
" Kenapa lo sampai dikejar-kejar tuh cowo ?" tanya Shakira sambir berjalan menuju ruangan.
"Hehe, gue yang salah sih! gue tadi nimpuk dia pake sepatu, habiss dia ngeselin sih!" sahut shakila berusaha mensejajarkan langkah Shakira yang lumayan cepat berjalan.
"Ngeselin gimana?emang dia ngapain lo?"
"Hmm, gue dikatain bocah! ya gue gak terimalah." sahut Shakilla seraya mencebikkan bibirnya.
" Kan elo memang masih bocah dibanding dia! jadi ngapain lo mesti marah?" Shakira mendudukan tubuhnya di kursi, setelah mereka sudah masuk ke ruangan mereka sekarang.
"Eh, tolong ya ..., gue memang lebih muda dari dia, tapi gue bukan bocah." ucap Shakila tidak terima.
"Ok, ok, lo memang bukan bocah lagi, tapi, serius deh, tingkah lo yang kaya bocah." cetus Shakira.
"Ihhh, gue bejek-bejek juga lo!" Shakila menggeram, kesal ke arah Shakira.
"Hei! Kalian berdua ya, berantem aja kerjaannya!" Azalea tiba-tiba muncul, melerai dua sepupu sekaligus sahabatnya itu.
"Kenapa lagi lo berdua? masih perkara kemarin ya?" tanya Lea.
"Nggak! gue gak perduli lagi soal itu!" ujar Shakira.
"Elleh, paling nanti, kalau Papi di rumah, lo bakal nanyain lagi!" Shakilla mendengus ke arah Shakira.
"Lagian gue bingung deh, kenapa sih Om Seno gak ingat, siapa yang lahir duluan diantara kalian berdua? kan aneh!" ujar Lea sambil duduk di sebelah kanan Shakira.
" Tau tuh si Papi.bikin bingung anaknya aja. Bingung, mana yang Kaka, mana yang adik? Sebelum jelas, gue mah ogah manggil dia Kaka." ucap Shakilla.
" Gue juga ogah manggil lo Kaka."Shakira membalas ucapan Shakilla.
"Udah ..., udah! Kok jadi berantem lagi? intinya lo berdua itu kembar.Lahir di tanggal, bulan dan tahun yang sama, hanya menitnya yang berbeda." Lea berusaha mengehentikan pertikaian dua kakak beradik itu.
"Justru yang menit berbeda itu,yang perlu dicari tahu Lea," ucap Shakira dan Shakila hampir bersamaan.
"Udah,Stop! dosen udah masuk! " Lea menghembuskan nafas lega, karena dosen hadir di saat yang tepat. Kalau tidak, Shakira dan Shakila tidak akan berhenti berdebat.
__ADS_1
*********
"Pi, apa Papi udah ingat siapa diantara kami yang paling tua?" benar dugaan Shakila, kalau Shakira pasti akan bertanya lagi sama Seno, siapa diantara mereka yang lahirnya duluan.
"Itu lagi, itu lagi! Umur kalian sama, jadi gak ada yang lebih tua." sahut Seno sedikit kesal.
"Gak boleh gitu dong Pi, kita tuh harus tahu siapa yang terlebih dahulu lahir." Shakila ikut menimpali.
"Buat apa coba? toh waktu kalian di tanya sama orang, berapa umur kalian berdua, pasti jawabannya sama, 19 tahun. Kan gak mungkin 19 tahun lebih 5 menit atau 10 menit." Jawab Seno.
"Papi, ihhh, bukan begitu maksudnya Pi ..., ntar kalau kami berdua menikah, kan suami kami jadi bingung yang mana diantara mereka yang jadi kakak ipar." Shakira memberikan alasan.
"Emang kalian berdua bakal ada yang mau?" Seno justru balik meledek.
"Papi, ih jahat! kami kan cantik, pasti bakal banyak yang mau," cetus Shakilla.
"Lagian kamu gimana sih Pi? masak anak sendiri gak tahu yang mana lahir duluan." Celetuk Amira yang tiba-tiba sudah muncul dari arah dapur.
" Emang Mami tahu? " Seno balik bertanya.
"Yang ngelahirin kan Mami, jadi mami pun harusnya tahu ngelahirin siapa duluan." Seno tidak mau kalah.
"Suneooo!" teriak Amira kesal. " Aku tuh ,pada saat itu kesakitan, mana lah ada waktu untuk melihat siapa yang lahir duluan. Kamu waras atau nggak sih?!" sambungnya lagi.
"Aku juga saat itu kesakitan Mi, kena cakaran, gigitan sama jambakan di rambutku. Jadi, aku mana bisa fokus. Pada saat itu, yang aku pikirkan itu, yang penting mereka lahir. Itu aja!" tukas Seno.
"Kan, kamu bisa nanya sama dokternya, yang mana yang lahir duluan!" Amira tidak mau kalah.
"Hari itu dokternya ada ngomong sih, cuma aku lupa." sahut Seno.
