
Pukul 6 pagi, Laura berlari ke kamar mandi, karena dia meras perutnya serasa diaduk-aduk.
Aarash yang mendengar istrinya muntah-muntah di dalam kamar mandi, segera berlari masuk ke kamar mandi.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Aarash dengan wajah yang panik, melihat istrinya yang sudah terduduk di kamar mandi dengan wajah yang sudah sangat pucat.
"Aku tidak tahu, Yang! sepertinya aku masuk angin, karena kamu gak ngizinin berpakaian semalaman" sahut Laura tersenyum kecut.
Aarash,terkekeh melihat ekspresi Laura yang tampak menggemaskan di matanya. Dia lalu membawa Laura ke dalam gendongannya dan membawanya keluar dari kamar mandi.
Aarash membaringkan Laura ke atas ranjang, lalu memberikan pijatan-pijatan lembut di bahu istrinya itu.
"Udah mendingan belum sayang?" tanya Aarash tanpa menghentikan pijatannya.
"Udah lumayan kok, Mas! " sahut Laura yang lebih nyaman memanggil mas daripada panggilan-panggilan lainnya.Untungnya Aarash tidak keberatan sama sekali.
"Mas,.udah! aku mau ke bawah bantuin Bunda nyiapin sarapan buat kita!" ucap Laura, sambil menepuk-nepuk tangan suaminya itu.
"Tapi, sayang, kamu kan lagi sakit.Jadi, kamu istirahat aja ya!"bujuk Aarash.
"Aku gak pa-pa sayang! kamu tenang aja.Lagian gak enak sama bunda!" Laura beranjak turun dari kasur, lalu mengayunkan langkahnya keluar dari kamar.
"Maafin aku ya sayang.Karena tinggal serumah dengan Ayah dan Bunda, kamu jadi gak enakan begini.Padahal kalau kamu gak ikut bantu pun, Bunda bakal ngerti. Tinggal selangkah lagi Sayang, kita akan tinggal di rumah kita sendiri. Jadi bersabarlah!" bisik Aarash pada dirinya sendiri.
Laura berjalan turun dari tangga sambil memijit-mijit kepalanya yang terasa sangat pusing.
"Pagi, Bun! " sapa Laura,ketika kakinya sudah menginjak lantai dapur.
Perut Laura kembali terasa diaduk-aduk dari dalam ketika hidungnya mencium aroma makanan yang sedang dimasak Bi Asih.
Laura langsung berlari ke arah westafel dan mengeluarkan semua isi perutnya di sana.
"Kamu kenapa sayang? " Tiara panik dan langsung meninggalkan pekerjaannya memotong sayuran, demikian juga dengan Bi Asih.
"Gak tahu, Bun! sepertinya aku masuk angin dan tidak suka dengan bau makanan yang dimasak sama Bi Asih!" sahut Laura dengan wajah yang semakin pucat.
Bi Asih dan Tiara saling silang pandang dan tersenyum penuh makna. " Jangan-jangan kamu hamil sayang!" ucap Tiara dengan wajah yang berbinar-binar.
__ADS_1
Laura tidak bergeming mendengar ucapan ibu mertuanya. Dia langsung teringat kalau bulan ini, dia sama sekali tidak datang bulan.
"Aku tidak tahu Bun! Tapi memang bulan ini, tamu bulananku sudah telat." ungkap Laura.
"Bunda yakin kalau kamu itu hamil.Akhirnya aku akan punya cucu Bi!" Tiara menoleh ke arah Bi Asih dan menerbitkan senyuman sumringah di bibirnya..
Laura yang melihat kegembiraan Tiara, justru khawatir, bagaimana kalau dia tidak hamil. Dia takut mengecewakan ibu mertuanya itu.
"T-tapi Bun, aku belum bisa memastikannya, karena aku belum pernah nge-ceknya!" ucap Laura, supaya Tiara tidak terlalu berharap.
Tiara tersenyum melihat ke khawatiran Laura menantunya." Bunda yakin sayang, kalau kamu benaran lagi hamil.Tapi seandainya tidak pun, tidak apa-apa. Kalian kan bisa buat kembali.Wong buatnya ini enak kok!" Tiara berusaha menenangkan menantunya itu.
Mendengar ucapan Tiara yang frontal, membuat Laura menggeleng-gelengkan kepalannya.
"Hari ini kita periksa ke dokter ya! Gak usah pakai test pack-test pack segala, ke dokter aja langsung biar lebih jelas!" ucap Tiara sangat antusias bahkan terkesan tidak sabar.
"Iya, Bun! Tapi jangan kasih tahu Mas Aarash dulu ya Bun, sampai semuanya pasti!" Laura memohon pada mertuanya itu.
"Ok!" sahut Tiara dengan tetap mengembangkan senyumannya.
Sarapan pagi ini, berlagsung seperti biasa.Hanya Laura yang terlihat kurang berselera untuk makan.Dia berkali-kali meminum air putih untuk mendorong makanan , agar mau masuk ke dalam perut.
Setelah selesai sarapan pagi, Bimo dan Aarash terlihat bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Sedangkan Lea, juga sudah siap untuk berangkat kuliah,karena kebetulan dia ada jam pagi hari ini.
