
Tiara masuk ke dalam kamar dengan sedikit terburu-buru. Sehingga bunyi pintu yang tertutup dengan keras, membuat Bimo terlonjak kaget.
"Ada apa sih Bun? kok kaya dikejar setan?" tanya Bimo seraya menautkan kedua alisnya.
"Teh hijau ku mana Bun? " Bimo melihat ke tangan Tiara, yang sama sekali tidak membawa apa yang dia biasa minum sebelum tidur.
"Nanya nya entar aja Yah! ini ada hal yang lebih penting." ujar Tiara sambil mendaratkan tubuhnya untuk duduk di depan Bimo.
"Ada apa sih?"
"Ayah lihat ini!" Tiara menunjukkan gantungan kunci yang dari tadi ada di tangannya.
"Lho, ini kan punya Aarash.Ngapain Bunda bawa- bawa ke sini?"
" Bunda udah duga, kalau Ayah bakal mikir kalau ini punya Aarash juga.Tapi ini bukan punya Aarash Yah ".
"Maksud Bunda? Kalau ini bukan punya Aarash,jadi punya siapa? gantungan ini kan di design khusus buat Aarash.Jadi gak mungkin ada orang lain yang punya " ujar Bimo dengan kening yang masih berkerut.
"Ini punya Ayu Yah!" ucapan Tiara sontak membuat Bimo kaget .
"Bunda jangan bercanda! Mungkin gantungan ini tertinggal di saku celana Aarash, dan Ayu mengambilnya lalu menyimpannya." Bimo mengemukakan pendapatnya.
"Tapi ini benaran punya Ayu, Ayah"! kekeh Tiara.
"Kenapa Bunda bisa seyakin itu?"
Tiara akhirnya menceritakan apa yang didengarnya dari Bibi Asih. Mulut Bimo sedikit terbuka mendengar penuturan Tiara istrinya.
"Ayah ingat gak, bagaimana ekspresi Deni, istrinya dan Cindy saat melihat Ayu pertama kali? raut wajah mereka langsung pucat Yah! " Tiara kembali flashback saat kedatangan keluarga Hartono pertama kali ke kediaman mereka.
Bimo manggut-manggut mendengar ucapan istrinya.Kecurigaan Bimo semakin bertambah.
"Iya, Bun.Sepertinya ada yang tidak beres dengan musibah yang terjadi dengan orang tua Laura dan Laura.Dan sepertinya aku harus mencari tahu. Besar kemungkinan kalau Ayu adalah Laura yang selama ini ditunggu sama Aarash "ucap Bimo yakin.
__ADS_1
Setelah mengucapkan perkataannya Bimo langsung meraih ponselnya untuk menghubungi Seno.
"Ada apa lo, ngubungin gue selarut ini? kurang kerjaan lo ya?" terdengar nada kesal Seno dari balik telepon.
"Maaf bro, gue butuh bantuan lo! Tadi gue udah coba ngehubungin Rio tapi tidak diangkat! " Bimo sedikit berbohong, padahal dia sama sekali tidak ada menghubungi Rio.
"Emang gak bisa lagi lo ngomongin besok?"
"Gak bisa bro.Napa sih lo, kok kesal banget kayanya?"
"Kesal lah,gue lagi semangat-semangatnya mendaki, belum nyampe ke puncak,eh lo udah ngajak gue turun."
Bimo tertawa terbahak-bahak begitu membayangkan rudal yang siap tembak tiba-tiba kehabisan amunisi.
"Gak usah ketawa lo! Cepat ngomong ada apa?"
Bimo pun menyurutkan ketawanya, dan mulai menceritakan kecurigaannya atas musibah yang menimpa pemilik sebenarnya Hartono group. Dan mengenai identitas Ayu yang dia yakini itu Laura.
"Hmm, Ok, gue ngerti sekarang.Lo tunggu aja sekitar dua jam lagi!. Ntar gue kabarin lo gimana hasilnya! " ucap Seno dengan nada yang terdengar sangat yakin.
"Untuk mengetahui identitas Ayu apakah dia benar Laura atau tidak, mungkin aku bisa aku bisa selesaikan malam ini.Tapi mengenai musibah yang menimpa orang tuanya mungkin butuh waktu yang agak lama " sahut Seno.
"Ok, gue tunggu kabar baik dari lo!" Bimo meletakkan kembali ponselnya ke atas meja setelah panggilannya dengan Seno berakhir.
*******
Sementara itu di kamar pengantin baru, situasi yang akward masih saja tercipta antara Aarash dan Ayu. Setelah Ayu selesai membersihkan tubuhnya, Aarash pun berganti masuk ke dalam kamar mandi tanpa mengucapkan sepatah kata pun ke Ayu.
Ayu yang sudah tahu kebiasaan berpakaian Aarash kalau di rumah, segera menyiapkan pakaian Aarash di atas kasur.Lalu dia beranjak keluar dari kamar, untuk membuatkan suaminya itu teh hijau seperti kebiasaannya selama ini. Tanpa sepengetahuan Aarash, sebenarnya Ayu sering memergoki Aarash yang membuat teh hijau sendiri di saat dia mau tidur.
