
"Hai Billa apa kabar?"
Tiara menoleh ke arah orang yang memanggilnya Billa.Dan dia kaget begitu melihat orang yang memanggilnya.
"K k ka Dimas? kok bisa tahu aku ada di sini? ucap Tiara/Billa setelah bisa mengontrol rasa kagetnya.
"Emm, kenapa Bil? kamu tidak senang melihat aku ada disini?"
"bukan begitu ka,aku senang kok. Ka Dimas apa kabar?"
"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja walaupun ada yang kurang semenjak kamu gak ada" jujur Dimas.
"haha ka Dimas bisa aja bercandanya" ujar Tiara sambil tertawa hambar,berusaha menutupi kegugupannya.
"Apakah aku kelihatan bercanda Bil? aku memang merasa kehilangan semenjak kamu gak ada.Dan jujur aku kecewa ketika kamu memilih untuk berhenti bekerja tanpa memberitahukan aku sebelumnya"
"Maaf ka Dimas,saya pikir kita gak sedekat itu,yang harus memberitahukan apapun yang akan lakukan.jadi menurut aku, dengan menyerahkan surat resign saja sudah cukup".
Dimas merasa kesulitan untuk bernafas,Dadanya begitu terasa sesak setelah mendengar ucapan wanita pujaannya, yang ternyata tidak pernah menganggap kedekatan mereka berarti.
"hmm begitu ya Bil? Apakah kamu sedikitpun tidak punya perasaan suka kepadaku Bil?" ujar Dimas berharap.
"Aku tidak punya alasan untuk tidak suka sama kak Dimas,tapi jujur hanya rasa suka biasa, karna aku menganggap mu kakak,tidak lebih.Aku harap ka Dimas bisa mengerti" ujar Tiara.
"Emm tidak apa-apa Bil,untuk sekarang kamu mungkin belum bisa mencintaiku,tapi aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan hatimu Bill,karena aku yakin tidak ada usaha yang menghianati hasil" ucap Dimas berapi-api dan penuh keyakinan.
"Terserah ka Dimas, yang penting aku sudah bicara yang sebenarnya ke ka Dimas,Aku berharap, kakak gak terlalu menaruh harapan padaku,karena sejujurnya kakak tidak tahu apapun tentang aku".ucap Tiara tegas, membuat mulut Dimas seketika bungkam.
***
Matahari siang ini sungguh sangat terasa panas,di saat-saat seperti orang-orang akan mudah sekali terpancing emosinya.Akan tetapi, hal itu tidak berlaku kepada Seno.Hari ini dia begitu gembira karena gadis bernama Amira. Bahkan Karena begitu bahagianya, dia lupa dengan prinsip hidup hemat yang mengarah ke pelit itu.
Hari ini dengan entengnya, dia mengajak Bimo untuk makan siang, dan mengatakan kalau hari ini dia yang akan bayar.Hal itu seketika membuat Bimo heran plus khawatir. Dan disinilah mereka sekarang,duduk di Cafe milik Dimas.
__ADS_1
"Sen Lo beneran gak lagi sakit kan?" ujar Bimo yang memang masih kebingungan atas perubahan Seno.
" Ya nggak lah Bim,sehat begini lo bilang sakit.parah lo!" ucap Seno.
"Oh ya Dimas dimana ya? katanya dia udah di Jakarta lagi, tapi dia kok gak kelihatan dari tadi? tanya Bimo sambil celingukan melihat sekeliling cafe.
"Oh tadi aku udah hubungin dia,katanya dia lagi diluar, dan sebentar lagi dia akan datang" sahut Seno
ting (bunyi handphone Bimo).
Bimo melihat handponenya dan melihat sebuah pesan yang ternyata dari sang mamah.
" Bim ingat pesan mamah ya,kalau dalam minggu ini kamu tidak membawa calon menantu mamah,Jesika siap menanti" bunyi pesan bu Sarah yang diakhiri dengan emoticon love dan kiss.
"Sial"ucap Bimo tanpa sadar
"Lo kenapa Bim?"
" Mamah Sen,dia ngancam aku,kalau dalam mingggu ini aku tidak membawa kekasih ku ke rumah, mamah akan segera menikahkan aku dengan si Jesika, gue bingung Sen.wanita mana yang akan ku bawa coba? desah Bimo berat.
