YOU ARE MY DESTINY

YOU ARE MY DESTINY
Sana, balik ke hotel!


__ADS_3

"Terima kasih, Kin, kamu sudah mau membelaku di depan Dewa, " ucap Dion,sambil menepis tanga Kinara yang masih menggenggam tangannya.


"Tapi, tidak harus dengan cara seperti ini kamu membalas sikap Dewa padamu selama ini.Itu sama saja kamu lagi mempermainkan perasaanku," Sambung Dion meneruskan ucapanya.


Kinara, terhenyak dengan ucapan Dion, yang seakan-akan mengganggap ucapannya tidak benar sama sekali.


"Tapi, aku beneran serius Yon dengan ucapanku! aku tidak main-main.Aku memang sudah menyukaimu." Kinara berucap sembari menundukkan wajahnya dan meremas-remas kedua tangannya.


Dion, terkesiap mendengar ungkapan Kinara.Hatinya sangat bahagia karena rasa cintanya kini sudah berbalas. Tapi, rasa bahagia itu, tidak berlangsung lama. Dion langsung merasa insecure dengan perbedaan status sosial diantara dirinya dan Kinara.


"Jujur aku senang mendengar kalau kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku, Kin. Tapi kamu juga tahu, kita ini berbeda. Benar kata Dewa, kalau aku hanya beruntung saja, bisa kuliah di London, karena bea siswa, dan bahkan aku harus bekerja part time untuk tambahan biaya hidup di negara ini." ujar Dion dengan nada lesu.


"Kok kamu jadi pesimis begini sih Yon? Mana Dion yang aku kenal selama ini, yang selalu optimis dalam segala hal." cetus Kinara sedikit kesal.


"Aku,tidak pesimis. Tapi aku berbicara fakta Kin, aku tidak mau nanti kamu kecewa, karena aku tidak bisa membelikan kamu barang-barang yang kamu mau!"


"Dan kamu kira aku orang yang seperti itu? Aku menyukaimu karena pribadimu, bukan karena hartamu.Dan aku sangat percaya,kalau kamu akan sukses suatu saat.Kamu harus membuktikan pada semua orang yang kamu bisa Yon." tukas Kinara memberikan semangat buat laki-laki yang telah berhasil mencuri hatinya itu.


Dion tersenyum, dan meraih Kinara ke dalam pelukannya. "Terima kasih Kin, karena sudah mau percaya padaku.Aku akan berjuang untuk bisa sukses suatu saat." ucap Dion tegas, dan kembali memeluk Kinara dengan erat.


"Jadi, sekarang kalian berdua, jadian nih? " celetuk Dina yang dari tadi bersama Rendy diam saja menonton video live antara Dion dan Kinara.


"Eh, kalian masih ada di sini?" bukannya menjawab pertanyaan Dina, kedua orang itu, baru menyadari keberadaan Rendy dan Dina yang ternyata masih ada di ruangan itu.


"Ya, masihlah! Kamu gimana sih? Dina terlihat mencebikan bibirnya. " Atau jangan-jangan kamu ingin aku sama Rendy keluar dari sini? " sambungnya lagi sambil tetap mencebikkan bibirnya.


Dion dan Kinara cengengesan mendengar celetukan Dina." Em, gak juga sih!" ujar Dion cengengesan, sembari mengajak Kinara untuk kembali duduk.


********

__ADS_1


"Om, besok akan langsung pulang ke Indonsia, dan kamu Aariz ..., kamu harus ikut Om pulang!" ucap Dimas setelah mereka kembali ke apartemen Galang.


"Aku akan pulang, kalau Vina juga ikut Pah! " ujar Aariz tegas.


"Hei, bukannya aku bilang agar kamu berhenti panggil aku Papah? Kamu belum jadi menantuku, jadi kamu harus panggil aku Om lagi!" tegas Dimas sembari menghunuskan tatapannya.


"Kan calon,Pah. Jadi, mulai sekarang aku mau membiasakan diri memanggil papah.Dari pada aku panggil Dimas aja, gimana coba?" Aariz sama sekali tidak merasa takut akan tatapan Dimas.


