
" Eh, ma-maaf" ucap Deni dan Sherly bersamaan, sambil memungut sendok mereka yang jatuh.Sedangkan Cindy tidak bergeming menatap Ayu.
"Ayu? Tapi kok mirip sekali ya sama ka Laura?Kalau dia benar Laura, kenapa dia tidak mengenal kami? " Cindy membatin sambil menautkan kedua alisnya.
Melihat ekspresi kaget dari ketiga orang itu, saat melihat Ayu, menimbulkan kecurigaan di benak Aarash.
" kenapa, Om ,tante dan Cindy kaget saat melihat Ayu? Apakah kalian mengenalnya? " tanya Aarash sambil memicingkan kedua matanya. Sehingga semua mata langsung mengarah ke keluarga Hartono yang wajahnya langsung pucat.
"Ti-tidak kami tidak mengenalnya nak Aarash? " sahut Sherly gelagapan disusul anggukan dari Deni suaminya.
Ayu menghela nafasnya dengan cepat, ada rasa kecewa di dalam hatinya begitu mendengar kalau tamu Bimo dan Tiara itu, tidak mengenalnya.Padahal tadi dia berharap dia dapat mengetahui jati dirinya lewat keluarga itu.
"Bagaimana dengan mu cindy? Kenapa dari tadi kamu tidak pernah melepaskan pandanganmu dari Ayu? "
"Hmm, G-gak pa-pa. D-dia hanya mirip dengan teman ku saja. Aku kira tadi itu dia, ternyata nggak." Cindy berusaha berkilah sambil memamerkan senyum terpaksanya.
Aarash manggut-manggut, tapi jujur dia masih merasakan adanya kejanggalan pada tingkah 3 orang tamu mereka itu.
"Oh kirain kalian mengenalnya pak Deni.Soalnya Ayu ini lagi mencari jati dirinya.Karena dia lagi amnesia." timpal Tiara yang juga merasa sedikit kecewa .
"Amnesia?" kaget ketiganya bersamaan saling menatap satu sama lain.
"Ada apa dengan kalian bertiga? kok sepertinya kaget sekali?" Bimo juga kini mulai merasa curiga sama seperti putranya.
"Ng-gak pa-pa pak Bimo.Kami cuma ikut merasa kasihan saja.Iya kan sayang?" ujar Deni, menoleh ke arah istri dan putrinya, yang langsung dibalas cepat dengan anggukan.
__ADS_1
"Kalau dia Amnesia, berarti benar kalau dia itu Laura. Tapi syukur deh, dia Amnesia! mudah-mudahan ingatannya tak kembali untuk selamanya! " Cindy membatin dengan seringaian sinis di bibirnya.
********
Setelah makan malam usai, mereka semua berkumpul di ruang tamu,untuk melanjutkan pembicaraan yang sempat tertunda. Sedangkan Azalea memutuskan tidak ikut nimbrung karena merasa jengah dengan tingkah Cindy yang kegenitan pada kakaknya.
"Bukannya putra anda ada dua pak Bimo? " tanya Deny membuka pembicaraan.
"Oh iya, mereka berdua kembar.kebetulan Aariz belum pulang, karena harus menghadiri sebuah acara ," jawab Bimo.
"Oh ya, bagaimana dengan rencana perjodohan putra anda Aarash dengan putri kami Cindy? kapan kita akan melaksanakan pertunangan mereka?" tanya Sherly tidak sabaran, yang langsung membuat wajah Cindy terlihat bahagia.
"Oh, untuk hal itu, aku tidak bisa memutuskan.Aku serahkan semua keputusan di tangan putraku, karena dialah yang akan menjalankannya" ucap Bimo bijak, yang langsung mendapat elusan lembut di lengannya dari Tiara istrinya.
"Bagaimana nak Aarash? Aku tidak mau berlama-lama.Makin cepat kan makin baik? Deni menimpali yang langsung mendapat anggukan cepat dari kepala Cindy seraya menampilkan senyum sumringahnya.
Setelah tidak mendapat sepatah kata pun dari kedua orangtuanya, Aarash kembali menoleh, ke arah Deni dan Sherly. Lalu menepis kembali tangan Cindy yang dari tadi selalu berusaha menyentuh tangannya.
