
sudahlah berhenti bertanya yang aneh-aneh!" sahut Seno tidak menjawab pertanyaan Amira. " Apakah kamu mau kembali ke ruangan Aarash?"Tanya Seno kembali untuk mengalihkan percakapan yang saat ini masih ingin dia hindari.
"Nggak mas, lebih baik aku tidak usah muncul dulu di depan Tiara, sampai hasil tes DNA nya keluar.Kalau muncul sekarang,dia pasti bertanya siapa aku,dan aku pasti akan kesulitan buat ngejawabnya"
"Jadi kamu mau kemana sekarang?"
"Aku mau langsung pulang aja mas"
"Ya udah,ayo saya antar kamu pulang" ucap Seno
"beneran mas? mas mau antar saya pulang?" seru Amira gembira, dan tak malu-malu langsung menggandeng tangan Seno.
"Amira ,please deh gak usah bertingkah berlebihan! bisa gak tangan nya dilepas? malu di lihat orang-orang"Seno berusaha melepas tangan Amira dengan pelan-pelan
"Bomat, bodo amat" bukannya melepaskan tanganya, Amira justru semakin mengencangkan peganganganya ke tangan Seno.Sehingga mau tidak mau Seno memasang jurus terakhir yaitu muka garang mode on.
Melihat muka garang Seno yang benar-benar tidak bersahabat,Amira secara perlahan melepaskan tangannya.Dengan langkah-langkah panjang,Seno melangkah mendahului Amira, yang mengikutinya dengan sedikit berlari, karena tidak sanggup mengimbangi langkah panjang Seno.
Didalam mobil,Amira masih tatap memasang muka cemberut, karena sikap penolakan Seno di Rumah sakit.bibirnya manyun 5 inchi ke depan.Hal itu membuat Seno ingin segera mencium bibir merah chery milik Amira.
"Amira, bisa gak bibir kamu agak di kondisikan sedikit? gak usah pake dimaju-majuin! Aku risih ngeliatnya tau gak?"
"Emank kenapa dengan bibir ku? seksi begini" ucap Amira masih tetap memajukan bibirnya, dan melihat ke kaca spion yang didalam mobil.
"Ya Tuhan, Tahan Seno,tahan, loe pasti bisa..
hush hush jauh jauh kau setan" batin Seno sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Mas Seno, lihat nih lihat ,seksi kan? seksi kan" bukannya berhenti ,Amira malah semakin memajukan bibirnya, dan mendekat ke arah Seno.
__ADS_1
"Amira, please berhenti, ntar aku khilaf,aku cium kamu" teriak Seno keceplosan.
Amira refleks menutup bibirnya,dan wajahnya seketika memerah karena menahan malu. Sedangkan Seno mengutuki dirinya yang keceplosan mengungkapkan keinginan yang sudah mati-matian ditahannya.
Suasana di dalam mobil seketika berubah jadi canggung. Tapi, bukan Amira namanya kalau tidak bisa cepat untuk mengatasi suasana akward yang baru saja terjadi.
"Mas Seno, jadi kalau lihat bibir Amira yang monyong-monyong gitu bisa khilaf ya? Kalau gitu Amira monyongin aja akh, biar mas Seno khilaf.Amira suka kok kalau mas Seno khilaf lihat bibir monyong Amira" ucap Amira yang semakin berani menggoda Seno.
"lihat nih mas, bibir Amira, lihat sini lihat .
Khilaf dong mas, kok gak khilaf-khilaf sih? ucap Amira sambil menusuk-nusuk pinggang Seno.
"Amira, bisa gak kamu berhenti bertingkah konyol? kalau kamu terus bertingkah seperti itu, yang ada kita bisa celaka..kamu mau? Ucap Seno sengaja meninggikan suaranya, untuk menutupi keinginannya yang sudah memburu.
"Nggak mau mas, Amira masih mau nikah sama mas Seno. Bulan madu romatis ke tempat - tempat yang indah, melakukan hal-hal romantis,dan punya anak" mata Amira menerawang membayangkan hal - hal yang di ucapkan nya tadi.
Amira refleks melap bawah bibirnya yang ternyata tidak benar ada ilernya.
