YOU ARE MY DESTINY

YOU ARE MY DESTINY
Dewa bebas


__ADS_3

"Papah kecewa sama kamu, Nak! Kenapa kamu bisa berbuat seperti itu? " ucap Reno, Papahnya Dewa, yang kini sedang menjenguk putranya itu di penjara.


Dewa hanya menunduk, tidak sanggup menatap papahnya yang selama ini menjadi panutannya.Dia juga tidak sanggup untuk menjawab apa yang baru saja ditanyakan oleh papahnya itu.


"Kenapa Wa?Kenapa kamu tidak mau jawab pertanyaan papah?"


"Maafin Dewa,Pah? Dewa suka sama Vina, Pah! Tapi, Vina sudah menyukai orang lain. Padahal dia kan gadis yang ditunangkan sama Dewa! " Dewa mulai membuka suaranya,tapi masih dengan posisi menunduk.


"Siapa yang mengatakan kalau Vina itu orang yang dijodohkan denganmu? Vina bukanlah gadis yang papah jodohkan denganmu, Nak? ", tutur Reno seraya menghela nafasnya.


Dewa mendongkakkan wajahnya, dengan ekspresi kaget. "Tapi,Pah, kenapa hari pertunangan kami sama? dan situasi yang kami tidak mengetahui siapa yang dijodohkan dengan kami juga sama. Lalu, Om Dimas, sama Om Seno ngapain ke rumah kita, satu hari sebelum Papah ngasih tahu Dewa, yang Dewa sudah bertunangan?" tanya Dewa beruntun.


"Kamu sudah salah paham, Nak! Om Dimas dan Om Seno datang hanya ingin menanyakan sesuatu tentang keluarga Hartono.Kamu kan tahu, Papah ini pengacara pribadi keluarga Hartono. Seandainya pun Vina gadis yang dijodohkan denganmu ..., kamu tidak boleh juga berniat melecehkannya," ucap Reno dengan lembut.


"Papah, menjadi merasa bersalah pada almarhum mamah kamu, Wa. Papah sudah gagal mendidik kamu dengan baik." sambung. Reno dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Dewa merasa sangat bersalah sekarang. Baru kali ini dia melihat, papahnya yang biasanya tegas dan berwibawa terlihat lemah.


"Pah, maaf in Dewa Pah! Dewa udah bikin papah kecewa. Dewa memang tidak berguna Pah!" Dewa terlihat sesunggukan sembari menggusak rambutnya dengan kasar.


"Kamu mau tahu, siapa sebenarnya gadis yang dijodohin ke kamu itu? gadis itu Kinara, teman mu dari kecil." ucap Reno, yang membuat Dewa terkesiap.


" Papah kira, kalian sudah saling menyukai,karna sudah bersama sejak kecil.Ternyata, Papah salah! Awalnya,Papah ingin memberi tahukan ini,sebagai kejutan pada hari kelulusanmu nanti, ternyata semua sia-sia. sambung Reno seraya kembali menghela nafasnya.


Dewa tidak bergeming sama sekali mendegar kenyataan yang baru saja di ungkapkan oleh papahnya.Sekelebat wajah cantik Kinara yang tersenyum padanya langsung terbayang di kepalanya.


"Sekarang, Papah hanya bisa berharap kemurahan hati Pak Dimas, untuk berhenti menuntutmu.Tapi itu sepertinya mustahil Dewa. Papah hanya bisa pasrah sekarang, " Reno mengusap wajahnya dan menundukkan kepalanya.


Tanpa mereka berdua sadari, Dimas dari tadi sudah memasuki kantor polisi bersama Galang dan mendengar semua perkataan Reno pada Dewa. Sedangkan Aariz dan Vina tidak mau ikut ke dalam, karena merasa khawatir, kalau Aariz nanti akan emosi lagi melihat wajah Dewa.


Suara benturan sepatu yang beradu dengan lantai, mengalihkan tatapan Reno dan Dewa ke arah datangnya suara tersebut.


"Pak Dimas, anda sudah datang? " Reno membungkkukan badannya di depan Dimas.Sedangkan Dewa menundukkan kepalanya tidak berani untuk menatap Dimas dan Galang.


Dimas menghela nafasnya sembari menatap tajam ke arah Dewa, yang masih saja menunduk. Sepersekian detik kemudian, Dimas mengayunkan tangannya dan memukul wajah Dewa dengan keras. Galang juga tidak mau ketinggalan, dia juga kembali melayangkan tinjunya ke wajah Dewa.


"Bajingan kamu, Wa!" ucap Galang dengan nada yang tinggi. " Kamu tega sama adikku. Aku tidak menyangka, kalau kamu bisa berbuat sejauh itu demi bisa mendapatkan Vina!" ujar Galang kembali.

__ADS_1


Reno yang melihat anaknya mendapat pukulan yang bertubi-tubi dari Dimas dan Galang,hanya terdiam. Dia tidak bisa melakukan apapun untuk menolong anaknya kini. Karena dia paham bagaimana perasaan Dimas sekarang.


"Sekarang aku melepaskanmu, demi Papahmu. Kedepannya kamu harus berubah dan bisa membanggakan Papahmu, yang rela berlutut memohon demi kebebasanmu!" Dimas melangkah pergi meninggalkan ruangan kunjungan itu di ikuti oleh Galang setelah selesai mengucapkan ucapannya


"Terima kasih,Pak Dimas ..., terima kasih!" Reno membungkkukan badannya berulang kali ke arah Dimas, lalu memeluk Dewa putranya.


