YOU ARE MY DESTINY

YOU ARE MY DESTINY
Hasil Test DNA


__ADS_3

"Kamu tadi malam kemana Rash? kok tiba-tiba menghilang di tengah acara? " tanya Bimo saat mereka berkumpul di ruang keluarga,minus Aariz yang mungkin saat ini masih melanjutkan mencangkul lahan Vina.


"Tadi malam, Laura pingsan,Yah. Jadi, Aarash harus membawanya ke rumah sakit." Sahut Aarash, yang membuat semuanya kaget.


"Kenapa kamu gak ngabarin Bunda sih?" omel Tiara sembari menghunuskan matanya pada Aarash.


"Maaf, Bun!" Aku tidak mau Bunda panik, dan Aariz juga membutuhkan Bunda di sana." Sahut Aarash.


"Jadi, bagaimana sekarang keadaan mu sayang?" tanya Tiara dengan lembut ke arah Laura, yang terlihat tidak bersemangat.


"Laura, baik-baik saja,Bun! " sahut Laura, berusaha untuk tersenyum.


"Kamu kenapa Laura? sepertinya kamu sedang sedih?" Kali ini Bimo yang bertanya.


"Dia tadi malam bertemu dengan laki-laki, yang mirip dengan adiknya Yah! Laura sangat yakin kalau itu adiknya, sampai-sampai dia histeris dan gak sadarkan diri."Sahut Aarash.


"Tapi, aku yakin kalau dia memang adikku Mas." air mata Laura kembali merembes membasahi pipinya.


"Iya, iya dia adikmu! Kamu jangan nangis lagi ya! kasihan anak-anak kita. Kamu dengar sendiri kan apa kata dokter, kalau kamu tidak boleh bersedih lagi, karena itu sangat mempengaruhi kandunganmu Sayang."ucap Aarash dengan lembut seraya membenamkan kepala Laura ke dadanya.


"Adikmu sebenarnya tidak hilang, tapi sengaja dihilangkan!" celetuk Bimo tiba-tiba.


Laura, Aarash dan Tiara sontak menatap Bimo dengan tatapan penuh tanya.


"Apa maksud Ayah?" tanya Laura.


"Setelah kamu mengatakan kalau adik kamu hilang, kami langsung mengerahkan orang buat melakukan pencarian. Dan kami memulainya dengan bertanya pada orang-orang yang tinggal di rumah kalian dulu. Semua dapat kami temukan keberadaannya kecuali supir pribadi, yang mengantarkan kalian jalan-jalan dulu." Bimo berhenti sejenak untuk menarik nafas, kemudian dia kembali menoleh ke arah Laura, yang masih terlihat tidak sabar menanti Bimo untuk melanjutkan ucapannya.


"Kami akhirnya berhasil menemukannya di kampung halamannya. Mula-mula dia mengatakan tidak tahu, tapi setelah kami paksa, dia akhirnya berbicara jujur, kalau dia diancam seseorang untuk tidak memberitahukan pada orangtuamu, siapa yang telah membawa pergi adikmu. Dia diancam, kalau dia sempat buka mulut, keluarganya akan dibunuh." sambung Bimo kembali.


"Apa paman itu, memberitahu siapa dalang yang menculik adikku Yah?"

__ADS_1


"Iya! dia tante kamu Sherly. Dia takut, kalau dengan kehadiran Leon, akan mengancam posisi mereka yang juga tidak memiliki anak laki-laki. Tapi untuk hal ini, Deni Ommu tidak tahu menahu perbuatan istrinya itu. Ini murni perbuatan Sherly."sahut Bimo.


Laura terdiam, tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia tidak menyangka, kalau Sherlylah penyebab semua musibah yang menimpa keluarganya.


"Tapi Maaf, Laura, karena hilangnya adik kamu sudah cukup lama, Ayah dan Om Seno belum bisa menemukan keberadaan adikmu. Tapi kalau kamu benar yakin,kalau yang kamu jumpa tadi malam adalah adikmu, kami akan mencoba menyelidikinya." Bimo kembali melanjutkan ucapannya.


"Tidak usah Yah! tadi malam aku udah melakukan test DNA antara Laura dan pemuda itu." timpal Aarash.


"Tapi bagaimana bisa Mas? kenapa dia bersedia di test DNA, padahal dia selalu menolak mengakuiku kakaknya?" Laura menyipitkan matanya ke arah Aarash.


"Aku tidak memintanya secara langsung, tapi aku minta tolong pada Kirana, pacarnya Dion untuk mengambil rambut Dion.Untungnya dia mau bekerja sama." sahut Aarash.


