YOU ARE MY DESTINY

YOU ARE MY DESTINY
Jangan paksa aku untuk mengikhlaskan kamu


__ADS_3

Setelah bertanya kepada resepsionis,dimana ruangan Dimas dirawat.Sinta kini berdiri di depan pintu sebuah ruangan di mana Dimas sedang dirawat.Ada keraguan di dalam hatinya untuk masuk,menemui Dimas.Tangannya sudah memegang knop pintu,siap untuk membuka, tapi hatinya berat untuk melakukannya.


"Maaf, kamu siapa nak? Kamu temannya Dimas ya?" Tiba-tiba ada suara seorang wanita di belakang Sinta.


Sinta perlahan menoleh ke belakang,untuk melihat siapa wanita yang tengah mengajaknya berbicara itu. Sinta sedikit kaget melihat seorang wanita setengah baya sedang memandanginya dengan sorot mata penuh tanya, bersama seorang pria setengah baya.


" Emm, i- iya bu! Sa-saya Sinta temannya Dimas! " Sinta meremas kedua tangannya, dan menggigit bibirnya, pertanda kalau saat ini dia sedang gugup.


"Kenapa kamu gak langsung masuk aja nak? kok berdiri aja di depan pintu?"


"Sa-saya takut mengganggu istirahat ka Dimas bu"


"Panggil saya tante dan suami saya ini om.Kami orang tua Dimas nak" ucap wanita itu yang ternyata, papah dan mamah Dimas.


Perasaan Sinta kini semakin tidak karuan karena tertangkap basah oleh orangtua Dimas,ketika dia tengah mengintip ke dalam ruangan Dimas.


"Ayo nak, kita masuk sama-sama" mamahnya Dimas membuka pintu lebar-lebar dan melangkah masuk bersama papahnya Dimas.


Kaki Sinta terasa berat untuk melangkah masuk ke dalam ruangan itu.Sampai dia sedikit tercekat,ketika mamahnya Dimas kembali memanggilnya dari dalam ruangan.


"Nak, kok masih di luar? mari masuk sini!"


"Siapa mah?Dimas menoleh ke arah pintu,untuk melihat siapa orang yang sedang dipanggil oleh mamahnya.Matanya seketika membulat dengan sempurna.Dadanya seketika bergemuruh dan berdisko ria,melihat gadis yang sangat dirindukannya, berdiri di depan pintu,tersenyum kaku ke arahnya.


"Si-sinta!" Gumam Dimas sangat pelan seperti berbisik,tapi masih bisa didengar oleh orangtuanya, yang terlihat saling pandang melihat interaksi antara Dimas dan Sinta. Seketika kedua orangtua Dimas bisa menarik kesimpulan kalau putra mereka punya rasa lebih terhadap gadis yang baru saja mereka jumpai itu.


"H-hai Dim, udah baikan belum? "Sinta terlihat berusaha untuk mengendalikan hatinya untuk mencairkan suasana kaku yang tercipta di antara mereka.


" Ya, seperti yang kamu lihat Sin! aku masih sedikit lemas." ucap Dimas dengan jantung yang berdetak dua kali lipat dari detak jantung yang normal.Dimas merasa senang dengan kehadiran Sinta yang tiba-tiba.Tapi dia berusaha untuk bersikap biasa saja di depan Sinta.


"Maaf pak, ibu, waktunya pasien makan malam.Dan kami harap ,pak Dimas untuk menghabiskan makanannya.Karena tadi siang pak Dimas tidak makan sama sekali" Seorang perawat tiba-tiba masuk,membawa semangkok bubur dan segelas air di atas nampan dan meletakkan di atas nakas dekat kasur Dimas.

__ADS_1


"Baik sus,terima kasih" mamahnya Dimas menyahuti perawat itu.


"Baiklah! saya permisi dulu bu,pak, pak Dimas, nona." perawat itu melangkah keluar setelah dipersilahkan oleh mamahnya Dimas dan disusul anggukan kepala dari yang lainnya.


"Nak Sinta,tante minta tolong kamu suapin Dimas makanannya ya!.Kalau nggak, dia bakal gak mau makan nanti.Yang ada gak bakal sembuh-sembuh.Soalnya tante sama om, ada hal penting yang mau di kerjakan." mamahnya Dimas,mengedipkan sebelah matanya ke arah suaminya,sebagai kode untuk memberikan waktu buat Dimas dan Sinta untuk berdua.


"I-iya tan, "


"Ya udah, kami pulang dulu ya nak, cepat sembuh" Mamah Dimas mengelus kepala Dimas lembut.Lalu menoleh kearah Sinta yang terlihat masih canggung.


