
Aariz benar-benar nekad kali ini.Sebenarnya dia berencana akan terbang ke London malam ini juga. Akan tetapi, tiket malam ini sudah habis. Mau tidak mau, akhirnya Aariz pun harus menunda waktu keberangkatannya esok.
"Riz, besok kamu tolong handle urusan kerja sama dengan Pak Kusumo ya! Dia client kita yang sangat penting " ucap Bimo setelah mereka semua sudah selesai makan malam, dan kini tengah berkumpul di ruang keluarga.
"Please deh, jangan lagi-lagi. Gimana gue bisa berangkat kalau begini!" Aariz membatin dengan wajah yang frustasi.Wajah frustasi Aariz tidak luput dari perhatian Aarash. " Ada apa dengan Aariz? apa dia ada masalah?" bisik Aarash pada dirinya sendiri .
"Jam berapa Yah pertemuannya?" tanya Aariz dengan perasaan was-was.
"Jam 1.30 di restaurant Bundamu! Mereka mau makan siang dulu baru membicarakan kerja sama itu " Sahut Bimo.
"Waduh, pesawat gue kan berangkatnya jam 1. Gimana nih?!" Lagi-lagi Aariz berbicara pada dirinya sendiri.
"Memangnya Ayah besok mau kemana? Kenapa harus Aariz yang handle? "
"Ayah besok ada urusan yang sangat penting sama Om Seno.Kita harus melengkapi berkas tuntutan untuk kasus kecelakaan yang menimpa orang tua Laura." tutur Bimo yang membuat Aariz langsung lemas seketika.
"Apa pertemuannya tidak bisa dimajukan jadi pagi Yah? tanya Aariz, berharap masih ada harapan.
"Kalau seandainya bisa pagi, Ayah tidak akan menyuruhmu yang handle! Ayah akan handle sendiri.Lagian kamu kenapa? kok sepertinya keberatan? emang kamu ada hal penting yang harus kamu lakukan pada jam itu? Bimo menatap Aariz dengan tatapan menyelidik.
"T-tidak ,Yah! Maksud Aariz kalau bisa pagi kan lebih cepat selesainya.Kalau bisa cepat ngapain harus nunggu lama, begitu maksud Aariz Yah!"sahut Aariz dengan sedikit gugup.
Bimo menyipitkan matanya ke arah Aariz. Dia merasa tidak puas akan jawaban Aariz. Dia merasa kalau Aariz sedang menyembunyikan sesuatu.
"Apa itu benar-benar alasannya? kamu tidak lagi menyembunyikana sesuatu kan dari kami?"
"Tidak Yah! itu memang alasan sebenarnya!" ucap Aariz dan kali ini tampak lebih meyakinkan.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu! Ya udah sekarang kalian semua istirahat aja. Ayah juga mau istirahat! Ayo, Bun kita tidur! " Bimo meraih tangan Tiara, lalu mereka berdua melangkah meninggalkan anak-anak dan menantu mereka.
Tak berselang lama, Aariz pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamarnya tanpa mengucapkan sepatah katapun buat Aarash, Laura da Lea. Sehingga membuat ketiga orang itu, saling bertukar pandang dengan raut wajah bingung melihat sikap Aariz.
Aariz menutup kamarnya, lalu dia membaringkan tubuhnya, terlentang di atas ranjang.Pikirannya sangat kalut saat ini. "
"Apakah aku harus gagal berangkat juga kali ini? Apakah seberat ini ujian yang harus aku lalui untuk mendapatkan Vina kembali? " Kalau aku tidak menemui Pak Kusumo besok, alhasil perusahaan pasti akan mengalami kerugian besar tapi kalau aku menemuinya, berarti aku harus gagal berangkat lagi. Arghhhh!" Aariz menggusak rambutnya dan mengusap wajahnya dengan kasar.
Suara ketukan pintu dari luar, membuat Aariz harus bangkit dari ranjangnya dan membuka pintu.
"Boleh aku masuk? " tanya Aarash, dengan senyuman di bibirnya.
"Ya,udah kamu masuk aja! " Aariz membuka pintu lebar dan meminggirkan sedikit tubuhnya, untuk mempersilahkan saudara kembarnya itu masuk.
Aarash duduk di tepi ranjang, seraya menunggu kedatangan Aariz yang saat ini sedang menutup pintu kamarnya kembali.
