
Aariz berjalan meninggalkan Davina di taman dengan amarah yang sudah memuncak.
"Beraninya dia menyebut nama Laura di depanku! Aaris mendengus dengan sangat kesal.
"Tapi, bagaimana dia tahu tentang Laura?kayanya aku tidak pernah cerita ke siapapun tentang perasaanku terhadap Laura"
Sebenarnya alasan Aariz untuk menghadiri acara pesta ini pun, untuk menghindari pertemuan dan pembahasan pernikahaan Aarash dengan Laura.Walaupun sebenarnya dia juga sangat penasaran untuk melihat wajah Laura yang sekarang.
Seketika bayangan Laura kecil berkelebat di benak Aariz. Dia mengingat betapa dia sangat menyukai perempuan kecil yang selalu mengepang rambut hitam dengan poni di keningnya itu. Tapi,sayangnya Laura lebih menyukai kakak kembarnya Aarash, walaupun Aarash selalu memanggilnya si pengacau. Ketika Aarash mengeluarkan kata-kata pedas pada Laura, dia pasti akan selalu menangis,dan di saat itulah Aariz akan selalu hadir untuk menghibur Laura.
Sekeras apapun usaha Aariz untuk mendekati Laura, tapi tetap tidak bisa membuat Laura balik menyukainya.Laura tetaplah lebih menyukai Aarash. Aariz menghembuskan nafasnya keluar dengan cepat, seakan-akan dengan hembusan nafasnya itu bisa mengeluarkan semua beban hatinya juga.
Bayangan Laura kecil yang menangis karena ucapan Aarash, seketika berganti dengan wajah Davina yang menangis karena ucapannya. Aariz sontak menghentikan langkahnya. Dia merasa dirinya kejam membiarkan seorang gadis menangis sendirian di taman. Kalau dulu ketika Laura kecil menangis ada dia yang membujuknya, kalau Davina bagaimana?.
Memikirkan hal itu, Aariz memutar badannya dan berlari untuk kembali ke taman,tempat dimana dia meninggalkan Davina. Dengan nafas yang ngos-ngosan Aariz tiba di tempat itu, tapi dia tidak menemukana keberadaan Davina di sana.Dia mengitari sekeliling taman itu, tapi tetap saja dia tidak bisam menemukannya.
"Kemana perginya si lalat pengganggu itu? nyusahin aja !" Aariz kembali berjalan mengelilingi taman itu, sampai dia menyerah sendiri.
" Hmmm, mungkin dia udah kembali ke dalam" Aaris bergumam sambil berjalan kembali untuk masuk kedalam ruangan pesta.
Di dalam ruangan, Aariz tetap mencari keberadaan Davina, untuk memastikan gadis itu baik-baik saja. Aariz melihat om Dimas dan tante Sinta sedang bercengkrama sambil tertawa bersama kenalan mereka.Akan tetapi dia tidak menemukan ada Davina di sana.
Aariz mengayunkan langkahnya menghampiri Dimas. " Om, Apa om melihat Davina? "
" Bukannya tadi dia bersamamu? kenapa tanya om? Dimas menatap tajam Aariz dengan kening yang berkerut.
__ADS_1
Aariz menggaruk dagunya yang tidak gatal, bingung mau memberikan jawaban apa pada Dimas.
"Tadi memang iya om! tapi----- "
"Hmmm, tunggu! biar om telpon dia! mungkin dia ada di sekitar ruangan ini" mengambil ponselnya dari saku celananya. Begitu cahaya biru muncul dari ponsel itu, sebuah pesan dari Davina putrinya langsung tertangkap oleh kedua netranya.
" Vina sudah pulang duluan Riz dengan taksi "
Dimas menghela nafasnya, mengerti kalau Aariz dan Vina sedang ada masalah.
"Riz kamu ikut om sebentar! ada hal yang mau om bicarakan dengan mu. " Dimas melangkah menjauh dari ruangan pesta itu, setelah pamit kepada Sinta istrinya. Aariz mengekor di belakang Dimas dengan perasaan yang tidak menentu, was-was dengan apa yang akan diucapkan oleh Dimas padanya nanti.
"Duduk Riz! " Dimas ternyata mengajak Aariz ke tempat dimana dia meninggalkan Davina tadi.
" Apakah Davina membuat kamu malu lagi tadi?" menatap serius kearah Aariz.
"Ng-nggak om."