"Nggak bisa Bim,dia gak bakal mau"ujar Seno yang tidak terima kalau gadis pemujanya itu di jadikan pacar oleh Bimo sekalipun itu hanya pura-pura.
"Lha emang kenapa Sen? Lo suka dia ya?ucap Bimo curiga sambil memicingkan kedua netranya.
"Ah nggak kok,siapa bilang aku suka dia?aku cuma nebak-nebak aja.Kan kamu tahu kalau dia gak suka sama kamu. elak Seno dengan wajah yang sedikit berubah merah.
"Kan kamu bisa urus masalah itu Sen,dia kayanya suka sama kamu.pasti dia mau dengerin kamu Sen. please sen,cuma pura-pura kok, habis aku kenalkan ke mamah ya udah selesai.Kamu gak mau kan aku menikah dengan Jesika?" mohon Bimo dengan muka yang memelas.
"Baiklah akan aku usahakan,tapi cuma pura-pura aja kan?"ucap Seno memastikan.
"Iya sen" sahut Bimo senang.
"Kayanya Seno sudah jatuh cinta ke Amira ,tapi malu untuk mengakuinya" batin Bimo sambil tersenyum.
__ADS_1
***
"woi bro udah lama nunggu?" ucap Dimas yang baru saja datang dan membawa dua anak laki-laki kembar. Ya setelah Dimas gagal melakukan pendekatan kepada Billa,dia berencana melakukan pendekatan lewat kedua anak kembar itu.Dengan sengaja dia menjemput Aarash dan Aariz dan mengajak jalan-jalan,berharap kedua anak itu akan menyukainya dan memohon kepada bundanya untuk menjadikan Dimas ayah mereka.
"Udah lumayan lama sih sob.Bawa siapa lo,? Tanya Seno heran melihat kedua anak yang dibawa Dimas.Sedangkan Bimo menatap kedua anak itu dengan perasaan yang sulit di jelaskan.Sampai Bimo merasa bingung dengan perasaannya sendiri.
" oh ini anak-anaknya Billa, sekaligus calon anak-anak ku kelak bisik Dimas di telinga Seno".
"Aarash , Aariz kenalkan ini teman-teman om. Yang ini om Bimo dan yang ini om Seno" ucap Dimas tersenyum memperkenalkan Bimo dan Seno.
" Hai om,saya Aarash, dan ini adik kembar saya Aariz" ujar Aarash memperkenalkan dirinya dan adiknya sambil menyalami tangan Bimo dan Seno. Saat tangan kedua anak itu menyentuh tangan Bimo,jantung Bimo berdetak dua kali lebih kencang dan tangannya bergetar seperti terkena aliran listrik.
"kayanya jantung aku agak bermasalah, dan kayanya aku kudu periksa kedokter" batin Bimo
"Bukannya om ini, tuan Bimo pengusaha terkenal itu ya?" ujar Aarash dengan mata yang berbinar-binar.
"Iya Kamu kenal sama om?" ujar Bimo.
" Iya om, aku sangat suka sama om,dan kalau aku sudah besar aku punya cita-cita ingin seperti om. Menjadi orang yang sukses.
"Apa Aarash punya alasan kenapa mau seperti om?" Tanya Bimo yang merasa punya chemistry dengan kedua anak kembar itu. Padahal selama ini Bimo termasuk orang yang gak terlalu suka dengan anak-anak.
"cuma satu om tujuan kami, menyenangkan dan membahagiakan bunda.kalau nanti kami sudah sukses, kami tidak akan mengizinkan bunda kerja keras lagi.ujar Aarash dengan semangat.
"Dan kami tidak akan membiarkan bunda menangis lagi" Sambung Aariz sang adik.
"Mau gak om membantu kami belajar bisnis, biar bisa sukses seperti om?" Tanya Aarash kembali.
" Tentu om mau," ucap Bimo sambil mengelus kepala bocah itu dengan lembut.Sehingga Seno yang melihatnya menautkan kedua alisnya, karena heran melihat Bimo yang cepat akrab dengan dua bocah itu. Sedangkan Dimas merasa sedikit cemburu melihat dua bocah itu sangat cepat akrab dengan Bimo, dan sepertinya lebihnyaman berbicara dengan Bimo di bandingkan dengan dirinya.
To be continue
jangan lupa tinggalkan jejak ya guys.please like,vote dan komen🙏🙏
__ADS_1
Author juga tunggu kritik dan sarannya. thank you😀🥰🥰