YOU ARE MY DESTINY

YOU ARE MY DESTINY
Hal yang tidak sanggup Aariz bayangkan.


__ADS_3

"Vin, sekarang bisa lepasin pelukannya gak! Ada yang sesak nih!" mohon Aariz dengan wajah yang memelas.


"Mana yang sesak Kaka? " Vina tiba-tiba panik. Dia refleks menyentuh dada Aariz dan mengurut-urut dada itu.Tanpa dia sadari, selimut yang tadinya menutupi tubuhnya, kini sudah melorot dan menampakkan bola kasti milik Vina.


"Ya ampun, makin sesak nih! " batin Aariz berteriak. Ingin dia menutup matanya, tapi pemandangan langka dan indah seperti itu, sangat sayang untuk dilewatkan.


Vina melihat kemana arah mata Aariz memandang. " Ih... Ka Aariz lihat apa?! seru Vina seraya menutup kembali tubuhnya dengan selimut.


"Lihat bola kasti! sahut Aariz tanpa sadar.


"Ihhhh, Ka Aariz mesum! "Teriak Vina sambil melemparkan bantal ke wajah Aariz.


"Eh, tunggu dulu! Kok Ka Aariz ada di sini? Ini masih di London kan? bukan di Indonesia? " tanya Vina dengan ekspresi bingung.


"Nanya-nya nanti dulu! Sekarang aku mau keluar dulu! kamu tunggu di sini! " ujar Aariz seraya membalikkan tubuhnya,hendak melangkah keluar.


"Ka, Aariz mau kemana? Jangan tinggalin Vina Ka! Vina takut! " panggil Vina sebelum Aariz benar-benar pergi seraya memeluk Aariz dari belakang dengan erat.


Bola kasti milik Vina seketika menempel ke punggung Aariz, hingga membuat ular yang tadi sudah mulai tidur menggeliat kembali.


Aariz meneguk salivanya, menahan nafas sejenak lalu, menghembuskan nafasnya dengan sekali hentakan.


"Kamu tidak usah takut! Kamu udah aman!. Kaka cuma mau belikan pakaian buat kamu. Kan gak mungkin kamu keluar pakai selimut seperti itu " ucap Aariz berusaha menahan gairah yang mulai muncul.

__ADS_1


Vina melepaskan perlahan pelukannya.Lepasnya pelukan Vina, lepas juga rasa sesaknya." Kaka Jangan lama-la ya!" rengek Vina manja. Biasanya Aariz akan selalu kesal bila Vina bertingkah manja seperti itu. Tapi kali ini Aaris merasa Vina sangat menggemaskan dan ingin mendaratkan bibirnya ke bibir merah milik Vina.


"Iya, aku gak akan lama! Kamu jangan kemana-kemana! Ingat disini aja! " ucap Aariz seraya meninggalkan kecupan di puncak kepala Vina.


Mendapat perlakuan baik dan romatis dari Aariz membuat tubuh Vina seketika membeku, dengan mata yang membesar. Dia tidak percaya dengan apa yang baru dirasakannya. Sampai dia tidak menyadari kalau kini Aariz sudah tidak ada di kamar itu lagi.


"Itu benaran Ka Aariz kan? aku tidak lagi bermimpi kan? " gumam Vina, sambil menepuk-nepuk pipinya dengan sedikit keras.Dia merasakan sakit di pipinya apalagi di bagian bekas tamparan, Dewa tadi.


Vina tidak cukup percaya dengan rasa sakit yang dia rasakan di pipinya. Dia kembali mencubit tangannya dengan kuat, dia pun kembali memekik kesakitan. "Ya ampun, ini ternyata bukan mimpi, ini nyata! aaaaaaa! " Vina menjerit bahagia, seraya mengguling-gulingkan tubuhnya di atas kasur, dan menendang-nendangkan kakinya di udara.


Akan tetapi,kebahagiaan Vina langsung surut begitu dia melihat cincin yang melingkar di tangannya. " Hmmm, Aku kan sudah bertunangan! dan aku belum tahu siapa sebenarnya tunanganku! Kalau memang Ka Dewa, aku yakin Papah akan langsung memutuskan perjodohan ini, kalau Papah tahu, Dewa hampir memperkosaku. Tapi kalau bukan Dewa,gimana? Arghhhhhh! help me God!"