"Emang siapa yang sudah merestui kamu, jadi menantuku? "


"Aku yakin kalau papah pasti merestuinya, karena Papah menginginkan Kebahagiaan Vina, dan Papah pasti tahu, kalau kebahagiaan Vina itu ada bersamaku," ujar Aariz dengan penuh keyakinan


"Kamu ya, benar-benar keturunan Bimo! Papah jadi pusing. Eh, Om maksudnya! " Dimas meralat ucapannya.


"Cie, cie, si Papah keceplosan.Bilang aja Papah benar-benar berharap aku jadi menantunya." ucap Aariz tersenyum meledek.


"Jangan kepedean kamu! " Dimas menggeplak kepala Aariz.


"Pokoknya, kamu harus ikut Om pulang! Vina biarakan di sini sampai kuliahnya selesai! "


"Aariz tidak mau Pah, sebelum Vina juga ikut pulang. Aku tidak mau kejadian serupa terjadi lagi. Papah sudah membebaskan si brengsek itu, jadi, bagaimanapun caranya, aku harus membawa Vina ikut kembali ke Indonesia." Aariz berucap tidak kalah tegas dengan Dimas.


"Kalau untuk hal itu, kamu tidak usah khawatir.Karena Dewa sudah di keluarkan dari kampus dan harus kembali ke Indonesia, serta dilarang masuk ke London selama 3 tahun. Jadi, kamu tidak punya alasan lagi untuk menolak pulang bersama om."


"Pah, Aariz mohon izinkan aku membawa Vina pulang ke Indonesia juga ya!" Aariz menatap Dimas dengan wajah yang memelas.


"Aariz, Vina itu harus menyelesaikan kuliahnya sampai selesai. Pendidikan itu sangat penting, aku tidak mau, kalau dia menikah nanti, dia tidak akan bisa menyelesaikan pendidikannya." Dimas kali ini berbicara dengan lembut, berusaha memberi pengertian buat Aariz.


"Pah, aku benar-benar ingin menikahi putrimu secepatnya.Aku berjanji, kalau kuliah Vina akan tetap berlanjut, walaupun dia sudah menjadi istriku nanti.Yang penting kuliahnya tetap di Indonesia." Aariz kembali menampakkan wajah memelasnya di depan Dimas.

__ADS_1


Dimas menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya kembali.Dia mengalihkan tatapannya ke arah putrinya. "Vin, gimana apa kamu masih mau stay di sini atau ikut pulang ke Indonesia?" tanya Dimas, berharap Vina memberikan jawaban untuk tetap melanjutkan kuliahnya di London.


"Aku mau ikut pulang ke Indonesia,Pah!" sahut Vina dengan cepat tanpa berpikir ulang lagi.


"Segitu senangnya kamu langsung memberikan keputusan! Kamu tidak bisa ya jual mahal dikit?" Dimas berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


Vina hanya nyengir dan cengengesan mendengar ucapan Papahnya.


" Ya udah, kamu ikut pulang besok sore!" ucap Dimas akhirnya. Lalu dia menoleh ke arah Aariz. Ayah dan bundamu juga mungkin ada sesuatu yang harus dibicarakan dengan mu." sambung Dimas.


"Oh ya Riz,Kamu yang ngurus semua kepindahan Vina kembali ke Indonesia besok pagi! Papah udah banyak menghabiskan banyak biaya untuk kepindahan Vina dulu." Dimas berdiri dan beranjak meninggalkan kedua orang yang sedang di mabuk cinta itu.


"Asiap, Pah!"seru Aariz dengan wajah yang berbinar-binar


Dimas kembali memutar badannya, dan mengunuskan tatapannya ke arah dua insan yang sekarang sedang bahagia itu.


"Hei, kalian berdua jangan macam-macam dulu! dan kamu Aariz ..., kamu pulang ke hotel sekarang! karena tidak ada tempat buatmu untuk tidur di sini."


"Galang aja Pah yang tidur di hotel, biarain Aariz di sini aja." celetuk Aariz.


"Ogah! Kamu aja yang pulang ke hotel." sahut Galang tidak terima.


"Gini aja deh Pah, Papah sama Galang tidur di kamar Galang, aku tidur di kamar Vina! ide bagus kan?"


"Ide bagus dengkulmu! sana balik ke hotel!" Dimas menarik tangan Aariz dan menyeretnya keluar dari apartemen Galang


Tbc


Please like, vote dan komen ya gais. Thank you

__ADS_1


__ADS_2