
Mentari sudah mulai menyapa alam semesta,seraya tersenyum malu-malu dari arah Timur. Ayu menggeliat, tubuhnya terasa sangat berat untuk digerakkan. Dia mengerjap-erjapkan matanya, lalu dia mengkucek-kucek sedikit, untuk menyesuaikan cahaya yang baru saja tertangkap oleh kedua matanya.
Ayu refleks menutup mulutnya,karena hampir saja dia histeris ketika melihat wajah tampan bak malaikat yang matanya masih terpejam sangat dekat ke wajahnya. Aarash bahkan memeluk tubuhnya dengan sangat erat. Ingin rasanya Ayu membelai wajah laki-laki yang kini sudah menjadi suaminya itu. Tapi dia takut, kalau Aarash akan terbangun kalau dia menyentuh wajah Aarash.
Tanpa diminta ada cairan bening yang keluar dari sudut mata Ayu. Dia merasa sedih karena laki-laki yang kini menjadi suaminya, tidak mencintainya sama sekali. Bahkan di dalam hati suaminya itu masih ada nama Laura yang bersemayam di sana.
Dengan menggunakan jarinya, Ayu mengusap air matanya. Lalu dia memindahkan tangan dan kaki Arrash dengan pelan dan sangat hati-hati. Dia bergerak dengan perlahan menggeser tubuhnya ke tepi ranjang, agar tidak sampai membangunkan suaminya, yang sepertinya masih enggan untuk meninggalkan mimpinya. Dia menjejakkan kakinya ke lantai, menggelung rambut panjangnya, lalu bangkit berdiri, beranjak masuk ke kamar mandi untuk sedikit membersihkan tubuhnya.
Aarash perlahan membuka kedua matanya setelah Ayu masuk ke kamar mandi. Sebenarnya dari tadi dia sudah bangun dan memandang wajah Ayu, yang sangat cantik walaupun tanpa make up yang menempel di wajahnya. Dia kembali menutup matanya, ketika dia melihat tubuh dan kelopak mata Ayu mulai bergerak -gerak. Aarash bahkan tahu kalau Ayu menangis. Yang dia tidak tahu alasan Ayu kenapa menangis. Aarash mengira kalau Ayu menangis karena menyesal sudah menikah dengannya.
Suara pintu yang hendak dibuka dari arah kamar mandi, membuat Aarash dengan cepat menutup matanya kembali. Ayu melangkah keluar dari kamar mandi,dan melihat kalau Aarash masih terlelap. Dia melangkah keluar menuju dapur untuk menyiapkan sarapan buat keluarga barunya.
Ayu melihat, kalau Bi Asih sudah asyik berkutat dengan alat dapur tanpa Tiara mertuanya.Padahal biasanya jam segini, ibu mertuanya itu pasti sudah ada di dapur untuk menyiapkan sarapan. " Sepertinya Bunda kecapean semalam. Mending aku saja yang menyiapkan sarapan buat semuanya." Ayu berbicara pada dirinya sendiri.
"Pagi, Bi Asih! " sapa Ayu dengan senyuman yang tersungging di bibirnya.
"Eh, udah bangun Yu?. Kamu ngapain ke sini? biar Bibi aja yang buat sarapan.Kamu balik aja ke kamar!" Bi Asih membalas senyum Ayu sambil kedua tangannya sibuk memotong sayuran.
"Gak ah, Bi! Sini Bi, biar Ayu aja yang nyiapin sarapan!" Ayu meraih pisau dari tangan Bi Asih dan melanjutkan memotong sayur.
Bi Asih memandang Ayu dengan tatapan yang sulit untuk dibaca.Kedua netranya kini nampak sudah berkilat-kilat karena penuh dengan air mata.
__ADS_1
"Bi, kenapa lihat Ayu segitunya? " tanya Ayu tanpa menghentikan kegiatan tangannya.
"Yu, Bibi tahu pernikahanmu terjadi karena keterpaksaan.Tapi aku yakin ini mungkin sudah takdirmu.Bibi yakin kamu bisa menjadi istri yang baik buat Tuan Aarash. Yang sabar ya Yu! Bibi yakin, kalau suatu saat Tuan Aarash akan mencintaimu. Satu pesan Bibi, tetap lah jadi Ayu yang seperti dulu.yang selalu rendah hati dan baik pada semua orang." ujar Bi Asih dengan air mata yang sudah jatuh membasahi pipinya. Walaupun Ayu bukan keponakan kandung, tapi Bi Asih sangat menyayangi Ayu.
