YOU ARE MY DESTINY

YOU ARE MY DESTINY
Dia adikku.


__ADS_3

"Ini siapa sih?" ucap Kirana dengan kesal saat kedua matanya ditutup oleh seseorang dari belakang.


"Surprise! " ujar Dion sembari menyunggingkan seulas senyuman di bibirnya.


"Dion!" pekik Kirana sembari memeluk orang yang ada dipikirannya dari tadi.


"Kok kamu bisa ada di sini? Kapan kamu pulang dari sana?" tanya Kirana beruntunndengan ekspresi wajah yang berubah drastis.


" Iya Sob, kok kamu bisa ada di sini?" Kali ini Rendi yang bertanya.


"Dia dapat bonus besar dari pemilik Cafe dan sekalian tiket pulang juga." Bukannya Dion yang menjawab, justru Galang yang menjawab dengan santainya.


"Hah?! Kamu kok bisa tahu Lang? dan aku kok tidak dikasih tahu?" Kirana mencebikkan bibirnya.


" Aku sengaja Beb! Karena aku tahu kalau kamu bakal membatalkan tiket kepulanganmu dan memilih menungguku agar kita bisa berangkat bersama. Kan mubajir nanti tiketnya." sahut Dion sembari menggenggam kedua tangan Kirana, lalu mengecupnya dengan mesra.


Rendi sangat jengah melihat pemandangan Di depannya. Sedangkan Galang, fokus memperhatikan seorang gadis cantik dan imut, yang sedang tertawa terbahak-bahak dengan dua orang teman perempuan yang sepertinya kembar dan seorang laki-laki.


Wajah Galang memerah karena merasakan cemburu, saat melihat laki-laki itu, mengacak-acak rambut gadis imut itu dengan mesra. Ingin dia menghampiri gadis itu dan menjauhkan tangan laki-laki itu dari gadisnya itu. Tapi, rasanya itu tidak mungkin, karena dia tahu kalau gadis itu adalah Azalea, putri dari Bimo Putra Aryaguna.


Memang Galang termasuk orang berada, tapi keluarganya tidak sekaya keluarga Bimo. Sedangkan laki-laki yang sekarang sedang duduk bersama Lea itu, sepertinya sederajat dengan Lea.


Galang memalingkan wajahnya, berusaha untuk tidak melihat ke arah meja Lea. Tanpa dia sadari, saat dia memalingkan wajahnya, Lea justru menatap ke arahnya.


"Aku mau ke toilet dulu!" ucap Kirana sembari berdiri.


"Biar aku temani kamu!" Dion juga berdiri dan menggandeng tangan Kirana, berjalan menuju kamar mandi.


"Kamu masuk aja Beb! aku tunggu kamu di sini." ucap Dion.


Kirana masuk kedalam kamar mandi dan mendapati seorang wanita yang terlihat muntah-muntah di westafel kamar mandi itu.

__ADS_1


"Anda tidak apa-apa Mba?" tanya Kirana yang merasa kasihan melihat wajah wanita itu yang pucat sambil memberikan pijatan di punggung wanita itu.


"Aku tidak apa-apa Mba. cuma mual aja." sahut wanita itu seraya menerbitkan senyumannya.


"Apa Mba sedang hamil?" tanya Kirana seraya memperhatikan perut wanita itu yang sedikit membuncit.


"Iya! ini kehamilan pertamaku." sahut wanita itu, tanpa menanggalkan senyuman dari bibirnya.


"Hemm, kalau begitu aku pamit keluar ya Mba! soalnya suamiku pasti sudah kecarian." ujar wanita itu, dan segera beranjak keluar, setelah Kirana menganggukkan kepalanya.


Kirana menatap kepergian wanita itu, dengan perasaan kagum. " Hmm, wanita yang sangat cantik dan elegan.Aku yakin, kalau dia pasti bukan orang biasa." batin Kirana.


Sementara itu, di luar, tengah terjadi, adu mulut dua orang laki-laki. "Kamu di sini mau ngintip kan? hayo ngaku?!" bentak seorang laki-laki yang terlihat lebih dewasa dari laki-laki yang satu lagi sembari mencengkram kerah baju laki-laki itu.


"Bukan, Tuan! aku kesini lagi nungguin kekasihku yang baru masuk ke dalam." sahut laki-laki yang lebih muda, yang mengetahui kalau laki-laki yang sedang menuduhnya hendak mengintip adalah saudara kembar, suami Vina.


"Jangan bohong kamu!"


