
Para pengawal suruhan Bianca, menyeret paksa Tiara dan Amira, dan mendorong mereka masuk kedalam kamar, dimana sudah ada MUA yang sedang menunggu.
Melihat hal itu, Bimo mengepalkan kedua tangannya,suara gigi Bimo terdengar gemeretak menahan amarah yang amat sangat.Dia tidak terima dengan perlakuan kasar pengawal-pengawal itu. Tapi untuk saat ini dia tidak bisa berbuat apa-apa. Hal yang sama juga terjadi atas Seno.
" Buruan rias mereka berdua secepat mungkin, karena sebentar lagi acara akan segera dimulai. Jangan sampai nona Bianca lama menunggu " Perintah pengawal itu tegas.
"Dan kalian berdua, jangan memberontak lagi, turuti kemauan bos kami, kalau tidak nyawa keluarga kalian taruhannya " ancam pengawal tadi, ke arah Tiara dan Amira.
Dua orang MUA profesional itu, dengan cekatan langsung memulai pekerjaan mereka. Air mata Tiara dan Amira, dari tadi tidak berhenti menetes, Sehingga kedua MUA itu mengalami sedikit kesulitan untuk bisa melaksanakan pekerjaan mereka.
"Nona ,kami mohon kerja samanya, tolong berhenti menangis nona, agar kami bisa dengan cepat menyelesaikan pekerjaan kami! kami tidak mau diamuk oleh nona Bianca nantinya" ucap salah satu MUA itu memohon dengan mimik wajah memelas.
" Ma-maaf mba! silahkan rias kami.Kami berdua sudah siap!" ucap Tiara dan Amira,seraya mengusap air mata dari wajah mereka.
Setelah selesai dirias,Tiara dan Amira diarahkan untuk memakai gaun yang sebelumnya sudah disediakan Setelah semuanya sudah selesai, Tiara dan Amira terlihat keluar dari kamar tempat mereka dirias.
Mereka kembali melewati ruangan tempat dimana kedua orang tuanya, ibu Sumi dan sikembar disekap. Mata mereka semua nampak berkaca-kaca melihat ke arah Tiara dan Amira. Bimo dan Seno serta kedua orang tua Bimo- pak Burhan dan ibu Sarah sudah tidak terlihat lagi di ruangan itu.Nampaknya mereka semua sudah menunggu di tempat diadakannya acara pertunangan.
******
Tiara dan Amira memasuki lokasi, dimana akan ada acara pertunangan antara Bianca dengan Bimo, Seno dengan wanita yang belum diketahui namanya itu.
__ADS_1
Acara pertunangannya ternyata diadakan di taman belakang villa itu, yang sudah di hias dengan dekorasi yang begitu megah dan elegan. Walaupun lokasinya hanya di halaman, tapi dekorasinya sudah hampir menyerupai dekorasi di ball room hotel.
Kursi-kursi juga sudah di hias dengan pita-pita yang cantik,dan meja-meja yang sudah penuh dengan makanan-makanan mewah.Dan disekeliling taman itu juga sudah di hias dengan ribuan bunga mawar merah dan putih, yang sebenarnya merupakan bunga kesukaan Tiara dan Amira.
"Andaikan ini acara pertunanganku, betapa bahagianya diriku, tapi itu tidak akan mungkin bisa terjadi" bisik Tiara pada diri sendiri.
Tiara dan Amira,terlihat sangat cantik dengan gaun warna merah panjang, dan sedikit mengembang dibawah. Gaun mereka terlihat senada dengan kemeja yang di gunakan Bimo dan Seno,serta gaun yang dipakai oleh Bianca dan temannya itu.
Dari tempat Tiara dan Amira berdiri, Tiara dan Amira mememperhatikan, dua pasang yang sedang berdiri di depan sana.Mereka berdua,berusaha untuk tidak menangis, Karena kalau mereka menangis, akan menimbulkan kecurigaan dari tamu-tamu undangan yang hadir di tempat itu. Mata Tiara dan Amira mengerjap-ngerjap sendu dan menatap nelangsa ke arah Bimo dan Seno di seberang, berusaha untuk menetapkan hati untuk tetap kuat dan tidak mengeluarkan air mata lagi.
