
Vina tampak telungkup di atas ranjang dengan bahu yang turun naik.Dimas dan Sinta mengayunkan langkahnya untuk menghampiri Vina putri mereka.
"Kamu kenapa lagi sayang? " Sinta mengelus rambut Vina dengan lembut.
Vina membalikkan badannya untuk bisa melihat Papah dan Mamahnya. Kedua matanya tampak sembab dan masih banjir air mata. Vina tidak menjawab pertanyaan Sinta mamahnya sama sekali. Dia masih sesunggukan menangis.
"Apa Aariz yang membuat kamu menangis? apa lagi yang dia ucapkan sama kamu sehingga kamu menangis seperti ini? " terselip rasa kesal pada Aariz dalam pertanyaan Dimas.
Vina masih diam tidak mau menjawab sama sekali. Dia masih hanyut dalam tangisannya. Sehingga membuat Dimas semakin kesal.Dimas mengalihkan tatapannya pada Sinta istrinya.
"Ini semua gara-gara kamu Mah!" ucap Dimas dengan sorot mata penuh amarah.
"Kok jadi nyalahin Mamah sih Pah?" Sinta kesal, merasa tidak terima disalahkan.
"Iyalah, tadi kan papah udah bilang, biar Vano aja yang antar oleh-oleh pesanan Tiara, tapi Mamah bilang biar Vina aja."
"Maksud Mamah kan baik Pah, Aku ingin dia menunjukkan sama Aariz kalau dia bisa bertingkah biasa aja di dekat Aariz dan tidak seperti dulu lagi."
"Tapi itu belum saatnya Mah! masih seminggu dia belajar menjauhi Aariz. Tentu saja tidak secepat itu dia bisa melupakan rasa cintanya pada Aariz! ” ujar Dimas berapi-api.
"Mah, Pah, kok malah berantem? Ka Aariz ga ada ngomong apa-apa kok sama Vina. Bahkan Ka Aariz tidak tahu dan tidak melihat kalau Vina datang ke rumah Om Bimo.
Dimas dan Sinta saling menatap,bingung dengan arah pembicaraan putrinya.
"Kalau tidak karena Aariz kasar sama kamu, Jadi kamu menangis karena apa sayang?" Suara Sinta kini kembali lembut.
"Ka Aariz mau menikah sama Ayu Mah!." tangis Vina kembali kencang sambil memeluk Sinta Mamahnya dengan erat.
__ADS_1
Bola mata Sinta dan Dimas membulat dengan sempurna mendengar apa yang baru saja di ucapkan putrinya Vina.
"Menikah? Ayu? bukannya Ayu itu, gadis yang diceritakan sama Tiara, keponakan Bi Asih yang amnesia itu ya Mah? tanya Dimas seraya memicingkan kedua matanya.
Sinta mengganggukkan kepalanya, untuk membenarkan ucapan suaminya Dimas.
"Tapi kok bisa? Kamu gak bohong kan sayang?" Sinta bertanya pada Vina untuk memastikan ucapan ucapan Vina.
" Vina tidak bohong Mah. Vina dengar sendiri Ka Aariz bersedia menggantikan Ka Aarash menikahi Ayu" tutur Vina dengan air mata yang masih setia membasahi pipinya.
Penuturan Vina membuat Dimas dan Sinta semakin bingung "Aariz, menggantikan Aarash menikahi Ayu? Sejak kapan Aarash mau menikah dengan Ayu? dan kenapa Aariz mau menggantikan Aarash menikah? Papah benar -benar bingung Vin. Papah gak ngerti sama sekali.
Vina pun menceritakan semua apa yang dia lihat dan dia dengar ,saat berada di kediaman keluarga Bimo.
"APA?! Tapi Tiara tidak mungkin menyetujui Aariz yang bertanggung jawab atas perbuatan Aarash.Mamah yakin itu! Mamah sudah lama bersahabat dengan Tiara, jadi mamah tahu sifat Tiara dengan baik " sergah Sinta tidak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya dari mulut Vina.
"Tapi tante Tiara tadi diam aja Mah, semuanya tadi diam aja.Tidak ada yang mengatakan tidak pada ka Aariz." isak tangis Vina semakin kencang.
"Aku harus kesana, aku mau bertanya langsung." Dimas hendak mengayunkan langkahnya, tapi Sinta dengan cepat menahan tangan Dimas agar tidak pergi.