Ayu kembali ke kamar,dengan secangkir teh hijau ditangannya.Di dalam kamar, Ayu melihat Aarash yang sudah berganti pakaian dengan pakaian yang sudah dipersiapkannya tadi.
" Tuan, ini teh hijau anda!" Ayu berucap lirih sambil meletakan teh itu di atas nakas dengan tangan yang agak gemetar.
__ADS_1
Aarash mengrenyitkan keningnya, bingung bagaimana Ayu bisa tahu kebiasaannya. Tapi dia enggan untuk bertanya. Aarash meraih teh itu dari atas nakas dan menyeruputnya. Entah kenapa dia merasa teh hijau buatan Ayu lebih terasa nikmat dari yang dia buat sendiri.
Aarash melihat Ayu yang masih saja berdiri mematung sambil menundukkan wajahnya.
"Kenapa kamu masih berdiri di sana? Apa kamu gak capek berdiri?" ujar Aarash dengan dingin.
"A-aku bingung Tuan mau tidur dimana! " Ayu tampak sangat gugup saat ini.
Aarash menghela nafasnya dengan sedikit lambat.lalu menatap Ayu "Apakah kamu tidak mau berbagi tempat tidur dengan ku? Kalau kamu tidak mau biar aku saja yang tidur di sofa itu!"
"Bu-bukan begitu Tuan! Ju-justru aku merasa tidak pantas untuk ....."
"Kamu segera ke sini dan tidurlah! " Aarash langsung menyela ucapan Ayu,sebelum Ayu menyelesaikan ucapannya.
Ayu melangkah perlahan dan naik ke atas kasur dengan sedikit rasa takut yang muncul dalam hatinya. Karena rasa takutnya dia berbaring di tepi ranjang dengan membelakangi suaminya itu.
Melihat Ayu yang sangat menjaga jarak dengannya,muncul rasa dongkol di dalam hati Aarash.Aarash meletakkan ponselnya ke atas nakas dan berdiri. Lalu dia melangkah mendekati Ayu, dan tanpa bicara sama sekali, dia mengangkat Ayu dengan lembut dan memindahkannya agak ke tengah.Semburat merah sontak muncul di wajah Ayu.Dia tidak menyangka kalau Aarash sudah menggendongnya dua kali.
"Kamu tidur di sini! kalau kamu tidur di sana kamu bisa jatuh." Ucap Aarash sambil membaringkan tubuhnya sendiri di samping Ayu.Sehingga membuat tubuh Ayu sedikit meremang. Ayu memejamkan matanya sambil menggigit bibirnya bawahnya.Ayu memeluk guling dan agak menekankan ke dadanya, berharap debaran jantungnya tidak terdengar keluar.
"Kamu tidurlah! gak usah takut aku tidak akan ngapa-ngapain kamu malam ini!. Gak tau malam-malam lainnya," Batin Aarash melanjutkan ucapannya tadi.
Tidak berselang lama, Ayu pun terlelap. Hembusan nafasnya kini sudah terlihat teratur. Aarash membalikkan tubuh Ayu dengan hati-hati untuk menghadap padanya. Setelah itu Aarash menatap dengan leluasa, wajah polos Ayu dengan pandangan yang sangat dalam. Tanpa sadar seulas senyuman terbit di bibirnya. Dengan perlahan Aarash mendekatkan wajahnya ke wajah Ayu. Lalu dia pun memberikan kecupan yang agak lama di kening Ayu,sebelum akhirnya dia pun ikut tertidur dengan tangan yang memeluk Ayu.
Sementara itu Tiara sudah terlelap setelah pergulatan panas yang singkat yang baru saja dilakukannya dengan Bimo suaminya. Sedangkan Bimo terpaksa menahan kantuknya,karena sedang menunggu kabar dari Seno.
Yang ditunggu-tunggu dari tadi akhirnya muncul juga.Tampak nama Seno tertera di layar ponsel Bimo.
"Bagaimana Sen?" tanya Bimo tidak sabaran.
"Dugaan lo benar Bro.Ayu itu Laura. Photo-photo mereka memang sempat sudah dihapus dari semua pencarian di media sosial mereka.Tapi hacker yang gue bayar, berhasil memulihkan kembali sebagian photo yang terhapus.Nanti aku akan kirimkan photo-photonya buat lo. Kalau untuk tentang musibah yang menimpa menantu lo dan orangtuanya,kita perlu penyelidikan lebih lanjut untuk mengumpulkan bukti-bukti.Aku yakin kalau musibah yang menimpa Laura dan orangtuanya itu, sudah direncanakan sebelumnya." Seno menjelaskan apa yang baru saja dia dapat secara rinci dan jelas.
"Terima kasih Sen!" Bimo memutuskan panggilan dengan Seno. Setelah itu dia membangunkan Tiara untuk memberitahukan kebenaran yang baru saja dia dapat.
__ADS_1
Tbc
Jangan lupa like, vote dan komen ya gais.Thank you