YOU ARE MY DESTINY

YOU ARE MY DESTINY
Vina, I'm coming


__ADS_3

Aariz benar-benar melaksanakan rencananya.Dia menurunkan harga dirinya untuk mengajak damai Vano duluan. Sudah hampir 30 menit, Aariz menunggu Vano keluar dari sekolahnya. 15 menit yang lalu, Aariz hampir saja mau pergi karena tidak sabaran menunggu. Tapi ketika mengingat senyuma laki-laki lain ke Vina, dia pun mengurungkan niatnya untuk pergi.


Remaja-remaja SMA tempat Vano sekolah, sudah terlihat berhamburan keluar dari pintu gerbang.Aariz langsung memasang matanya setajam silet, agar jangan sampai kehilangan jejak Vano.


"Nah, tuh dia anaknya! " ucap Aariz, ketika melihat Vano sedang keluar,dari pintu pagar sekolahnya dengan mengendarai motor sportnya.


Aariz langsung membuka jendela mobilnya seraya membunyikan klakson, ketika Vano persis ingin melintas di dekat mobilnya parkir.


Vano menghentikan motornya, ketika melihat siapa orang yang ada di dalam mobil itu. Dia menatap Aariz dengan tatapan tajam dan tidak suka.


"Mau apa kesini? " tanya Vano dingin, ketika Aariz sudah keluar dari mobilnya, dan kini sudah berdiri di depannya.


"Hmm, kamu masih marah sama Kaka? " tanya Aariz berusaha untuk menahan emosinya, ketika Vano bertanya dengan tidak sopan.


"Apaan sih? sekarang cepat katakan apa mau mu? Kalau nggak, aku tinggal sekarang! " Vano menatap Aariz dengan tetap memasang wajah tidak ramah.


Aariz menghebuskan nafasnya dengang cepat, sekaligus untuk membuang rasa kesalnya pada sikap Vano.


"Hmmm, ok, aku mau minta bantuan mu, untuk memberitahukan aku alamat tempat Vina tinggal sekarang di London! Aariz akhirnya tidak mau berbasa -basi lagi.


"Buat apa? Kamu belum puas menyakiti hati Kaka ku? Jadi kamu kesana mau nyakitin dia lagi, gitu? " Sindir Vano sarkasme.


Aariz mengelus dadanya berusaha untuk tidak marah. " Bukan! justru aku ke sana ,mau minta maaf sama Vina. Aku sekarang sadar,kalau aku benar-benar menyukai Kakak mu"


"Dan kamu kira aku akan percaya begitu saja?!" ucap Vano seraya menyunggingkan senyum sinisnya.


"Aku serius! terserah, kamu mau percaya atau tidak.Yang jelas kali ini aku bersungguh-sungguh! Kamu mau Kakak kamu bahagia kan? dan kamu pasti tahu kalau kebahagiaan Kakak mu Vina itu hanya bersamaku! " Aariz berucap dengan tegas dan penuh percaya diri.


"Cih, kepedean sekali kamu! Kakak ku itu, sekarang mungkin udah move on dari kamu. Jadi, jangan terlalu percaya diri dulu! " seru Vano kesal.Padahal di dalam hatinya dia membenarkan ucapan Aariz. Karena walaupun Kakanya itu sudah di London,tapi tiap hari dia tetap curhat,kalau dia masih belum bisa melupakan Aariz.

__ADS_1


"Udah, aku mau pulang dulu! Kamu telah membuang-buang waktuku dengan sia-sia." Ucap Vano sambil memasangkan helm yang sudah sempat dia buka tadi.


" Aku akan kasih kamu tiket konser ini, kalau kamu mau memberitahu alamat kakakmu di sana" Aariz meletakkan dua buah tiket konser yang sangat di inginkan oleh Vano.


Vano terbelalak melihat dua tiket itu. Yang semakin membuat dia kaget, adalah tiket itu tiket VVIP yang harganya sangan mahal.


"Kamu mau menyogokku dengan tiket ini? tapi, maaf aku tidak tergiur dengan sogokanmu"ucap Vano tegas, yang berlawanan dengam hatinya.


Vano tampak ,memutar kunci motornya dan menekan Starter untuk segera meninggalkan Aariz.Denga segera Aariz naik ke boncengan Vano, dan memeluk pinggangnya dengan erat serta meletakkan kepalanya di punggung Vano.


"Hei, tolong singkirkan tanganmu! Kamu gila ya? Nanti orang-orang akan berpikiran yang aneh-aneh tentang kita!" wajah Vano seketika panik, sambil melihat ke sekeliling. Dia melihat tatapan aneh dan jijik dari orang-orang yang masih ramai keluar dari sekolah itu.