******


Selama menyusuri jalanan ke arah hotel, Aariz tidak bisa membayangkan seandainya dia tidak datang tepat waktu, seandainya dia masih menunda kedatangannya ke London,pasti dia akan benar-benar kehilangan Vina. Dia juga tidak bisa membayangkan seandainya tadi dia tidak melihat langsung perbuatan laki-laki yang katanya tunangan Vina itu.


Flash back On


Aariz menyisir rambutnya dengan rapi sambil bersiul-siul, karena tidak sabaran untuk bertemu dengan Vina malam ini. Lalu sebagai sentuhan terakhir, Aariz menyemprotkan parfum ke tubuhnya. Setelah dirasa siap, Aariz mengayunkan langkahnya, keluar dari kamar. Tiba-tiba dia melihat Seorang laki-laki yang membekap mulut seorang wanita dan memaksanya untuk masuk, jarak 4 kamar dari kamar tempat dia menginap. Sewaktu gadis itu berusaha memberontak, Aariz melihat dengan jelas kalau gadis itu Vina, gadis yang sudah berhasil mengisi hatinya, dan bahkan sangat dirindukannya.


Aariz berlari ingin menolong, tapi pintu kamar sudah keburu ditutup. Aariz langsung berlari masuk ke dalam lift,turun ke bawah menuju lobby hotel. Dia langsung, menuju meja resepsionist untuk meminta kunci cadangan kamar no 306 itu.


"Maaf Tuan, kami tidak bisa memberikannya pada orang lain begitu saja, kecuali yang meminta, orang yang sudah membooking kamar itu sendiri " ucap resepsionis itu dengan ramah.( Anggap saja pakai bahasa Inggris ya).

__ADS_1


"Tapi ini benar-benar urgent Nona! Yang disekap itu pacar saya! " Aariz masih saja tetap memohon.


"Sekali lagi kami mohon maaf Tuan! Kami tidak bisa memberikannya pada andan" resepsionis itu, mengatupkan kedua tangan di dadanya.


Aariz mengusap wajahnya dengan kasar.Dia sangat bingung mau gimana lagi caranya agar dia bisa mendapatkan kunci cadangan itu. Seandainya ini di negara Indonesia, atau negara Asia, pasti dia dengan mudah akan mendapatkan kunci itu.Tapi kenyataannya ini di London.


"Baik, kalau kalian tidak mau memberikan kunci itu, aku tidak bisa jamin, kalau nama baik hotel ini akan tetap bagus di mata umum atau akan hancur dalam sekejap. Kalau Hotel ini citranya buruk, kalian akan kehilangan pekerjaan kalian" Aariz mulai emosi, sehingga nada suaranya sudah mulai menaik.


"Anda tidak boleh mengancam kami Tuan! Kami hanya menjalankan sesuai peraturan hotel ini. Dan yang anda katakan tentang pacar anda diculik, belum tentu benar! " resepsionis itu kini mulai terlihat kesal, akan sikap Aariz.


"Tapi, aku tidak berbohong Nona! coba kalian lihat CCTV di sepanjang koridor menuju kamar 306, kalian pasti akan bisa lihat, kalau aku tidak berbohong " pinta Aariz .


Resepsionis itu pun melakukan,apa yang disuruh oleh Aariz. Ketika dia melihat, kalau apa yang dikatakan Aariz benar adanya. Dia segera memberikan kunci cadangan kamar dimana Vina berada kini.


"Ini Kunci Tuan! Tapi anda tunggu dulu di sini. Saya akan menelepon security untuk membantu anda." Si resepsionis kini menawarkan bantuan.


"Tidak usah Nona, terima kasih ! Aku akan ke sana duluan, biarlah mereka menyusul nanti" " Aariz sedikit berlari menuju lift kembali. Untungnya,dia tidak harus menunggu lift itu terbuka kembali, karena kebetulan ada keluar dari dalam lift.


Sesampainya di lantai 6, Aariz berlari menuju kamar 306 dengan jantung berdebar-debar, berharap Vina masih baik-baik saja


Flashback Off


Tbc

__ADS_1


please like vote dan komen. Kalau mau kasih hadiah juga boleh๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€


__ADS_2