"Bim, Amira sangat cantik dengan gaun itu. Gue beneran gak kuat, melihat wajah sedih Amira bim!" bisik Seno, sambil menatap sayu ke arah gadis pujaannya.
"Lo kira gue kuat? gue juga gak kuat Sen, Kalau boleh, gue mau meluk Tiara sekarang. Dan Tiaraku tetep lebih cantik dari Amira" Bisik Bimo kembali. Matanya tidak berkedip melihat penampilan Tiara yang sangat berbeda dari biasanya.
" Untuk orang yang membawa cincin tunangannya, dipersilahkan untuk maju ke depan,untuk menyerahkan cincin yang akan disematkan ke jari dua pasangan yang sedang berbahagia" suara MC kembali bergema ditengah acara itu."
Tiara dan Amira nampak melangkah dengan pelan dan kaki yang gemetar menuju tempat dimana Bimo dan Seno sedang menunggu bersama dengan Bianca dan temannya. Mereka berusaha untuk tetap bisa berdiri dengan tegap,walaupun sebenarnya mereka hampir saja terjatuh.
Dengan tangan yang gemetar Tiara menyerahkan cincin yang dia bawa,ke tangan Bimo,yang menerimanya dengan tangan yang tidak kalah gemetar.Demikian juga yang terjadi pada Amira dan Seno. Tiara dan Amira bahkan tidak berani menatap wajah Bimo dan Seno,dua pria yang mereka cintai, yang awalnya mereka harap bisa menjadi pendamping hidup mereka sampai mereka menutup mata nantinya.
Dari sudut mata Tiara dan Amira, air mata yang sudah dari tadi berusaha mereka tahan, kini sudah tidak bisa mereka bendung lagi.Cairan bening itu dengan santainya,kini merembes keluar tak terkendali.
__ADS_1
Tiara tidak pernah menyangka, bahwa kisah cintanya akan berakhir tragis seperti ini.Baru saja dia merasakan kebahagiaan,tapi kini kebahagiaan itu kini sudah dirampas kembali.
" mungkin ini sudah suratan takdir, kamu tidak ditakdirkan untuk ku, mau tidak mau aku harus ikhlas melepaskanmu.Walaupun,rasanya sungguh sakit" batin Tiara.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Amira.Dia tidak menyangka orang yang selama ini selalu diimpikan dan diidam-idamkannya untuk menjadi pendamping hidupnya, akan menjadi milik orang lain.
Setelah mereka menyerahkan cincin itu ke tangan Bimo dan Seno, mereka-Tiara dan Amira sedikit memundurkan langkah mereka, untuk memberikan tempat dan waktu, buat kedua pasangan itu bertukar cincin.
Bimo terlihat mengadap ke arah Bianca, Seno ke arah wanita yang ternyata bernama olivia. Tiara dan Amira membuang wajah mereka, menoleh ke arah lain, berusaha untuk tidak melihat acara pertukaran cincin itu.
"Tiara, will you marry me? "
"Amira, will you marry me? "
Bimo dan Seno tiba-tiba terlihat berlutut di hadapan pasangan masing-masing sambil mengarahkan cincin berlian, yang masih berada di dalam kotaknya.
Tiara dan Amira terlihat kaget dan bingung dengan apa yang terjadi.Selain itu, wajah mereka terlihat ketakutan atas tindakan Bimo dan Seno.
Mereka takut, karena tindakan Bimo dan Seno yang nekat,akan berpengaruh terhadap keselamatan keluarga yang mereka cintai. Bianca bisa saja langsung memerintahkan anak buahnya untuk membunuh keluarga yang sampai sekarang masih mereka sekap.
Tiara dan Amira terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya.Seandainya situasinya tidak begini.Mereka pasti dengan senang hati akan menjawab yes, i will.
__ADS_1
TBC
please untuk tetap mendukung novel ini, dengan like, vote dan komen. Author juga mau dong kalau readers tercinta, bersedia untuk memberikan hadiah untuk novel ini.biar Author semakin semangat bergadangnya😀😀🥰🥰🤗