"Apa dia tidak merasa curiga,Mas?"


"Aku minta tolong pada Kirana saat Dion ke toilet sayang. Dan nanti siang hasilnya akan keluar. Jadi, kamu bersabar ya! dan aku mohon, bagaimana pun hasilnya nanti kamu harus selalu sabar dan ikhlas menerima kalau-kalau dugaanmu tidak benar." Ucap Aarash dengan lembut, sembari memberikan kecupan di puncak kepala laura.


*****


"Kita akan pulang, sampai Papahmu yang rese itu pulang.Dari tadi kata resepsionis, Papah dan Mamah belum check out juga." Sahut Aariz santai.


"Tapi, kita kan bisa pulang sendiri,tanpa Papah tahu Bee?"


"Cih, kamu kira Papah tidak licik? dia memang belum check out, tapi dari sekuriti, aku tahu kalau, Papah masih mengintai kita di bawah, dan aku tidak akan kalah. Kita tunggu saja, siapa yang akan mengalah lebih dulu." Ujar Aariz sembari menyeringai sinis.


Sementara itu, Dimas terlihat blingsatan di bawah sana, dan berkali-kali melihat ke arah lift, jaga-jaga kalau Aariz dan Vina akan keluar dari sana.


Tujuannya sebenarnya hanya ingin melihat apakah putrinya baik-baik saja atau kesakitan. Berlebihan memang, tapi itulah Dimas, karena terlalu sayang pada putrinya itu lah membuat dia jadi begitu.


"Pah, kalau dalam waktu 2 menit, kita tidak beranjak dari tempat ini, tidak ada jatah buatmu selama sebulan." ancam Sinta yang merasa sangat kesal melihat tingkah suaminya yang berlebihan dari tadi malam.


"Kok gitu sih Mah? iya ... iya, kita pulang sekarang!" Dimas terlihat pasrah, dari pada harus berpuasa sebulan. karna jangkan sebulan, seminggu aja dia gak ogah.

__ADS_1


Dengan hati yang terpaksa dan raut wajah yang masam, akhirnya Dimas pun Check out dan meninggalkan hotel, menuju ke rumah.


Setelah Dimas pergi, Resepsionis pun segera menghubungi Aariz dan menginformasikan kalau Dimas sudah pulang.


"Ya udah, kita pulang sekarang Bee! Papah dan Mamah sudah pulang." Aariz tersenyum lebar, merasa menang dari Dimas.


******


Aarash dan Laura serta Bimo dan Tiara, sekarang sudah berada di rumah sakit, guna mengambil hasil test DNA antara Laura dan Dion.


"Bagaiman hasilnya, Dok? tanya Aarash langsung begitu mereka dipersilahkan untuk duduk oleh dokter.


"Hmm, ini, Pak Aarash, anda bisa melihat hasilnya sendiri!" dokter itu menyerahkan sebuah amplop, yang berisi hasil test DNA itu.


Aarash menerima amplop itu, dan menyerahkannya ke tangan Laura. Dia sengaja, agar Laura melihat sendiri hasil testnya.


Laura meraih amplop itu dengan tangan gemetar. Lalu dia membuka amplop itu dengan perlahan dan jantung yang berdebar-debar. Laura menutup matanya sejenak, saat dia berhasil membuka lipatan kertas hasil test DNA itu.Lalu dia membuka matanya perlahan-lahan dan seketika, pipinya langsung basah oleh cairan bening yang sudah merembes dari kedua matanya.


"Dia benar-benar adikku, Mas. Kan aku sudah bilang, kalau dia benar-benar adiku. Lihat ini Mas, hasilnya positif!" tangis Laura semakin pecah sambil memeluk suaminya itu.


Tiara langsung menghambur, menghampiri Laura dan Aarash yang baru saja keluar dari ruangan dokter.


"Bagaimana hasilnya Sayang? positif atau bagaimana?" cecar Tiara tidak sabar.


"Iya, Bun! hasilnya positif, dia benar-benar adikku Bun." sahut Laura, yang langsung mendapat pelukan dari Tiara.


"Hmm, kita harus segera menemuinya Rash! tapi bagaimana? kita kan belum tahu alamatnya?" celetuk Bimo.


"Tenang aja Yah, tadi malam aku juga sudah meminta alamatnya dari Kinara. Kita kesana aja sekarang!"


Tbc

__ADS_1


jangan lupa dukungan berupa like, vote dan komennya ya gais. Thank you😍😍


__ADS_2