"Cih, pantasan aja dia dingin sama perempuan! ternyata dia penyuka batang juga" terdengar umpatan sadis dari mulut seorang siswa perempuan yang memandang Vano dengan sinis.


"Aku tidak akan melepaskan kamu, sampai kamu mau memberitahukan alamat Kakak kamu!" Aariz tetap kekeh memeluk Vano dari belakang, walupun dia merasa jijik dengan tingkahnya sendiri.


"Aku tidak mau! Kamu kasih tahu dulu baru aku akan lepaskan pelukannya" ucap Aariz tanpa mau melepaskan pelukannya.


"Gimana aku mau ngasih tahu kamu kalau kamu memeluk aku begini?"


"Kamu kan bisa mengetiknya di ponsel kamu dan kirimkan ke nomorku!"


"Baiklah-baiklah! " Vano mengambi ponsel dari sakunya, lalu dia mulai mengetikkan alamat Kakaknya Vina.Setelah itu diapun mengirimkannya ke ponsel Aariz. "Udah" ucap Vano, seraya memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.


Setelah mendengar ponselnya berbunyi, Aariz mengambil ponselnya dari dalam sakunya dengan satu tangan, dan tangan yang satunya lagi masih tetap memeluk pinggang Vano dengan erat.


Aariz pun akhirnya melepaskan tangannya dari pinggang Vano, dengan tersenyum puas seraya mencium ponselnya, yang kini sudah tertera alamat Vina di dalamnya.


"Terima kasih adik ipar ku yang baik! " kamu memang benar-benar yang terbaik!" ujar Aariz seraya turun dari atas sepeda motor Vano.

__ADS_1


"Aku sudah ngasih alamat Kakaku, berarti tiket ini milik ku sekarang! " Vano dengan cepat menyambar tiket konser yang sangat di ingikannya itu dengan cepat.


"Cih, tadi katanya tidak mau! " sindir Aariz dengan menerbitkan seulas senyuman sinis di sudut bibirnya.


"Itu kan tadi, sekarang beda lagi! Dan asal kamu tahu, Papah pasti akan memotong uang jajanku nanti, kalau dia tahu, aku sudah kasih alamat Kak Vina padamu! Vano tersenyum kecut ke arah Aariz ,lalu mengusap wajahnya dengan kasar.


"Untuk itu kamu tenang saja, aku akan kasih uang jajan buat kamu! mana no rekening mu, biar aku transferin sekarang juga! " ujar Aariz sambil kembali meraih ponselnya dari dalam saku celananya.


Aariz langsung mentranfer sejumlah uang ke dalam no rekkening yang disebutkan oleh Vano. "Tuh udah masuk! coba kamu cek! "Aariz kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


Kedua netra Vano seketika membesar, begitu melihat jumlah uang yang baru saja ditransfer oleh Aariz, yang jumlahnya sebesar 4 bulan uang jajan,yang selalu di kasih sama Papahnya Dimas.


"Kamu memang yang terbaik Kakak ipar! sering-sering ya! " ucap Vano dengan senyuman sumringah yang tersungging di bibirnya.


"Cih, tadi aja, gak mau panggil Kakak. Giliran sekarang, manggil Kakak ipar!, dasar bunglon lo" cetus Aariz seraya mendengus kesal.


"Tadi sama sekarang itu beda,Kak! heheheh," ujar Vano cengengesan.


"Ya udah, aku mau pulang dulu Ka, makasih buat tiket dan uang jajannya.Ternyata alamat Ka Vina bisa semahal itu.Besok-besok aku mau jual alamat Ka Vina di online shop, pasti banyak yang mau, karena photo Ka Vina sekalian aku upload juga"


"Berani kamu buat begitu, bukan hanya aku yang membuat kamu jadi sate. Om Dimas sam Tante Sinta juga akan buat kamu jadi perkedel" ucap Aariz kesal.


"Hahaha, bercanda,Ka! Aku jalan dulu ya, Ka! bye..., semoga misimu sukses! " Vano menjalankan sepeda motornya meninggalkan Aariz yang menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Dasar bocah labil! Vina, i'm coming! tunggu aku disana" gumam Aariz sambil kembali mencium ponselnya.


Tbc


Please like, vote dan komen.besok sudah hari Senin,kalau boleh vote rekomendasinya kasiin ke novel ini dong! Bagi yang sudah memberikan hadiah berupa apapun itu, aku ucapkan banyak terima kasih. Kalian memang yang terbaik.🙏😍🤗

__ADS_1


__ADS_2