Ya, begitu mendengar semua ucapan Reno pada putranya, Dimas menjadi tidak tega. Dia langsung menarik pada dirinya sendiri, andai suatu saat Vano melakukan hal yang sama, dia pasti akan seperti Reno.


*****


Sementara itu, Kinara, Dion, Rendy dan Dina sekarang sedang mengerjakan tugas bersama-sama di apartemen Kinara. Kabar mengenai apa yang telah dilakukan oleh Dewa sudah mereka dengar dari Galang.


Kinara tidak menyangka kalau Dewa, temannya dari kecil bisa berbuat sebejat itu, hanya karena ingin mendapatkan cinta Vina.


"Kar, Kamu kok diam aja? kamu baik-baik aja kan? " tanya Dina dengan kening yang berkerut.


"Aku baik-baik aja kok Din, kamu tenang aja!" Kinara menyunggingkan senyum manisnya, senyuman yang selama ini membuat seorang Dion selalu terbayang-bayang.


Kinara beranjak berdiri untuk membukakan pintu, karena sepertinya ada yang tengah berkunjung ke apartemennya, yang di tandai dengan berbunyinya bel pintu apartementnya.


Kinara terkesiap, kaget melihat Dewa yang kini tengan berdiri di depan pintunya. Dia tidak bergeming sama sekali dan seperti membeku di tempat dimana dia berdiri.


"Hmm, boleh! silahkan masuk Wa! " Kinar menyingkir dan memberikan jalan buat Dewa, untuk masuk ke dalam.


"Makasih Kin! " ucap Dewa , sambil berjalan masuk.Tapi, senyuman manisnya langsung berubah kecut, begitu melihat keberadaan Dion dan kawan-kawan ternyata ada di apartemen Kinar.


"Hmm, kalian semua ada di sini? " tanya Dewa berbasa-basi.


Tidak ada satupun yang menjawab pertanyaan Dewa.Justru mereka semua kini saling silang pandang, bingung melihat keberadaan Dewa yang muncul di apartemen Kinara.


Dewa menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dia mengerti kenapa teman-temannya tidak mau membalas sapaannya. Tapi, Dewa tidak terlalu mempermasalahkan itu, yang penting sekarang, kembali mengambil hati Kinara yang dia yakini masih mencintainya.


"Kin, bisa kita bicara berdua?" tanya Dewa pada Kinara, yang lansung mengundang reaksi dari Dion.


"Mau bicara apa? Kamu bisa bicara di sini aja, Wa!" sahut Kinar sambil kembali mendaratkan tubuhnya, duduk di dekat Dion.


Dewa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Sepertinya pemikirannya salah.Kinar sepertinya sudah mulai sedikit menghindarinya.

__ADS_1


"Tapi, aku mau bicara berdua Kin!" Dewa masih berharap Kinar mau untuk berbicara berdua saja.


"Maaf, Wa, kalau mau bicara__, bicara di sini aja! kalau tidak mau, mending tidak usah." sahut Kinar tegas.


Dewa, menghela nafasnya, menatap Kinar yang juga sedang menatapnya.


"Kin, aku hanya minta maaf atas ketidak pekaan ku selama ini, dan aku mau memperbaiki semuanya kembali.Aku sudah menyadari kalau sebenarnya, aku juga sudah menyukaimu selama ini." Dewa mengungkapkan perasaannya sambil menatap dalam-dalam mata Kinar.


Hati Dion tiba-tiba merasa sesak, mendengar pengakuan Dewa.Dia tahu kalau selama ini pun, Kinar juga menyukai Dewa.Dion merasa, kalau jalannya untuk mendapatkan hati Kinar sudah benar-benar tertutup.


"Aku ke toilet dulu ya! ucap Dion, sembari berdiri dan hendak beranjak dari ruangan itu. Karena dia tidak sanggup untuk melihat Dewa dan Kinara bersatu.


Dion menghentikan langkahnya ketika tangan Kinara tiba-tiba menahan tangannya untuk tidak pergi. "Maaf, Wa, aku tidak bisa! karena aku sudah punya Dion yang sudah lama mencintaiku dengan tulus.Dan jujur akupun sudah menyukainya." ujar Karina tegas, yang membuat Dion dan yang lainnya terbelalak karena kaget.


"Itu tidak mungkin kin! aku tahu kamu pasti sedang berbohong kan? " ucap Dewa sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tidak! aku tidak berbohong, Wa.Aku benar-benar sudah menyukai Dion." terselip ketegasan dalam ucapan Kinara.Dan di manik matanya juga menunjukkan kalau dia sedang tidak berbohong.


"Apa kamu yakin, kalau Om dan Tante akan menyetujui kalian berdua? Kamu tahu, kalau Dion ini hanya anak seorang pemulung, yang kebetulan bisa kuliah di sini karena bea siswa," ucap Dewa sedikit menyindir Dion.


Dion mengepalkan kedua tangannya,merasa geram dengan ucapan Dewa. Akan tetapi, dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena yang dikatakan Dewa itu benar adanya.


"Aku rasa, Papah dan Mamah orang yang bijaksana.Mereka tidak pernah memandang rendah orang, mau darimanapun dia berada.Aku percaya kalau suatu saat Dion, pasti bisa sukses." ucap Kinar.


Mendengar semua ucapan Kinara, Dewa hanya bisa mengepalkan tangannya dan menggeram. Dia memutar badannya, dan pergi meninggalkan Kinara dan yang lainnya dengan wajah yang memerah karena mendapat penolakan dari Kinara.


Tbc


Jangan lupa buat ninggalkan jejak ya gais.Please like , vote dan komen.


Perawat Sangpotirat  as Dion



Preechaya Pongthananikorna as Karina


__ADS_1



__ADS_2