*******
Semua penghuni rumah kini sudah bangun dan bahkan sudah menghabiskan sarapannya masing-masing. Aariz juga sudah berangkat ke kantor. Sedangkan Aarash hari ini tidak berangkat ke kantor karena dilarang oleh Ayah dan bundanya.
"Rash, kamu ikut Bunda dan Ayah dulu ke ruang kerja Ayah ya! ada hal penting yang ingin kami bicara kan padamu! " ucap Tiara setelah selesai sarapan.
Aarash menautkan kedua alisnya, penasaran dengan apa yang hendak dibicarakan oleh kedua orangtuanya.
"Hmmm, baik Bun! sahutnya dengan nada malas.
"Ada apa Bun?" tanya Arrash begitu mereka sudah berada di ruang kerja Ayahnya, seraya mendaratkan tubuhnya untuk duduk di sofa.
"Rash, Bunda mau tanya, apa kamu ikhlas nak dengan pernikahanmu?" Tiara duduk di samping Aarash putranya.
"Kenapa Bunda bertanya seperti itu? apa Bunda meragukanku?" ada rasa tidak suka yang terselip pada ucapan Aarash, ketika dia merasa kalau Bundanya meragukannya.
"Bukan begitu sayang. Cuma seandainya Laura tiba-tiba muncul, apakah kamu akan meninggalkan Ayu demi Laura?"
__ADS_1
"Aku tidak sebejat itu Bun. Aku sudah putuskan untuk menikahi Ayu, itu berarti aku harus bertanggung jawab dengan keputusanku." sahut Aarash tegas.
Tiara dan Bimo saling tatap penuh arti dengan senyuman yang tersungging di bibir masing-masing. Tiara lalu meraih tangan Aarash dan meletakan sesuatu pada telapak tangan Aarash.
"Rash, tolong benda ini kamu kembalikan pada Ayu!"
Aarash terbelalak melihat benda yang ada di tangannya. "Dari mana Bunda dapat gantungan kunci ini? Bunda ambil ya dari kamar Aarash? Dan ngapain benda ini aku kembalikan ke Ayu? ini kan punya Aarash!" Aarash mengajukan pertanyaan dengan beruntun, tanpa memberikan kesempatan buat Bundanya untuk berbicara.
" Kamu memang harus mengembalikannya pada Ayu sayang. Karena ini milik Ayu bukan milik mu. Bunda sama sekali tidak pernah mengambil gantungan kunci milik mu." ucapan Tiara yang penuh teka-teki membuat Aarash semakin bingung.
"Apa maksud Bunda, mengatakan kalau ini bukan milik ku tapi milik Ayu? Bunda lagi bercanda ya? candaan Bunda sama sekali tidak lucu!" Aarash berdiri dengan kesal, dan hendak melangkah meninggalkan kedua orangtuanya yang berbicara semakin ngawur.
"Itu memang milik Ayu, dan Ayu itu adalah Laura yang kamu cari! " ucap Bimo dengan tegas,hingga membuat Aarash mengurungkan langkahnya. Dia sontak memutar badannya menoleh ke arah kedua orangtuanya, menuntut penjelasan dengan apa yang baru saja terucap dari mulut Bimo ayahnya.
"Apa maksud Ayah? Candaan apa lagi ini? tanya Aarash dengan kening berkerut di sertai dengan nafas yang memburu.
Tiara menghela nafasnya dengan hembusan yang sangat lambat dan panjang, melihat putranya yang sudah kesal,karena menganggap dia dan Bimo suaminya sedang bercanda.
Tiara akhinya menceritakan bagaimana gantungan kunci itu ada pada tangannya. Dia juga bercerita tentang apa yang dia dengar dari Bibi Asih. Setelah itu, Tiara mengingatkan Aarash kembali mengenai ekspresi kaget dari ketiga orang, anggota keluarga Hartono saat melihat Ayu pertama kali. Terakhir Ayu menceritakan hasil penyelidikan Seno tadi malam serta menunjukkan photo-photo keluarga besar Hartono, dimana ada kedua orangtua Laura dan Laura yang kini di kenal dengan nama Ayu, serta Deni, istrinya dan Cindy.
Aarash tidak bergeming. Dia seakan membeku mendengar semua penuturan ayah dan bundanya.Sepersekian detik kemudian, dia berbalik dan berlari menuju kamarnya untuk menemui Lauranya.
__ADS_1
Tbc
Jangan lupa buat ninggalkan jejak ya Guys. Please like, vote,rate dan komen.Thank you🤗🤗