
Aarash menuntun Laura, istrinya untuk masuk ke dalam rumah. Sedangkan Tiara menyusu dari belakang.
"Apa yang terjadi pada Laura? " Aariz tiba-tiba muncul dari arah dapur bersama dengan Lea.
"Tidak ada apa-apa! hanya insiden kecil aja" sahut Aarash seraya membawa istrinya itu untuk duduk di sofa.
Aariz menyusul mendaratkan tubuhnya, duduk di sofa. Dari wajahnya masih terlihat kalau dia belum puas dengan jawaban yang diberikan oleh Aarash. "Tapi, kenapa harus sampai ke rumah sakit segala? " tanya Aariz sambil menyipitkan matanya.
"Ternyata kamu masih seperhatian dulu ya Riz?" celetuk Laura tiba-tiba, hingga membuat Aariz semakin bingung.
"Ini ada apa sih? perhatian gimana sih?"
"Waktu kecil kamu selalu menghiburku, saat Kakak mu yang sok ini,membuat aku menangis.! ucap Laura, yang membuat Aariz membulatkan matanya.
"Tunggu...tunggu! Kamu udah mengingat semuanya?" tanya Aariz dengan ekspresi kaget. Dan dia langsung tersenyum senang ketika melihat Laura mengangukkan kepalanya.
Aariz sontak berdiri, beranjak dari tempat dia duduk, untuk memeluk Laura. Tapi sebelum itu terjadi, Aarash langsung pasang badan melindungi tubuh istrinya, agar terhindar dari pelukan Aariz. "Hush, enak aja mau peluk-peluk istri gue! awas lo, kalau berani meluk istri gue lagi" Aarash menghunuskan tatapan yang sangat tajam ke arah Aariz.
"Apa-an sih kamu? Dulu aku udah sering meluk Laura kali! Justru kalau dihitung-hitung, mungkin masih lebih banyakan pelukan gue dari pelukan lo! " Aariz tersenyum mengejek.
"itukan dulu, masih kecil. Jadi,belum ada yang bertumbuh. Semua masih rata! " ucap Aarash santai. Padahal dalam hatinya dia merasa kesal, kalau mengingat Aariz dulu sering memeluk Laura.
"Ya elah, mulut lo aja bilang, itu kan dulu! padahal gue tahu, dalam hati lo tuh udah panas!" Aariz terlihat mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Tiara terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat kedua putranya benar-benar miri dengan Bimo. "Udah... udah! Rash, kamu tidak perlu cemburu lagi. Aariz udah punya seseorang di hatinya sekarang!"
"Hah?! siapa, Bun? " Aarash dan Laura bertanya hampir bersamaan.
"Siapa lagi, kalau bukan Davina! tapi sayangnya, dia sadar akan cintanya, disaat Vina sudah bertunangan." Tiara menerbitkan senyuman meledek ke arah Aariz, yang kini wajahnya sudah berubah masam.
Aarash sontak tertawa terpingkal-pingkal, menertawai perubahan wajah Aariz. " Dulu kamu memang sering memeluk Laura.Tapi itu pas kita masih kecil.Aku juga sering memeluk Vina, ketika dia menangis, dan asal kamu tahu, kalau aku memeluknya di saat semuanya sudah bertumbuh. Jadi, walaupun belum pernah melihat bola pimpong yang sudah berubah jadi bola kasti itu, setidaknya pas aku peluk, tuh bola sudah menempel di sini! " ucap Aarash seraya menyeringai merasa menang dari Aariz. Tanpa dia sadari, kalau dari tadi wajah Laura sudah memerah dan dari kepala, dan kupingnya sudah mengeluarkan asap. Bukan hanya Laura yang kesal, Aariz pun merasakan hal yang sama seperti Laura.
"Oh, begitu? bola pimpong jadi bola kasti ya? " Laura mendengus kesal seraya menghunuskan tatapan yang sangat dingin ke arah Aarash.Dia pun berdiri dari duduknya dan beranjak menghampiri Aariz. " Sini riz peluk aku! Lalu kasih tahu dia apakah bola pimpongku bertumbuh menjadi bola kasti atau bola basket! Laura merentangkan tangannya hendak memeluk Aariz. Tapi, dengan cepat Aarash menarik tangan Laura, hingga Laura terbenam ke dada bidang milik Aarash.