"Tawa lo, garing amat bro! Gak usah dipaksain ketawa. yang ada lo jadi kelihatan aneh! " ucap Aarash menatap tajam ke arah Aariz.
"Lo lagi ada masalah ya? tanya Aarash to the point.
Aariz menjawab dengan menggelengkan kepalanya seraya mendaratkan tubuhnya duduk di sampinh Aarash.
"Kamu tidak bisa bohong Riz! Aku bisa lihat dari raut wajahmu, kalau kamu lagi ada masalah? Sepertinya kamu juga lupa, kalau kita itu kembar, jadi batin aku sudah benar-benar terhubung dengan batin mu. Aku bisa merasakan kekalutanmu sekarang! " ucap Aarash.
"Aku serius Rash, aku tidak apa-apa! Aku hanya sedikit lelah aja! "Aariz masih berusaha untuk menutupi pikiran kalutnya.Dia tidak mau membebani pikiran saudara kembarnya itu.
Ekor mata Aarash, tanpa sengaja melihat ada tiket dan pasport Aariz di atas nakas. Sudut bibir Aarash seketika tertarik membentuk suatu senyuman.Tanpa di beritahupun ,Aarash sudah bisa mengerti kegalauan yang sedang menimpa Aariz.
__ADS_1
"Riz, dari kecil, kita selalu bertukar cerita. Kita akan saling membantu,jika salah satu dari kita ada masalah.Tapi kenapa sekarang kamu, tertutup dan tidak mau bercerita kegelisahanmu? padahal mungkin saja aku bisa memberikan solusi untuk mengatasi kegelisahanmu itu.Jangan lupa Riz, aku akan selalu ada mendukungmu, selama itu baik.Atau kamu udah lupa kalau kamu masih punya saudara? " Tutur Aarash panjang lebar, berharap Aariz mau terbuka padanya.
Aariz menghela nafasnya dengan sekali hentakan. "Rash, aku bukannya tidak mau menceritakan apa yang aku pikirkan saat ini. Bukan karena aku tidak menganggap kamu Kakakku. Tapi, aku tidak mau membebani pikiranmu juga Rash! Karena aku tahu kamu juga sekarang tengah memikirkan masalah keluarga istrimu! Sahut Aariz.
"Untuk masalah keluarga Laura, kamu tahu ada Ayah, Om Seno dan Om Dimas yang membantu. Jadi aku tidak terlalu terbebani dengan itu. Sekarang aku mau tanya, apa kamu mau menyusul Vina ke London?"
"Kamu kok bisa tahu?" Aariz balik bertanya dengan kening yang berkerut.
"Tuh, aku melihat tiket dan pasportmu di atas nakas itu! " ujar Aarash tersenyum geli melihat wajah Aariz yang memerah karena merasa malu tertangkap basah sudah bucin sama Vina.
"Iya Rash! dan pesawatku akan berangkat jam 1 siang, besok! dan kamu bisa dengar sendiri tadi, kalau Ayah menyuruhku untuk menggantikannya bertemu dengan Pak kusumo jam 1.30. Aku bingung Rash harus bagaimana" ujar Aariz sambil membaringkan tubuhnya terlentang di atas kasur.
"Kenapa kamu harus bingung? apa gunanya aku sebagai saudaramu? Besok aku hanya ada satu pertemuan, jam 9 pagi.Setelah itu aku free. Aku bisa gantiin kamu untuk menemui Pak Kusumo" ucap Aarash yakin.
Mendengar ucapan Aarash, yang menyanggupi akan menggantikannya, sontak Aariz bangun dan duduk kembali, seraya menatap Aarsah dengan manik mata yang berbinar-binar.
"Kamu serius Rash? kamu tidak bohong kan" tanya Aariz seraya mencengkram pelan bahu Aarash.
"Apakah aku terlihat main-main sekarang?"Aarash menatap tajam kedua manik mata milik Aariz yang sepertinya meragukannya
"Hmm, sepertinya sih tidak! ujar Aariz yang kini sudah bisa tersenyum lepas.
Aarash bangkit dari atas kasur, lalu menepuk-nepuk pundak Aariz pelan. " Kamu pergilah, kejar cintamu" ucap Aarash seraya menerbitkan senyuman tulus di bibirnya.
Aariz bangkit dari duduknya dan memeluk Aarash dengan erat. " Terima kasih bro! Kamu memang yang terbaik! "
Tbc
__ADS_1
Jangan lupa buat like, vote dan komen serta rate ya gais.Thank you