"Terima kasih ya nak Sinta! Kami nitip Dimas.Ayo pah" Mamahnya Dimas, menggandeng tangan suaminya, lalu melangkah keluar meninggalkan Dimas dan Tiara.


Sepeninggal orangtua Dimas, situasi canggung semakin terlihat antara Dimas dan Sinta.


Dengan tangan sedikit gemetar,Sinta meraih mangkok bubur dari nakas untuk menyuapi Dimas makan.


"Gak pa-pa Sin, biar aku sendiri aja! Kamu bisa pulang sekarang!"


Dimas mendesah, berusaha untuk tidak melihat wajah Sinta yang terlihat kecewa.Dia tidak mau, pertahanannya runtuh,untuk memeluk Sinta kalau nanti dia lama-lama memandang wajah Sinta.


"Bukan nya gak nyaman Sin,cuma aku gak mau nyusahin kamu.Dan aku tidak mau nantinya ada yang salah paham sama ku!"


mendengar ucapan Dimas, Ada rasa sakit yang amat sangat yang menusuk jantungnya.Sinta merasa kalau Dimas sedang khawatir kalau nanti kekasihnya bakal salah paham dengan kehadirannya.


"Oh begitu ya?" Ya udah kalau gitu aku pamit pulang saja! Aku tidak mau nanti kekasih mu,jadi salah paham sama aku" Sinta meletakkan kembali bubur Dimas ke atas nakas, berdiri dan memutar badannya perlahan, hendak melangkahkan kakinya.Tapi sebelum Sinta melangkahkan kakinya,tangan besar Dimas spontan menahan tangan Sinta.


"Jangan pergi Sin! Aku butuh kamu di sini"


Sinta kembali memutar badannya kembali menghadap Dimas yang memandang Sinta dengan tatapan sendu.


Sinta mendaratkan tubuhnya untuk duduk kembali,di kursi dekat kasur Dimas.Sinta kembali meraih mangkok bubur dari atas nakas,lalu mengulurkan sendok yang berisi bubur ke mulut Dimas.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari,sepasang suami istri kepo sedang mengintip interaksi antara Dimas dan Sinta.Siapa lagi mereka kalau bukan papah dan mamahnya Dimas.


"Pah, kayanya kita bakal kan dapat mantu" bisik mamahnya Dimas tanpa mengalihkan pandangannya kearah dua sejoli didalam sana.


"Iya mah, kayanya sih seperti itu! Papahnya Dimas berbisik kembali.


"Sin, boleh gak kali ini aku menikung seseorang? " ucap Dimas memandang wajah Sinta di sela-sela kegiatan makannya.


"Apakah kamu belum ikhlas untuk melepas Tiara Dim? sehingga kamu mau menikung Bimo lagi?"Ada rasa sakit di hati Sinta saat megajukan pertanyaan itu ke Dimas.


"Aku tidak pernah berniat untuk melakukan hal itu ke Bimo Sin! karena aku benar-benar sudah menganggap Tiara adik ku sendiri."


"Jadi, kamu mau menikung siapa?" kedua alis Sinta tampak bertaut, penasaran dengan orang yang hendak ditikung oleh Dimas.


"A-aku mau menikung kekasihmu Sin! Seminggu ini, aku udah berusaha untuk ikhlas merelakan mu dengan pria yang kau cintai.Tapi jujur Sin,aku tidak bisa.Karena rasa nya terlalu sakit.Lebih sakit dari ketika aku ditolak Tiara. Jadi please Sin, jangan paksa aku untuk mengikhlas kan kamu kali ini."


Sinta tercenung mendengar pernyataan Dimas, bibirnya terasa kelu antara percaya dan tidak percaya,sekaligus bingung, siapa orang yang dimaksud Dimas kekasihnya.


"Kekasih yang mana Dim?"


"Apakah kamu mempunyai lebih dari satu kekasih Sin? mengapa kamu bertanya kekasih yang mana?"


"Justru,karena aku tidak memiliki kekasih lah aku bertanya begitu Dim?" cetus Sinta sedikit kesal dengan tuduhan Dimas.


"Bu-bukannya pria yang bersamamu, di restoran seminggu yang lalu kekasih mu Sin?.Aku melihat kalian berdua sangat mesra, saling tatap-tatapan tanpa memperdulikan orang-orang disekitar kalian berdua,serasa dunia ini milik kalian berdua.


Kedua netra Sinta tampak membesar dengan mulut sedikit terbuka mendengar penuturan Dimas.Sinta tidak menyangka,kalau Dimas melihat kebersamaannya dengan Rio.


TBC


Jangan lupa untuk meninggalkan jejak.Like,vote dan komen.Thank you

__ADS_1


__ADS_2