"Bukan begitu sayang! aku cuma bercanda tadi! aku cuma mau membalas ucapan Aariz aja! jangan marah ya! Aarash berusaha merayu Laura dengan meng-eratkan pelukannya serta meninggalkan kecupan di puncak kepala Laura.
"Idih, sekarang aja bucin lo! dulu sok-sok an gak suka sama Laura! "cetus Aariz sambil mencebikkan bibirnya.
Tiara hanya bisa tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat ketiga anak dan menantunya, yang walaupun selalu bertikai, tetapi tetap saling menyayangi satu sama lain.
"Udah, kalian sudah pada besar, jadi tolong jangan jadi kaya anak-anak lagi! Rash bawa Laura ke kamar! biar dia bisa istirahat!"
"Baik, Bun! " sahut Aarash sambilmeraih tangan istrinya itu.
Laura yang masih merasa kesal, menepis tangan Aarash dengan kasar. " Gak usah dituntun lagi! Aku bisa jalan sendiri kok! " cetus Laura menatap sinis pada Aarash.
"Bun, aku pamit ke atas ya! " ujar Laura pamit pada Tiara. Lalu dia mengayunkan langkahnya, untuk naik ke atas menuju kamarnya, setelah Tiara menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Laura.... ,tungguin aku dong! " teriak Aarash seraya sedikit berlari menyusul istrinya yang sedang ngambek itu.
" Rasain lo, gak bakal dapat jatah malam ini! " teriak Aariz yang mendapat tatapan tajam dari Bundanya.
"Hehehe, maaf, Bun! Aariz cengengesan, lalu mendaratkan tubuhnya untuk duduk kembali.
"Wow, Sepertinya Vina benar-benar udah bisa move on dari Ka Aariz! lihat nih Bun, Vina kayanya bahagia banget di photo ini. Dia dikelilingi banyak cowok cakep!" celetuk Vina tiba-tiba, sambil menunjukkan photo Vina di insta story, yang baru saja di upload Vina di media sosialnya.
Mendengar celetukan Vina, Aariz sontak menyambar ponsel Lea, dari tangan adik perempuannya itu. Wajahnya langsung memerah, dengan rahang yang mengeras, melihat Photo Vina yang sedang tertawa, dan diapit oleh dua orang laki-laki. Salah satu dari laki-laki itu dia tahu namanya Galang, dan yang satu lagi dia tidak mengenalnya sama sekali.Tapi, yang pasti laki-laki itu sangat tampan.
Yang membuat Aariz kesal, bukan wajah laki-laki itu, tapi tatapan laki-laki itu ke arah Vina. Sebagai sesama laki-laki, Aariz paham makna tatapan yang ditujukan laki-laki itu ke Vina. Dia tahu kalau laki-laki itu, sepertinya menyukai Vina.
Seandainya Lea tidak merampas kembali ponselnya, bisa dipastikan kalau ponsel itu tidak akan selamat dari amarah Aariz.Ponsel itu pasti akan berakhir di tong sampah, karena Aariz pasti akan melemparnya hingga pecah berkeping-keping.Dan dapat dipastikan,untuk waktu yang agak lama, perang dingin antara Aariz dan Lea pasti akan terjadi.
"Aarizzz! Kamu kok gak sopan begitu sih nak? main rampas aja! Kamu kan bisa minta dengan baik ponsel adik kamu itu? " Ucap Tiara sedikit menaikkan nada suaranya.
"Maaf, Bun! aku tadi refleks! "
"Kamu minta maaf sama adik kamu, bukan sama Bunda! "
"Oh, iya! Maaf ya adikku yang cantik! " ucap Aariz lembut, yang dibalas dengan bibir yang mengerucut dari Lea.
Aariz kembali menyenderkan tubuhnya seraya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Hati dan pikirannha kini sangat panas mengingat photo yang baru saja dilihatnya.
__ADS_1
"Kayanya, aku gak bisa menunggu lama lagi! Aku harus segera menyusul Vina ke London. Kalau tidak aku akan benar-benar kehilangan Vina nanti " batin Aariz dengan tangan terkepal. Tapi sepersekian detik kemudian,dia menggeram sambil mengusap wajahnya dengan kasar, begitu mengingat banyaknya pekerjaan yang dilimpahkan oleh Bimo padanya belakangan ini.