YOU ARE MY DESTINY

YOU ARE MY DESTINY
Makan Malam dengan keluarga Hartono( YAMD 2 )


__ADS_3

Aarash mengemudikan mobilnya dengan perlahan, membelah jalanan Jakarta yang mulai padat merayap.Pikirannya kini sangat kacau, karena dari tadi bayangan Ayu selalu singgah di benaknya. Entah kenapa wajah Ayu seperti tidak asing baginya. Dia merasa kalau dia seperti pernah bertemu dengan Ayu sebelumnya. Tapi dia lupa ntah kapan dan dimana dia pernah melihat Ayu.


" Mungkin ini hanya perasaan ku saja ! " batin Aarash sambil manggut-manggut.


Satu jam kemudian dia sudah sampai di salah satu perusahaan yang kini dipimpinnya.Sedangkan Aariz, dia menghandle perusahaan ayahnya, dibagian perhotelan.


Sama seperti Bimo-ayahnya, Rio masih tetap menjadi asisten pribadi Aarash.Pria setengah baya berusia 49 tahun itu, tetap terlihat cekatan , dalam melaksanakan tugas-tugasnya.


" Om Rio, hari ini aku harus pulang dengan cepat, karena kebetulan ada acara keluarga. Om Rio bisa tidak mewakili ku untuk acara pernikahan putri Tuan Gunawan nanti malam? " tanya Aarash.


"Baik, Pak Aarash! " Jawab Rio .


"Terima kasih Om. "


*******


Jam 5 sore, mobil yang dikemudikan Aarash sudah terlihat memasuki pekarangan rumah besar milik Bimo. Dari dalam mobil kedua netra Aarash tidak berkedip memperhatikan Ayu yang sedang menyiram tanaman. Dia menyenderkan punggungnya di sandaran kursi mobilnya tanpa melepaskan pandangannya dari Ayu. Pikirannya selalu berkata kalau wajah Ayu itu sangat familiar.


" Kenapa tuan Aarash dari tadi tidak turun-turun ya? " batin Ayu, salah tingkah.


Hampir 15 menit Aarash berada di dalam mobil. Dia tersadar ketika dia tidak melihat keberadaan Ayu lagi. Aarash turun dari dalam mobil, lalu mengayunkan langkahnya untuk masuk kedalam rumah, sambil menyampirkan jasnya di lengan kirinya, sedangkan tangan kanannya menenteng tas kerjanya.


Dari balik tembok sepasang mata milik Ayu, memperhatikan setiap gerak tubuh Aarash, dengan pandangan yang menyimpan kekaguman.


"Hei, kamu lagi liatian apa Yu? " tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya, sehingga Ayu terjengkit kaget.


"Eh, Bi Asih ! Ayu tidak lihat siapa-siapa bi." bantah Ayu gugup.


"Kamu jangan bohong Yu! bibi tahu, kamu lagi mandangin tuan Aarash kan?" kamu gak boleh berharap terlalu tinggi ya Yu! posisi mereka bagaikan langit dan bumi dengan kita.Lagian kamu dengar sendiri kan kalau Tuan muda Aarash sudah punya calon istri? " Bi Asih menasehati Ayu agar sadar diri.


"Iya, Bi, Ayu ngerti kok ! " sahut Ayu menundukkan kepalanya.


"Ya udah yuk! bantu ibu Tiara buat nyiapin makanan untuk nanti malam " Bi Asih beranjak dari tempat itu, disusul oleh Ayu dari belakang.


Bulan, kini sudah menyapa alam semesta, menggatikan tugas Mentari yang sudah kembali keperaduannya satu jam yang lalu.Sebuah mobil mewah berwarna putih,tampak memasuki area rumah Bimo. Dari dalam mobil tampak keluar sepasang paruh baya bersama seorang gadis muda yang cantik.

__ADS_1


Bimo dan Tiara tampak sudah berdiri menyambut tamu mereka di depan pintu dengan seulas senyuman yang tidak pernah tanggal dari bibir mereka.


" Selamat malam Pak Bimo, Ibu Tiara " sapa pria setengah baya yang selalu dipanggil dengan Pak Deni, sambil menjabat tangan Bimo dan Tiara, disusul Sherly istrinya lalu putri cantik mereka.


" Selamat malam Pak Deny dan Ibu Sherly. Mari masuk, kita langsung aja ya menuju meja makan! Ucap Bimo mempersilahkan tamunya untuk masuk.


Sherly dan putrinya berjalan di belakang Tiara sambil memandang kagum rumah mewah keluarga Bimo itu.Mereka tidak menyangka, kalau Bimo, meminta sendiri putri mereka, untuk menjadi menantu keluarga terkaya di Asia ini.


"Silahkan duduk Jeng, Nak. Sebentar lagi putra kami Aarash akan turun. pasti gadis cantik ini tidak sabar untuk bertemu pangeran berkuda nya kan? " goda Tiara, yang sontak membuat pipi gadis itu merona.


Aarash terlihat buru-buru menuruni tangga, dia tidak sabar untuk melihat wajah Laura setelah hampir 18 tahun terpisah.


"Nah tuh dia sudah turun " ucap Tiara menunjuk ke arah putranya Aarash.