"Lagian nih, kalian berdua ngapain sih mempermasalahkan hal itu terus? yang jelas, yang paling tua itu bukan suatu kehormatan, dan yang lebih muda itu bukan suatu kehinaan.Gak ada gunanya kamu mempermasalahkan itu. Yang penting sekarang kalian berdua harus saling mendukung tanpa memikirkan siapa yang paling tua dan siapa yang paling muda. Kalian harus tetap saling menjaga satu sama lain. Walaupun kalian ini kembar, kalian pada dasarnya tetap berbeda, tapi jangan jadikan perbedaan itu menjadi sebuah pertikaian. Dan satu hal lagi yang harus kalian ingat, kalau kalian berdua berasal dari taman yang sama. ujar Seno, yang membuat Shakira dan Shakila terdiam. " Sama-sama datang dari taman surga milik mamimu." Sambung Seno di dalam hati seraya tersenyum mesum.
"Ya udah! Papi mau ke atas dulu. Papi mau mandi, Papi udah merasa gerah soalnya." Seno beranjak meninggalkan istri dan dua putrinya yang masih berusaha mencerna ucapan Seno papi mereka.
Seno berhenti tiba-tiba di pertengahan anak tangga.Dia memutar tubuhnya, berbalik ke arah 3 orang wanita tercintanya itu.
__ADS_1
"Kalau kalian berdua masih ingin tahu siapa yang terlebih dulu lahir, kalian berdua coba teriak di telinga mami mu! biarlah mami kalian yang memutuskan nanti. Yang teriakannya paling kencang berarti itulah yang pertama lahir." ucap Seno sambil berlari ke atas seraya terkekeh, diiringi teriakan memekik dari Amira.
*******
Makan malam di rumah Bimo kini sudah kembali ke formasi lengkap, karena Aariz sudah ikut hadir meramaikan meja makan itu.
Tidak ada pembicaraan diantara mereka semua pada saat makan malam berlangsung. Hanya bunyi dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring, yang terdengar bersahut-sahutan.
"Riz bagaimana usahamu ke London? apa berbuah manis?" tanya Bimo setelah mereka selesai makan malam.
"Ya, jelas dong Yah! Aariz gitu lho! Vina sekarang sudah kembali ke pangkuan beta." sahut Aariz membanggakan diri, yang membuat orang yang mendengarnya berdecak, seraya menggeleng-gelengkan kepala.
"Jadi gimana keputusanmu sekarang? Kamu sudah berani membawa Vina kembali ke Indonesia.Jadi kamu harus bertanggung jawab pada tindakan mu itu." ucap Bimo lagi.
"Aku tahu Yah! Kalau untuk hal itu, aku sudah memikirkannya baik-baik. Aku akan menikahinya secepatnya." Tegas Aariz.
" Apa kamu sudah yakin? Vina masih terlalu muda, apa kamu yakin bisa menghadapi tingkahnya nanti? Ingat Riz, pernikahan itu bukan untuk ajang main-main.Kamu jarus berpikir matang dulu untuk bisa langsung memutuskan menikah," Bimo diam sejenak untuk mengambil nafas.Dia kembali menatap Aariz putranya. "
Menjalani pernikahan bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Pernikahan memerlukan banyak persiapan, baik secara fisik maupun mental. Baik secara materi atau pikiran.
Semuanya itu sangat diperlukan untuk menghasilkan rumah tangga yang baik dan dapat berjalan dengan sangat lancar." sambung Bimo lagi.
"Secara materi dan fisik kamu dan Vina mungkin sudah siap. Tapi bagaimana dengan mental Vina? apa mental Vina sudah siap, mengingat usianya yang masih muda ...? ingat Riz, asmara dalam pernikahan itu, tidak selalu indah layaknya orang yang jatuh cinta. Akan banyak krikil-krikil tajam dan gelombang yang akan menghatam nantinya. " Bimo kembali memberikan petuah.
Aariz tercenung mendengar ucapan Ayahnya. Dia menarik nafas dalam-dalam, dan menghembuskannya dengan keras." Aku sudah yakin untuk menikah Yah, karena itu adalah jalan terbaik, daripada nanti akan menimbulkan dosa.Dan aku akan berusaha menurunkan egoku sebagai suami dan akan berusaha untuk mengerti Vina nantinya." ujar Aariz penuh ketegasan.
"Ya udah, kalau begitu, besok kita akan ke rumah Om Dimas sama-sama, untuk melamar kembali Vina." Bimo akhirnya memutuskan.
"Melamar kembali? maksudnya?" tanya Aariz dengan kening yang berkerut.
"Besok kamu akan tahu, " sahut Bimo seraya beranjak pergi bersama dengan Tiara, menuju kamar tidur mereka
Tbc
Author remahan rengginang ini, tidak henti-hentinya meminta dukungan dari readers tercinta.Please rate bintang 5 dulu lalu jangan lupa buat tetap like, vote dan komen.
__ADS_1
Singgah juga di karya ku yang lain ya gais.Klik profil ku aja, maka karya ku yang lain akan langsung muncul. Thank you