YOU ARE MY DESTINY

YOU ARE MY DESTINY
Gantungan Kunci


__ADS_3

Dengan penuh amarah, Aarash turun kebawah dengan sedikit berlari. Akan tetapi ketika dia hendak mencapai pintu, Ayu juga kebetulan hendak masuk.Alhasil keduanya,bertabrakan dan membuat Ayu hampir jatuh. Untungnya Aarash dengan cepat langsung menangkapnya. Mata mereka seketika saling menatap untuk sepersekian detik. ( Sinetron banget ya?😁)


"Ehem, ehem ... sampai kapan kalian berdua adu siapa paling kuat tidak berkedip? Aku juga mau ikutan dong! " Aariz tiba-tiba sudah ada diantara mereka berdua.


Aarash dan Ayu seketika tersadar, dan Aarash refleks melepaskan Ayu sehingga Ayu hampir terjatuh lagi. Untungnya baik Aarash dan Aariz sama-sama menangkap tubuh Ayu.


Melihat tatapan tajam Aarash, Aariz refleks melepaskan tangannya. " Sorry bro, gue sengaja! ucap Aariz dengan tawa berderai, seraya berlari meninggalkan Aarash dan Ayu.


Setelah kepergian Aariz, situasi yang akward langsung tercipta antara Aarash dan Ayu.


"Ma-maaf Tuan, aku mau masuk ke kamar dulu" ucap Ayu pelan untuk memecahkan keheningan yang sempat tercipta.


"Oh, iya.Silahkan!" sahut Aarash.


Ayu mengayunkan langkahnya dengan masih sedikit tertatih, meninggalkan Aarash di belakangnya.


Aarash yang melihat cara berjalan Ayu yang lamban, entah angin dari mana yang datang tiba-tiba ber-inisiatif menggendong Ayu.


"Turunin Ayu Tuan! Ayu bisa jalan sendiri." ucap Ayu seraya melihat sekeliling, takut kalau ada yang melihat mereka berdua. Akan tetapi Aarash tidak mau mendengar permintaan Ayu. Dia tetap saja menggendong Ayu dan meletakkannya dengan lembut di atas kasur.


Setelah meletakkan Ayu di atas kasur, Aarash langsung keluar,tanpa pamit pada Ayu.Wajah nya sekarang sudah berubah warna menjadi merah. Aarash menutup pintu kamar Ayu dengan perlahan. Sebelum melangkahkan kakinya, Aarash menghembuskan nafasnya dengan keras.


"Cie...cie.... udah main gendong- gendongan ni yeee! Mau dong digendong! " Kepala Aariz, tiba-tiba muncul dari balik tembok.


"Aariiiiiiz! Setan lo !" Aarash mengejar Aariz dengan hati yang sangat dongkol. Aariz buru-buru mengunci kamarnya sebelum kena bogem mentah dari Aarash.


********


Hari pernikahan seperti yang direncanakan sebelumnya sudah tiba.Pernikahan Aarash dan Ayu hari ini, berjalan lancar dan hanya di hadiri oleh keluarga besar dan sahabat saja. Kini Aarash dan Ayu sudah sah jadi sepasang suami istri di mata hukum dan agama.

__ADS_1


Untuk merayakan pernikahan Aarash dan Ayu, keluarga Bimo mengadakan jamuan malam sederhana di kediamannya. Selain keluarga besar tampak Dimas,Sinta dan Vano juga turut hadir. Aariz terlihat celingukan mencari keberadaan seseorang yang sudah lebih dari seminggu tidak pernah dilihatnya lagi.Siapa lagi orangnya kalau bukan Vina.


Aariz menghela nafasnya dengan berat,ketika tidak melihat adanya Vina. Ingin sekali rasanya dia bertanya pada om Dimas, tapi rasa gengsinya lebih besar dari keberaniannya.


Dengan perasaan yang kacau, Aariz mengayunkan kakinya untuk melangkah meninggalkan acara, dan masuk ke dalam kamarnya. Aariz kini menyadari, kalau sekarang dia benar-benar merasa kehilangan akan sosok gadis imut dan berisik itu.


Sementara itu Aariz dan Ayu banyak mendapat nasehat dari para orang tua,tak terkecuali oma Sarah dan Opa Burhan yang kini rambut mereka sudah rata dengan uban.


*******


Aarash masuk ke dalam kamarnya sendirian tanpa Ayu.Masih berbalut baju pengantin, Aarash duduk di atas kasur dengan memegang sebuah benda berupa gantungan kunci yang disimpannya selama hampir 18 tahun.


