YOU ARE MY DESTINY

YOU ARE MY DESTINY
Arti persaudaraan.


__ADS_3

Semua sudah masuk kedalam mobil, dan sekarang giliran Dion yang belum masuk. Ketika tubuhnya baru masuk setengah, tangannya tiba-tiba ditahan oleh tangan yang kecil.


"Bang Dion, Ratih boleh ikut gak? Ratih ikut ya, ya!" rengek Ratih dengan manja, yang tiba-tiba muncul kaya jailangkung.


"Lepasin tangan aku Ratih!" Suara Dion masih rendah, karena dia masih berusaha menekan kekesalannya.


"Nggak mau! aku mau ikut Bang Dion!" Ratih masih tetap merengek.


Dion menarik nafas dalam-dalam dan menghebuskannya kembali.Dia melakukannya berulang-ulang untuk bisa mengontrol emosinya.


"Ratih, lepaskan tanganku! jangan sampai aku bertindak kasar padamu." Dion menatap tajam ke arah Ratih, sehingga Ratih bergidik, merasa takut dengan sorot mata yang tajam yang di dihunuskan oleh Dion padanya. Dia pun perlahan melepaskan tangan Dion dengan terpaksa.


"Dion, kamu jangan sombong ya! mentang-mentang kamu sudah jadi orang kaya, kamu jadi lupa,kalau orangtuamu itu sering kami bantu." celetuk Minah istrinya Bono yang tiba-tiba saja sudah ada di tempat itu.


" Sekarang sebagai balas budi, kalau keluarga kami sudah menerima kamu selama ini, kamu harus menikah dengan Ratih!" Bono juga yang sudah ada di sana ikut menimpali kata-kata istrinya. Sedangkan wajah Ratih terlihat sudah berbinar-berbinar mendengar ucapan Papahnya.


"Bono! kamu tidak boleh berkata begitu! Kamu tidak boleh memaksakan kehendakmu pada Dion, karena tahu status Dion sekarang!" Beni kembali turun dari dalam mobil untuk menegur adiknya, yang dianggapnya sudah sangat keterlaluan dan bertingkah memalukan.


"Cih, Kakak juga mau menyombongkan diri sekarang ya? mentang-mentang mau tinggal di rumah orang kaya, kamu jadi berani berbicara sekarang." cetus Bono, menatap Kakaknya Beni dengan tatapan iri.

__ADS_1


"Aku tidak menyombongkan diri Bon, aku cuma gak mau, kamu bertingkah memalukan begini." Beni sudah kembali lembut berucap pada Bono.


"Bertingkah memalukan gimana? aku kan cuma mau dia membalas budi saja, dengan menikahi Ratih. Itu kan tidak salah." Bono tetap saja keras kepala dan tidak mau mendengarkan kakanya Beni.


Ingin sekali Dion mengeluarkan umpatan kasar pada Pak Bono. Tapi dia masih berusaha untuk menahannya, karena masih memandang Beni, bapak angkatanya. Bagaimanapun Bono itu adalah adik Bapak angkatnya itu. Sedangkan Bimo dan yang lainnya juga berusaha untuk menahan diri di dalam mobil.


" Bono, stop! selama ini aku hanya diam, melihat kelakuanmu. Selama ini kamu tidak pernah menghargaiku sebagai Kaka kamu. Rumah peninggalan orangtua kita, kamu kuasai, kami diam saja, karena Aku dan Mba mu, berpikir tidak ada gunanya meributkan hal itu.Tapi, makin lama, kamu dan istri kamu semakin menginjak-injak harga diri kami. Sekarang kamu mau Dion, membalas budi? balas budi apa, hah?! hal baik apa yang pernah kalian berikan padanya? selain makian dan hinaan padanya?" Kali ini Beni tidak bisa lagi menyimpan amarah yang selama ini selalu dia tahan.


"Kakak jangan lupa diri! dengan kami menerima dia sebagai anggota keluarga kita, bukannya itu sudah sepatutnya dia balas?" ucap Bono.


"Jangan lupa juga, kalau kalian tidak pernah menerima dia.Kalau benar kalian selama ini sudah menerima dia dengan baik, tentu kalian juga akan menyayanginya dengan tulus.Tapi, yang justru yang kalian tunjukkan adalah hal sebaliknya. Dan masalah kalian membantu kami,itu bukan cuma-cuma kan? itu tetap merupakan utang dan harus aku kembalikan tepat waktu,dan justru kamu membuatnya berbunga, padahal aku ini Kakak kamu sendiri.Apa kamu masih bisa dibilang punya hati?" ucap Beni berapi-api, antara tidak tega, sedih dan marah bercampur jadi satu.


