
"Ini sekarang tempat tinggal kamu! Rumah peninggalan orangtua kita." Ucap Laura pada Doni, saat kaki mereka sudah berada di depan sebuah rumah besar dan mewah, yang pekarangannya penuh dengan bunga dan sepertinya masih terawat dengan baik.
Dion dan kedua orangtua angkatnya memadang takjub rumah itu dan mengikuti Laura dan Aarash yang sudah terlebih dahulu berjalan menuju pintu masuk. Sedangkan Bimo dan Tiara, di tengah jalan tidak jadi ikut ke rumah peninggalan orangtua Laura karena kebetulan ada pekerjaan yang mendesak.
"Apa, rumah ini ada penghuninya Kak?" tanya Dion,ketika melihat Laura menekan bel.
"Ada! Mbok Ratmi, orang yang membantu Mamah, merawat kita dari kecil. Dia sama seperti mamah yang merasa sangat kehilangan ketika kamu hilang dulu. Rumah ini terlihat terawat, itu karena dia semua yang merawatnya.
Bunyi klek dari dalam terdengar dari luar,pertanda kalau seseorang sedang membukakan pintu buat mereka.
" Eh Laura, Tuan Aarash, Ayo masuk!" Wanita tua, yang dipanggil Mbok Ratmi itu, mempersilahkah Laura dan Aarash masuk.
"Siapa Mereka Nduk?" Mbok Ratmi menatap Dion dan Beni serta Darti bergantian. Tapi tatapannya berhenti pada Dion dengan cukup lama.
"Coba Mbok tebak siapa dia?" tanya Laura sembari tersenyum.
Dari sudut mata Mbok Ratmi, menetes airmata. Dia mengahampiri Dion dan dengan tangan yang gemetar, dia meraba wajah Dion. Tangannya terhenti di jidat sebelah kiri Dion yang masih meninggalkan bekas jahitan waktu Dion terluka waktu kecil dulu.
"K-kamu Leon! tuan kecilku yang hilang! Ya kamu Leon, aku yakin itu." Mbok Ratmi yang memang sangat menyayangi Dion memeluk Dion dengan erat.
"Ya, dia memang Leon,Mbok! ternyata Mbok masih sangat mengingatnya.
__ADS_1
"Ya tentu saja Mbok mengenalnya.Dia begitu mirip dengan wajah Tuan Ardian.Dan lihat, bekas jahitan di keningnya masih membekas kerena dulu dia tidak mau diam." Mbok Ratmi tersenyum dan sembari menghapus air matanya
*********
"Kemana semua orang Bi? rumah kok tumben sepi kaya kuburan?" tanya Aariz yang baru saja tiba di rumah bersama istri kecilnya.
"Aku kurang tahu Tuan!" Tadi setelah makan siang, Tuan Bimo dan Ibu serta Tuan Aarash dan Laura pergi keluar bersama." sahut Bibi Asih.
"Oh,ya udah! Kalau begitu kami ke atas dulu ya Bi!" Aariz meraih tangan Vina,mengajaknya ke kamar. Baru dua langkah, kaki mereka terayun, suara bariton yang sangat dihindari oleh Aariz menyurutkan langkah keduanya.
"Hei, menantu durhaka, tunggu dulu!" teriak Dimas, yang tiba-tiba sudah muncul.
"Eh, ada Papah! Maaf Pah, kami sudah tutup hari ini. Besok lagi aja datangnya ya! udah mulai gelap soalnya." ucap Aariz dengan senyum yang dibuat-buat.
"Eh, kamu kata, aku mau belanja datang kemari?!" Aku ke sini cuma mau lihat putriku."sahut Dimas sembari menyentil kepala Aariz dengan keras.
"Vin, kamu baik-baik saja kan? kamu masih bisa jalankan?" Dimas membolak-balikkan tubuh putrinya, Vina.
"Papah, Vina baik-baik saja. Papah kenapa sih begitu? tentu saja Vina masih bisa jalan." sahut Vina seraya mencebikkan bibirnya.
"Kamu dikurungnya semalaman dan sepanjang hari ini, tentu saja Papah khawatir sayang," ucap Dimas mengungkapkan kekhawatirannya.