"Laura, aku sebenarnya tidak tahu, perasaan apa yang aku punya untukmu. Tapi jujur, aku ingin sekali bisa bertemu denganmu. aku berharap mudah-mudahan kamu masih hidup dan dalam keadaan baik-baik saja saat ini. Dulu Waktu kecil, aku pernah memimpikan kamu, akan jadi istriku. Tapi sepertinya itu hanya bunga tidur. Sekarang aku sudah menikah Aura. Aku menikah dengan orang lain, bukan dengan mu! namanya Ayu.. mudah-mudahan kamu juga sudah menemukan seorang pendamping sekarang, sama seperti ku! " batin Aarash. Manik mata Aarash kini nampak berkaca-kaca


Suara pintu yang terbuka, membuat Aarash cepat-cepat menyembunyikan gantungan kunci itu kedalam sakunya. Tampak Tiara bundanya muncul bersama Ayu yang berjalan sambil menundukkan kepalanya.


"Kenapa harus diajak Bun? dia kan tahu dimana kamar Aarash " sahut Aarash asal, sehingga membuat Tiara kesal dan refleks menggeplak kepalanya.


" Aarash, Otak kamu lagi jalan-jalan dan lupa pulang ya? Makanya kamu ngomong gak pake otak? Dia ini kan masih baru jadi istri kamu, ya harus diajaklah. " ujar Tiara seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Tiara menoleh kembali ke arah Ayu yang masih setia menundukkan kepalanya sambil meremas-remas kedua tangannya. Tiara menghampiri Ayu dan meraih tangannya serta mengajaknya agar duduk juga di atas kasur.


"Yu, mulai saat ini, kamar ini sudah jadi kamar mu juga. Sekarang kan kamu sudah jadi istrinya Aarash, jadi, kamu harus berbagi tempat tidur dengan Aarash.Jangan seperti tadi lagi ya sayang. Masa kamu kembali lagi ke kamarmu sendiri! " ujar Tiara dengan sangat lembut sambil mengelus-elus pundak Ayu dengan lembut.


"Ta-tapi bu..."


"Bunda! bukan ibu! " Kamu itu sekarang sudah jadi menantuku, jadi mulai sekarang, aku Bunda kamu juga, dan Pak Bimo itu Ayah kamu juga ya sayang! " Ayu manggut-manggut untuk menanggapi semua ucapan Tiara mertuanya.


"Ya sudah sekarang kalian bunda tinggal dulu ya! Bunda mau mandi dan mau istirahat. Bunda capek banget soalnya" Tiara berdiri dan mengayunkan langkahnya untuk meninggalkan pasangan yang baru menikah itu. Sebelum sampai di pintu, Tiara tiba-tiba mengurungkan langkahnya dan memutar badannya melihat ke arah putranya.

__ADS_1


"Eh, Aarash, jaga istri kamu baik-baik ! malam ini kalau mau ngelakuinnya, tanya baik-baik dan jangan kasar! Ayu kalau mau mandi, mandi saja. semua barang-barang kamu sudah dipindahkan ke dalam lemari disana" ujar Tiara sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Aarash.Lalu dia kembali melangkah keluar dari kamar pengantin baru itu.


Tiara berniat turun ke bawah sebentar untuk membuat secangkir teh hijau buat Bimo suaminya. Dari arah bawah, tampak Bibi Asih sedikit tergesa-gesa ingin naik ke atas.


"Ada apa Bi?" Tiara mengrenyitkan keningnya ke arah Bi Asih


"Eh, ibu Tiara. Ini bu, barang Ayu ada yang ketinggalan di kamarnya.Sebelum Bibi lupa, Bibi mau kasihkan langsung sama Ayu ".


"Barang apa? sini! biar aku saja nanti yang kasihkan sama Ayu "


"Ini Bu." Bi Asih menyerahkan sebuah gantungan kunci ke tangan Tiara.


Tiara terhenyak melihat gantungan kunci yang sama persis dengan punya putranya Aarash.


"Tunggu Bi! Apa Bibi yakin kalau ini punya Ayu?"


" Iya,Bu, Bibi yakin. Soalnya ketika Ayu ditemukan sama ibu saya, dia lagi menggenggam benda ini erat-erat. Karena adanya inisial A di gantungan kunci itulah, makanya ibu saya kasih dia nama Ayu.


" Ok, terima kasih Bi. Bibi sekarang istirahat aja. Dan kalau nanti Ayu,ada nanyain tentang gantungan kunci ini, tolong Bibi jangan beritahu dia dulu, kalau benda ini ada pada saya."


"Tapi Bu ..."


"Kalau untuk alasannya kenapa, suatu saat aku akan jelaskan pada Bibi." Tiara langsung memotong ucapan Bi Asih, sebelum Bi Asih banyak bertanya.


Tiara memutar badannya,buru-buru kembali naik ke atas untuk segera menemui Bimo suaminya.


Tbc


Jangan lupa buat like, rate, vote dan komen. Thank you.😀😀😀

__ADS_1


__ADS_2