Kedua netra gadis itu, membulat sempurna dengan mulut sedikit terbuka,terpukau melihat kegagahan Aarash. Dia langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Dia merasa tidak menyesal memutuskan kekasihnya tadi pagi.


Dengan tidak tahu malu, gadis itu langsung menghampiri Aarash, yang merasa aneh melihat sosok yang didepannya.


"Jadi kamu yang dijodohkan dengan aku? Kalau ini sih aku tidak akan nolak Pah, Mah ! " ucap gadis itu, yang sekejab berubah dari yang tadinya anggun menjadi barbar mengarah ke centil.


Deni dan Sherly sontak menghunuskan matanya kearah putri mereka, yang tidak menampakkan sisi keanggunan sebagai seorang gadis. Tapi, gadis itu tidak perduli sama sekali. Dia menarik tangan Aarash untuk duduk di sampingnya.


" Cindy... gak boleh begitu sayang! " ucap Sherly lembut sambil mendelik kearah putrinya yang ternyata bernama Cindy itu.


" Cindy? " Aarash mengrenyitkan keningnya, menoleh ke arah Bimo ayahnya untuk meminta penjelasan, yang dibalas Bimo dengan mengangkat bahunya sebagai tanda kalau kini dia juga tengah bingung.


" Maaf, Pak Deni, apakah anda hanya memiliki satu anak perempuan " tanya Bimo hati-hati.


" Iya Pak Bimo, Cindy ini putri kami satu-satunya.Tapi kenapa Pak Bimo menanyakan soal itu ya? "tanya Deni balik.


" Hmmm, maaf Pak Deni, tolong jangan tersinggung. Anak kami Aarash sebenarnya ingin melamar Laura Chantika Hartono.Apakah Laura bukan putri Pak Deny ? "


Raut wajah ketiga orang itu langsung berubah kecut begitu mendengar Bimo menyebut nama Laura.


" Laura itu Kakak sepupu ku Om! dan dia sudah mati! ngapain nanya-nanya orang yang sudah mati? mending yang masih hidup om. " celetuk Cindy, yang sudah terlihat sisi aslinya, yang sama sekali tidak memiliki tata krama.

__ADS_1


Aarash geram, mendengar Cindy mengatakan kata mati kepada Laura seperti mengganggap kalau Laura itu bukan manusia. Dia menarik nafasnya dalam-dalam untuk meredam emosinya.


" Benar Pak Bimo, Laura itu keponakan ku, putri dari kakak ku Adrian Hartono. Dia itu sebenarnya bukan gadis baik-baik. Laura mengalami kecelakaan bersama kakak dan kakak iparku. Mobil mereka jatuh kedalam jurang yang sangat dalam " ucap Deny dengan raut wajah sedih. Tapi Bimo dan Aarash bisa melihat kalau kesedihan yang ditampilkan oleh Deni dan Sherly itu hanya pura-pura.


"Apakah Om bisa menunjukkan makam Laura? aku mau kesana untuk menziarahi dan mengirim doa untuknya. Karena jujur aku tidak percaya kalau Laura bukan gadis baik-baik seperti yang Om katakan" Aarash menegaskan dengan penuh keyakinan.


Cindy mencebikkan bibirnya,kesal mendengar Aarash memuji Laura.


" Kenapa sih selalu Laura, laura dari dulu. Aku kan tidak kalah cantik dari si ja**la**ng itu. " umpat cindy dalam hati.


" Untuk makam kakak dan istrinya aku bisa menunjukkan, tapi untuk makam Laura tidak bisa, karena kami tidak berhasil menemukan mayatnya! bisa jadi dia sudah membusuk atau dimakan oleh ular. " sahut Sherly dengan santai, tanpa merasa sedih sedikitpun. Sehingga menimbulkan kecurigaan pada Aarash.


" Udah.. udah kita makan dulu. nanti makanannya keburu dingin." Tiara berucap untuk meredakan suasana yang mulai panas.


" Bi Asih, tolong panggilkan Ayu, untuk menyajikan sop buntut buatannya! " perintah Tiara.


"Baik bu! Bi Asih melangkah untuk memangil Ayu kebelakang.


Tidak lama kemudian Ayu muncul dengan panci panas di kedua tangannya.


" Ini sopnya, Bu! " ucap Ayu sopan.


Ketiga tamu itu sontak mendongkakkan kepalanya begitu mendengar suara yang sangat familiar di telinga mereka. Raut wajah ketiganya berubah pucat melihat sosok yang ada di hadapan mereka.Sendok di tangan mereka terlepas dari tangan dan jatuh kelantai hingga menimbulkan bunyi ting.


"Laura! " ucap mereka bersamaan dalam hati.


Tbc


Jangan lupa ritualnya gais.Sambil menunggu novel ini up, silahkan mampir juga ke karya ku yang lain. Cinta terhalang janji. Tidak kalah seru dengan novel ini lho.😀😀


readers: emang novel mu ini seru Thor?🙄🙄


Author : Eh, gak seru ya? bilang seru aja lah ya.


buat senang hati orang itu, pahalanya besar lho😁😁

__ADS_1


Readers: Iya aja deh !🙄🙄


Author : Macih🤗


__ADS_2