" ngomong-ngomong mas Seno gak seru ahh" ucap Amira sambil melihat ke luar dari jendela mobil. Tanpa sadar sudut bibir Seno sedikit terangkat.
30 menit kemudian,Seno menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah mewah.Dengan cekatan seorang satpam langsung membuka pintu pagar, begitu melihat siapa orang yang ada di dalam mobil.
Dengan pelan,Seno memasuki pekarangan rumah Amira yang luas,sambil membunyikan klakson mobilnya sebagai tanda sapaan ke pak Satpam.
"Sudah sampai Amira, kamu bisa turun sekarang" ucap Seno memecah keheningan yang tercipta karena masalah bibir.
"Mas Seno gak mau singgah dulu? mami sama papi tidak ada di rumah soalnya, jadi mas Seno bisa bebas untuk khilaf tanpa takut celaka" ucap Amira yang membuat Seno terlihat menelah ludahnya,dan pikirannya langsung traveling ke arah yang iya iya.
" gak celaka gimana? yang ada lo bisa bunting sebelum nikah" bisik Seno pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Udah deh Amira, gak usah macem-macem, aku gak bakal tergoda. Aku masih ada urusan penting yang harus di kerjakan"ujar Seno yang berhasil menahan godaan Amira.
" Ya udah deh kalau begitu" Amira membuka pintu mobil.Dia berniat hendak keluar,tapi sebelum keluar, tiba-tiba Amira berbalik dan tanpa ba bi bu, dia langsung mengecup bibir Seno.Lalu dia berlari masuk ke rumah, sambil berteriak.
"bye bye mas Seno, Amira tunggu khilafnya ya"
Seno yang tiba-tiba mendapat serangan tiba-tiba dari Amira, hanya bisa diam terpaku kaya orang bodoh sepersekian detik. Detik berikutnya Seno menyunggingkan senyumnya sambil berlalu dari rumah Amira.
Sedangkan Amira langsung berlari kedalam kamarnya, mengunci pintunya,dan memegang dadanya yang berdebar kencang.Dia menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, dan menutup mukanya dengan bantal.Dia merasa malu sendiri dengan tingkahnya yang berani.
****
Langit yang tadinya cerah sekarang, sudah berubah menjadi gelap, karena sang mentari sudah menyelesaikan pekerjaannya untuk menerangi bumi, Bahkan sudah mengucapkan bye bye dari beberapa jam yang lalu. Kini sang mentari berganti sift dengan bulan dan bintang-bintang di sekelilingnya.
Langit malam ini sungguh cerah, tapi tidak dengan hati Dimas.Keaadan Dimas malam ini lebih berantakan dari sebelumnya. Entah sudah berapa botol minuman beralkohol yang sudah habis di minumnya.
Ada dua wanita seksi yang dari tadi berusaha menggoda Dimas , tapi Dimas tidak memperdulikan mereka. Dimas dari tadi tak henti-hentinya menyebut nama Billa.
Salah satu wanita seksi itu terlihat tidak menyerah untuk menggoda Dimas.Dengan sengaja dia menempelkan tubuhnya ke tubuh Dimas, berharap Dimas akan tergoda.Dimas yang merasa sangat kesal, dan di tambah sama beban hatinya yang berat, dengan sangat kasar mendorong wanita penggoda itu sampai terjatuh ke lantai.
Hal itu memancing amarah para pengunjung Club malam itu,Tanpa ba bi bu mereka mengeroyok Dimas dan mengahajarnya sampai babak belur. Untungnya Seno yang yakin kalau Dimas pasti pergi ke klub tiba-tiba datang.Dengan kekuasaan mengatas namakan Bimo,para pengunjung yang marah itu dapat segera di atasi.Bahkan Seno sedikit mengancam akan menghancurkan mereka satu persatu, sehingga membuat mereka ketakutan dan memohon ampun.
Seno sangat sedih melihat keadaan Dimas yang sangat memprihatinkan.Dengan susah payah dia, memapah Dimas untuk keluar dari club itu.
**To be continue
Jangan lupa untuk tetap mendukung novel ini ya guys.please like ,komen dan vote.
Author juga masih tetap menunggu kritik dan sarannya.Salam love -love di udara dari babang Seno yang lagi berbunga-bunga.Thank you🥰🥰🥰**
__ADS_1