"Ada apa sih, Mas, kok ribut-ribut?" Laura menarik tubuh suaminya agar menjauh dari tubuh laki-laki muda itu.


"Aku, yakin dia kesini pasti mau ngintip sayang." Aarash masih tetap menuduh.


"Itu tidak benar, Nona! aku lagi nungguin pacarku, yang baru masuk ke dalam.Mungkin anda juga melihatnya." bantah laki-laki muda itu, yang ternyata adalah Dion sambil membenarkan kerah kemejanya kembali.


Laura tidak menjawab sama sekali. Dia justru terpaku, tidak bergeming ketika menatap wajah Dion. Ada perasaan ingin menangis, ingin memeluk, semuanya bercampur jadi satu.


"Sayang, kenapa kamu menatapnya seperti itu?" Aarash menarik Laura kepelukannya.Sifat posesif yang diturunkan Bimo kini bereaksi.


Laura berusaha melerai pelukan Aarash dan kembali menatap Dion, yang juga tengah menatapnya. Tanpa Dion sadari, dan tanpa sempat mengelak, Laura kini sudah menghambur memeluk Dion.


"Kamu adikku ..., kamu adikku! aku yakin itu! Aku yakin kalau kamu masih hidup." air mata kini sudah membanjiri pipi Laura. Sedangkan Dion tidak bergeming sama sekali.Tapi jauh di lubuk hatinya, dia seperti terdorong untuk membalas pelukan Laura.

__ADS_1


Aarash kembali menarik tubuh Laura. Kecemburuan kini sudah menguasai hatinya.


"Kamu apaan sih yang? ngapain kamu meluk-meluk dia?"


"Dia adikku, Mas ..., dia Leon adikku! aku yakin itu." Laura kembali berusaha melepaskan dirinya dari pelukan suaminya. Sedangkan Aarash tidak bergeming dan menatap Dion dengan intens.Dia memang melihat kalau ada kemiripan antara istrinya dan pemuda itu.


" Maaf Nona, anda salah! aku bukan Leon adikmu. Namaku Dion bukan Leon! tegas Dion.


"T-tidak, k- kamu itu adikku! lihat ini Papah dan mamah kita. Papah mirip kamu kan?" Laura menunjukkan photo orang tuanya yang ada di ponselnya. " D-dan kamu lihat, kamu bahkan punya tanda lahir di lehermu, itu sama persis dengan yang Leon punya." Laura menangkup pipi Dion dan menatap orang yang dia yakini adiknya dengan penuh kerinduan. Bahkan wajah Laura kini juga sudah banjir dengan air mata.


Dion tidak bergeming sama sekali, antara percaya dan tidak percaya. "Maaf, Nona mungkin itu hanya kebetulan saja.Karena jujur, aku punya Mamah dan Papah kandung. Dan mereka bukan yang anda tunjukkan itu." Dion menurunkan tangan Laura dari pipinya dengan perlahan. Lalu dia menoleh ke samping, melihat Kinara yang dari tadi ternyata sudah keluar dari dalam toilet dan melihat semua yang terjadi.


" Maaf Nona, Tuan, kami harus pergi sekarang. Ayo, Beb kita kembali ke dalam!" Dion meraih tangan Kinara dan melangkah meninggalkan Aarash dan Laura yang masih sesunggukan menangis.


"Kejar dia Mas ..., kejarr! dia adikku!" Pekik Laura, sembari memberontak dari Aarash yang memeluknya sangat erat.


"Sayang, tenang ..., tolong tenang! kamu gak boleh begini, ingat anak kita!" ucap Aarash berusaha menenangkan Laura.


"Dia adikku ... dia adikku." Suara Laura semakin melemah, dan dia pun tersungkur tidak sadarkan diri.Beruntung Aarash langsung menahan tubuh Laura.


" Sayang, bangun sayang!" Aarash menepuk-nepuk pipi Laura. Dion yang ternyata belum pergi jauh, dan masih menyender di balik tembok, entah dorongan darimana refleks berlari kembali, dengan wajah yang panik, begitu mendengar teriakan Aarash.


"Apa yang terjadi Tuan?" tanya Dion khawatir.


"Nanti saja kita bicara! Aku harus bawa istriku ke rumah sakit dulu! ucap Aarash sembari mengangkat tubuh istrinya dan sedikit berlari membawa Laura menuju rumah sakit.


"Kita ikuti mereka Beb!" ujar Dion sembari menarik tangan Kinara.


Tbc


Jangan lupa buat, like vote dan komen. Thank you

__ADS_1


__ADS_2