
"Bunda.... Apa tadi Vina sudah datang kesini? " Tanyanya tanpa sadar. Sehingga membuat Tiara dan Bimo saling menatap, heran dan bingung atas pertanyaan Aariz.
"Kenapa kamu nanyain Vina? bukannya biasanya kamu gak suka kalau dia datang ? " Tiara mengrenyitkan kedua matanya ke arah Aariz.
" Eh ,Emang tadi aku nanyain Vina ya Bun? Bunda salah dengar mungkin. " ujar Aariz salah tingkah .Wajahnya kini sudah memerah seperti kena bakar api.
"Kayanya Bunda gak salah dengar deh. Kamu tadi beneran nanyain Vina lho! iya kan Yah? menoleh ke arah Bimo,meminta dukukungan.
"Iya Riz, Bunda kamu benar. Ada apa nyariin Vina? buru -buru turun dari atas,sampai-sampai kamu gak mandi? "tanya Bimo.
"Nggak ada Yah, ngapain aku nanyain si pengacau itu? kurang kerjaan banget. Udah ah ! Aariz mau keatas dulu. Aariz mau mandi." Aariz berbalik hendak kembali ke kamarnya untuk menghindari pertanyaan -pertanyaan kedua orangtuanya.
"Eh, nak Vina ..., tumben sayang datangnya jam segini. " ucap Tiara seraya menarik ekor matanya,melirik ke arah Aariz, untuk melihat reaksi putranya itu.
Aariz sontak memutar badannya, dan menatap ke arah pintu. Tapi dia sama sekali tidak menemukan siapa pun di sana.
" Nah, hayo, mau nyariin siapa Riz? " ledek Tiara sambil menaik turunkan kedua alisnya.
"Bunda ihh, rese !" Aariz berlari ke atas meninggalkan kedua orangtuanya yang kini sedang tertawa terbahak-bahak.
"Dasar keturunan Bimo! gengsi aja digedein! Giliran hilang dicariin." Ucap Tiara sambil mengerucutkan bibirnya.
Bimo terkekeh mendengar sindiran istrinya,lalu mengecup bibir Tiara yang mengerucut itu dengan gemas.
*******
__ADS_1
Udah hampir seminggu sejak Insiden antara Aariz dan Vina terjadi. Hampir seminggu juga Vina tidak pernah berkunjung lagi ke kediaman keluarga Bimo. Ada rasa hampa dan kehilangan yang dirasakan oleh Aariz. Hari-hari Aariz yang biasanya diisi dengan gangguan-ganguan Vina, kini tidak ada lagi. Tapi, Aariz merasa kalau perasaanya hanya karena merasa bersalah saja ,bukan karena ada hal lain.
"Kok Vina udah hampir seminggu ini gak main ke rumah ya bun? " Tanya Lea, penasaran di saat mereka sedang berkumpul di ruang keluarga, karena kebetulan hari ini hari weekend.
Mendengar ucapan Lea, Aariz pura-pura cuek, sambil asyik memainkan ponselnya. Padahal dia memasang telinganya baik-baik,karena dia benar merasa penasaran juga, kenapa gadis itu tak kunjung datang.
Tiara menghela nafasnya mendengar pertanyaan putrinya itu.
"Bunda juga gak tahu sayang! Kali aja dia udah capek buat ngejar kakakmu atau mungkin dja sudah menemukan laki-laki yang lain yang sayang dan gak jutek sama dia " ujar Tiara sambil melirik ke arah Aariz yang terlihat mulai belingsatan mendengar ucapan Bundanya.
" Kenapa kamu tidak tanyakan sendiri dek? emang kalian tidak ketemu di kampus? " Tanya Aarash.
"Nggak kak, aku juga udah tanya Shakila dan Shakira, tapi mereka juga gak tahu.Kami juga bahkan udah hubungi ponselnya, tapi gak pernah aktif "
Tiara menoleh kearah Aariz sambil menyipitkan kedua matanya. Tatapan Tiara seakan penuh selidik. Sehingga membuat Aariz merasa risih.
"Kamu apain Vina Aariz? " Tanya Tiara to the point.Dia yakin kalau tidak datangnya Vina ke rumah mereka pasti karena Aariz. Semua mata kini mengarah ke arah Aariz dengan sorot mata yang mengintimidasi.
