
Tiara diam sejenak untuk kembali mengatur nafasnya. Setelah itu dia berkata kembali. " Aarash sekarang kamu harus menikahi Ayu! "
Mata Aarash seketika membesar dengan mulut yang ternganga. "Ta-tapi Bun ....!"
"Tidak ada tapi-tapi. Bagaimanapun,kamu sudah merenggut kesuciannya. Jadi, kamu harus bertanggung jawab atas apa yang telah kamu perbuat ! tegas Tiara tak terbantahkan.
"Tapi Bun bagaimana dengan ....."
"Tapi apa? bagaimana dengan Laura, begitu maksudmu? dalam situasi begini, kamu masih bicara soal Laura? Kamu punya hati tidak?! Tiara meninggikan suaranya. Dia sangat berang dengan putranya Aarash yang masih saja memikirkan Laura.
"Sekarang Bunda mau tanya, apakah kamu mau ,hidup Ayu sama seperti Bunda dulu? Bagaimana kalau seandainya benih kamu sudah tertanam di rahim Ayu sama seperti Bunda dulu? Apakah kamu mau anak kamu bernasib sama seperti mu? Kamu sudah pernah merasakan bagaimana rasanya dihina, diteriakin anak haram sama orang-orang, apakah kamu mau anak kamu bernasib sama sepertimu? Hah?! Jawab Bunda! " Tiara mencengkram dan mengguncang bahu Aarash dengan keras. Air mata Tiara kini sudah merembes keluar tak tertahankan lagi.
Mendengar ucapan Tiara, perasaan bersalah Bimo kembali menguap.Bimo menengadahkan mukanya memandang ke atas untuk menahan, agar air matanya tidak keluar.
Aarash menunduk wajahnya, mendengar semua ucapan Bundanya. Seketika bayangan masa kecil mereka, berseliweran di benaknya. Dia mengingat dengan jelas,bagaiman mereka selalu jadi bahan pergunjingan orang-orang.Aarash juga mengingat bagaimana perjuangan Bundanya untuk menghidupi mereka berdua.
Tiara kembali menghela nafasnya dan mendaratkan tubuhnya untuk duduk di atas ranjang di samping Aarash. "Rash, apakah dulu kamu dan Laura berjanji akan menikah kalau sudah dewasa? " Aarash menggelengkan kepalanya. "Apakah kamu pernah mengatakan kalau kamu akan menunggunya sampai dewasa?" Aarash kembali menggelengkan kepalanya.
"Jadi buat apa kamu menunggunya? Kamu tidak punya hal yang harus kamu pertanggung jawabkan terhadap Laura. Sedangkan sekarang kamu punya kewajiban untuk mempertanggung jawabkan perbuatanmu terhadap Ayu. Kalau kamu yakin Laura masih hidup, apakah kamu bisa menjamin kalau Laura masih menyukaimu? Tidak kan?. kalau seandainya dia pun masih menyukaimu, kalau dia wanita baik-baik, dia pasti akan menerima semua yang terjadi. Sebagai seorang perempuan, justru dia akan membencimu ,kalau kamu tidak mau mempertanggung jawabkan perbuatanmu. " Tiara kini sudah kembali kepada sisi ke ibuannya. Dia sudah terlihat tidak se-emosional tadi.
Aarash tidak bergeming sama sekali. Dia tidak tahu mau mengatakan apa - apa buat Bundanya. Dia menarik ekor matanya, melirik ke arah Ayu yang masih terisak-isak di pelukan Bi Asih.
"Sekarang Bunda mau tanya, kamu harus jawab jujur Bunda. Apakah kamu benar-benar mencintai Laura? atau hanya sekedar penasaran saja, apakah Laura masih menyukaimu atau tidak? "
"Aku tidak tahu Bunda! jawab Aarash yang memang kini masih bingung.Di lain sisi dia ingin sekali bertemu dengan Laura. Tapi setiap kali dia berusaha membayangkan wajah Laura kecil, justru wajah Ayu yang selalu muncul.
"Sekarang, Bunda tidak mau, kamu cari alasan lagi.Pokoknya Kamu harus menikahi Ayu secepatnya! " Tiara mempertegas keputusannya.
Aarash tetap tidak bergeming, mulutnya seakan kelu untuk sekedar mengatakan iya.
__ADS_1
Melihat kebimbangan yang terbit di manik mata Aarash, Aariz tiba-tiba bersuara dengan lantang "Biar aku yang akan menggantikan Aarash untuk menikahi Ayu! " Seru Aariz tegas.
Semua mata langsung menoleh bersamaan ke arah Aariz, tidak terkecuali Aarash dan Ayu. Mereka tidak menyangka, kalau Aariz bersedia menggantikan Aarash.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata berair milik Vina, menatap sendu ke arah punggung Aariz yang membelakanginya. Hatinya masih merasakan perih yang amat sangat ketika mendengar Aariz yang bersedia menikahi Ayu.
Vina memutar badannya, berbalik dan melangkah keluar, sebelum orang-orang yang ada disana menyadarinya. Sesampainya di bawah, Vina berlari keluar dan menghampiri Pak Kusno,security di rumah Bimo.
