YOU ARE MY DESTINY

YOU ARE MY DESTINY
Kondisi Laura.


__ADS_3

"Lauraaaaa ...! "teriak Aarash seraya berlari menghampiri istrinya yang menjerit kesakitan.


Darah segar nampak mengalir dari pangkal paha Laura.


"Aarash bawa istrimu cepattt! selamatkan dia dulu, biar 2 jalang ini urusan kami! " teriak Bimo


" Sayang perutku sakit! tolong selamatkan anak-anak kita!" rintih Laura sembari memegang perutnya.


Aarash dengan cepat mengangkat Laura dan berlari keluar untuk membawa Laura ke rumah sakit terdekat.


Sementara itu, Bimo langsung melepaskan ikatan di tangan Tiara dan memeluknya dengan erat.


"Kamu tidak apa-apa sayang? " tanya Bimo sambil membalik-balikkan tubuh Tiara istrinya.


"Aku tidak apa-apa sayang! yang aku khawatirkan sekarang itu menantu kita.Dia lagi hamil sayang," Ujar Tiara dengan sangat panik.


Sementara itu, Jesika dan Laura segera diamankan oleh polisi.


"Lepaskan aku! lepaskaannnn, aku cuma disuruh sama wanita itu!" Teriak Cindy menyalahkan Jesika.


"Diam! Kamu yang juga mau aku ajak kerja sama kan? kamu bilang kamu mau melenyapkan wanita yang mengambil kebahagiaanmu.Jadi jangan menyalahkanku aja" Jesika balik berteriak,tidak terima disalahkan oleh Cindy.


"Dan jangan lupa, kalau tidak karena aku, kamu akan jadi gelandangan diluar sana!"sambung Jesika lagi.


"Diam!" teriak Bimo sembari mengayunkan langkahnya mendekati Jesika dan Cindy.


"Jesika, ternyata hukumanmu dahulu terlalu ringan.Dulu aku masih baik mengingat kalau kamu pernah menjadi temanku.Tapi sepertinya sekarang itu tidak berlaku lagi.Sayang kamu seorang perempuan. Seandainya kamu laki-laki, aku pasti akan menghabisi kamu sekarang!" Bimo berucap dengan nada yang sangat sinis.


"Bimo, aku melakukannya karna aku terlalu mencintaimu.Aku sudah mencintaimu sejak kita SMP. Tapi, kenapa kamu tidak pernah menganggap ku sama sekali? Apa kurangnya aku dibanding Tiara? Aku cantik, aku juga seksi, kenapa kamu tidak pernah sekalipun memandangku, hah? " pekik Jesika sembari menangis sesunggukan.

__ADS_1


"Cih, kamu kira, cantik saja cukup. Kamu boleh cantik tapi kamu tidak punya attitude sama sekali.Aku muak melihat mu! Sekarang aku tidak akan mengampuni mu lagi, walaupun orang tua mu berlutut di kaki ku." tegas Bimo.


Bimo mengalihkan pandangannya ke arah Cindy.Dia menghunuskan tatapan yang sangat tajam, seperti tajamnya belati yang siap menghujam sampai ke jantung.


Cindy meneguk ludahnya dengan susah payah, gemetar melihat sorot mata yang berkilat-kilat dari manik mata Bimo.


"Dengar Cindy! seandainya Laura tidak ada, kami pun tidak akan sudi mendapat menantu sepertimu.Kamu perempuan tidak tahu diri sama seperti mamahmu, yang mengaharapkan dapat hidup mewah tanpa usaha apa pun.Dan dengar sini, Kalau sempat terjadi apa pun, pada menantu dan cucu ku, aku tidak akan membiarkanmu hidup. Kamu tidak akan dihukum 5 atau 10 tahun, tapi kamu dan perempuan di sana itu, aku pastikan akan mendapat hukuman mati." ucap Bimo.


"Tidak,Om, tidak! aku minta maaf Om, aku janji tidak akan mengulanginya lagi." Cindy berlutut memohon di kaki Bimo sembari terisak-isak.


"Pak polisi, bawa mereka!" perinta Bimo.


"Baik, Pak Bimo! " Polisi hendak mengayunkan langkahnya, untuk membawa Jesika dan Cindy yang masih tetap meronta-ronta.


"Tunggu!" teriakan Tiara, membuat para polisi itu menghentikan langkah mereka.


