YOU ARE MY DESTINY

YOU ARE MY DESTINY
Dimas Sinta


__ADS_3

Kedua netra Sinta tampak membesar dengan mulut sedikit terbuka mendengar penuturan Dimas.Sinta tidak menyangka,kalau Dimas melihat kebersamaannya dengan Rio.


Sinta mendesah dengan berat.memandang Dimas dengan intens,mencoba mencerna maksud pembicaraan mereka berdua.


" Apakah ini berarti Dimas memiliki rasa yang sama seperti ku? Kalau seandainya benar betapa bahagianya aku." batin Sinta.


"Dim, apakah kamu melihat semua kejadiannya sampai Rio pulang?"


"Oh, jadi nama kekasih kamu itu Rio ya? tanya Dimas sinis,tidak suka kalau Sinta menyebut nama laki-laki lain di depannya.


"Stop bilang Rio kekasih ku Dim! Dia itu bukan kekasihku! " bantah Sinta sedikit kesal.


"Jadi kalau bukan kekasihmu, dia itu siapa kamu?! Sahabat? atau TTM kamu? Dimas sedikit meninggikan suaranya, kesal karena Sinta berusaha untuk mengelak.Padahal Dimas melihat dengan jelas,kalau Sinta dengan laki-laki yang namanya tidak mau disebutkan oleh Dimas itu, sedang saling tatap dengan mesra dengan kedua tangan Sinta ada di genggaman pria itu.


Sinta mendengus,kesal karena Dimas saat ini bertingkah sangat menyebalkan.Dimas main ngambil kesimpulan saja tanpa mau bertanya terlebih dahulu.


"Rio itu,bukan kekasih,bukan sahabat, juga bukan TTM - an ku.Tapi dia itu, se to the pu to the pu, Sepupu.Dia itu anak dari adik papah! "


Kedua netra Dimas terbeliak dan dia tercenung dengan penuturan Sinta.


"Hah?! sepupu? tapi kok kalian berdua terlihat seperti...."


"Seperti apa? seperti sepasang kekasih? itu maksud kamu kan?" cetus Sinta.


Dimas diam tidak berkutik.Dia sama sekali tidak bisa membantah ucapan Sinta.


"Aku kira, orang lain yang melihat kalian berdua, pasti juga sepemikiran dengan aku Sin."Gumam Dimas pelan seperti berbisik.Tapi Sinta tetap saja masih bisa mendengar.


"Rio, sepupu saya yang sudah lama meniti karirnya di Jakarta. Dua minggu yang lalu dia mengundurkan diri dari tempat dia bekerja.Tapi seminggu yang lalu dia mendapatkan pekerjaan lagi sebagai seorang asisten pribadi. Sebenarnya waktu kamu melihat kami berdua,kami bukan lagi kencan.Tapi kami lagi merayakan keberhasilan dia mendapatkan pekerjaan lagi.Dan pada hari itu juga Rio latihan bagaimana caranya nembak wanita dengan romantis.Dia cobanya ke aku dulu Dim!" Sinta menjelaskan panjang lebar tanpa mengambil jedah sama sekali.


"Hah? Kenapa harus latihan segala? apakah dia terlalu bodoh, sehingga tidak tahu caranya mengutarakan perasaannya kepada wanita yang dia cintai?"

__ADS_1


" Itu karena ini pertama kalinya dia mau mengutarakan perasaannya pada wanita, jadi wajar kalau dia merasa gugup.Emangnya seperti kamu, yang udah berkali-kali berpacaran! cetus Sinta dengan nada yang mulai sedikit meninggi dengan sedikit mencebikkan bibirnya


Dimas menyunggingkan senyumnya, merasa gemas melihat raut muka Sinta yang kini sedang kesal.


"Aku juga baru sekali nembak wanita,dan kamu tahu siapa orangnya!.Sekarang aku mau nembak wanita lagi! Dan kali ini aku berharap tidak ada penolakan lagi." Dimas mengunci pandangannya ke mata Sinta.Dengan lembut dia meraih tangan Sinta dan mengecup punggung tangan itu dengan lembut.


"Sin, mungkin kamu mengira ini terlalu cepat.Tapi jujur,justru bagiku ini sudah terlalu lama.Karena jujur,untuk bisa mencintai kamu itu tidak memerlukan waktu yang lama." Dimas menghentikan ucapannya sejenak untuk mengambil jeda,sebelum dia melanjutkan ucapannya.


Sementara itu, jantung Sinta berdetak 2 kali lipat dari biasanya.Menunggu apa yang akan Dimas katakan selanjutnya.


"Sin,saat aku melihat kebersamaan mu dengan pria lain,aku merasakan sakit yang amat sangat dalam hati ku Sin.Serasa hatiku ini bagaikan dihujam ribuan jarum.Aku sangat cemburu dan takut kehilanganmu .Aku berusaha untuk melupakan mu seminggu ini dengan menyibukkan diriku, karena engkau pernah berkata kalau cinta itu tidak boleh dipaksakan.Tapi aku tidak sanggup Sin buat ngerelain kamu dengan orang lain.Kali ini aku tidak salah kan Sin?" Dimas semakin mengeratkan genggaman tangannya dan membawa tangan Sinta ke dadanya.