Setelah rumah sudah sepi, Tiara dan Laura pun siap-siap berangkat ke rumah sakit untuk memeriksa apakah Laura beneran hamil atau tidak.
"Bun, kok aku gugup ya?" ucap Laura dengan jantung yang berdebar-debar.
"Gak usah gugup! kamu tenang aja, tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan perlahan.
Laura melakukan apa yang diperintahkan oleh Tiara, dan dia merasa agak tenang sedikit.
"Ibu Laura! " panggil seorang perawat.
Tiara membantu menantunya untuk berdiri dan menuntunnya untuk masuk ruang poly pemeriksaan. Setelah memberitahukan semua keluha-keluhannya, dokter yang berjenis kelamin itu pun tersenyum ke arah Laura.
"Semua keluhan yang Ibu katakan memang ciri-ciri awal kehamilan. Tapi, kita USG dulu ya Bu untuk memastikannya! " Dokter itu pun menuntun Laura untuk berbaring di atas brankar. Dokter itu pun menggerakkan probe dibawah perut Laura. Mata Tiara terlihat berbinar-binar untuk menatap ke arah monitor.Sedangkan Laura menutup matanya, ragu untuk melihat layar monitor itu.
__ADS_1
" Hmm, Ibu benar-benar sudah hamil! dan usia kandungan Ibu sudah memasuki 4 minggu. Selamat ya Bu, " ucap dokkter itu, yang membuat Laura membuka lebar-lebar matanya dan menatap ke layar monitor dengan mata yang berkaca-kaca. Dia tidak menyangka, akan diberikan karunia secepat ini.
"Jadi aku benaran hamil Dok?" Laura kembali memastikan.
"Iya, Bu! dah bahkan ibu tidak mengandung satu janin.Dari hasil USG ini, sepertinya ibu akan mendapat 3 bayi sekaligus!" ujar dokter itu yang membuat Tiara dan Laura menitikkan air mata.
"Tapi kalau boleh jangan terlalu capek, dan rutin untuk mengkonsumsi vitamin dan asam follat ya Bu!" ucap dokter itu. " Sekali lagi selamat, Bu! Vitamin dan asam folatnya ibu bisa tebus di depo farmasi rumah sakit ini." sambung dokter itu, sambil menjabat tangan Laura dan Tiara.
Tiara dan Laura beranjak keluar dari ruang Poly dokter itu, setelah mengucapkan terima kasih. Mereka lalu menuju Depo farmasi untuk menebus Vitamin dan asam folat yang telah di resepkan oleh dokter tadi.
Bibir Laura tidak berhenti tersenyum dari tadi.Dia tidak sabar untuk memberikan kejutan kepada suaminya Aarash nanti. Sebelum mereka pulang ke rumah, Tiara mengajak Laura untuk singgah sebentar ke supermarket untuk membeli susu kehamilan buat Laura.
Tiara begitu antusias berbelanja, sampai dia tidak menyadari kalau trolynya sudah berisi macam-macam susu dengan berbagai rasa.
Laura hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat ibu mertuanya yang kalap belanja susu.
Setelah membayar semua belanjaan ,Tiara dan Laura pun pulang.Tanpa mereka sadari ada dua pasang mata yang dari tadi sudah menguntit mereka dengan seringaian tipis di bibir mereka.
Di jalan yang terbilang sepi, tiba-tiba mobil Laura dicegat oleh sebuah mobil dari depan. 4 orang laki-laki berbadan tegap,terlihat keluar dan menodongkan senjata ke jendela kaca mobil dimana Laura dan Tiara duduk.
"Keluar! Kalau tidak kami akan pecahkan kaca mobil anda! Ayo KELUAR! teriak salah satu laki-laki berbadan besar itu.
"Bun, bagaimana ini? ucap Laura, ketakutan sambil memegang perutnya.
"Kamu tenang saja sayang! mereka mungkin hanya mau uang." Tiara menenangkan Laura menantunya.
Tiara membuka pintu mobil dan keluar dengan perlahan." Apa mau kalian? Kalian mau uang? ambillah! " ujar Tiara berusaha untuk tenang. Sedangkan Laura, diam-diam mengirim pesan kepada suaminya.Tapi, sialnya tidak ada balasan sama sekali, bahkan dibaca juga tidak.
"Kami tidak butuh uang mu! kami hanya mau kalian berdua." ucap laki-laki itu, dan menarik paksa Tiara serta menyumpal mulutnya ,agar tidak berteriak.Sedangkan dua orang lainnya melakukan hal yang sama pada Laura.
tbc.
Jangan lupa ritualnya ya gais. Please like, vote dan komen. Thank You
Sambil menunggu ini Up silahkan mampir ke karya Author yang satu ini. Turun ranjang by lunoxs.Jamin tidak akan menyesal.Gregetnya dapat, bapernya dapat, kesalnya dapet dan satu lagi sarat akan makna.Khususnya buat yang beragama Islam.Banyak hal pernikahan yang Islami yang kalian dapat dari sana. Cus mampir
__ADS_1