"Hmm, bengini om, tante, seperti yang kita bicarakan tadi di meja makan, bahwa orang yang ingin aku nikahi itu adalah Laura ponakan om, bukan Cindy putri om. Jadi aku...."
"Gak bisa gitu dong! kenapa dari awal tidak bilang begitu? Kami tidak terima!" Sherly sontak berdiri dipenuhi dengan amarah di ubun-ubunnya.
"Maaf ibu Sherly, untuk hal itu, aku yang salah, karena setahu aku pemilik Hartono grup hanya memiliki putri tunggal bernama Laura Chantika.Aku tidak tahu kalau pemiliknya sudah meninggal dan mempunyai seorang adik, yang memiliki seorang putri juga.Jadi, ini murni kesalah-pahaman." ujar Bimo berusaha untuk sabar menghadapi amarah Deni dan Sherly.
"Tapi kan Laura udah mati? emang ka Aarash mau menikah sama orang yang sudah mati?!" sahut Cindy dengan kesal seraya ikut berdiri mengikuti Sherly mamahnya.
__ADS_1
"Selama kematian Laura belum jelas, aku akan tetap menunggunya, karena aku sudah berjanji dalam hatiku sejak dulu.Jadi aku tegaskan sekali lagi kalau aku tidak akan menikah dengan Cindy.! " tegas Aarash sambil menatap tajam ke arah Deny dan Sherly.
"Tidak boleh, aku tidak terima.Gara-gara kamu aku sudah memutuskan kekasihku tahu gak?! ucap Cindy keceplosan yang membuat, Deny dan Sherly, menggeram ingin mengunci mulut putrinya yang tanpa rem.
"Oh jadi kamu tadinya sudah memiliki kekasih? Kalau sudah memiliki kekasihnya,harusnya kamu menolak dong bukan malah menerima perjodohan ini! Atau jangan-jangan kamu menerima perjodohan ini, karena Aarash lebih kaya dari kekasih mu itu? Kasihan sekali mantan kekasihmu itu ya? sindir Tiara sarkasme seraya tersenyum sinis.
"Bukan kasihan sayang! Justru bersyukur, bisa lepas dari kekasih yang hanya memandang fisik dan materi saja." timpal Bimo ikut-ikutan menyindir seperti mak- mak komplek yang hobby gibah.
Raut wajah ketiga orang keluarga Hartono itu sontak memerah,antara malu dan marah.Mereka merasa dipermainkan oleh keluarga Bimo. Akan tetapi mereka tidak sanggup untuk berbuat apa-apa untuk melawan keluarga Bimo.Lebih baik cari aman saja dari pada berurusan dengan keluarga itu.
"Cindy, ayo kita pulang! " Teriak Deni seraya berdiri lalu mengayunkan langkahnya menuju pintu keluar disusul Sherly istrinya dan Cindy yang menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal.
Didalam mobil Deni dan Sherly tidak berhenti memarahi Cindy karena sudah keceplosan. Tapi tiba-tiba mereka teringat dengan Ayu.
"Pah, sepertinya Ayu itu Laura.Kalau begitu berarti Laura masih hidup dong?Bagaimana ini pah? mamah tidak mau hidup susah lagi" Sherly sontak terlihat panik sambil mengguncang-guncang bahu Deni suaminya.
"Papah juga bingung, Mah, Untuk menyingkirkannya kembali, untuk sekarang juga sangat sulit.Dia ada di tengah-tengah keluarga Bimo. " Sahut Deny frustasi.
"Mamah sama papah, kok panik baget sih?" si ja*la*ng itu kan lagi Amnesia.Cindy yakin dia akan susah untuk mengembalikan ingatannya.Lagian mamah dan papah tidak perlu khawatir, aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan Aarash, bagimanapun caranya.Setelah aku bisa mendapatkan Aarash, aku kan menyingkirkan Laura si ja*la*ng itu pelan-pelan dengan cara halus." Cindy menyeringai sinis.
"Emang, kamu sudah punya cara Cindy?"
"Sudah mah! Tidak bisa dengan cara baik-baik.Saatnya Cindy menggunakan cara licik."
Tbc
__ADS_1
Please like, vote dan komen. Thank you