"Pak Kusno.. ,di dalam sepertinya lagi ada masalah. Aku segan untuk memberikan ini sama tante Tiara. Aku titip sama Pak Kusno ya! dan tolong nanti Pak Kusno yang kasihkan ke tante Tiara." Vina memberikan sebuah bungkusan,oleh-oleh dari Bandung,pesanan Tiara.
"Baik Non Vina! Nanti akan Bapak kasih ke Bu Tiaranya " Pak Kusno menerima bungkusan itu dan meletakkannya ke dalam ruangan posnya.
"Terima kasih Pak Kusno. " ucap Vina seraya menyelipkan senyuman tipis di bibirnya.
Vina kembali melangkah menghampiri mobilnya, lalu masuk kedalam mobil. Sepersekian detik kemudian, sinta melesatkan mobilnya, berlalu dengan air mata yang membasahi pipi,meninggalkan rumah yang ditempati oleh pemuda yang sudah lama dicintainya itu.
"Apakah kamu sudah memikirkan matang-matang apa yang baru kamu ucapkan Riz? Ini hal yang serius, bukan main-main " Tanya Tiara dengan kening berkerut.
"Sudah Bunda!" tegas Aariz.
"Tapi Bunda tidak setuju. Siapa yang berbuat dia lah yang harus bertanggung jawab"
"Bu Tiara, Aku tidak mau memaksa Tuan Aarash untuk menikahiku.Aku juga tidak menyalahkan Tuan Aarash atas semua yang terjadi. Karena ini bukan kemauannya.Aku juga tidak mau menikah dengan Tuan Aariz,aku tidak mau membuat Tuan Aariz mempertanggung jawabkan apa yang tidak diperbuatnya. Aku tidak akan menuntut siapa pun Bu, Pak!. Tapi, aku mohon izinkan aku untuk tetap ada di sini, karena aku tidak punya tempat tinggal lagi Bu! Ayu tiba-tiba berucap dengan mata yang sudah terlihat mengecil karena terlalu banyak menangis.
Tiara menatap Ayu dengan tatapan sendu.Dia seperti melihat dirinya yang dulu ada pada Ayu.
"Tapi Yu, walaupun Aarash tidak sengaja, dia tetap telah merusak apa yang kamu jaga selama ini.Jadi, dia harus tetap bertanggung jawab !"
"Ayu tidak masalah bu! Ayu...."
__ADS_1
"Aku akan bertanggung jawab.Aku akan menikahimu" Aarash tiba-tiba bersuara dan memutuskan dengan tegas.
Mendengar keputusan putranya, Bimo menepuk pundak Aarash dengan lembut, diikuti tonjokan kecil dari Aariz.
Sementara itu, Vina berlari masuk ke kamarnya tanpa menyapa kedua orangtua dan adiknya Vano, yang kebetulan sedang bercengkrama di ruang keluarga.
"Ada apa lagi dengan tuh anak? Apa Aariz buat dia menangis lagi? " kening Dimas terlihat berkerut dan rahangnya juga mengeras.Karena jujur walaupun,dia mengatakan dia tidak menyalahkan Aariz, tapi tetap saja, sebagai seorang ayah, hatinya tetap merasa sakit melihat putri kesayangannya menangis.
"Sepertinya iya Pah. Vina sepertinya belum bisa menerima semua nasehat kita. Dia belum bisa sepenuhnya mengikhlaskan Aariz" ucap Sinta seraya menghela nafasnya dengan berat.
Vano sontak berdiri dan hendak berlalu meninggalkan kedua orangtuanya. Di manik matanya kini tampak kilatan amarah yang amat sangat.Dia benar-benar benci dan tidak suka melihat kakaknya menangis.
"Kamu mau kemana?" tanya Dimas ketika melihat putranya itu berdiri sambil mengepalkan tangannya.
"Aku mau kasih pelajaran buat orang angkuh yang membuat kakaku menangis Pah! " Sahut Vano dengan bahu yang naik turun akibat nafasnya yang memburu.
"Kamu jangan pergi kemana-mana! Kamu tidak tahu duduk persoalannya.Mending sekarang kamu mandi.Karena Papah tahu, kalau kamu belum mandi dari tadi. " tegas Dimas.
"Tapi Pah...."
"Gak ada tapi-tapi. Sekarang turuti perintah Papah.Urusan kakakmu, biar Papah dan Mamah yang urus." ucap Dimas dengan tegas dan tidak bisa terbantahkan.
Vano akhirnya melangkah masuk ke dalam kamarnya. Sementara itu Dimas dan Sinta ke dalam kamar putrinya Vina yang kebetulan tidak di kunci.
Tbc
Jangan lupa buat Like dan komennya gais. Minta hadiah nya juga dong.😁😁😁😁
Oh, ya sembari nunggu yang ini Up, mampir juga dong ke karyaku yang satu lagi.Seru juga lho.( kata pembaca yang di fb sih😁)
__ADS_1