Tiara mengayunkan langkahnya mendekat menghampiri, Jesika dan Cindy. Tiara menatap kedua wanita itu, dengan sorot mata yang sangat tajam. Detik berikutnya tangan Tiara terayun,mendaratkan pukulan ke wajah Jesika dan Cindy berulang-ulang.


*******


"Tolong istriku Dok!" teriak Aarash ketika baru saja menginjakkan kakinya di rumah sakit.


Para dokter dan para perawat yang tahu siapa Aarash dengan sigap langsung membawa Laura yang kini tidak sadarkan diri ke ruang pemeriksaan.


"Tuan,tunggu di luar! kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan istri anda," ujar dokter itu sambil menutup pintu.


Aarash, terlihat mondar-mandir di depan ruangan dimana istrinya sedang ditangani oleh dokter. Sesekali dia mengintip dari pintu, tidak sabar untuk mengetahui keadaan istri dan anak-anaknya.


"Ya, Tuhan, lindungi lah istri dan anak-anakku.Selamat mereka ya Tuhan." Aarash berdoa dalam hati sembari terduduk di kursi besi depan ruangan Laura.

__ADS_1


Penampilan Aarash sekarang sangat berantakan. Noda darah yang keluar dari pangkal paha Laura, menempel dan bahkan sudah mengering di kemeja putihnya. Rambutnya sudah berantakan, karena dari tadi, dia tidak berhenti menggusak rambutnya.


" Suami Ibu Laura?" panggil dokter yang sepertinya sudah selesai melakukan penanganan buat Laura.


Aariz sontak berdiri dan langsung menghampiri dokter itu.


"Saya, Dok! bagaimana dengan istri dan anak-anak ku Dok?" tanya Aarash tidak sabaran dan raut wajah yang masih panik.


"Tuan tenang dulu! Kita bicara di dalam dulu Tuan!" Aarash mengikuti dokter untuk masuk ke dalam, dan langsung duduk di depan dokter, setelah dokter itu mempersilahkan mereka untuk duduk.


"Cepat beritahu aku Dok! jangan mengulur-ulur waktu!" Aarash yang tidak sabar, berdiri dan mencengkram kerah baju sang dokter.


"Tenang dulu,Tuan ... tenang! anda duduk dulu, ini aku mau memberitahukan Tuan!" ucap dokter itu berusaha untuk tenang.


"Begini, Tuan, istri anda tidak apa-apa, cuma____"


"Cuma apa? Cepat Dok!" nada suara Aarash meninggi sambil berdiri dan menggebrak meja.


"Anda tenang dulu Tuan! bagaimana aku bisa menyelesaikan ucapanku, kalau Tuan memotong terus pembicaranku." Dokter itu, kelihatan sudah mulai kesal dengan Aarash.


"Baik ... baik maaf, Dok! Aarash kembali duduk berusaha untuk tetap tenang.


"Tuan Aarash, seperti yang aku katakan tadi, Istri anda baik-baik saja,tapi karena benturan yang dialami istri anda cukup keras, membuat salah satu janin di rahim istri anda tidak tertolong, karena memang kondisi janin yang satu ini cukup lemah. Akan tetapi, yang dua lagi masih baik-baik saja, karena mereka tergolong kuat. Maaf kami tadi sudah berusaha untuk menyelamatkan yang satu lagi,tapi kami tidak bisa Tuan! " papar dokter itu menjelaskan.


Aarash tertegun mendengar penuturan dokter itu.Tanpa disadarinya, air matanya jatuh menetes, mengingat dia telah kehilangan salah satu calon anaknya.


"Tuan, aku tahu Tuan sangat sedih, karena kehilangan salah satu calon anak anda. Tapi aku berharap Tuan jangan terlalu bersedih sampai mengabaikan yang dua lagi.Sekarang anda harus bisa memberitahukan kabar ini dengan hati-hati saat istri anda sadar nanti." ucap Dokter itu sambil menepuk-nepuk bahu Aarash. " Kalau boleh,untuk 1 minggu ini, jangan biarkan istri anda melakukan apapun.Dia harus benar-benar bed rest dan mengkonsumsi vitamin dan asam folat.," sambung dokter itu kembali menjelaskan.


"Terima kasih Dok! aku akan berusaha melakukan yang terbaik buat istri dan anak-anakku." ucap Aarash sembari menjabat tangan sang dokter dan membuka tirai untuk melihat Laura istrinya yang masih tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Tbc


Jangan lupa buat tetap like,vote dan komen ya gais.Thank you


__ADS_2