaknya anak perempuan itu, lebih menyukai Aarash ketimbang Aariz.Itu terlihat,anak perempuan itu tidak memberikan respon sama sekali,ketika Aariz mengajaknya berbicara.
"Sayang, lihat anakmu! sepertinya dia sangat kesal pada anak perempuan itu!." Tiara menggerakan alisnya,ke arah tempat dimana Aarash,Aariz dan anak perempuan itu berada.
"Ha... ha ... ha ....,Sepertinya Aarash akan menjadi idola seperti aku sayang"
Tiara memutar bola matanya,tampak jengah mendengar ucapan Bimo-suminya,yang memiliki tingkat rasa percaya diri diatas rata-rata.Akan tetapi Tiara tidak bisa membantah sama sekali, karena memang dulu dan sampai sekarang, Bimo selalu jadi idola.Dan tidak bisa dipungkiri, Aarash lebih terlihat berpotensi sama seperti Bimo dibandingkan dengan Aariz.Walaupun, pada dasarnya mereka memiliki wajah yang sama.
Kedatangan dua orang yang bergandengan tangan dengan mesra, menarik perhatian Bimo dan Tiara,juga Seno dan Amira.Siapa lagi kalau bukan Sinta dan Dimas.Ya .... sudah hampir dua bulan ini Sinta dan Dimas menjalin hubungan.Akan tetapi mereka tidak pernah memberitahukan sahabat mereka masing-masing.
Sebenarnya Dimas ingin memberitahukan kabar bahagia itu di saat Sinta menerima ungkapan perasaan cintanya.Akan tetapi Sinta melarangnya.Dan untuk alasananya kenapa bisa begitu,biarlah Sinta sendiri yang tahu.
Bimo dan Tiara saling pandang,lalu bersamaan melirik ke arah dua tangan yang sedang bertaut itu.
Dimas dan Sinta mengayunkan kaki mereka menghampiri Bimo dan Tiara, dengan senyuman yang tidak pernah tanggal dari bibir mereka.
__ADS_1
"Selamat ya Bim, Ra.Semoga ibu dan bayinya selalu sehat, sampai lahiran nanti" Sinta dan Dimas menjabat tangan Bimo dan Tiara, yang terlihat masih bingung.
"Tunggu ..., tunggu dulu! Ada apa ini? apakah ada hal bahagia yang tidak kami ketahui? tanya Bimo dengan alis yang mengrenyit.
"Hemm, begitu deh.Oh ya Bim,gue sama Sinta sekalian mau ngasih undangan pernikahan kami buat lo sama Tiara. Kalian berdua datang ya!" sambil menyerahkan sebuah kartu undangan berwarna gold yang terlihat sederhana tapi elegan.
"WHAT?! minggu depan?maknanya kalian berdua sudah ...."
"Iya Bim,gue sama Sinta sudah hampir dua bulan menjalin hubungan tepat ketika gue sakit.Dan sebulan lalu,gue resmi melamar dia." tukas Dimas santai.Yang membuat Bimo semakin membulatkan matanya.
"Dan lo,gak melibatkan kita dalam hal ini? tega lo Dim, tega ....,Lo anggap apa gue sama Seno,?"
"Gue anggap pengacau.Ha ... ha ... ha. Sorry ... sorry just kidding.Bukannya gue gak mau malibatkan kalian berdua, gue cuma gak mau nyusahin kalian berdua.Karena gue yakin, lo berdua pasti kelimpungan buat ladenin bumil." Jelas Dimas, sambil memutar matanya untuk mencari keberadaan Seno.
"Oh,ya Dim,Seno mana?"
Dimas memicingkan kedua matanya, bingung apa maksud perkataan Bimo.
"Job baru? "
"Iya, Seno lagi sibuk jadi wife sitter buat istrinya.Bawa piring Amira dan ngintilin Amira kemana-mana" Amira menimpali ucapan Bimo suaminya.
Mendengar ucapan Bimo dan Tiara, sontak membuat Dimas tertawa terbahak-bahak.Apalagi setelah melihat sendiri bagaimana Seno yang dengan setia ngintilin Amira istrinya kemana-mana.
__ADS_1
Seno yang tanpa sengaja menoleh ke arah dimana Bimo dan Dimas berada,seketika mendelik kesal,karena dia menyadari bahwa mereka pasti tengah menertawai penderitaannya.
"Sayang, makannya belum ya? Kamu udah makan banyak lho.Perut aku juga udah penuh,gak sanggup lagi buat nampung sisa kamu." ucap Seno sambil memperlihatkan wajah yang memelas.
"Kalau kamu gak ikhlas nemenin aku, kamu boleh kok ninggalin aku sendiri di sini" cetus Amira kesal,karena dari tadi Seno selalu terdengar menggerutu.
Seno menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dalam satu hentakan.
"Bukan gak ikhlas sayang,tapi kan kamu memang sudah makan terlalu banyak.Nanti kamu bisa sakit perut lho." bujuk Seno dengan lembut,selembut kain sutra.
"Banyak Gimana?! aku tuh makan buat empat orang Suneo! Kamu gak kasihan kalau anak-anak kamu nanti kelaparan?"
"Selalu saja anak-anakku dijadikan alasan, menyebalkan " batin Seno,dengan wajah ditekuk,sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Ketika Amira hendak mengambil soto babat, tanpa Sengaja Amira melewati sebuah lemari yang memiliki cermin yang sangat besar.Amira melihat bentuk badannya yang semakin bulat, dan pipinya yang seperti bakpau.Spontan Amira meletakkan mangkok dan sendoknya dan memutar badannya menghadap kearah Seno.
Seno sedikit bergidik,melihat aura kekesalan yang terlihat di raut wajah Amira istrinya.
"Sayang, kenapa tidak melarang aku makan banyak dari tadi? hah?!.Kamu lihat itu badan ku udah kaya gentong.Ini semua salah kamu!" Amira menghentakkan kakinya, melangkah meninggalkan Seno yang melongo,tidak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi.
"Kok jadi aku yang disalahkan? bukannya dari tadi aku sudah nyuruh dia buat berhenti makan ya?" gumam Seno bingung.Seketika matanya mengarah ke arah pantulannya di cermin.Seno langsung menyadari alasan kenapa Amira berhenti berwisata kuliner.Seno tersenyum kearah cermin, seakan cermin itu bisa membalas senyumannya.
"Terima kasih cermin,kamu adalah penyelamat hidupku.Love you.ummuach ...."
__ADS_1
TBC
please like,vote dan komen.Thank you