Sinta tercekat dengan pengakuan Dimas.Sekujur tubuhnya serasa meremang.Sinta bisa merasakan detakan jantung Dimas melalui tangannya yang ada di dada Dimas.Sinta menatap dalam-dalam mata Dimas untuk mencari apakah ada kebohongan disana.Akan tetapi, dia tidak bisa menemukan kebohongan itu di mata Dimas.


"Dim, kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan?Kamu lihat dengan jelas,siapa yang ada di depan mu sekarang! aku ini Sinta, bukan Tiara! Sinta,berusaha menyadarkan Dimas,karna sesungguhnya,dia belum percaya kalau Dimas bisa melupakan cintanya pada Tiara.Ada takut dan ragu dalam hatinya,kalau dia hanya dijadikan sebagai pelarian saja.


"Sin, aku sadar seratus persen kalau kamu itu Sinta bukan Tiara.Harus berapa kali aku mengatakan,kalau aku hanya menganggap Tiara adik ku saja tidak lebih.Sekarang orang yang aku cinta itu kamu Sin! " Dimas meninggikan suara kesal, karena Sinta tidak percaya ucapannya.


"Kok jadi gara-gara aku sih?!" cebik Sinta tidak terima disalahkan.


"Iyalah, aku cemburu sama kamu.Aku jadinya melampiaskan rasa cemburuku dengan bekerja terus sampai lupa untuk makan" Dimas kembali menegaskan ucapannya tampa ada ada niat untuk sedikit merendahkan suaranya.


"Berarti itu salah kamu, bukan salah aku.Siapa suruh kamu bertindak seperti itu? Itu sama aja kamu menyiksa diri kamu sendiri. Sinta menarik kasar tangannya dari genggaman Dimas, dan mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan pipi yang menggembung.


"Tapi kan aku udah bilang,karena aku cemburu Sin sama kamu! berarti secara gak langsung kan itu gara-gara kamu juga!"


"Nggak lah! itu salah mu sendiri.Siapa suruh cemburu tanpa mau nanya dulu!" Sinta bersedekap dengan tetap tidak mau menatap Dimas.


Kedua orang tua diluar sana berdecak kesal dan menggeleng-gelengkan kepala,melihat drama yang terjadi di dalam sana.


"Kok mereka jadi berantem sih pah? kapan jadiannya kalau begini?

__ADS_1


"Hemm, kita lihat aja dulu mah! Kalau sudah berlarut-larut baru kita bertindak" ucap papahnya Dimas dan dibalas anggukan oleh mamahnya Dimas.


"Sin, kok jadi marah sih? Jadi gimana nih? Kamu mau kan jadi kekasih ku?"


"Gitu kek dari tadi, ngapain mutar-mutar dulu ngomongnya kalau ujung-ujungnya pasti nanya itu? ujar Sinta sarkasme.


Dimas menggaruk dagunya yang sama sekali tidak gatal, malu mendengar sindiran Sinta.


"Tapi maaf Dim,aku tidak bisa" ucap Sinta lirih.


Dimas terperanjat,kaget mendengar jawaban Sinta, yang sama sekali tidak dia harapkan.


"Ta-tapi kenapa Sin? Apakah aku kurang pantas buat mu? "


"Bukan begitu Dim.Aku tidak bisa kalau hanya jadi kekasihmu saja.Tapi aku mau jadi istri kamu.Aku juga mau seperti Tiara." Sinta menundukkan kepalanya.Wajahnya kini sudah berubah warna menjadi merah,seperti kepiting rebus.Dia sendiri tidak menyangka, kalau ucapan itu bisa keluar dari mulutnya.


Kedua netra Dimas membulat dengan sempurna.Mulutnya sedikit terbuka mendengar ucapan Sinta yang cukup berani.


"Ka-kalau itu aku juga mau Sin! Dimas spontan turun dari kasur, hendak memeluk Sinta,tampa memperdulikan jarum infus yang menancap di punggung tangannya.


"Jangan bergerak Dim, lihat darah kamu udah naik ke atas! " teriak Sinta panik.


Dimas,gemas memandang wajah Sinta yang panik.Dia mengangkat dagu Sinta dengan lembut. Dimas membelai bibir kenyal Sinta,dan dengan perlahan dia membungkuk untuk menempelkan bibirnya ke bibir Sinta.Melihat bibis Dimas yang mulai mendekat,Sinta mulai memejamkan kedua matanya, bersiap untuk menerima ciuman pertamanya.


Brakkk


"Aduh ma-maaf... maaf!" Kedua orang tua Dimas kini terlihat jatuh saling bertindih di depan pintu sambil cengengesan.


TBC


Jangan lupa ritualnya ya guys.like vote dan komen.Thank you🥰🤗

__ADS_1


__ADS_2