"Kok semuanya ngeliatin aku sih? Aku benaran gak ngapa-ngapain dia " Ujar Aariz sedikit kesal.
"Ya udah! Bunda telpon tante Sinta aja deh, entah kenapa feeling Bunda bilang,kalau Aariz yang buat Vina gak kesini lagi. Awas ya kalau kalau kamu penyebab nya Vina gak ke sini lagi! " Ancam Tiara seraya melototkan matanya ke Aariz.
Aaris berdecih dan lanjut memainkan ponselnya, tapi telinganya tetap bekerja untuk fokus mendengar apa yang dikatakan Bundanya yang sedang telfonan dengan tante Sinta.
" Oh ya udah Sin, salam sama ka Dimas ya! Bye. " Tiara meletakkan kembali ponselnya di atas meja setelah Tiara memutuskan panggilannya dengan Sinta.
__ADS_1
"Gimana Bun? " Lea tidak sabar untuk mengetahui keberadaan Vina yang merupakan sahabatnya juga.
"Oh, Vinanya ke Bandung. Sudah seminggu ini kata tante Sinta. Dia ke tempat neneknya di sana. Sekalian Vina mau dijodohin sama Galang. Kebetulan Galang baru pulang dari London." Tiara sedikit melirik ke arah Aariz.
"Vina setuju dijodohkan Bun? Kok bisa? bukannya dia suka sama Ka......" Lea melirik ke arah Aariz yang raut wajahnya sudah berubah dengan nafas yang sedikit memburu.
"Ya seperti yang Bunda bilang tadi. Mungkin Vina sudah lelah,tidak mau ngejar kakak kamu lagi. Kan kamu tahu sendiri, kalau Ka Aariz gak suka sama Vina. Iya kan Riz? " Tiara menoleh ke arah Aariz yang masih saja berpura-pura memainkan ponselnya.Padahal dari tadi game yang dia mainkan sudah game over.
"Ya, pastinya dong Bun! Aariz pasti senang banget sekarang, karena bakal gak ada lagi yang gangguin dia.Lihat aja Bun, sangking senangnya dia, game yang sudah game over pun masih di usahakan buat dimainkan " seulas senyuman yang meledek terbit di bibir Aarash.
"Rese lo ah! Aariz melemparkan bantal sofa ke wajah Aarash, yang dibalas dengan ledakan suara tawa semua orang yang ada di ruangan itu.
Aariz berdiri dan beranjak meninggalkan keluarganya untuk kembali ke kamarnya. Dia merasa panas dalam hatinya mendengar perjodohan Vina. Dia sama sekali tidak konsentrasi tadi dalam memainkan gamenya dan bahkan sudah game over saja dia tidak tahu.
"Dasar munafik,baru dibilang Vina dijodohin aja udah galau.Tapi, sok-sok an bilang gak suka lagi.Emang ya, di saat orang yang selalu kita anggap meyebalkan,setelah tidak ada, baru terasa kehilangan dan di saat itulah kita sadar sama perasaan sendiri. "ucap Tiara seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Aarash berdehem merasa tersentil dengan sindiran Bundanya. "Hmmm, Aarash pun naik dulu ya Bun, Yah ". seraya bangkit berdiri dan berlalu meningalkan kedua orang tuanya dan Lea.
" Noh anak-anak mu, sama semua kaya kamu!. dulu Aarash, gak suka sama Laura, eh, giliran udh pergi, ditungguin sampai belasan tahun. Sekarang,si Aariz juga begitu." Tiara berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, disambut kekehan dari Bimo suaminya.
"Tapi emang benar ya yang, kalau si Vina dijodohin? " tanya Bimo penasaran. Bukan cuma Bimo,Lea juga menatap Tiara Bundanya untuk mendapat kepastian kabar yang diucapkan Bundanya itu.
"Nggaklah, Bunda cuma bercanda tadi. Mau lihat reaksi kakak kamu yang gengsi bin munafik itu.Vina ke Bandung karena kangen sama neneknya. Kalau si Galang itu sepupu Vina, yang kebetulan memang baru pulang dari London.
"Ohhh" Bimo dan Lea manggut-manggut, lalu sepersekian detik kemudian tawa mereka langsung pecah memenuhi ruangan itu.
__ADS_1
Tbc
Jangan lupa buat ninggalin jejak gais.Please like, vote dan komen.Thank you