"Kamu tidak usah bohong Riz. Om mau minta maaf Riz sama kamu, karena putri om sering membuat kamu merasa tidak nyaman karena tingkahnya yang berlebihan.Om tahu, kamu selama ini berusaha untuk tidak memaki-makinya dengan sangat kasar, karena om ini sahabat ayahmu dan istri om sahabat bundamu, dan om sangat menghargai itu ----"
"Maafin Aariz om, "
"Kamu tidak perlu meminta maaf, Kan om sudah bilang tadi kalau itu bukan kesalahanmu. Justru om yang harus meminta maaf padamu. Kalau boleh egois,jujur.. sebagai seorang papah, hatiku sangat sakit dan sedih tiap kali melihat Davina menangis. Tapi kembali lagi ke yang tadi, papah tidak mungkin egois memaksamu untuk mencintai putri om, demi kebahagiaannya, dengan mengorbankan kebahagiaanmu. Karena om sangat paham kalau mencintai sepihak itu sangat sakit. Seandainya kamu menuruti kemauan om untuk menerima cinta Davina, justru aku sudah menjerumuskan Davina kepada kebahagiaan yang semu.Putri saya akan semakin sedih, karena tidak akan pernah mendapatkan perhatian dan cinta yang tulus darimu " Dimas menarik nafas dalam-dalam, untuk mengambil jeda, lalu menghembuskannya keluar dengan sekali hentakan. Kedua netra Dimas tampak berkaca-kaca saat mengucapkan semua kata-kata itu. Tapi dia berusaha untuk tidak menagis di depan Aariz. Dimas mengalihkan pandangannya, ke arah yang tidak bisa terjangkau oleh Aariz, lalu mengusap titik cairan bening di sudut matanya, menggunakan jari tengahnya.
"Kamu tenang saja Riz, om akan berusaha untuk mengingatkan Davina untuk tidak mengganggumu dan mengharapkan cinta mu lagi. Dan om bisa pastikan kalau kali ini Davina akan mendengarkan ucapan om. Tapi jangan karena ucapan om, kamu jadi sungkan pada om dan tante Sinta. " Dimas melanjutkan ucapannya tadi yang sempat terjeda.
__ADS_1
Ada rasa tidak nyaman dan nyeri di ulu hati Aariz, ketika mendengar ucapan Dimas, yang akan menyuruh Davina menjauhinya dan berhenti mengharapkan cintanya.
"Om, tapi aku memang sudah kelewatan tadi om! dan Aariz benar-benar minta maaf. Aariz telah membuat Davina selalu menangis, dan tadi juga Davina menangis karena ucapanku yang kasar om! "Aariz menundukkan wajahnya merasa sangat bersalah dengan tindakannya yang kasar.
Dimas menepuk- nepuk pundak Aariz dan menyunggingkan seulas senyuman di bibirnya.
" Kamu tenang saja, Vina gadis yang kuat, karena dia lahir dari rahim seorang wanita yang kuat dan bijak. Dia juga merupakan bibit unggul dari seorang papah yang tegar dan bijaksana. Om yakin kalau dia tidak akan tumbang hanya karena masalah seperti ini. "
" Hmmm, sepertinya om sudah terlalu banyak berbicara.Intinya Om mewakili Vina, minta maaf atas ketidak -nyamanan yang kamu rasakan selama ini,atas tingkah Vina , yang kekanak-kanakan. Sekarang om mau masuk dulu.Om takut kalau kelamaan ninggalin tante mu di dalam, banyak yang akan menggodanya " ucap Dimas menyelipkan sedikit candaan untuk mengurangi ketegangan yang tercipta pada Aariz. Aariz membalas candaan Dimas dengan senyuman yang dipaksa.
"Kamu masih mau disini? atau mau bareng sama om ke dalam?" Dimas berdiri, dan menatap Aariz, menantikan jawaban.
"Om duluan aja! Aariz masih mau di sini om. "
" Oh, ya udah! om masuk duluan ya!" Dimas beranjak, berlalu, meninggalkan tempat itu,setelah mendapat kata iya dari Aariz.
Aaris menundukkan punggung serta kepalanya,dengan kedua tangan diletakkan di kepala dan ditopang oleh pahanya. Perasaannya kini serasa tidak menentu memikirkan kata-kata Dimas papahnya Davina.
Tbc
Jangan lupa like, dan komennya.
Untuk vote rekomendasinya hari Senin ya gais.
#ngarepbolehdong😁
__ADS_1