"Itu bukan urusan kita Pah. Jangan mencampuri urusan keluarga mereka!"
"Tapi ini tidak boleh dibiarkan Mah. Mereka sama saja sudah berbuat Zolim pada Ayu. "
"Mamah tahu pah, tapi kita tidak ada hak untuk mencampuri urusan keluarga mereka" ujar Sinta seraya mengelus-elus dada Dimas suaminya agar bersabar.
"Kita memang tidak punya hak mencampuri, tapi sebagai sahabat,kita punya kewajiban untuk mengingatkan mereka, kalau hal yang mereka lakukan ini sangat salah " ucap Dimas.
__ADS_1
"Nanti kita bisa kesana kalau keadaan sudah tenang. Sekarang yang sangat penting itu mengibur Vina." Sinta menarik tangan Dimas dan mengajaknya untuk kembali duduk di ranjang Vina.
"Mah, Pah.. sekarang tekad Vina udah bulat. Vina mau melanjutkan kuliah di London sama kak Galang saja ". ucap Vina tiba-tiba. Sehingga membuat Dimas dan Sinta kaget.
"Apa kamu sudah memikirkannya matang-matang sayang?, karena keputusan yang diambil terburu-buru itu tidak baik hasilnya " Dimas menatapa kedua manik mata milik Vina, untuk melihat keseriusan ucapan Vina barusan.
"Vina sudah memikirkan-nya matang-matang Pah. Vina merasa, Vina tidak akan pernah bisa melupakan Ka Aariz, seandainya Vina masih tetap ada di dekatnya.Vina berharap dengan tinggal jauh dari Ka Aariz, Vina akan bisa cepat melupakannya dan membuka hatiku pada orang lain ".
Dimas menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya kembali dengan cepat.
"Baiklah kalau itu mau kamu.Besok Papah akan urus semua kepindahanmu,supaya lusa kamu bisa berangkat bersama Galang ke sana." ucap Dimas pasrah.
"Terima kasih Mah, Pah! Vina sayang kalian berdua" Vina tersenyum sendu, seraya memeluk Mamah dan Papahnya.
*******
Setelah Aarash memutuskan akan bertanggung jawab. Tiara dan Bimo dengan cepat mengabari ke keluarga besar baik dari pihak Bimo maupun dari pihak Tiara. Semua keluarga menyambut baik kabar itu. Cuma mereka agak keberatan dengan keputusan Aarash yang tidak mau mengadakan resepsi. Tapi keputusan Aarash sepertinya tidak bisa diganggu gugat lagi. Mau tidak mau akhirnya mereka semua pun terpaksa menyetujuinya.
Pernikahan Aarash dan Ayu sudah ditetapkan akan di adakan 3 hari lagi dengan sederhana. yang akan dihadiri oleh keluarga besar saja.
Dari balik tirai Aarash melihat Ayu yang sedang duduk termenung di sebuah kursi besi di taman belakang,sambil sesekali mengusap air mata yang jatuh membasahi pipinya. Ingin sekali Aarash mendatangi Ayu dan membawanya kedalam pelukannya dan meminta maaf atas semua perbuatannya. Akan tetapi, kakinya terasa berat untuk melangkahkan kakinya.
Ayu yang merasa seperti ada seseorang yang memandangnya, seketika menoleh ke arah jendela kamar Aarash. Aarash sontak meyingkir dari jendela bersembunyi di balik tembok. Setelah dirasa aman,dengan hati-hati Aarash kembali menyingkap tirai tipis itu, untuk kembali bisa melihat Ayu. Dilihatnya Ayu, berdiri dan dengan tertatih-tatih melangkah meninggalkan tempat duduknya. Melihat langkah Ayu yang tertatih- tatih membuat perasaan bersalah Aarash kembali menguap. Aarsh memejamkan matanya sebentar,lalu membukanya kembali.Tangannya seketika, mengepal dengan kencang, serta rahang yang mengeras melihat saudara kembarnya Aariz menghampiri Ayu.
"Brengsek..! " umpatnya dengan manik mata yang berubah gelap karena tertutup amarah.
Tbc
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komennya ya gais. Aku juga mohon untuk Rate bintang limanya dong gais,soalnya ratingnya turun dari 5 menjadi 4,6🙏🙏🙏
Sekalian mampir juga ke karya ku yang lain ya gais.Judulnya Cinta terhalang Janji.mudah-mudahan kalian semua suka.Thank you 😁🤗