"Tapi, setidaknya kami sudah meringankan bebanmu di saat kamu membutuhkan." Bono tetap tidak terima dengan ucapan Kakaknya.


Bono tidak bergeming, dia diam terpaku,tidak bisa berkata-kata apa lagi. Keegoisannya menguap entah kemana. Dulu dia merasa bangga karna bisa lebih unggul dari Kakanya itu.Mempunyai pendidikan, pekerjaan dan bahkan mempunyai keturunan, membuat dia jadi sombong dan tidak menghargai kakaknya sama sekali. Ditambah dengan hasutan-hasutan istrinya membuat dia semakin tidak menghormati Kakanya yang sudah banyak membantunya dan mendukukungnya dulu. Baik secara finansial, dan tenaga untuk dia bisa bersekolah sampai ke perguruan tinggi.Kakaknya Beni lah yang berperan penting untuk semuanya itu.


Tanpa disadarinya, air matanya menetes membasahi pipinya, mengingat semua perjuangan Kakaknya untuknya, ketika mereka kehilangan kedua orangtua mereka. Tubuhnya tiba-tiba tersungkur,berlutut di kaki Beni.


"Maafin aku,Ka! aku telah membiarkan keegoisan, keserakahan dan kesombongan merajaiku. Aku tidak pernah menghormatimu sebagai Kakakku,orang yang selama ini sudah menggantikan peran orangtua bagiku.Jangankan untuk menghormatimu, menghargai saja aku tidak pernah." Bono sesunggukan sambil menyentuh kaki Beni.

__ADS_1


"Pah, kamu jangan berlutut begitu dong! bikin malu aja tahu gak!" Minah istri Bono, tidak terima melihat suaminya berlutut pada orang yang dia anggap lebih rendah dari dirinya.


"Kamu Diam! kamu tidak tahu, justru apa yang aku dapat selama ini, karna perjuangan Kakaku. Aku dapat pekerjaan yang bagus, dan berpenghasilan yang bagus, sehingga ada yang kamu habiskan, itu semua karena Kakakku. Harusnya setengah dari semua itu adalah hak Kakakku!" Suara Bono, meninggi ke arah istrinya.Hal yang tidak pernah dia lakukan,sehingga membuat Minah beringsut takut.


"Udah Bon, kamu jangan membentak istri kamu. Yang penting sekarang kamu sudah sadar.Kaka tidak butuh kamu, memberikan uang atau apapun pada Kaka.Yang kaka butuhkan, kita bisa seperti dulu lagi." ucap Beni sembari memeluk adiknya itu.


"Terimakasih Ka ... terima kasih! Kamu telah menyadarkanku kembali." Bono membalas pelukan Kakaknya dengan erat.Lalu dia menoleh ke arah Dion dengan tatapan yang sendu, menerbitkan senyuman di bibirnya.


"Maafkan paman juga Yon! walaupun kamu bukan anak kandung Kakakku, kamu tetap keponakanku." ucap Bono yang hampir saja menjatuhkan dirinya ke kaki Dion.Untungnya Dion dengan sigap menangkap tubuh Bono, sebelum dia benar-benar berlutut.


"Tidak Pa-pa Paman! terima kasih kalau sudah mau menerimaku menjadi keponakanmu.Sekarang kami mau pamit dulu Paman, jaga diri kalian baik-baik!" sahut Dion


"Baiklah Nak Dion, kalau ada waktu, main-main lah ke sini!" ucap Bono sembari menepuk-nepuk pundak Dion denga lembut.


"Jadi gimana dengan pernikahannya, Pah?" celetuk Ratih tiba-tiba.


"Tidak akan ada yang menikah. Dion itu sepupumu, ayo kita pulang!" sahut Bono sembari menarik tangan Istri dan anaknya Ratih yang mengikuti Bono sembari menghentak-hentakkan kakinya.


Tbc

__ADS_1


Sekarang udah hari Senin, kalau bersedia kasih kupon Vote rekomedasinya ke novel ini dong, biar aku semakin semangat buat upnya. macih


Jangan lupa buat like ,rate,hadiah dan komen ya gais. Thank you🙏🥰🤗


__ADS_2