__ADS_1
"Iya, aku tahu papah khawatir dan Vina sangat berterima kasih untuk itu. Dan Vina tahu, kalau Papah melakukannya karena sayang sama Vina.Tapi, bukankah ini sedikit berlebihan Pah? Tanpa Papah sadari, dengan papah seperti ini, berarti Papah belum percaya sama Ka Aariz. Tidak kah Papah memikirkan bagaimana perasaan Ka Aariz, yang merasa seperti diteror terus sama Papah?" tutur Vina, yang membuat Dimas membeku.
"Vin, Papah sebenarnya bukan tidak percaya pada Aariz. Papah justru bahagia saat melihatmu dengan gaun pengantinmu dan bisa menikah dengan pujaan hatimu. Papa bangga karena ternyata kamu sudah cukup dewasa, bisa memilih apa yang kamu inginkan dalam hidupmu, yaitu bisa menikah dengan Aariz. Asal kamu tahu Vin, ada perasaan yang sangat berbeda ketika Papah melepaskanmu pergi kuliah jauh dengan pergi menikah dengan pujaan hatimu.Ada rasa takut dalam hati Papah, kalau kamu akan melupakan papah, karena kamu sibuk mengurus keluarga barumu. Walaupun Papah bahagia melihatmu menikah,tapi Papah tidak bisa membohongi hati papah yang juga merasa sedih, karena Papah tidak akan sebebas dulu lagi bertemu denganmu. Ada Aariz yang sekarang menggantikan tugas Papah untuk menjagamu. Papah harus merelakanmu memilih laki-laki lain untuk menjadi orang yang akan melindungimu, sebenarnya itu sangat berat pada hati Papah, tapi Papah bertekad, akan tetap menjadi pelindungmu sampai kapanpun.Karena tangan inilah yang pertama kali menggendongmu dan memelukmu. Dengan tangan ini juga aku mengajarimu untuk bisa melangkah pertama kali, dengan tangan ini juga aku melepaskanmu untuk bisa menikah dengan Aariz dan tangan ini juga akan dengan senang hati manyambutmu seandainya kamu kembali." Dimas diam sejenak untuk mengambil jeda, dan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Vina yang mendengar semu ucapan Papahnya, kini menangis terisak-isak di pelukan Dimas.
Dimas mengalihkan tatapannya ke arah Aariz yang manik matanya juga sudah berkaca-kaca.
"Riz aku percayakan putri Papah padamu. Aku berharap kamu bisa memberikan dia kebahagiaan seperti yang aku berikan padanya. Bahkan kalau boleh melebihi kebahagiaan yang aku berikan padanya.Bertengkar dalam rumah tangga itu, biasa,tapi kalau boleh jangan sampai kamu melayangkan tanganmu untuk memukulnya, karena aku menyerahkannya untukmu bukan untuk kamu pukul. Kalau kamu memukulnya,bukan hanya fisiknya yang merasa sakit tapi juga batinnya. Dan yang pasti Papah juga akan merasakan sakit. Suatu saat kamu pasti akan merasakan apa yang aku rasakan, ketika kamu akan menikahkan putrimu kelak. Tapi, Papah percaya,kalau kamu tidak akan melakukannya ke putri Papah,dan aku harap kamu jangan menghancurkan kepercayaan papah." ucap Dimas panjang lebar memberikan petuah buat Aariz yang kini sudah jadi menantunya.
"Pah, terima kasih sudah mau, mempercayakan Vina buat jadi istriku. Aku berjanji akan berusaha menjadi suami yang bertanggung jawab dan akan membahagiakan Vina. Aku akan selalu berusaha untuk menjadi pelindung buatnya, seperti Papah yang selalu jadi pelindungnya. Dan Papah tenang saja, Vina tidak akan pernah melupakan Papah, karena papah lah cinta pertamanya.
"Aku pegang janjimu Riz. Papah harap kamu dapat merealisasikan janjimu. Jangan hanya kata-kata di mulut saja." ucap Dimas sambil memeluk dan memberi tepukan ringan di pundak Aariz.
"Pah, udah nangisnya ya? Papah gak cocok menangis, tampannya jadi hilang,"
"Dasar menantu durhaka!" Dimas memberikan pukulan yang tidak terlalu keras di kepala Aariz.
Tbc
Jangan lupa buat like, vote, hadiah dan komen ya gais.Thank you
Ketika jantung kamu berdebar-debar tidak karuan di hari pernikahanmu, ada ayah yang jauh lebih merasakan hal yang sama. Makanya mulai sekarang hargailah setiap momen bersama ayahmu!
__ADS_1